CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Cari Mati



Louise sedang membaca koran di salah satu tempat duduk yang terdapat di lounge hotel ditemani segelas kopi. Fokusnya hanya tertuju pada koran saja, karena meskipun dia sangat ingin menyeruput kopinya, itu masih terlalu panas. Terlihat jelas dari asap yang masih mengepul diatasnya. Penampakannya malam ini sedikit berbeda dengan kacamata yang menghiasi wajah tampannya. Sayangnya, Oskar tidak ada disini sekarang. Karena jika ada, itu bisa menambah kesan daddyable pada tampilan Louise saat ini.


"Permisi Tuan! Bisakah meluangkan waktu Anda sebentar. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan," tanya seorang pria paruh baya yang tidak Louise kenal tapi sudah berdiri beberapa meter darinya.


Louise hanya meliriknya sebentar. Tapi sudah tahu apa maksud kedatangannya dan apa rencana buruknya. Karena pria itu tidak datang sendirian, melainkan membawa wanita di belakangnya. Dua orang daun muda yang sepertinya baru berusia belasan tahun, usia dimana seharusnya mekar-mekarnya tapi sudah berani tampil menor dengan dandanan dan pakaian yang seksi.


Sepertinya pria tua itu telah salah perhitungan, karena Louise yang sekarang sudah tidak tertarik dengan wanita manapun, kecuali Joanna seorang. Lagipula, hanya dengan melihatnya selama sepersekian detik, Louise sudah memastikan bahwa Joanna lah pemenangnya. Dari segi wajahnya, posturnya, bentuk tubuhnya bahkan bulu halus yang tumbuh di tangan Joanna semuanya sangat sempurna.


"Silahkan," jawab Louise singkat. Sepertinya Louise sedang berbaik hati karena memberikan pria tua itu sedikit muka. Louise menutup koran, meletakkannya di meja kemudian melepas kacamatanya untuk mendengar apa yang akan dibicarakan pria asing yang mengganggu waktu santainya. Jika memang hal penting, dia akan memaafkannya. Tapi jika bukan, maka bersiaplah untuk mati.


"Begini, Presdir. Saya dari Perusahaan AA, bermaksud mengajukan kontrak kerja sama dengan Matthews Group. Semuanya ada disini, tolong diperiksa!" kata orang itu. Tidak menutupi tujuan sebenarnya lalu menyerahkan sebuah proposal.


Louise tersenyum tipis mendengar penjelasan pria itu, "Tuan, Matthews Group kami memiliki tata cara tersendiri untuk menangani hal semacam ini. Jika perusahaan Anda memang ingin melakukan kontrak kerja sama. Silahkan datang ke perusahaan dan membuat janji terlebih dulu kepada staff kami. Mereka akan melakukan serangkaian prosedur untuk menilai dan melakukan peninjauan sebelum memutuskan apakah Perusahaan Anda layak, atau tidak," kata Louise tanpa menyentuh proposal itu.


"Tolong kali ini saja, Presdir. Memerlukan waktu yang lama jika harus melewati banyak tahap seperti yang Presdir katakan, saya tidak memiliki banyak waktu untuk itu," desak pria itu.


"Oh, apakah kau sedang meragukan etos kerja staff dan karyawan di Matthews Group milikku?" tanya Louise tidak senang. Lama katanya? Seingat Louise, standar karyawan di Matthews Group adalah yang tertinggi diantara yang lainnya. Mereka semua berkompeten dan memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, tentu dengan gerak cepat kerja mereka. Karena kalau tidak, Matthews Group tidak akan ragu untuk memecat mereka jika performanya buruk.


"Bukan, bukan seperti itu maksud saya,Tuan!" jawab pria itu lagi. Dia mulai panik, terlihat jelas dari gerakannya yang mengelap keringat di dahinya beberapa kali.


"Lalu?" tanya Louise dingin. Juga masih mengacuhkan proposal itu.


"Karena kita sedang berada disini, bukankah lebih simpel jika saya langsung memberikan proposal kepada Tuan Presdir. Lagipula situasi disini sangat nyaman, jadi Anda bisa menandatangani-"


"Enyahlah!" kata Louise tanpa membiarkan orang itu menyelesaikan kalimatnya.


"Tunggu dulu, Presdir. Mohon jangan salah paham!" kata pria tua itu lagi. Pria itu segera memberikan kode kepada dua wanita yang sejak tadi bersamanya. Dua wanita itupun langsung paham apa yang harus mereka lakukan.


Dengan sigap, keduanya mulai berjalan mendekati Louise yang kini sedang memegang segelas kopi dan baru meniupnya sebanyak dua kali. Secara bersamaan gadis itu bersimpuh, kemudian merangkak dihadapan Louise. Menunjukkan dada mereka yang mengenakan pakaian dengan belahan dada super rendah dan tangan mereka yang mulai menyentuh kaki Louise.


"Presdir, bagaimana kalau begini? Bisakah sekarang Presdir melihat prop-"


"Ahh, panas!" teriak kedua wanita itu secara bersamaan. Lalu dengan cepat melompat-lompat dan mengibaskan baju mininya juga bagian-bagian tubuhnya yang sepertinya mendapatkan bencana.


Bencana itu tentu saja datang dari Louise. Karena disaat dua gadis itu mulai merangkak, Louise sudah terlebih dulu menyiramkan kopi miliknya bahkan sebelum mereka menyentuh kaki Louise. Sedikit menyesal, jika tahu kopi itu akan melayang, Louise tidak perlu meniupnya tadi.


"Aku bilang, enyahlah!" ulang Louise dengan tatapan tajam dan penuh penekanan.


Puluhan petugas segera menghampiri Louise akibat keributan yang terjadi. Kemudian segera mengusir ketiga orang pergi yang tak henti-hentinya memaki Louise karena mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Cari tahu siapa mereka. Aku tidak peduli bagaimana latar belakang keluarganya dan seberapa besar kekuasaan dan besarnya perusahaannya. Hanya hancurkan mereka secepatnya!" perintah Louise kepada pengawal pribadinya yang saat ini berdiri tidak jauh darinya.


"Baik, Tuan Muda!" kata mereka serempak.


"Perketat penjagaan di luar. Jangan biarkan siapapun yang tak berkepentingan masuk ke area hotel. Satu lagi, selain William dan Arthur tak ada satupun dari mereka yang diijinkan masuk ke ruanganku," lanjut Louise.


"Siap, Tuan Muda!"


Louise pun meninggalkan lounge dengan sedikit kesal. Awalnya dia ingin bersantai sejenak disana tapi malah ada sekumpulan idiot yang datang mengganggunya. Belum juga sampai di kamar, Louise melihat keributan lain di sepanjang lorong. Mereka terlihat panik dan berlarian. Louise pikir mungkin ada kebakaran, tapi tidak ada bunyi alarm peringatan. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?


"T-tuan Muda!" panggil seorang petugas hotel. Nafasnya tak beraturan, keringat memberondong di sekujur tubuhnya karena berlari saat menghampiri Louise.


"Ada apa?" tanya Louise, dahinya mengkerut. Kenapa petugas hotel mencarinya. Tidak mungkin ada hubungannya dengan orang-orang yang panik dan berlarian itu kan?


"Itu, Tuan. Sebenarnya," kata petugas, tapi tidak berani melanjutkan kalimatnya.


"Katakan dengan jelas!" titah Louise. Amarahnya mulai naik sekarang.


"Ada seorang wanita yang mengancam akan bunuh diri dengan melompat dari gedung jika Presdir Louise tidak menemuinya. Dia ada di lantai teratas sekarang," jelas pegawai itu panik.


"Terkadang memiliki wajah tampan itu sangat menyebalkan," gerutu Louise setelah menutup pintu kamarnya.


"Sepertinya aku harus lebih waspada sekarang, menambah jumlah pengawal lebih banyak, juga pasukan khusus lebih banyak. Bukan hanya untuk diriku, tapi untuk Joanna juga. Bukan hanya untuk melindunginya dari penjahat, tapi juga untuk memastikan dia aman dari serangga liar. Menyebalkan, dengan wajah seperti itu, berapa banyak pria yang harus ku singkirkan jika ingin bersamanya. Sepertinya aku akan sangat sibuk mulai sekarang. Joanna, sebaiknya kau tidak pernah melahirkan seorang anak perempuan di masa depan. Karena aku takut, dia akan memiliki wajah yang sama cantiknya denganmu. Lalu, pasti hari-hariku akan disibukkan hanya untuk untuk memastikanmu dan anak perempuan kita aman dari pria-pria brengsek disekitaran kalian. Aku memang berharap kita memiliki banyak anak, tapi tolong, lahirkan semuanya dengan jenis kelamin laki-laki. Karena saat mereka sudah dewasa, mereka bisa membantuku untuk melindungimu. Saat aku semakin menua, dan mungkin tidak bisa lagi melindungimu," guman Louise sendirian.


Sepertinya, Louise harus mengingat apa yang dikatakannya malam ini. Karena di masa depan, selamanya dia tidak akan pernah memiliki anak perempuan meskipun sangat menginginkannya. Berkali-kali, tapi semuanya tetaplah sama. Mereka semua benar-benar terlahir dengan jenis kelamin laki-laki. Dan pada akhirnya, hanya ada satu wanita yang mereka perlakukan layaknya ratu di istananya yang besar, yaitu istrinya seorang.


"Joanna, seandainya kau ada disini malam ini. Pasti semuanya akan sangat berbeda bukan?" keluh Louise sambil menuang segelas wine. Kemudian meminumnya dengan sekali teguk hingga habis tak tersisa.


.


.


.


"Terimakasih, Tuan William!" kata seorang wanita kepada William yang telah menolongnya.


Malam ini, ketika wanita ini sedang menikmati waktu senggangnya dengan duduk sendirian di tepi pantai, beberapa pria datang mengganggunya. Untunglah saat itu Arthur dan William yang sedang mencari udara segar melihatnya dari kejauhan.


Saat Arthur dan William hendak menolong, Arthur mendapat panggilan dari seseorang, mengatakan untuk segera kembali ke hotel untuk menemui Louise yang katanya sedang menerima tamu tak di undang. Jadi tinggallah William seorang diri yang akhirnya turun tangan menolong gadis itu, yang ternyata adalah Marissa.


"Tuan, kau terluka. Biarkan aku mengobatimu," tawar Marissa ketika melihat sedikit luka memar di pelipis William.


"Hanya luka seperti ini, tidak akan membuatku mati," jawab William sok kuat. Padahal, sebenarnya dia sedang menahan sedikit perih di bagian itu.


"Tapi tetap saja, luka sekecil apapun harus segera diobati bukan?" desak Marissa. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi. Seandainya saja William tidak menolongnya, pasti William tidak akan terluka seperti ini.


William tak bisa menolak lagi, lagipula bukankah ini kesempatan untuk membuat mereka lebih dekat. Kapan lagi kesempatan bagus seperti ini datang? "Baiklah!" jawab William pada akhirnya.


Akhirnya Marissa membawa William ke kamar hotelnya setelah meminta sekotak P3K pada staff hotel. William duduk di kursi dengan patuh, menuruti apapun yang Marissa katakan. Marissa dengan telaten membersihkan luka itu, kemudian mengoleskan obat dengan hati-hati.


"Ah," desis William. Sial, William ingin terlihat keren di depan Marissa tapi luka perih itu mengacaukan semuanya.


"Maaf, tahanlah sebentar. Aku akan lebih pelan sedikit," ujar Marissa saat tahu William kesakitan.


Posisi mereka sungguh sangat dekat. William bisa melihat Marissa sangat jelas dengan jarak yang hanya satu jengkal saja. Kali ini Marissa sangat berhati-hati karena takut melukai William lagi. Diakhir semua itu, Marissa meniup pelan pelipis William yang sudah selesai diobati, "Setelah ditiup, ini tidak akan sakit lagi," kata Marissa tanpa sadar. Marissa terbiasa melakukan hal yang sama ketika Ebra terluka, jadi kali ini saat William terluka tanpa sengaja Marissa juga memperlakukan William seperti Ebra, anaknya.


"Benarkah?" tanya William dengan melihat Marissa dengan matanya yang jernih.


"Oh," Marissa tersentak, sadar bahwa seorang yang dihadapannya bukanlah Ebra. Marissa yang masih memegang wajah William saat itu pun segera menarik tangannya dan segera meminta maaf.


"Kalau dengan tiupan bisa meredakan lukaku, kenapa tak kau lakukan lagi?" kata William.


Pernyataan William membuat jantung Marissa berdetak lebih cepat. Sejak pertemuan mereka satu bulan yang lalu, Marissa hanya berani memandangi William dari kejauhan. Mengaguminya dari dalam hatinya tanpa bersuara. Ketegasannya, kepemimpinannya, Marissa tertarik dengan itu semua. Marissa selalu mencuri pandang ketika mereka sedang berada di ruangan yang sama. Tapi tak pernah berani melakukan yang lebih. Puncak dari itu semua adalah ketika Perusahaan yang diwakili Marissa terpilih sebagai salah satu perusahaan yang beruntung untuk mendapatkan kontrak kerja dengan Matthews Group. Saat William menjabat tangannya, saat itulah Marissa sadar sepertinya dia telah jatuh cinta kepada William. Tapi, seorang William yang merupakan orang terpenting nomor dua di Matthews Group, mungkinkah akan melihatnya yang seorang janda karena ditinggal mati suaminya?


Tidak. William pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Dan untuk dirinya, Marissa memutuskan untuk membuang jauh perasaan itu dan memilih fokus membesarkan Ebra dengan semua kasih sayangnya. Tapi kejadian malam ini membuat perasaan yang sempat ia pendam kembali bersemi, seperti bunga yang mulai bermekaran.


"Terimakasih, Marissa. Aku akan kembali ke kamarku sekarang," pamit William ketika Marissa telah selesai merawat lukanya.


Marissa ingin sekali menahan William, tapi mulutnya terkunci sampai William melangkah hingga depan pintu.


"Marissa saat kita kembali nanti, maukah kau makan siang bersamaku?" tanya William ketika dia memegang handle pintu.


"Aku mau," jawab Marissa tanpa ragu.


William menutup pintu hotel, meninggalkan Marissa yang kini sangat berbunga-bunga. Marissa pun beranjak naik ke ranjangnya, disana dia memeluk bantal untuk menyembunyikan senyum yang merekah dari bibirnya.