CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Siapa Dia?



Setelah berkunjung kerumah Alexa, manusia tiga generasi itu memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran. Sebenarnya Joanna tidak ingin pergi, tapi ibu kandung dan ibu mertua Alexa memaksanya untuk ikut. Mereka bahkan tidak membiarkan George dan Reagan dipegang ibunya sejak tadi. Jadi ketiga ibu muda itu praktis kembali menjadi seperti seorang gadis tanpa anak.


Mau bagaimana lagi, anak bayi mereka disita sementara Oskar dan Ebra juga bermain sendirian. Jadi mereka hanya bisa melihat sembari mengawasi anak-anak mereka dari kejauhan. Semuanya kembali normal saat mereka mulai makan. Tapi kembali tidak normal lagi setelah makan karena dua bayi itu disita mereka lagi. Seolah tak pernah puas meskipun sudah berjam-jam menimang-nimang keduanya


"Mommy, Xiao O ingin pipis!" kata Oskar.


"Pipis?" tanya Joanna. Lamunan Joanna buyar, akhirnya dia berguna juga setelah sekian lama tak dianggap oleh dua anaknya.


Oskar mengangguk saja. Lalu turun dari kursinya sebelum menggandeng tangan ibunya untuk membawanya ke kamar mandi.


Saat pergi ke kamar mandi, mata Oskar yang jeli melihat siluet pria yang tidak asing sedang duduk dengan seseorang. Meskipun jarak mereka cukup jauh tapi Oskar yakin siapa pria yang dilihatnya sekarang. Dia adalah Louise Matthew, daddynya. "Mommy, bukannya itu Daddy?" tanya Oskar.


"Daddy, mana?" tanya Joanna.


"Disana, daddy sedang makan!" Oskar menunjukan dimana Louise berada. Dengan sekali melihat Joanna juga tahu bahwa itu benar-benar seorang Louise Matthew. Dia tidak sendirian melainkan duduk dengan seorang wanita cantik dengan dandanan high class.


Pria itu makan dengan tenang disana. Sesekali tersenyum tipis saat menatap lawan bicaranya dan bercakap-cakap dengan antusias.


"Apa yang dia lakukan. Siapa wanita itu?" batin Joanna.


Joanna mematung di tempatnya, entah kenapa dia tidak rela melihat pemandangan seperti ini. Berbagai kemungkinan mulai menyeruak di relung-relung hatinya. Apa Louise sedang selingkuh. Apa Louise sedang berkencan dengan wanita lain. Apa Louise tidak kembali dan membuatnya menunggu lama hanya untuk menemui wanita ini. Siapa dia, apa dia sangat istimewa sampai Louise mengabaikan dirinya, Oskar dan Reagan yang menunggu kedatangannya?


"Mommy, ayo kita menemui daddy!" ajak Oskar.


Oskar siap pergi tapi Joanna menahan tangannya. Joanna memang tidak suka Louise memberikan tatapan seperti itu pada wanita lain. Joanna cemburu melihat Louise lebih memilih makan diluar dengan wanita itu dan mengabaikan makanan yang dia buat untuknya. Dia pun ingin tahu siapa wanita itu, tapi akal sehatnya kembali disaat yang tepat. Hatinya memang sakit, tapi Joanna ingat bagaimana perjalanan cinta mereka yang tidak mudah selama ini.


Joanna terlalu banyak salah paham pada Louise sebelumnya. Mengira Louise seorang bajingan sialan. Mengira Louise ayah kandung Oskar dan mengira Louise hanya memanfaatkannya saja. Masih menuduh yang bukan-bukan dan masih banyak lagi kesalahpahaman lainnya. Joanna belajar dari semua kesalahannya di masa itu. Membuang semua pikiran buruk yang baru saja berkecamuk dan mencoba mempercayai apa yang Louise katakan.


Karena tadi Louise sudah bilang akan bertemu klien, maka Joanna akan mempercayainya meskipun tidak suka klien yang ditemuinya secantik itu. Takut, tentu saja Joanna takut. Tapi kehadiran Reagan diantara mereka membuat Joanna menepis semua keraguan dan ketakutannya. "Aku percaya padanya," batin Joanna.


"Sayang, daddy bilang ada urusan. Jadi jangan mengganggunya. Nanti daddy pasti menemuimu saat pekerjaannya sudah selesai. Ayo, bukannya kau ingin pipis?" kata Joanna.


"Tapi,-"


"Ayo, atau nanti kau keburu pipis di celana!" kata Joanna.


Oskar akhirnya pergi meskipun enggan. Pipis ya? Sebenarnya rasa ingin pipisnya langsung hilang saat dia melihat daddynya. Bukan, lebih tepatnya hilang saat melihat dengan siapa daddynya makan.


Sama seperti Joanna, Oskar tidak suka daddy makan dengan orang lain. Oskar tidak suka daddy mengabaikan makanan yang dibuat mommy dengan cinta tapi tidak dimakan daddy.


"Mommy, pulang yuk. Tapi kita kembali ke perusahaan dulu ya?" ajak Oskar.


"Kesana lagi?" tanya Joanna.


"Eum," jawab Oskar.


"Apa kau ingin menunggu daddy disana?" tanya Joanna.


"Tidak!" jawab Oskar singkat kemudian menunduk sedalam yang dia bisa.


"Lalu kenapa kesana lagi?" tanya Joanna.


Sebenernya Oskar menjawabnya. Oskar menjawab pertanyaan ibunya itu meskipun tidak terdengar oleh Joanna. Karena Oskar menjawabnya hanya di dalam hatinya. "Aku mau mencari orang yang bisa membantu Xiao O menghabiskan bekal buatan mommy. Mommy pasti sedih kalau daddy tidak kembali kan. Jadi biar Xiao O saja yang memakannya agar mommy tidak sedih."


.


.


.


"Apa yang kau bicarakan. Tentu saja paman sudah kenyang. Kau kan juga melihatnya, tadi paman sudah memakan habis bekal buatan mommy," jawab Arthur tak kalah pelan.


"Apa paman tidak ingin makan lagi?" tanya Oskar.


"Xiao O, kau pikir perut paman terbuat dari karet. Paman sudah kenyang. Sangat kenyang," jawab Arthur lagi.


Pria itu menyentil hidung Oskar. Tapi Oskar tidak menanggapinya dengan antusias. "Kau kenapa?" tanya Arthur.


Dia tahu pasti terjadi sesuatu dengan Oskar sampai membuat anak itu menjadi pendiam. Tapi Oskar tidak mau jujur. Seandainya saja Oskar mau jujur, Arthur pasti tidak akan menolak. Bagaimana mungkin Arthur membiarkan Joanna sedih. Mereka kan sudah bersama selama enam tahun ini.


"Tidak apa-apa!" jawab Oskar. Oskar tersenyum. Tidak mengatakan apapun lagi dan langsung beranjak keluar dari ruangan Arthur.


"Kau mau kemana?" tanya Joanna yang sedang mengganti popok Reagan di sofa. Dia juga berada di ruangan Arthur bersama Alexa dan George sekarang.


"Mommy, Xiao O mau ke ruangan Papi Will," jawab Oskar tanpa melihat Joanna.


Oskar tidak kekurangan akal. Karena Paman Arthur sudah kenyang, maka dia akan bertanya pada Papi Will. Lalu kalau Papi Will juga kenyang, maka dia akan memakan bekal daddynya bersama adiknya yang tidak pernah menyisakan makanan yang dibuat mommy.


"Papi, apa papi mau makan?" tanya Oskar.


"Makan lagi?" tanya William.


William tidak tahu kenapa Oskar bertanya seperti ini. Tapi kan dia baru makan dua jam yang lalu.


"Oskar, tentu saja papa kenyang. Papa kan sudah makan!" kata Ebra.


"Memangnya kenapa. Apa Oskar ingin memberi papi makan lagi?" tanya William.


Lagi-lagi Oskar tersenyum. Benar juga mereka semua kan sudah makan. "Tidak kok!" jawab Oskar.


"Oskar, kau kenapa?" tanya Ebra.


Ebra mendekat. Memperhatikan Oskar dari jarak dekat. Dia tahu pasti ada yang Oskar inginkan tapi sungkan mengatakannya.


"Ebra, di ruangan daddy masih ada bekal buatan mommy yang belum dimakan," bisik Oskar di telinga Ebra.


"Bukannya itu untuk Paman Louise. Apa kau ingin papa yang memakannya. Bagaimana kalau Paman Louise marah?" tanya Ebra dengan membisikkannya di telinga Oskar.


"Daddy sudah makan diluar. Aku melihatnya tadi. Ebra, kau kan adikku. Ayo bantu kakakmu ini makan bekal itu agar mommy tidak sedih," jawab Oskar.


"Paman Louise sudah makan? Bekal buatan Bibi Joanna?" tanya Ebra.


"Eum," jawab Oskar mantap.


Dan disinilah mereka sekarang. Dua anak itu berlomba makan di ruangan milik Louise. Memakan habis bekal milik Louise yang membuat mereka kekenyangan.


"Enak kan?" tanya Oskar.


"Tentu saja enak. Aku sangat kenyang sampai ingin menangis. Tapi aku akan lebih menangis kalau makanan ini tidak ada yang makan," kata Ebra.


"Apa yang kalian lakukan?"


Suara seorang pria dewasa memecah keheningan mereka. Oskar dan Ebra menoleh, melihat Louise yang baru saja kembali.


"Paman Louise?" sapa Ebra.


...***...