CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Penyusup Profesional atau Pembunuh Profesional?



"Apa kalian bisa menyusup?" tanya Joanna pada lima pria berbadan besar yang saat ini berlutut di depannya.


Ibu satu anak itu terlihat sangat tenang menghadapi situasi darurat seperti ini. Bahkan bisa dikatakan lebih keren karena terlihat sangat bossy saat jiwa savage-nya muncul seperti ini. Dia masih tenang duduk di kursi dengan menyangga dagu dan menyilangkan kakinya yang jenjang. Matanya tidak melepaskan pandangannya dari kelima pria yang enggan berdiri meskipun dia sudah memintanya.


"Bisa," jawab mereka serempak.


Mendapatkan jawaban itu membuat Joanna tersenyum, kemudian mengeluarkan selembar cek dari dalam tasnya dan memberikannya kepada salah saru pria itu.


"Ini apa, Nona?" tanya si penerima cek dengan mata yang lebar saat melihat dengan jelas nominal yang tertulis di atasnya.


"Aku ingin kalian membantuku melakukan tiga hal. Hanya tiga hal saja dan kalian bisa memiliki uang sejumlah itu. Aku memberikannya sekarang karena aku ingin kalian mengerti bahwa aku ini bisa di percaya," jawab Joanna.


"Apa misi ini sangat berbahaya?" tanya orang berbadan besar itu lagi.


Uang senilai 2.5 milyar hanya untuk melakukan tiga misi. Jika uang itu dibagi untuk mereka berlima, jumlahnya masih mencapai 500 juta per orang. Jumlah yang tergolong fantastis untuk ukuran mereka. Misi apa sebenarnya yang membuat nona muda di depannya ini mau merogoh kocek sebanyak itu. Lalu, apa mereka bisa mati setelah melakukan misi itu?


"Mendekatlah, aku akan memberitahumu apa saja tiga hal yang kuinginkan itu!" titah Joanna.


Salah satu pria itu mendekat. Lalu tersenyum setelah mendengar semua penjelasan Joanna. Dia mundur teratur, lalu memberitahu rekan-rekannya apa yang harus mereka lakukan. Kali ini tidak hanya satu pria itu yang tersenyum, tapi semuanya.


"Nona, aku tidak tahu kau sangat dermawan seperti ini," puji orang itu setelah tahu apa saja tugasnya.


"Apakah jumlahnya sesuai?" tanya Joanna. Mengabaikan pujian mereka dan memilih bertanya apakah uang sebanyak itu cukup sebagai upah atas tiga misi yang dia berikan.


"Sangat cukup, Nona!" jawab orang itu puas.


"Bagus. Tapi masih ada yang kurang," lanjut Joanna.


"Apa itu, Nona?" tanya mereka.


"Jumlah itu hanya setengahnya. Kalau kalian berhasil melakukan misi yang ketiga dan menyerahkan hasilnya padaku, aku akan memberi kalian lagi sebuah cek dengan jumlah yang sama seperti yang tertulis di cek yang kalian pegang saat ini," kata Joanna.


"Jadi ini hanya setengahnya?" tanya orang itu tidak percaya.


"Ya, itu hanya setengahnya. Bagaimana?" jawab Joanna.


"Setuju, Nona!" jawab mereka serempak.


Melakukan misi yang mudah kemudian mendapatkan 1 Milyar per orang, siapa yang tidak mau. Apakan begini cara nona muda menghabiskan uangnya?


"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat ini. Segera berangkat, aku tidak ingin kita terlambat!" kata Joanna sembari menyerahkan lokasi yang akan menjadi tempat mereka melakukan misinya.


"Nona, apa kita tidak berangkat bersama-sama?" tanya salah satu pria itu ketika melihat Joanna bangkit dan mengambil helmnya.


"Tidak. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu kalian!" jawab Joanna kemudian pergi begitu saja.


Kelima pria itu saling pandang. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Padahal mereka berencana membawa Joanna pergi bersama mereka agar mereka bisa mempersingkat waktu. Tapi kenapa yang dia katakan malah sebaliknya. Apa ada kesalahpahaman disini?


"Cepatlah pergi sebelum kalian benar-benar terlambat!" kata seorang kenalan lama Joanna yang sejak tadi diam di kursi yang lain. Dia bahkan tidak sempat menyela dan hanya bisa diam saja saat melihat Joanna memakai helmnya dan siap mengemudikan motornya.


"Nona itu hanya seorang wanita. Kami pasti akan datang lebih awal darinya," kata salah satu pria itu percaya diri.


"Kalau begitu lihatlah!"


Kelima pria itu akhirnya melihatnya. Melihat bagaimana seorang wanita itu mengemudikan motor sportnya dengan kecepatan maksimal dan sangat terampil sampai membuat kelima pria itu lupa bagaimana caranya menutup mulut.


"Dia benar-benar pergi begitu saja. Apa dia tidak takut kita kabur?" tanya pria yang lain.


"Apa kalian pikir kalian bisa kabur?" tanya kenalan Joanna lagi.


"Kenapa tidak bisa?" tanya mereka.


"Memangnya dia siapa?" tanya lima pria itu semakin penasaran.


"Dia itu wanitanya Louise Matthew. Dengar-dengar dia menikah dengan adik angkatnya, William Matthew," jawab kenalan Joanna.


"Pantas saja," kata mereka manggut-manggut.


"Sudahlah itu tidak penting lagi. Yang penting adalah sebenarnya wanita itu adalah putri dari Kota Utara," lanjut kenalan Joanna.


"Yang mana?" tanya pria berbadan besar.


"Nona Josephine," jawab kenalan itu singkat. Kemudian segera pergi karena tugasnya untuk mencari lima pria ini sudah selesai.


"Cepatlah berangkat atau kalian akan mati!" kata orang itu sebelum meninggalkan lima pria yang mulai bergerak.


.


.


.


Tuk


Tuk


Tuk


Joanna menepuk pundak salah satu penjaga yang menjaga salah satu akses pintu masuk dengan jari telunjuknya. Berbekalkan denah lengkap yang dia dapat dari Okta sebelumnya, akhirnya dia tahu akses mana yang memiliki sedikit penjaga di bagian pintu masuk.


Penjaga itu menoleh, kemudian diikuti satu penjaga lainnya yang juga menoleh. Sejak kapan wanita ini berdiri di samping mereka. Belum selesai mereka terkejut dengan keterkejutan pertamanya. Mereka sudah dikejutkan dengan keterkejutan keduanya saat Joanna membuka mulut untuk bersuara.


"Tolong biarkan aku masuk. Aku ingin menjemput suamiku!" kata Joanna saat melihat kedua penjaga itu masih melongo ditempatnya.


Kalimat yang dikatakan Joanna membuat semua penjaga itu saling pandang. Apakah wanita ini seorang penyusup. Tapi kalau memang seorang penyusup, beginikah sifat penyusup masa kini. Apa mereka belajar sopan santun terlebih dulu sebelum menyusup sampai harus minta ijin kepada penjaga sebelum masuk. Padahal, kalau mau menyusup ya menyusup saja. Pintunya kan ada di belakang mereka. Kenapa malah menepuk pundak dan minta ijin, bukankah kalau begini dia bisa ketahuan. Sebenarnya, wanita ini penyusup atau bukan?


"Hei, aku berbicara dengan kalian!" ulang Joanna.


Okta dan pengikutnya yang sedari tadi bersembunyi saling menepuk jidat mereka masing-masing. Apakah ini yang dimaksud Joanna dengan aku tahu bagaimana caranya menyusup secara profesional beberapa saat yang lalu?


"T-Tuan Okta, a-apa yang dilakukan nona. Sudah bagus dia tidak ketahuan tadi. Kenapa malah menyentuh pundak kedua cecunguk berseragam itu?" protes bawahan Okta.


"Jangan berisik!" bentak Okta sok tahu. Padahal dia sendiri juga ingin protes seperti itu pada bawahannya. Tapi ternyata bawahannya sudah mendahuluinya.


"Kita lihat saja apa yang akan dilakukan Nona Joanna," lanjut Okta.


Okta sendiri sebenarnya juga tidak tahu kenapa Joanna meminta mereka menunggu. Tapi dia percaya pasti Joanna sudah merencanakan sesuatu karena dia terlihat sangat percaya diri. Akhirnya mereka kembali memperhatikan Joanna dari kejauhan.


Mereka semua melihatnya. Melihat Joanna tersenyum manis dan terlihat sangat lemah, tapi satu detik kemudian menarik dua belati dari pinggangnya dengan sangat cepat. Lalu yang tidak mereka sangka adalah Joanna menyembelih keduanya dengan senyum tipis yang menghiasi sudut-sudut bibirnya. "Aku sudah bilang tolong biarkan aku masuk untuk menjemput suamiku. Karena kalian tidak menurut, kalian jadi mati kan?" gumam Joanna.


"T-Tuan, apa itu masih Nona Joanna kita?" tanya salah satu anak buah Okta terbata-bata.


"T-Tuan Okta, i-ini bukan penyusup profesional lagi, t-tapi pembunuh profesional," kata salah satu yang lainnya lagi.


"Sangat pantas dijadikan sebagai bosku," ucap salah satu pria berbadan besar.


Okta hanya menoleh tanpa mengatakan apapun sebagai tanggapan atas apa yang mereka katakan. Tapi yang jelas, sekarang Okta baru tahu kenapa Joanna sangat percaya diri saat mengatakan akan maju duluan dan membiarkan mereka menunggu. Ternyata dia seperti monster. Tapi, sejak kapan nona mereka sangat menyeramkan seperti ini. Apakah Tuan William juga tahu, tapi kenapa tidak pernah mengatakannya?


...***...