
Toko Pastry Marissa Bianchi Shibuya Tokyo Jepang
Rin sudah menyelesaikan pekerjaannya memanen buah-buah strawberry lalu menyerahkan kepada Luke.
"Masih ada panen lagi tiga hari lagi dan setelah itu, selesai. Berarti, aku sudah tidak kemari lagi kan?" Rin menatap Luke sambil menyerahkan keranjang berisi buah strawberry.
"Iya. Pekerjaan kamu sudah selesai setelah itu, Yankee." Luke menerima keranjang berisikan buah strawberry. "Kamu belum makan malam kan?"
"Belum dan aku lebih memilih makan bento stasiun."
Luke melirik judes. "Ayo ikut!"
"Kemana Yakuza Freezer?" tanya Rin bingung.
Luke langsung menarik tangan Rin dan menggandengnya menuju toko pastry Omanya. Disana tampak Hidetoshi sedang asyik makan bersama tunangannya dokter Yuri.
"Boss? Mau pulang sekarang?" tanya Hidetoshi.
Luke hanya menggelengkan kepalanya dan memberikan keranjang berisikan strawberry kepada manajer toko yang akan dibuat strawberry on shortcake besok.
"Kunci mobil?" Luke meminta kunci mobil BMW nya. "Yuri, kamu naik apa kemari?"
"Aku naik mobil imutku. Kenapa Luke?"
"Kalian berdua pulang sendiri, aku akan mengantarkan si Yankee satu ini!" ujar Luke sambil mengambil kunci mobil yang diberikan Hidetoshi.
Pasangan itu hanya menatap bingung antara Luke dan Rin.
"Hati-hati boss!" senyum Hidetoshi.
Rin membungkuk hormat ke arah Hidetoshi dan Yuri namun setelahnya tangannya sudah ditarik oleh Luke keluar dari toko pastry itu.
"Yuri sayang, apakah kamu merasa kalau si kulkas sudah mulai sedikit menjadi kompor?" Hidetoshi menatap tunangannya. "Lihat saja sudah berani pegang tangan padahal kita tahu dari jaman SMA, dia paling dingin dan hanya mau ngobrol sama kamu."
"Soalnya aku cuma satu-satunya cewek yang tidak tertarik dengannya, makanya Luke nyaman" jawab Yuri. "Luke itu seperti kakakku yang sudah meninggal karena kecelakaan jadi tidak ada perasaan apapun ke dia."
"Karena kamu hanya cinta sama aku, sayang" senyum Hidetoshi.
"Tentu saja, baka ( bodoh )!" Yuri memegang tangan Hidetoshi.
***
"Tadi mereka berdua itu siapa?" tanya Rin ke Luke yang menyetir dengan tenang.
"Tangan kananku dan tunangannya, Hidetoshi Shinoda dan Yuri Tanaka. Mereka sahabatku sejak SMA."
"Yakuza freezer..."
"Hhmmm?"
"Aku minta kamu jangan datang lagi ke rumah sakit macam kemarin."
Luke menoleh ke arah Rin. "Kenapa? Apa ada masalah?"
"Aku...harus menjawab banyak pertanyaan dan kata dokter Rika, aku harus utarakan padamu kalau aku keberatan..."
"Jadi kamu keberatan aku membawa kamu ke rumah sakit?" Nada suara Luke sudah naik satu oktaf.
"Bukan begitu tapi cara kamu membawa aku ke rumah sakit..."
Luke memarkirkan mobilnya di sebuah area parkir sebuah mini market. "Terus kamu akan merasakan kesakitan akibat kamu tidak mau berobat begitu?" Pria itu menatap tajam ke arah Rin yang hanya membalasnya dengan wajah datar.
"Dengarkan aku dulu. Cara kamu membawa aku dengan menggandeng tanganku serta meminta perlakuan khusus untuk aku, membuat aku tidak nyaman, Yakuza freezer."
"Lalu? Masalah? Aku kan hanya membawa kamu berobat!" Luke tidak habis pikir. Hanya membawa Yankee satu ini berobat kenapa jadi masalah sih!
"Iya tapi kamu kan membawa nama Yakuza Takara jadi membuat orang bertanya aku ada hubungan apa sama kamu! Mereka akan mengira aku punya hutang dengan Yakuza dan itu membahayakan karier aku, Luke Bianchi!" Rin menatap serius ke Luke.
"Tapi kamu memang punya hutang sama aku, Yankee!"
"Tapi kan persepsi orang akan berbeda-beda, Yakuza! Look, aku sedang berusaha untuk bekerja baik-baik, melepaskan status aku yang dulunya adalah seorang Yankee. Aku mencintai pekerjaan aku, Yakuza! Dan aku tidak mau merusak bagaimana aku berusaha susah payah mendapatkan pekerjaan yang normal!"
Luke cemberut.
"Oke kalau itu mau kamu! Setidaknya sekarang kita makan, karena aku lapar!" ucap Luke dingin dan entah kenapa kali ini Rin merasakan bulu kuduknya berdiri.
Dan dia kembali menjadi freezer. Tapi aku harus menyatakan perasaan aku agar karierku di rumah sakit tidak bermasalah.
Rin hanya diam sepanjang jalan menuju ke sebuah restauran, begitu juga dengan Luke.
***
New York Grill Shinjuku Tokyo.
Rin menatap bingung ke arah Luke yang mengajak nya ke Park Hyatt Tokyo setelah memarkirkan mobilnya di hotel mewah itu.
Lagi-lagi Luke dengan cueknya menggandeng tangan Rin tanpa memperhatikan bagaimana wajah gadis itu, apakah keberatan atau tidak. Rin sendiri sudah berusaha melepaskan pegangannya tapi Luke semakin erat menggenggamnya.
Keduanya masuk ke sebuah restauran bernama New York Grill yang berada di lantai atas hotel itu. Rin terkesima dengan pemandangan yang dilihatnya, kota Tokyo di malam hari.
"Selamat datang Bianchi-san. Meja biasa?" tanya sang manajer.
"Iya. Masih open kan?" tanya Luke.
"Masih Bianchi-san. Belum ada yang memakai."
"Bagus!" Luke menghela Rin yang masih tampak takjub dengan suasana restoran yang mewah itu.
"Ayo Rin" ajak Luke yang membuat Rin terkejut karena ini kali pertama Luke memanggil namanya setelah terakhir saat pria itu mendatangi dirinya pertama kali.
"Ini... bagus sekali Bianchi-kun" ucap Rin tulus.
"Ayo duduk." Keduanya pun duduk di meja yang sudah disiapkan.
"Kamu mau makan apa, terserah!" ucap Luke sambil melihat buku menu.
Rin hanya tertegun saat membaca buku menu. Ya ampun harganya! Bisa buat hidup sebulan.!
"Nggak usah mikir harga! Aku yang bayar!" sahut Luke seolah membaca pikiran Rin.
"Aku... ikut kamu saja." Rin tidak berani memesan karena takut salah.
Luke tersenyum smirk. Lalu dia memanggil pelayan dan memesan makanan mereka..
Rin memandang suasana dari layar jendela tempat mereka makan. Sejujurnya dia sangat senang bisa berada di tempat hanya orang berduit yang bisa masuk karena bisa menikmati. Kapan lagi bisa makan di restauran mahal seperti ini dengan pemandangan indah di hadapannya? Tapi kalau teman makannya macam Yakuza freezer, agak tidak nyaman juga.
"Kamu senang dengan pemandangannya?" tanya Luke sambil menyesap air putih.
"Senang. Kapan lagi aku bisa berada disini?" Rin menoleh ke arah Luke. "Terimakasih. Ini akan aku ingat seumur hidup aku."
Luke hanya mengangguk.
"Aku tidak akan mengganggu kamu lagi Rin Ichigo. Setelah musim panen selesai, kamu bebas dari tugas mengawasi kebun aku. Terimakasih sudah mengurus kebun aku selama aku tidak bisa mengawasinya."
Rin melongo. Yakuza freezer satu ini bisa juga bicara manis.
"Maafkan aku jika pernah mencuri buah strawberrymu, Bianchi-kun."
Luke mengangguk. Justru karena itu aku bisa tahu kamu, Yankee!
Tak lama, pesanan mereka datang dan Rin tampak tertegun dengan makanan yang datang. Tampaknya enak!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️