CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Arthur & William



"Ada apa?" tanya William setelah Arthur menyelesaikan panggilan teleponnya.


Malam ini William sedang menyetir mobil. Mengantarkan Arthur ke rumah sakit untuk melihat Oskar, dan sesampainya di rumah sakit nanti Arthur akan kembali kerumah bersama Alexa. Setidaknya itulah kesibukan Arthur belakangan ini.


Lalu William juga akan kembali ke apartemennya setelah menjenguk Oskar.


"Bukan apa-apa," jawab Arthur singkat.


"Lalu kenapa wajahmu begitu?" selidik William.


"Oskar sangat rewel hari ini. Tidak mau lepas dari pelukan ibunya sebentar saja," jelas Arthur.


"Joanna yang menelepon barusan?" tanya William penasaran.


"Bukan, Joanna tidak mungkin meneleponku untuk hal-hal seperti ini," jawab Arthur.


"Kenapa?" tanya William lagi.


"Dia itu tidak suka merepotkan orang lain," jelas Arthur.


"Oh," William singkat.


William menarik nafasnya panjang. Mengingat wajah Oskar, anak yang begitu lucu dan bersemangat itu sudah berubah. Masih sangat lucu, tapi tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Sama seperti Ebra, dia juga akan berlari menyambutnya saat dirinya pergi menemui keduanya di sekolah.


Selama beberapa detik dua pria dewasa itu saling diam. Sampai William memberanikan diri untuk kembali membuka obrolan, "Arthur, sepertinya kau sangat dekat dengan Joanna dan Oskar."


William masih ingat, saat berkunjung kerumah Joanna sebelum liburan mereka beberapa waktu yang lalu. Disana bahkan tersedia bukan hanya pakaian Alexa, tapi juga pakaian Arthur lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan hanya pakaian biasa, melainkan juga beberapa set piyama termasuk onderdil baru yang belum terpakai.


"Tentu saja, kami kan sudah lima tahun bersama," jawab Arthur.


"Apa kalian sering menghabiskan waktu bersama seperti terakhir kali?" tanya William penasaran.


"Kenapa wajahmu begitu?" bukannya menjawab, Arthur malah menyerang William dengan pertanyaan karena melihat perubahan mimik pada wajah William.


"Tidak, hanya saja itu ... bagaimana aku menjelaskannya ya?" jawab William canggung.


Padahal William hanya ingin bilang, 'tidakkah kau terlihat seperti seorang pria yang sedang membawa dua orang istri dan dua orang anak untuk liburan?'


"Jangan berpikiran macam-macam!" lanjut Arthur, melirik William dengan tatapan mata yang tajam, seolah mengerti apa yang hatinya katakan.


"Aku tidak berpikiran macam-macam, kok?" kilah William.


"Will, kau akan tahu rasanya jika jadi aku," lanjut Arthur.


"Apa itu menyenangkan?" tanya William.


"Itu saling bertabrakan," jawab Arthur.


"Maksudnya?"


"Bayangkan saja kau jadi aku. Bagaimana jika kau sudah memiliki seorang istri yang cantik, baik dan sangat kau cintai. Kemudian ada Joanna yang dekat denganmu, bahkan anaknya menganggapmu sebagai ayahnya karena kau merawatnya sejak bayi. Lalu istrimu juga sangat menyukai anak itu, ditambah dengan paras Joanna yang seperti itu, apa menurutmu kau akan baik-baik saja. Sialan, jika saja aku bertemu dengan Joanna lebih awal, bisa saja aku menikahinya," kata Arthur panjang lebar.


"Arthur, jangan bilang kau menyukai Joanna?" tanya William.


"Ini rahasia, tapi aku memang sempat menyukainya," jawab Arthur.


"Apa kau tak takut?" tanya William.


"Takut apa?"


"Semacam Alexa atau Louise mengetahui bahwa kau menyimpan perasaan seperti itu," jelas William.


"Ah, benar juga. Tapi, kalau dipikir-pikir sepertinya hubungan kalian sangat rumit," komentar William.


"Rumit?"


"Lihatlah, kau sudah menikah dan kau pernah menyukai Joanna. Lalu disisi yang lain Joanna memiliki hubungan yang khusus dengan Louise. Dan sekarang ada seorang wanita yang mengaku melahirkan anak Louise, bukankah itu rumit?" jelas William.


"Apa kau sedang mengolokku?" protes Arthur.


"Tidak kok!" jawab William cepat.


"Jangan berbohong!" sergah Arthur.


"Aku hanya berpikir, kenapa bisa serumit itu. Aku tidak sedang mengolokmu, sumpah. Aku pun juga pusing hanya dengan memikirkannya," jelas William.


"Kalau begitu semoga kau ikut masuk kedalam pusaran kerumitan ini," kata Arthur.


"Kau ini bicara apa, itu tidak mungkin."


"Will, kau tak akan pernah tahu masa depan itu akan seperti apa. Siapa yang tahu suatu hari kau tidak hanya jatuh cinta pada Joanna, tapi juga ingin menikahinya."


"Jaga ucapanmu itu, aku mana mungkin berebut wanita dengan Louise. Bisa-bisa dia membunuhku sebelum aku mengatakannya," ucap William.


"Seandainya Louise tidak membunuhmu, apa itu berarti ada kemungkinan kau akan jatuh cinta pada Joanna?" tanya Arthur.


"Apa sih yang bicarakan. Tentu saja tidak, hentikan omong kosongmu itu," sahut William mulai emosi.


"Baguslah kalau begitu. Will, ngomong-ngomong apa benar Louise punya anak?" tanya Arthur mengalihkan pembicaraan.


"Mana aku tahu. Kau pikir aku selalu mendapat notifikasi saat Louise sedang bermain dengan wanita."


"Cih, lalu kau tahu siapa bocah yang katanya anak Louise itu. Apa kau sudah melihatnya? Lihat saja jika benar dia punya anak, aku akan menyembunyikan Joanna dan Oskar. Lalu tidak akan membiarkan mereka bertemu lagi untuk selamanya," ancam Arthur.


Sangat sebal membayangkan Joanna yang sangat dia jaga malah dipermainkan seperti itu oleh Louise. Ingin sekali rasanya memukul Louise itu tapi semuanya masih sangat abu-abu.


"Aku tidak tahu. Louise masih mengurusnya, untuk itu dia sangat sibuk belakangan ini," jawab William.


Tiga hari ini Louise memang sedang disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan menerima laporan dari orang-orang pribadinya. Mengusut tuntas akar masalah yang menjeratnya, termasuk mengingat-ingat apakah benar dia kecolongan sampai menghasilkan seorang anak. Juga mencari jalan keluar serta menimang-nimang serangkaian pembalasan jika terbukti anak itu bukan anaknya. Untuk itulah dia tidak menghubungi Joanna sama sekali.


"Lalu kenapa kau tak membantunya agar urusan itu cepat selesai. Kenapa malah bermalas-malasan denganku disini?" protes Arthur.


"Kau sendiri apa yang kau lakukan, kenapa kau tak membantunya?" tanya William.


"Aku malas, aku lebih memikirkan Joanna dan Oskar saat ini. Apa yang ku katakan saat bertemu dengan mereka nanti ya?" keluh Arthur mulai pusing.


"Cih, asal kau tahu kalau bukan Louise yang memintaku, kau pikir aku akan mengantarmu? Lebih baik aku rebahan di rumah untuk meluruskan pinggangku," sewot William.


"Oh, kalau begitu jangan mengantarku lagi dan kembalilah!" usir Arthur.


"Arthur, kenapa kau semakin brengsek. Kenapa baru mengatakannya saat sudah sampai, bodoh!" umpat William tepat setelah memarkirkan mobilnya karena mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


"Maaf, aku sengaja," jawab Arthur sembari melepas sabuk pengamannya dan bersiap-siap untuk turun.


William pun sama, segera mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Lalu segera turun untuk mengikuti Arthur yang sudah berjalan duluan tanpa menunggunya.


Malam belum terlalu larut, tapi rumah sakit itu sudah sedikit sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang. Arthur dan William segera menuju ke ruangan VVIP dimana Oskar dirawat. Dari kaca kecil yang ada di pintu, mereka bisa melihat seorang dokter memeriksa Oskar yang masih berada di pelukan Joanna.


William dan Arthur saling pandang, pasti lelah terus menggendong anak itu seharian penuh, itulah yang mereka pikirkan.


...***...