
Agria tidak berencana menutup matanya sedikitpun saat Joanna siap menarik pelatuknya. Wajah cantik wanita yang akan membunuhnya itu, Agria ingin melihatnya sampai dia tidak bisa membuka mata lagi. Menyimpannya dalam memori terakhir di ujung hidupnya.
Bibirnya sedikit bergetar. Takut, tentu saja. Selain itu dia juga menyesal telah melakukan kesalahan tak termaafkan kepada satu-satunya adik sepupu yang pernah menjadi kesayangannya. Jose kecil yang saat kecil pernah sangat dia jaga dan lindungi.
Dia memang sangat menyesal tapi enggan memohon pengampunan Joanna. Dia sudah terlalu lelah dengan hidupnya yang rumit. Wanita itu hanya bisa menahan air matanya agar tidak tumpah dan terlihat menyedihkan di hadapan Jose disaat terakhir pertemuannya.
Mati di tangan Joanna, Agria tidak menyesal sedikitpun. Agria sudah siap, sangat siap untuk bertemu dengan ayah dan ibunya yang sudah lama mati. Karena setelah ini dia tidak akan sendirian lagi, tidak akan kesepian lagi seperti hari-harinya bertahun-tahun terakhir.
Agria melihat dengan penglihatan yang sedikit kabur karena air mata yang tertahan. Melihat Joanna yang tanpa ragu menarik pelatuk itu berkali-kali dan mendengar tembakan itu berkali-kali juga. Agria menahan nafasnya. Merasakan saat-saat terakhir kehidupannya. Apakah ini yang dinamakan dengan kematian?
Tapi kenapa dia tidak merasakan sedikitpun rasa sakit itu. Apa Tuhan sedang berbaik hati kepada penjahat sepertinya sehingga membebaskannya dari sakitnya nyawa yang dicabut?
Tentu saja jawabannya adalah tidak.
Karena Joanna sebenarnya tidak bersungguh-sungguh ingin membunuhnya. Joanna membelokkan arah pelurunya hanya beberapa inchi dari wajah Agria yang terus melihatnya dengan tatapan yang juga masih sama.
Joana menembak tapi kearah yg lain. Joanna sangat marah tapi tetap tidak bisa membunuh wanita yang beberapa tahun terakhir sangat dia benci dan ingin dia habisi.
Keduanya sama-sama diam. Sama-sama menelan ludahnya dengan kasar. Masing-masing memikirkan apa yang sedang mereka alami dan lakukan sekarang. Kenapa bisa berakhir seperti ini. Kenapa saling menyakiti dan mengangkat senjata untuk membunuh. Bukankah mereka saudara?
"Kenapa kau tak membunuhku?" tanya Agria setelah berhasil menguasai dirinya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Kakak?" tanya Joanna dengan mata memerah. Air mata itu bisa saja jatuh kapanpun juga tapi Joanna segera menghapusnya dengan kasar.
"Jangan memanggilku kakak. Sudah sangat lama, aku sudah bukan kakakmu lagi," jawab Agria.
"Bohong!" sanggah Joanna.
"Kubilang bunuh aku, Jose!" perintah Agria.
"Apa kakak benar-benar tidak menyayangiku lagi?" tanya Joanna. Gadis itu menjatuhkan kaki-kakinya, bersimpuh di hadapan Agria yang terikat. Menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang penuh airmata.
"Tidak sedikitpun!" jawab Agria.
"Benarkah?" tanya Joanna dengan wajah yang masih menunduk.
"Tentu saja benar," jawab Agria. Suara itu sedikit bergetar meli
"Tapi kenapa kau masih menyimpan benda pemberianku. Kenapa tidak merusak dan membuangnya?" tanya Joanna.
"Jangan salah paham. Aku tidak pernah menyimpannya, aku memiliki begitu banyak barang. Bagaimana bisa aku mengingat semuanya. Aku bahkan lupa barang apa saja yang kumiliki," jawab Agria.
"Bohong!" sanggah Joanna lagi.
"Jose, sudah ku bilang bunuh aku dan semuanya akan selesai!" perintah Agria.
"Maafkan aku, Kakak. Tapi aku tidak bisa!" tolak Joanna.
"Kenapa, apa kau tak takut aku akan merebut Louise darimu jika aku hidup?" tanya Agria.
"Kalau kau merebutnya dia yang akan ku bunuh terlebih dulu. Bukan dirimu, Kakak!" jawab Joanna.
"Jose!" teriak Agria. Kesabarannya sudah habis sekarang. Dia hanya ingin cepat mati dan mengakhiri semuanya, "Kenapa kau masih saja sangat keras kepala. Kenapa selalu tidak menuruti kata-kataku?"
"Berisik!" teriak Joanna lantang dengan mengangkat wajahnya "Aku ... bagaimana bisa aku membunuhmu. Kau adalah ibunya, dan kau adalah kakakku. Bagaimana bisa, aku membunuh orang yang membuat anak itu lahir ke dunia, bagaimana bisa?"
"Anak itu tidak akan pernah menganggapku sebagai ibunya. Tidak akan pernah untuk selamanya!" teriak Agria lantang.
"Maka aku akan memberitahunya pelan-pelan!" kata Joanna meyakinkan.
"Itu tidak akan berguna, Jose. Tidak akan ada yang berubah, tidak ada gunanya aku hidup. Jadi segera bunuh aku secepatnya agar aku segera bebas!" pinta Agria.
"Lalu bagaimana denganku. Apa kakak benar-benar ingin meninggalkanku sendirian lagi? Bukankah dulu kakak pernah berjanji untuk tidak pergi?" tanya Joanna.
"Bukankah sendirian pun kau bisa. Untuk apa memohon padaku yang sudah tidak menganggapmu sebagai adikku lagi?" sangkal Agria.
"Kakak, kau pernah menjadi satu-satunya selain Edgar yang selalu melindungiku. Tanganmu itu pernah melindungiku. Pernah membantuku berdiri saat aku terjatuh. Menarikku ke belakang tubuhmu dan membiarkan tubuhmu di pukul saat kita masih anak-anak. Tidak bisakah, kau kembali seperti dulu, Kakak? Aku janji, aku tidak akan merepotkanmu seperti dulu lagi," pinta Joanna.
"Kenapa?" tanya Joanna.
"Aku tidak menginginkannya dan aku membencimu!" jawab Agria.
"Tapi aku menginginkannya!" pinta Joanna.
"Tidak semua yang kau inginkan akan terjadi, Jose!"
"Baiklah, aku mengerti. Tapi apa kakak tidak ingin melihat anakmu tumbuh besar. Apa kakak ingin melihatnya tumbuh sepertimu yang tanpa ayah dan ibu sejak kecil. Kau pun pernah merasakannya, jadi apa kakak benar-benar ingin meninggalkannya sendirian?" tanya Joanna.
"Aku ... aku,-" Agria tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Mulai menangis saat mengingat hari-harinya yang gelap tanpa orangtua. Menangis lebih keras lagi saat mengingat pamannya, Sir Alex memberikan kasih sayangnya yang tulus tapi dia membalasnya dengan penghianatan.
"Kalau begitu tetaplah tinggal!" pinta Joanna.
"Aku tidak bisa, aku ini tidak termaafkan. Aku pantas mendapatkan akhir sebuah kematian seperti mereka. Kenapa kau membunuh mereka dan memberikan kesempatan untukku agar tetap hidup. Inikah sikap pewaris itu. Tidak bersikap adil saat memberikan hukuman kepada penjahat?" tanya Agria.
"Kakak, mereka membunuh ibuku tapi kakak tidak. Satu-satunya kesalahanmu adalah memfitnahku hari itu dan aku bisa memaafkannya. Meskipun akhirnya aku terusir, tapi kakak memberikan aku sesuatu yang lebih berharga. Anak itu, aku sangat menyukainya. Jadi bagaimana mungkin aku membunuh ibunya?" jelas Joanna.
"Jose, mungkin kau bisa tapi tidak dengan mereka!" jawab Agria.
"Berikan aku waktu, aku pasti akan membuat mereka memaafkanmu juga," kata Joanna meyakinkan.
"Jose!"
"Kakak, bukankah kau pernah berjanji akan mengabulkan keinginanku. Aku tidak akan meminta apapun darimu, tapi bisakah kembali seperti dulu lagi. Apa kau tidak ingin Oskar memanggilmu dengan sebutan ibu suatu hari nanti?" bujuk Joanna. Masih tidak menyerah dengan impiannya.
"Bagaimana jika aku memiliki keinginan untuk membunuhmu lagi?" tanya Agria.
"Maka aku akan mati di tanganmu dan bisa segera bertemu dengan ibuku!" jawab Joanna tanpa berpikir.
"Jose, selain keras kepala kenapa kau juga masih sangat bodoh?" tanya Agria.
"Maka dari itu tetaplah bersamaku agar aku tidak selalu bodoh. Kau bisa memarahiku yang bodoh dan keras kepala ini sesuka hatimu. Aku janji tidak akan pernah mengeluh," jawab Joanna.
"Jose!"
"Apa kakak masih ingat dengan benda pemberian darimu ini. Kau pernah bilang ini bisa menenangkan hati dan pikiranku saat aku melihatnya. Karena aku sedang baik-baik saja, maka aku akan mengembalikannya untukmu yang sedang tidak baik-baik saja," kata Joanna dengan mengalungkan liontin kecil dengan manik-manik indah sebagai matanya.
Tidak hanya itu, Joanna juga melepaskan ikatan yang beberapa hari ini membelenggu Agria yang meninggalkan sedikit luka. Joanna, dengan tulus mengobatinya. Tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar selain beberapa tetes air mata yang sama-sama mereka tahan.
"Bawa kakakku pergi. Pastikan dia baik-baik saja dan segera pulih secepatnya. Jangan ikat dia lagi, hanya awasi saja dia. Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Satu-satunya yang tidak boleh dia lakukan hanyalah pergi dan bunuh diri," perintah Joanna kepada beberapa pengawal yang ada di belakangnya.
"Baik, Nona!"
Joanna bangkit, berbalik arah dan siap pergi. Tapi tertahan karena Agria menahannya.
"Jose, apa kau lupa. Kau juga memiliki satu janji untuk memenuhi permintaanku?" tanya Agria.
Joanna kembali berbalik arah, "Apa keinginanmu, Kakak?" jawab Joanna.
"Kemarilah!" pinta Agria.
Joanna mendekati Agria sesuai permintaannya tanpa keraguan. Mendekati wanita yang sudah tidak terikat dan bisa melakukan apapun kepadanya termasuk membunuhnya.
"Apa yang kau inginkan, Kakak?" tanya Joanna ketika dia sampai di hadapan Agria.
Agria mengangkat satu tangannya dengan gemetaran. Mengarahkannya pada leher Joanna.
Tangan itu semakin dekat dan dekat, tapi tidak memegang leher Joanna melainkan menyentuh bagian belakang kepala Joanna dan menariknya ke pelukannya.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku, Jose! Bisakah memberikan aku satu kesempatan untuk menjadi kakak yang baik untukmu?" tanya Agria berlinang air mata.
Joanna membalas pelukan Agria dan menyandarkan kepalanya disana, "Lain kali, jika kakak pergi lagi. Aku tidak akan segan untuk memotong kaki dan tanganmu untuk membuatmu tetap tinggal!"
...***...