The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Dikeroyok



Shibuya Tokyo Jepang


Malam ini Rin merasa bingung karena Luke tidak ada mengawasinya tapi dia merasa bahwa tetap ada pengawasnya.


Memang Yakuza kulkas itu kemana?


Rin melihat layar lebar yang berada di beberapa gedung di Shibuya yang memberitakan tentang peresmian gedung apartemen mewah baru karya AJ-BIANCHI Corp.


Gadis itu baru melihat Luke disana bersama dengan seorang pria bule dan wanita Jepang yang dia tahu adalah kedua orangtuanya Yakuza kaku itu, Luca dan Emi Bianchi. Rin juga melihat seorang gadis cantik yang berdiri di sebelah Luke. Keduanya tampak akrab bahkan Luke tertawa bersama dengan gadis itu.


Kok aku sebal ya melihat si Yakuza kulkas itu bisa tertawa dengan gadis itu!


Rin tertegun. Masa aku cemburu? Norak deh kamu, Rin! Tapi mata coklat Rin tidak dapat mengalihkan pandangannya dari layar Megatron. Tampak Luke merangkul pinggang gadis cantik itu dengan santainya dan tampak in*tim.


Iiissshhh! Bisa mesra juga tuh Yakuza! Kirain cuma bisa marah-marah! Rin mengomel sendiri seperti kebiasaannya.


Awas kalau dia marah-marah sama aku! Lama-lama aku banting dia!


Rin pun melanjutkan pekerjaannya menyiangi benalu dan daun strawberry yang membusuk.


***


Cerulean Tower Tokyu Hotel Tokyo Jepang


Luke hanya berdiri sambil bersedekap melihat ayahnya menghajar Dante Mancini yang dengan berani menghadap Luca dan Emi Bianchi di daerah kekuasaan Bianchi.


Meskipun dalam hatinya dia mengakui keberanian Dante datang ke Tokyo tanpa pengawal kecuali oleh Sergio, tapi dia sangat kesal dengan sikap rival keluarga Bianchi itu yang memperlakukan kakaknya seenaknya meskipun Leia bisa menjaga diri sih.


"Bianchi-san, nona Ichigo mengomel sendiri. Tampaknya marah-marah dengan anda" lapor anak buahnya melalui earpiece di telinga Luke.


"Why?" ucap Luke tanpa mengalihkan pandangannya dari keributan antara Luca Bianchi dan Dante Mancini.


"Saya tidak tahu Bianchi-san. Tapi tadi wajahnya tampak kesal saat melihat Megatron di Shibuya."


Dari toko pastry milik Omanya, memang bisa melihat Megatron yang terdapat di tengah-tengah Shibuya.


"Biarkan saja, tapi kamu tetap awasi si Yankee."


"Baik Bianchi-san."


Luke menoleh ke arah Leia yang masih menatap dingin ke arah Dante yang memandangnya penuh cinta.


Pria itu melihat bagaimana perbedaan pandangan mata antara Dante dan kakaknya. Yang satu penuh cinta sedangkan yang satu penuh kebencian. Dan malam ini Luke melihat bagaimana semua keluarganya menolak Dante, dan melihat pria Casanova itu benar-benar patah hati.


Dante berjalan keluar ruangan dan bertemu dengan Luke yang berdiri dekat pintu.


"Sampai kapanpun, aku hanya menginginkan kakakmu, Luke."


"In your dream Mancini. Karena kamu sudah memulai langkah yang salah!" Luke menatap wajah keras Dante dengan sorot mata dingin. "Jangan dikira kami sama dengan keluarga lainnya yang terbiasa hidup bebas tanpa aturan! Keluarga keturunan Pratomo memiliki kode etik sendiri, Mancini. Kami sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan termasuk gaya hidup kami!"


"Kalian juga seenaknya menghajar orang!" desis Dante.


"Dalam hal apa dulu kami menghajar orang? Cari tahu sepak terjang keluarga kami! Jika kamu menemukan bahwa kami yang memulai lebih dulu, temui aku!" Luke menatap judes.


Dante hanya menatap Luke yang lebih pendek darinya yang 196 cm. Dia mengira-ngira tinggi Luke hanya sekitar 181-182 cm tapi Dante mengakui, keturunan Bianchi memang tidak ada takutnya.


"Lihat saja Bianchi, aku akan buktikan bahwa kakakmu adalah jodoh ku!"


"Aku tunggu!"


Dante pun membuka pintu ruangan itu dan keluar meninggalkan keempat anggota keluarga Bianchi.


***


Para anggota keluarga Bianchi kembali bergabung dengan para tamu undangan dan Luke bisa melihat bagaimana wajah kakaknya tampak mendung.


"Apa kamu menyukai si Mancini sialan itu, sis?" tanya Luke ke Leia.


"No, my little brother. Tapi melihat dia seperti kalah perang, aku agak kasihan juga."


"Le, jangan pernah merasakan kasihan sama pria yang sebelumnya membuat kamu marah karena dia akan menganggap kamu lemah dan kamu memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia akan menjadi lebih sombong!"


"Kamu benar Lukie."


Luke merangkul kakaknya. "Love you Lele."


"Love you too pawangnya trio kampret."


***


Jam sebelas malam Rin berjalan menuju apartemennya dan karena sudah jam segitu, tidak banyak kendaraan umum yang lewat. Taksi pun bisa lebih mahal, begitu juga dengan Uber.


Rin yang baru saja mendapatkan warisan dari kakek Kitano berupa royalti dari semua buku yang ditulisnya, tidak mau bersikap boros bahkan uang warisan itu dia simpan sebagai deposito.


***


"Bianchi-san!"


"Ya?"


"Nona Ichigo dikeroyok pemabuk! Ini saya dan Tama sedang membantu nona Ichigo!"


"Kamu dimana Shota?"


"Saya di Roppongi dekat apartemen nona Ichigo!"


Luke bisa mendengar suara perkelahian di earpiece nya. Tanpa berpamitan dengan kedua orangtuanya dan kembarannya, Luke langsung meninggalkan hotel tempat acara pesta diadakan.


Brengseeekkk! Kok bisa Yankee sialan itu ketemu pemabuk!


Luke berlari langsung menuju pengawalnya yang membawa sepeda motor.


"Kamu! Berikan kunci Ducati nya!" teriak Luke.


"Ini Bianchi-san."


Luke langsung menstater motor hitam itu dan menggeber menuju Roppongi.


***


Di ruang pesta.


"Luke kemana?" tanya Luca ke putrinya.


"Entah! Tadi sepertinya dia mendapatkan kabar dari anak buahnya dan langsung kabur" jawab Leia.


"Iiissshhh bisa-bisanya kabur pada saat seperti ini!" sungut Emi kesal.


"Sudah okāsan, tugas Luke biar aku yang handle" senyum Leia.


***


Luke menggeber motor mewah itu dan tiba disebuah gang dimana terjadi perkelahian antara dua anak buahnya dengan Rin melawan sekitar sepuluh orang pemabuk.


Kurang ajar!



Luke melepaskan helm mahal milik anak buahnya dan langsung melemparkan ke seorang pemabuk yang hendak memukul Rin. Lemparan itu telak mengenai wajah pemabuk itu hingga pingsan.


Rin yang terkejut menoleh ke arah yang melempar helm mahal itu. Yakuza kulkas?


"Shota! Panggil anak-anak Roppongi!" perintah Luke sambil mengambil baton dari belakang punggungnya dan langsung menghajar orang-orang itu membantu Rin dan Tama sedangkan Shota memanggil anak buah Luke yang berada di area Roppongi.


Roppongi adalah salah satu area milik Yakuza Takara dan ada banyak anggotanya selain di Ginza, Kanda, Asakusa dan Akihabara.


"Kamu bisa pakai baton?" tanya Luke ke Rin.


"Bisa!"


Luke memberikan batonnya ke Rin. "Pakai ini!"


Rin mengangguk dan mulai menghajar orang-orang yang menyerangnya dengan jurus Kendo.


Luke sendiri lebih memilih memakai tangan kosong dengan jurus judo dan krav maga. Tak berapa lama para anak buah Luke datang dan membantu meringkus para pemabuk itu.


"Panggil dokter Yuri. Ada yang patah hidungnya!" perintah Luke ke Shota.


"Haik!"


"Heh Yankee!" Luke beralih ke Rin yang sedang mengatur nafasnya.


"Apa Yakuza freezer!"


"Jurus kendomu, boleh juga!" puji Luke yang membuat Rin melongo.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️