The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Tidak Dilempar ke Empang



Rumah Sakit Saisekai Tokyo Jepang


Luke Bianchi mendatangi rumah sakit tempat Rin Ichigo bekerja dan tampak sepi. Wajar saja karena jam sekarang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sudah tengah malam.


"Maaf, anda mencari siapa tuan?" tanya seorang suster jaga.


"Rin Ichigo."


"Ichigo? Bukannya seharusnya sudah pulang?" gumam suster itu.


"Ichigo belum pulang. Dia masih di kamar jenazah" sahut seorang suster lainnya.


"Kamar jenazah?" Luke menaikkan sebelah alisnya.



"Iya. Tadi Ichigo menemani pasiennya yang sekarat dan sampai meninggal dunia."


Luke hanya terdiam. "Dimana kamar jenazahnya?"


"Tuan jalan saja lurus dari sini, mentok belok kanan. Lurus saja nanti kamar jenazah sebelah kanan."


Luke mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju kamar jenazah. Meskipun dirinya sendirian, Luke bukanlah seorang penakut macam duo G yang sumpah, penakutnya saingan dengan Oom Haris.


Sesampainya di kamar jenazah, Luke bisa melihat bagaimana wajah Rin tampak sembab sambil menatap ke sosok yang sudah tertutup kain putih.



"Heh! Maling!" panggil Luke membuat Rin mendongakkan kepalanya.


"Maaf, Bianchi-san, aku tidak bisa ke kebun strawberry anda" ucap Rin dengan terisak.


"Kenapa tidak menghubungi aku?" tanya Luke dingin.


Rin melongo. "Nomor ponsel saja tidak tahu! Bagaimana hubungi anda!"


"Sinikan ponselmu!" Luke meminta ponsel Rin yang mengambilnya dengan ogah-ogahan. "Password?"


Rin membuka lock ponselnya dan Luke pun memasukkan nomor ponsel nya dan menelpon miliknya sendiri.


"Telpon kalau kamu tidak datang!"


"Iya tuan Yakuza !" jawab Rin malas.


"Ichigo-kun, siapa yang akan mengurus pemakaman Kitano-san?" tanya petugas pengurus jenazah.


"Aku yang akan mengurusnya. Kakek Kitano sudah memberikan dananya sebelum meninggal."


Luke menoleh ke arah Rin yang sungguh tampak bersedih.


"Apa Kitano-san tidak ada saudara, Ichigo-kun?" tanya petugas itu.


"Setahuku tidak ada tapi besok aku akan bertanya ke bagian administrasi."


"Lebih baik kamu pulang saja Ichigo-kun. Apalagi kamu dijemput kekasih mu..."


"Hah? No, aku bukan kekasihnya!" potong Luke cepat dan wajahnya langsung jutek.


"Dia bukan kekasihku!" timpal Rin. "Dia hanya orang menyebalkan yang menagih hutang!"


"Kamu punya hutang apa sama dia?" tanya petugas itu kepo.


"Hah?! Bukan hutang uang yang jelas!" Rin menatap tajam. "Dan aku harap kamu tidak usah terlalu kepo kalau mau bisa tidur!"


Luke melirik ke arah Rin yang sedikit keluar Yankee nya.


"Ah, oke. Lebih baik kalian pulang saja. Semuanya baru dimulai besok."


Rin pun membungkuk hormat begitu juga dengan Luke sebagai ucapan terimakasih. Keduanya pun keluar dari instalasi jenazah.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Luke basa basi.


"Jalan kaki mungkin... Bis dan kereta sudah tidak beroperasi. Taxi juga pastinya mahal."


"Aku antar pulang!"


Rin menoleh ke arah pria berwajah dingin itu. "Apa? Telingaku tidak salah dengar kan?"


"Dengar Yankee! Sekesal-kesalnya aku, tetap saja aku menghormati kamu sebagai perempuan! Kupingku bisa putus kalau aku tidak mengantar kamu pulang apalagi sudah lewat tengah malam ini!" jawab Luke kesal.


"Baiklah." Rin menatap lurus ke depan.


Keduanya tiba di area parkir mobil dan menuju mobil Aston Martin milik Luke.


"Masuk!" perintah Luke setelah membuka kunci mobilnya. Rin pun masuk ke dalam mobil mewah itu dan dalam hatinya geli. Apa Rin? Kamu berharap Yakuza itu membukakan pintu layaknya gentlemen? Ngimpi! Wajah macam kulkas sepuluh pintu seperti mana peka!


Mobil hitam Luke membelah malam menuju apartemen Rin yang berada di area Roppongi.


***


"Terimakasih sudah mengantarkan aku" ucap Rin setelah tiba di apartemennya.


"Jangan lupa besok malam!" sahut Luke dingin.


"Iya. Tidak lupa!" Rin pun membuka pintu mobil mewah Luke tapi mengurungkan niatnya untuk membanting pintunya. Bisa rusak dan aku harus menggantinya lagi!


***


Keesokan harinya Rin mengurus semua administrasi Kakek Kitano yang ternyata memang tidak memiliki keluarga. Kakek Kitano dan istrinya tidak memiliki anak dan yang membuat semua keuangan diatur oleh pengacara dan akuntannya.


"Kakek Kitano seorang penulis?" tanya Rin ke arah kepala administrasi rumah sakit.


"Iya Ichigo-kun. Menurut pesan tuan Kitano, jika dia meninggal, harus memanggil pengacaranya."


Rin mengangguk.


"Ichigo-kun, terimakasih sudah menemani tuan Kitano semalam."


"Sama-sama. Disamping dia suka meshum padaku, kakek Kitano pria baik."


"Are you okay Ichigo-kun?"


"Sejujurnya? Aku sedih kehilangan sahabat..." Wajah Rin tampak sendu lagi.


"Itu yang aku rasakan jika bekerja di bangsal lansia. Usia mereka sering tidak lama."


Rin mengangguk.


***


AJ-Bianchi Corp Building


Luke mendatangi kantor ayahnya untuk membahas peresmian apartemen baru karya kakak kembarnya Leia Bianchi. Leia memang seorang arsitek sedangkan Luke lebih suka menghitung komposisi agar apartemen itu kuat saat gempa terjadi.


Jepang adalah negara yang sering mengalami gempa bumi dan Luke beserta Luca adalah insinyur yang mengkalkulasi ketahanan bangunan saat menghadapi gempa baik tektonik maupun vulkanik.


"Ah, anak Daddy datang juga!" ucap Luca saat tahu putranya datang.


"Pagi Dad. Bagaimana acara peresmian apartemen baru?" tanya Luke sambil duduk di kursi depan meja kerja Luca Bianchi.


"Lha? Kamu bantuin kenapa? Jangan jadi bang Toyib lah!"


"Kan semua sudah diurus tim promosi kan?"


Luca memicingkan matanya. "Kamu itu kenapa mirip opamu sih!"


"Opa yang mana?"


"Opa Yakuza karatan!"


Luke terbahak. "Dad, nanti kepalanya nggak selamat kena pukul Opa Takeshi lho!"


"Paling Opamu bakalan encok dan nyuruh si Shiki menggantikan Opa buat getok kepala Daddy."


Luke menggelengkan kepalanya. "Ohya Dad, Leia dan Shinchan pulang hari ini dari Belgia."


"Iya, Leia sudah telpon ke Daddy dan okāsan."


"Aku lega Zee sudah aman di Indonesia" senyum Luke.


"Semoga Sean tidak datang ke Jakarta karena Daddy tidak yakin Oom mu yang mulutnya macam cabe setan level Hades itu, tidak habis menghajarnya dengan ucapan pedas!"


"Dad, level Hades itu yang gimana?" kekeh Luke.


"Kamu tahu Hades itu siapa?"


"Penguasa dunia bawah tanah di mitologi Yunani, dalam arti lain dekat dengan neraka" jawab Luke.


"So?"


Luke terbahak. "Astaghfirullah! Dad!"


"Anggap saja mulut Oom Hoshimu itu dekat dengan neraka."


Luke menggelengkan kepalanya. Memang sih kalau Oom Hoshi sudah buka mulut, semua orang pastinya bakalan sebal tujuh turunan.


"So, bagaimana penjarah kebun strawberry Oma Miki?" Luca menatap wajah putranya yang entah darimana tampak lebih dingin darinya. Dang it! Aku lupa! Emi kan mukanya juga judes! Tapi kok ya nurun semua ke anak-anakku!


"Masih menjalani hukumannya Dad."


"Tidak kamu lempar ke Empang kan?" Luca memicingkan mata coklatnya.


"Ya ampun! Nggak Dad! Cukup mengawasi panen strawberry saja selama dua Minggu ini!"


"Dad takut, kamu ikutan Si Shiki. Semenjak mendapatkan akses ke Empang, semua orang yang menyebalkan dilempar kesana terus!" keluh Luca.


Luke hanya memegang pelipisnya. Opa Shiki memang menyeramkan.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️