
"Apa kau menangisiku semalam?" tanya William ketika Louise mendorongnya menuju ruangan dimana dia akan menjalani transplantasi bersama Oskar. Wajah muram tak bertenaga milik Louise itu nyatanya tak luput dari perhatian William.
"Jangan besar kepala. Kenapa juga aku harus menangisimu. Apa kau berencana mati di dalam nanti?" jawab Louise.
"Oh, apa kau baru akan menangis saat aku mati?" tanya William sinis.
"Tentu saja," jawab Louise dingin.
"Lalu kenapa wajahmu begitu?" selidik William.
"Aku hanya kurang tidur semalam. Sudahlah, jangan pikirkan aku. Pikirkan dirimu sendiri, bayangkan yang indah-indah saja sebelum dokter menusukmu dengan jarum suntik yang besar," jawab Louise mengalihkan pembicaraan.
William tersenyum, dia tahu Louise berbohong. Setidaknya meskipun bukan menangisi dirinya pasti ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
"Mungkinkah ini soal Joanna? Tapi mereka kan sudah hampir menikah, lalu apa yang membuatnya terlihat berantakan seperti ini?" batin William.
"Louise, ada hal yang ingin ku bicarakan setelah aku operasi nanti," kata William lagi.
"Aku juga punya banyak hal yang ingin ku katakan setelah kau bangun nanti. Jadi jangan terlalu ingin cepat mati!" pesan Louise.
Tepat di depan ruangan itu Louise berhenti, membiarkan suster menggantikannya mendorong William masuk ke dalam. Lalu berbalik arah, melihat satu pasien lainnya yang sedang terbaring di ranjang lain di belakangnya.
"Daddy!" panggil Oskar dengan senyuman mengembang. Tangannya memegang tangan Louise seolah sedang pamit.
"Berjuanglah! Jangan takut, Paman William bersamamu di dalam. Daddy dan mommy juga menunggumu disini!" kata Louise. Kemudian memegang pipi Oskar dan menciumnya.
"Saat Xiao O bangun nanti Xiao O ingin melihat daddy dan mommy!" kata Oskar.
"Tentu," janji Louise. Kemudian suster mendorong ranjang itu menyusul ranjang milik William.
Louise menarik nafasnya, kemudian memeluk Joanna yang terlihat baik-baik saja. Joanna adalah Jose yang kuat. Dia menyimpan harapan besar bahwa anaknya akan bangun dan kembali sehat jadi sedikitpun dia tidak mengeluarkan air matanya sejauh ini.
Sangat berbeda dengan Louise, dia memang tidak menangis tapi matanya kembali memerah. Terlebih saat mengingat apa yang dia dengar soal kebenaran itu kemarin malam.
Louise, Joanna dan yang lainnya bisa melihat lampu itu menyala beberapa saat kemudian. Tanda bahwa proses itu segera dimulai di dalam sana.
Selagi menunggu, Louise menarik Joanna menepi ke tempat yang sepi. Membiarkan orang tuanya dan Sir Alex menunggu William dan Oskar. Dua orang itu terus berjalan menuju tempat tertinggi di gedung rumah sakit.
"Louise, kau kenapa. Kenapa membawaku kemari?" tanya Joanna sesampainya mereka di atas.
"Aku hanya ingin membawamu melihat-lihat pemandangan dari sini," jawab Louise dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi kau sangat aneh hari ini, kenapa?" selidik Joanna.
"Mungkin karena aku terlalu merindukanmu," jawab Louise kemudian memeluk Joanna dengan sangat erat.
"Louise, kau tidak akan mati kan?" tanya Joanna asal.
"Kenapa tiba-tiba aku mati?" protes Louise. Dia hanya ingin memeluk Joanna, apa hubungannya dengan mati?
"Karena kau sangat aneh. Pelukan ini bukan semacam pelukan perpisahan darimu kan?" tanya Joanna dengan mendongakkan kepalanya.
"Apa sih yang kau bicarakan. Aku ini sangat sehat. Lagipula kenapa aku harus mati. Kita belum menikah, belum pernah membuat anak. Belum memberikan adik yang banyak untuk Oskar. Belum memberikan cucu-cucu yang lucu untuk orangtua itu. Sebelum kita melakukan itu semua, bagaimana bisa aku mati?" jawab Louise.
Joanna tersenyum, kemudian memeluk Louise dan menyembunyikan wajahnya di pelukannya.
"Louise, berapa banyak anak yang kau mau?" tanya Joanna.
"Menurutmu?" tanya Louise balik.
"Mungkin dua," jawab Joanna.
"Itu belum cukup. Aku bisa menghidupi anak sebanyak apapun. Jadi kenapa tidak menambah jumlahnya menjadi lebih banyak lagi?" kata Louise.
"Ku dengar melahirkan itu sakit. Apa kau tega melihatku terus kesakitan?" goda Joanna.
"Lalu aku harus bagaimana. Haruskah aku menitipkan calon anakku di perut orang lain?" goda Louise.
"Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya," ancam Joanna.
Mereka tertawa, kemudian saling mengeratkan pelukan mereka.
"Joanna, apa menurutmu kita bisa menikah?" tanya Louise.
"Kenapa tidak?" jawab Joanna dengan nada tinggi.
"Bagaimana jika kau ternyata memiliki pria lain?" pancing Louise.
"Omong kosong. Aku hanya punya kau seorang," jawab Joanna.
"Benarkah?" tanya Louise.
"Apa kau berharap aku menjalin hubungan rahasia dengan Edgar?" jawab Joanna. Dia masih bercanda, tidak tahu bahwa hati pria yang ada di depannya sedang kacau-kacaunya.
"Jangan membahas pria itu lagi. Kenapa kau sangat suka menyebut nama Edgar yang sudah pergi dan tenang di belahan bumi yang lain sih?" tanya Louise.
"Itu karena kau dengan kejam mengusirnya!" protes Joanna.
"Lain kali aku tidak akan memaafkanmu jika kau mengusir temanku lagi," kata Joanna.
"Itu tidak akan pernah terjadi lagi," janji Louise sambil menghirup nafasnya dalam-dalam, "Joanna, ku dengar kau memiliki tunangan sejak bayi. Seharusnya kau juga punya sebuah liontin kan?" tanya Louise.
"Aku punya," jawab Joanna.
"Apa kau masih menyimpannya?" tanya Louise.
"Louise, apa kau cemburu?" ledek Joanna.
Louise tidak menjawab, tapi menunjukkan senyuman tanpa arti.
"Louise, karena kau membahasnya aku akan menceritakan sesuatu. Liontin itu sebenarnya ada satu pasang. Satu milikku dan satu lagi milik tunanganku. Meskipun dia disebut tunanganku, tapi aku tidak ingat pernah melihatnya. Itu karena tetua bodoh itu menjodohkan aku saat aku masih merah. Ini sangat tidak adil dan membuatku sangat marah," kata Joanna panjang lebar
"Kenapa, apa yang membuatmu marah?" tanya Louise.
"Tentu saja karena aku ini penganut kebebasan. Aku tidak suka diikat dengan perjodohan seperti itu. Tidak masalah jika aku sudah berusia remaja, setidaknya aku bisa menolaknya kan? Tapi mereka melakukannya disaat aku masih bayi, aku bahkan masih tidak tahu apa itu kehidupan. Bukankah itu sangat menyebalkan?" jawab Joanna.
"Kau sangat lucu saat marah," kata Louise lalu mencubit pipi Joanna.
"Meskipun begitu, sepertinya aku beruntung. Bukannya aku bermaksud bersuka cita atas musibah yang menimpanya hingga membuatnya kehilangan nyawa. Tapi aku sedikit bersyukur karena musibah itu bisa membuatku mendapatkan kembali kebebasanku," lanjut Joanna.
"Apa kau sangat senang karena dia mati?" tanya Louise.
Joanna tersenyum kebar, "Aku tidak bermaksud begitu. Tapi kalau dia hidup aku akan sangat patah hati karena tidak bisa menikah denganmu kan?" jawab Joanna.
"Bagaimana kalau ternyata dia masih hidup?" tanya Louise.
"Bukan masalah," jawab Joanna.
"Apa karena kau berubah pikiran. Kau ingin menikah dengannya dan meninggalkanku?" tanya Louise.
"Tidak juga," jawab Joanna.
"Lalu?"
"Karena aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Bukankah kau akan membereskannya untukku. Louise Matthew tidak akan membiarkan aku menikah dengannya kan?" jawab Joanna.
"Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?" tanya Louise.
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya," jawab Joanna.
"Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Louise.
"Seperti caramu saat meratakan Kota Utara waktu itu," jawab Joanna.
"Membunuh lagi? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengangkat senjatamu lagi? tanya Louise.
"Aku memang berjanji. Tapi bukan berarti aku akan sepenuhnya memenuhi janjiku kan. Bagaimana jika aku berada dalam bahaya dan kau tidak bisa melindungiku, bukankah aku harus melakukannya demi diriku sendiri?" jawab Joanna.
"Kau benar juga," kata Louise lalu kembali memeluk Joanna.
"Kau ini kenapa sih. Kenapa kau berbicara seolah-olah dia akan kembali dan aku akan meninggalkanmu demi dia. Louise, meskipun dia hidup apa kita harus takut. Bukankah kita bisa membereskannya seperti biasanya?" tanya Joanna.
"Joanna, masalahnya dia benar-benar masih hidup dan aku tidak bisa menyingkirkannya karena dia adalah adikku. Masalah lainnya lagi adalah, jika seandainya William ingin kembali dan mendapatkan posisinya dia membutuhkanmu untuk itu. Karena salah satu syarat khusus yang harus dia penuhi jika ingin duduk di posisi itu adalah menikah denganmu. Aku bersyukur jika William tidak ingin kembali. Tapi, ada hal buruk lainnya yang akan terjadi jika dia tidak kembali. Apa yang harus ku lakukan, Joanna?" batin Louise.
.
.
.
Setelah beberapa jam, akhirnya serangkaian proses transplantasi itu selesai juga. Karena hari sudah sangat larut, Sir Alex, Jordan dan Rose pun pamit pulang.
Sementara itu, Louise dan Joanna menyempatkan diri untuk melihat Oskar dan William. Lalu juga pulang beberapa saat kemudian.
Louise tidak mengatakan banyak hal selama perjalanan pulang. Dia hanya menjawab apa yang Joanna tanyakan. Tapi tangannya tidak pernah melepaskan tangan Joanna.
Bahkan sampai mereka di villa pun masih tetap seperti itu. Pegangan tangan itu tidak pernah Louise lepaskan.
"Louise, selamat malam!" pamit Joanna ketika mereka sampai di depan kamar Joanna.
Joanna mencoba melepaskan tangannya dan masuk ke kamarnya. Tapi Louise tidak membiarkan Joanna lepas, "Bisakah malam ini tidur di kamarku?"
"Apa?"
"Apa kau tidak mau. Kalau begitu biarkan aku yang tidur di kamarmu!" ijin Louise.
"Louise?"
Louise tidak menjawab lagi. Dia langsung menarik Joanna masuk ke kamarnya. Mencium Joanna, meninggalkan jejak-jejaknya, melucuti Joanna, memperlakukan Joanna sesuka hatinya. Melayani Joanna dan mengantarnya terbang ke awang-awang seperti biasanya sebelum akhirnya tidur dengan memeluk Joannanya.
...***...