The Bianchis

The Bianchis
Keusilan Takeshi Takara



Harvard Medical School


Joey pun menghampiri Georgina yang sedang jalan santai. "Wooii sepupu!"


Georgina pun berbalik. "Hei sepupu" balas gadis itu.


"Yakin tuh pasienmu bakalan sadar setengah jam lagi? Aku kok sangsi ya."


Georgina tertawa. "Kamu dengar kah?"


Joey mengangguk. "Yuk cari makan sambil ngobrol, cacing ku sudah demo macam belum dikasih jatah ransum."


"Ayolah! Aku juga lapar."


***


"Jadi kamu dikenal dokter gigi tukang bius?" Joey menatap tidak percaya ke gadis di hadapannya.


"Barang siapa yang tidak bisa anteng, langsung aku bius lah!" sahut Georgina kalem.


"Astaghfirullah G, yang benar saja" gelak Joey.


Georgina hanya tersenyum. "Daripada nanti malah terjadi bedah mulut akibat bor menusuk? Look Joey, manusia itu adalah makhluk paling kepo di muka bumi ini. Semua panca indera pun ikutan kepo termasuk lidah. Jadi saat kamu melakukan pembersihan karang atau menambal, lidahmu pasti kepo, gigi mana yang kena. Terkadang kita sebagai dokter gigi tidak bisa terhindar dari kecelakaan itu meskipun lidahnya sudah ditahan."


Joey tersenyum. "Tidak heran kalau kamu seperti itu. Bukankah keturunan O'Grady memang mafia Irlandia?"


"Apa kabar dengan klan Bianchi?" seringai Georgina yang membuat Joey terbahak. "Kamu membuat aib apa?"


"Well, aku pernah dihukum tiga bulan di kamar mayat" jawab Joey kalem.


Mata hijau Georgina melotot. "Yang benar? Serius kamu?"


Joey mengangguk dan menceritakan awal mula kena hukuman yang pertama. Georgina tertawa mendengar Joey harus membawa mayat memakai gerobak dorong dari tempat material renovasi ditumpuk.


"Lho memang nggak tahu kamu gotong mayat ke ruang seni?" tanya Georgina.


"Kan aku bawanya menjelang Maghrib. Jadi tidak banyak yang tahu" cengir Joey.


"Oh Astagaaa. Tapi cadaver nya posisi dibalsem kan?"


"Iyalah! Formalin tingkat tinggi."


Georgina menggelengkan kepalanya. "Gila kamu! Usilnya kebangetan!"


"Hei, siapa suruh bikin aku jengkel! Harus dibalas semaksimal mungkin."


"Lalu, temanmu itu bagaimana?"


"Lulus tapi entah dimana sekarang. Aku nggak urus!" jawab Joey.


Georgina mengangguk. "Terus hukuman kedua?"


Joey pun bercerita saat dia menjadi detektif partikelir dengan menghajar suami pembunuh istrinya. Georgina hanya memegang pelipisnya.


"Kalau aku jadi kamu, Joey, sudah aku kebiri pria banci macam itu!"


"Tadinya aku mau begitu tapi aku pikir ulang. Aku laki-laki kalau dikebiri bisa stress aku."


Georgina melongo. "Iya juga sih. Anyway, apa milikmu sudah pernah diasah?"


Joey tersentak. "Georgina O'Grady! Kamu kira aku pria macam apa? Tentu saja... belum."


Georgina terkejut. "Serius? Beneran?"


"Sumpah Pramuka! Aku bukan pria yang sembarangan sana sini. Bagi aku, lebih enak melakukan dengan pasangan halal. Kalau kamu sendiri?"


Gadis berambut pendek itu menggeleng. "Tidak tertarik untuk coba-coba meskipun kesempatan itu ada. Iya kalau si pria pembersih, kalau tukang jajan? Rugi bandar lah!"


Joey menatap Georgina. "Gimana kalau kita nikah? Toh sama - sama tahu, keluarga juga tahu, tidak perlu screening lagi."


"Kamu tuh ngajak nikah macam ngajak pergi ke mall" kekeh Georgina.


"Lebih baik to the point daripada muter - muter macam gasingan?"


Georgina tertawa. "Kamu tuh sinting, Bianchi!"


"Banyak yang bilang" cengir Joey. "Oh by the way, aku serius meminta kamu nikah sama aku."


"Alasannya?"


"Aku suka cewek bar-bar."


Georgina melongo.


***


Sejak acara ajak nikah slengeannya Joey, Georgina sedikit menghindari sepupunya itu. Georgina sudah banyak mendengar cerita dari Kaia dan Rhett jika keponakannya yang bernama Joey dan Luca Bianchi itu terkenal dengan slengeannya. Dan kini dirinya mengalami sendiri.


"Georgina!"


Georgina hanya bisa terdiam mendengar namanya dipanggil.


"Kamu menghindari aku? Oh please G, kita itu saudara Nemu. Janganlah menjauh" goda Joey yang membuat Georgina melengos.


"Joey..."


"Ya?"


"Aku sudah diwanti-wanti sama Oom Rhett."


"Apa?"


"Jangan terlalu dekat sama kamu."


"Nah ini nih! Aku yang tidak boleh dekat sama kamu."


"Apa? Aku kurang ganteng?" tanya Joey.


Georgina terkejut. "Hah? Bukan itu, Joey. Tapi Oom Rhett takut aku terkontaminasi slengeannya kamu."


Joey mengungkung Georgina di tembok. "Justru kalau kamu sama aku, bakalan awet muda."


"Kok bisa?" Georgina menatap wajah tampan itu dengan bingung.


"Kapan lagi punya suami yang lucunya macam ini?" ucap Joey pede.


"Oh my God!"


***


Tokyo Jepang


Emi dan Luca menghadap Takeshi Takara dengan sedikit gugup. Malam ini, Luca berencana membicarakan soal lamaran ke Emi sebelum membawa kedua orangtuanya.


"Jadi, kamu serius dengan Emi, putriku yang precious."


"Saya sudah serius dari awal Mr Takara." Luca merasa gemas dengan camer Jelangkung nya.


"Aku hanya memastikan saja, Bianchi."


Astaghfirullah! Gue hajar Kendo lagi deh! Biar encok lagi!


"Kamu tahu kan Emi jago tembak?"


"Tahu."


"Dia baru saja membunuh orang tepat di dahinya. Apakah kamu bisa seperti itu?"


Luca melongo. "Maksudnya apa, Mr Takara?"


"Sebelum aku bilang 'Iya', aku ingin kamu melawan putriku bertanding Kendo dan menembak. Bagaimana Bianchi? Kamu siap?" Takeshi menatap tajam


Luca menoleh ke arah Emi yang duduk di sebelahnya.


"Do you know about this? Seriously?"


Emi menggelengkan kepalanya dan menatap Takeshi. "Otousan! Apa-apaan?"


"Emi sayang, meskipun Otousan suka Luca bukan berarti semudah itu mendapatkan dirimu. Benar dia sudah mengalahkan Otousan dua kali di Kendo dan berapa kali di Shogi dan Go. Tapi dia belum mengalahkan kamu di Kendo dan menembak. Otousan ingin Luca paling tidak sama atau lebih dari kamu" jawab Takeshi tenang.


Luca memegang pelipisnya. Astagaaa!!!


"Saya sudah mempersiapkan semuanya, Takara-san." suara Shiki terdengar di belakang Luca.


Luca terlonjak. Ini lagi Jelangkung dua datang.


"Kapan kamu siap?" tanya Takeshi.


"Anytime Mr Takara" jawab Luca tegas.


"Good! Aku suka gayamu!" Takeshi mengangguk puas.


Ya iyalah! Kalau nggak, ijin melamar tidak bakalan di ACC.


***


"Sumpah Luca. Aku tidak tahu kalau Otousan punya ide seperti itu!" Emi menatap wajah tampan di hadapannya. Keduanya kini sedang berada di halaman belakang rumah Takara.


"Em, bukannya kamu tahu ayahmu memang ayah paling antik dan reseh?" kekeh Luca. Pria itu lalu memeluk Emi dan mencium kening gadis itu.


"Tapi ini sudah keterlaluan, Luca. Otousan keterlaluan! Aku akan minta..."


"Em. Don't. Aku tidak apa-apa. Apa kata ayahmu kalau aku dibantu olehmu? Jatuh dong harga diri Luca Bianchi" kekeh Luca.


Emi memegang wajah Luca. "Tapi Luca, aku itu jago menembak lho."


"Kamu kan belum tahu kemampuan aku Em. Jadi jangan patah semangat ya" senyum Luca yang dijawab anggukan Emi.


Luca mendekatkan bibirnya ke bibir Emi ketika...


DUGH!


"Aduuuhh!" Luca mengusap kepalanya yang terkena getok pedang kayu dari Takeshi.


"Tidak ada cium-cium, Bianchi!" bentak Takeshi. "Kecuali tidak ketahuan!"


Luca berbalik ke arah calon ayah mertuanya.


"Makanya jangan mengintip Mr Takara. Atau jangan-jangan Anda iri?" goda Luca.


"Kamu mau aku getok lagi?" pendelik Takeshi.


Luca meringis.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️