CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Putriku Masih Perawan



"Oh, benarkah. Tapi, kurasa aku tetap akan menjadi pemenangnya. Karena aku tidak hanya akan mengambil hati putrimu, tapi juga cucumu," jawab Louise santai.


"Sepertinya kau sangat perduli dengan cucuku," selidik Sir Alex.


"Bagaimana aku tidak peduli. Karena aku mencintai ibunya, sudah pasti aku juga harus mencintai anaknya. Tapi, bisakah Anda memberitahuku siapa ayah dari cucumu itu, Ayah Mertua?" tanya Louise.


"Louise, kau bertanya pada orang yang salah. Karena aku pun tidak tahu siapa ayahnya," jawab Sir Alex.


"Bahkan ayah mertua pun juga tidak tahu siapa orang itu, bagaimana itu bisa?" tanya Louise tak percaya.


"Louise, apa kau pikir pria itu meminta ijin padaku terlebih dulu sebelum membuatnya?" tanya Sir Alex.


"Ah, benar juga," kata Louise.


"Kenapa kau sangat ingin tahu siapa ayahnya?" tanya Sir Alex.


"Tentu saja untuk menghancurkannya. Aku, tidak akan memberikan kesempatan atau celah sedikitpun untuk membuatnya kembali dalam kehidupan Joanna," batin Louise.


"Bukan apa-apa. Hanya saja ada sesuatu yang ingin aku lakukan untuknya," jawab Louise.


"Jika kau ingin menghancurkannya, maka buang jauh-jauh semua niatmu itu," saran Sir Alex.


"Kenapa, apa pada akhirnya Anda ingin Joanna hidup dengan pria itu?" tanya Louise.


"Bukan seperti itu, Louise. Hanya saja itu tidak perlu," kata Sir Alex.


"Kenapa tidak?" tanya Louise.


"Kalau ayah mertuamu ini bilang tidak perlu ya tidak perlu," jawab Sir Alex sambil melirik ke arah Louise, kemudian mengambil rokok dan mulai membakarnya.


"Jika Jose kecilku melihat ini, dia pasti akan membunuhku," kata Sir Alex.


"Cih, bahkan meskipun dia melihatnya sekarang. Tidak akan ada yang terjadi padamu, Ayah Mertua," respons Louise.


"Mungkin ini satu-satunya berkah yang kudapatkan saat dia hilang ingatan. Karena aku bisa bebas melakukan kebiasaan burukku ini tanpa takut patah tulang," lanjut Sir Alex.


"Patah tulang?" ulang Louise.


"Putriku itu sangat pintar dan menyeramkan. Kau bisa mati kapan saja jika mencari masalah dengannya. Tapi, semoga saja kau tidak akan pernah melihat sifatnya yang seperti itu," kelakar Sir Alex.


Percakapan mereka terhenti sebentar. Sir Alex tampak sangat menikmati tembakau yang dia bakar, menyesapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya ke udara. Tepat saat itu, ponsel Louise berdering.


"Hallo," Louise mengangkat teleponnya.


"Daddy, aku akan kembali sedikit terlambat!" kata Oskar memberitahu. Bocah itu sedang jalan-jalan di pulau sebelah dengan yang lainnya untuk berbelanja saat ini.


"Terserah kau saja. Jangan sampai hilang atau daddy tidak akan mencarimu!" kata Louise.


Louise melihat ke arah Sir Alex yang melihat kearahnya, dia tersenyum. Sepertinya Pria tua itu sedikit tertarik saat mendengar percakapan antara dirinya dan Oskar. Mungkin saja dia merindukan cucunya tapi tidak bisa menunjukkannya karena suatu alasan. Begitu pikir Louise.


"Baik, daddy!" jawab Oskar lagi, sepertinya dia hendak menutup sambungan teleponnya.


"Xiao O, tunggu. Maukah kau berbicara sebentar dengan seseorang?" tanya Louise menahan Oskar.


"Seseorang, siapa itu?" tanya Oskar penasaran.


"Seorang kakek," jawab Louise.


"Tentu!"


Louise menyerahkan teleponnya kepada Sir Alex. Membiarkan mereka berbicara meskipun hanya melalui sambungan telepon. Sir Alex terlihat sangat senang dan menikmati saat berbicara dengan Oskar.


"Dia anak yang pintar," puji Sir Alex setelah menyelesaikan panggilan singkatnya.


"Iya, dia sangat pintar," ujar Louise menyetujui pemikiran Sir Alex.


"Louise, apa kau sangat menyukai Oskar?" tanya Sir Alex tiba-tiba.


"Aku sangat menyukainya," jawab Louise tanpa ragu.


"Lalu, seberapa besar cintamu untuk Jose, putri kecilku?" tanya Sir Alex lagi.


"Itu aku tidak bisa menggambarkannya," jawab Louise.


"Diantara mereka, siapa yang lebih kau cintai?" tanya Sir Alex. Wajahnya berubah menjadi serius, menegakkan tubuhnya dan tak lupa mematikan tembakau yang dia bakar ke asbak.


"Aku tidak bisa memilih. Tapi aku tahu, aku sangat mencintai keduanya. Sama seperti aku mencintai diriku sendiri, sama seperti aku mencintai keluargaku," jawab Louise tulus.


Tapi ketulusan Louise tidak membuat Sir Alex puas. Orangtua yang masih sehat itu pun mengajukan pertanyaan lain yang lebih sulit, "Louise, seandainya kau dihadapkan pada satu pilihan, dan kau harus memilih salah satu diantara Jose atau Oskar, siapa yang akan kau pilih untuk tetap berada disisimu?"


"Joanna tidak akan hidup tanpa Oskar, begitu pula sebaliknya. Lagipula, kenapa aku harus memilih salah satunya ketika aku bisa mendapatkan keduanya?" jawab Louise.


"Bagaimana jika seseorang ingin memisahkan mereka?" tanya Sir Alex.


"Siapapun orang itu, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku hanya perlu menghancurkan orang itu terlebih dulu sebelum mereka memisahkan Joanna dan Oskar. Tidak peduli siapapun orangnya, aku akan membuatnya menyesal karena pernah dilahirkan," jawab Louise.


"Seseorang yang ingin memisahkan Joanna dan Oskar, mungkinkah itu ayah Oskar?" batin Louise.


"Aku selalu menepati janjiku, Ayah Mertua. Aku, akan menyingkirkan siapapun yang mencoba memisahkan mereka," jawab Louise menyanggupi.


"Kalau begitu aku akan memberitahumu sesuatu," kata Sir Alex.


"Apa itu?" tanya Louise.


"Oskar, anak itu bukanlah cucu kandungku," jawab Sir Alex.


"Apa maksudnya?" tanya Louise.


"Putriku, Jose belum pernah hamil ataupun melahirkan seorang anak sebelumnya. Aku bisa menjamin kata-kataku hari ini bahwa dia masih seorang gadis yang suci. Hanya saja tidak sepenuhnya suci karena seorang pria pernah menciumnya saat dia remaja," beritahu Sir Alex.


"Belum pernah melahirkan?" ulang Louise. Pria itu tertegun mendengar kejujuran Sir Alex. Dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana sekarang ini.


"Jose masih perawan. Aku selalu menjaganya mati-matian dari sentuhan kumbang liar. Sampai akhirnya pengawal yang ku kirim untuk menjaganya tidak bisa menembus pengawalmu. Aku sudah sangat frustasi hari itu. Tapi aku tidak menyangka, sepertinya kau sangat tahan terhadap godaan meskipun terlihat seperti pria hidung belang," kata Sir Alex tanpa menyaring kata-katanya.


Louise masih mencerna kata demi kata yang diucapkan Sir Alex. Masih perawan katanya, Louise tersenyum lebar menyadari bahwa naluri dan instingnya tidak pernah salah. Hanya saja sedikit terganggu dengan sebutan pria hidung belang yang disematkan untuknya. Tapi, karena yang berbicara di depannya adalah calon mertuanya, dia akan memaafkannya kali ini.


Meskipun begitu, siapa pria kurang ajar yang mencuri ciuman Joanna. Ini tidak bisa dibiarkan, "Ayah Mertua, siapa pria itu?" tanya Louise.


"Seorang pria yang selalu melindungi Jose sejak lama," jawab Sir Alex.


"Apa hubungan mereka, apa mereka berpacaran?" tanya Louise mulai posesif.


"Aku tidak tahu, tapi satu yang pasti, sainganmu itu banyak. Baiklah, kurasa ini cukup. Selebihnya aku tidak bisa menceritakan lebih banyak lagi. Mungkin suatu hari dimasa depan jika dia belum bisa mengingat, aku akan menceritakan semuanya padamu," lanjut Sir Alex.


"Aku mengerti, aku akan menantikannya," jawab Louise kemudian.


"Kurasa sudah saatnya untukku pergi, selamat tinggal!" pamit Sir Alex.


"Aku akan mengantarmu, Ayah Mertua!" kata Louise.


"Louise, berapa banyak musuh yang jelas-jelas menginginkan kehancuranmu?" tanya Sir Alex ketika mereka sampai di landasan.


"Saat ini hanya satu," jawab Louise.


"Lalu, berapa banyak siangan yang iri dengan pencapaianmu. Berapa banyak yang ingin menjatuhkanmu?"


"Mereka cukup banyak," jawab Louise.


"Apa kau yakin bisa menjaga putriku tetap aman?" tanya Sir Alex.


"Apa maksudnya, apa Anda sedang meragukanku?" tanya Louise.


"Aku hanyalah seorang pria tua yang ingin memastikan putriku tetap aman dimanapun dia berada. Aku percaya kau memiliki kemampuan untuk itu. Tapi Louise, di dunia ini akan selalu ada hal tak terduga. Terkadang akan ada hari dimana kau hanya punya satu pilihan, pilihan itu adalah melepaskan wanita yang kau cintai pergi dari sisimu daripada membuatnya tetap tinggal tapi membuatnya tidak aman. Aku tidak berharap kau akan mengalami hal buruk sedikitpun, terlebih berpisah dengan orang yang kau cintai karena itu sangat menyakitkan. Tapi, jika ada sesuatu yang tidak bisa kau pastikan bagaimana akhirnya. Jika ada hal yang sepertinya mengancam keselamatan Jose kecilku, bisakah kau mengembalikannya padaku?" tanya Sir Alex.


Louise tidak menjawab apapun selain memandangi pria yang masih terlihat gagah di usia paruh bayanya itu. Sepertinya pernah ada sebuah luka yang membuatnya mengatakan hal seperti ini.


"Aku mengerti," jawab Louise.


.


.


.


"Kenapa mereka belum juga kembali?" gumam Louise.


Sudah satu jam setelah Oskar menghubunginya tadi, tapi kenapa mereka masih belum kembali juga.


"Bantu aku menyiapkan kapal untuk menyusul Joanna," pinta Louise kepada pengawalnya.


"Tuan Muda, tapi saat ini tidak ada kapal yang berlabuh," jawab pengawal.


"Kalau begitu siapkan helikopter. Aku ingin memastikan mereka baik-baik saja," perintah Louise.


"Baik, Tuan Muda!" kata pengawal kemudian segera pergi.


Beberapa waktu kemudian,


"William, aku akan segera menyusul kalian. Sampai aku kesana, tolong jaga calon kakak iparmu itu dengan baik. Aku akan sangat marah kalau melihat dia lecet sedikit saja," ucap Louise via telepon.


"Ada apa denganmu. Kenapa tiba-tiba menjadi begitu posesif?" tanya William.


"Will, sejak kapan kau jadi sangat cerewet?"


"Baiklah, aku mengerti, aku akan menjaganya untukmu," jawab William menyanggupi.


"Apa Arthur bersamamu?" tanya Louise.


"Dia sedang pergi membeli sesuatu untuk anak-anak. Ada apa?" jawab William.


"Katakan padanya, aku ingin membuat perhitungan dengannya nanti," jawab Louise kemudian mematikan teleponnya.


...***...