CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Pembukaan Awal



"Bagaimana Dokter, apa Joanna akan segera melahirkan?" tanya William setelah Dokter memeriksa keadaan Joanna.


"Nona Joanna sudah mulai proses pembukaan awal," jawab dokter.


"Apa itu masih lama?" tanya William lagi.


"Mungkin dalam beberapa jam lagi. Jangan khawatir, saya akan sering memeriksa untuk memastikan kondisinya. Tolong temani istri anda dan berikan dukungan. Mohon kerjasamanya," pinta Dokter dengan senyum lembut.


"Oh, baiklah. Terimakasih, Dokter!" jawab William.


Dokter itu pergi setelah meminta William menunggu. Sepertinya dia akan melaporkan kondisi terkini Joanna kepada pelayan pribadi para tetua yang sudah menunggu di bawah sana.


Selepas kepergian Dokter, William berjalan mendekati Joanna yang bersandar di sandaran ranjang. Duduk di sebelahnya disaat pikirannya melayang entah kemana. Seharusnya, tidak lama lagi bayi itu akan keluar dari sarangnya. Kalau begitu, bukankah berarti dirinya yang harus menemani Joanna melahirkan karena Louise tidak mungkin datang?


"Oh Tuhan! Aku mulai gugup sekarang. Aku belum pernah melewati hal semacam ini sebelumnya. Kenapa rasanya menyeramkan melebihi rasanya akan ujian," batin William. Dia mulai gelisah tapi mencoba terlihat biasa saja di depan Joanna.


Setelah diam sejenak, tiba-tiba William bangkit. Berjalan menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun kepada Joanna. Sebelumnya, Joanna yang terkencing-kencing karena akan melahirkan dan sekarang gantian dirinya yang terkencing-kencing karena gugup yang kelewatan.


Entah berapa banyak urine yang dia keluarkan. Tapi yang jelas dia sangat lama memegang senjata tumpulnya. Mungkin, nyaris satu liter seandainya urine itu dia tampung di pispot.


"Sial, aku harus tenang," gumam William.


William menarik resletingnya. Menekan keran air dan duduk sebentar di kloset. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Anak itu tidak akan mogok di tengah jalan karena bukan daddynya yang menemani ibunya melahirkan kan?


Lalu, setelah dia keluar nanti dia tidak akan menimbulkan masalah bukan. William menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana jika wajahnya nanti 100% mirip Louise. Apa semua akan berakhir?


William segera mengambil ponselnya. Menghubungi orang-orang pribadi miliknya di luar sana. Meminta mereka bersiap di sekitaran perbatasan kota kalau-kalau ada hal yang tidak diinginkan. Bukan hanya mereka, William juga menghubungi orangtuanya untuk meminta bantuan.


Lalu, masih ada dua orang lagi yang harus dia hubungi. Siapa lagi kalau bukan Sir Alex dan Arthur. Sir Alex mengatakan akan segera datang malam itu juga. Sementara Arthur, dia juga akan meminta orang-orangnya untuk bergabung dengan orang-orang milik William dan Sir Alex di perbatasan nanti.


Terakhir, William menghubungi Okta. Memintanya untuk menyampaikan kepada dua tetua yang mendukungnya disini. Meminta mereka mencari jalan pelarian tercepat.


"Semoga saja anak itu mirip ibunya agar tidak ada kekacauan," gumam William.


Setelah selesai dengan semuanya William pun keluar. Bersikap biasa saja di depan Joanna agar dia tidak tertekan. Melihat Joanna sibuk memainkan ponselnya membuat dahi William mengerut. Bukankah wanita ini takut melahirkan, tapi kenapa dia malah terus-terusan tersenyum lebar. Apa dia sudah tidak takut lagi?


"Will?" sapa Joanna ketika menyadari William sudah berdiri di dekatnya.


William hanya tersenyum. Lalu mengacak-acak rambut itu. Lihatlah, berapa banyak kekacauan yang timbul hanya karena wanita ini akan melahirkan. Em ... ngomong-ngomong bukankah sebelumnya dokter berpesan agar dia memberikan dukungan. Lalu dukungan seperti apa yang harusnya dia berikan sekarang?


Sumpah dia tidak tahu harus melakukan apa. Meskipun dia pernah membaca buku seputar persalinan sebelumnya, tapi apa yang dia baca menguap entah kemana.


"Jo, aku harus bagaimana. Apa kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?" tanya William.


Joanna menerawang sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Aku ingin jalan-jalan sebentar. Bisakah membantuku, Will?" jawab Joanna.


"Jo, bagaimana kalau anakmu terjatuh ketika kau sedang jalan-jalan? Ehm, bukan anakmu maksudku anak kita?" tanya William.


William dengan cepat meralat ucapannya karena saat ini mereka ditemani oleh beberapa pelayan. Mereka semua tersenyum kecil begitu mendengar pertanyaan William yang khawatir anaknya akan terjatuh saat Joanna berjalan.


"William, hal seperti itu tidak mungkin terjadi padaku. Jadi jangan cemas," jelas Joanna.


Setelah bersusah-payah akhirnya William membawa Joanna pergi ke halaman rumahnya. Dengan sabar memapah Joanna yang ingin jalan-jalan di luar saat langit sedang gelap-gelapnya. Pria itu terus memegang tangan Joanna, jangan sampai Joanna jatuh, terpeleset atau apapun itu.


Calon ibu itu berjalan dengan pelan, sesekali meringis karena kontraksi ringan di perutnya. William pun ikut-ikutan meringis, bukan karena merasakan kontraksi juga, tapi karena tangannya sakit akibat Joanna meremas tangannya sekuat tenaga. Bayangkan, masih belum mengejan saja sudah seperti ini. Lalu bagaimana nasib William nanti?


"Jo, maaf!" kata William tiba-tiba.


"Maaf untuk apa?" tanya Joanna.


"Maaf karena aku terlalu egois. Jika aku tidak bersikeras menikah denganmu, seharusnya kau sudah menikah dengan Louise sekarang. Dia pasti menjagamu lebih baik daripada aku. Tapi kau tahu sendiri kan, aku hanya ingin sedikit membantunya," kata William panjang.


"William, ini bukan salahmu. Aku sendiri sudah memikirkan hal ini sejak awal. Aku bersedia menikah denganmu untuk mengulur waktu. Berharap Dark Ocean tidak bergabung dengan Abixz99. Aku ingin memberikan kesempatan untuk kalian mengejar ketertinggalan agar bencana itu bisa dihindari," timpal Joanna.


"Ngomong-ngomong, kau pasti sedih karena Louise tidak bisa menemanimu kan?" tanya William.


"Aku memang sedikit kecewa tapi aku bisa memakluminya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Tapi siapa yang mengira aku akan melahirkan secepat ini," jawab Joanna.


William tersentuh oleh jawaban itu. Entah kenapa, saat jiwa feminismenya muncul seperti ini, Joanna terlihat sangat manis dimata William.


"Mungkin anakmu sangat ingin segera melihat dunia luar," lanjut William.


"Kurasa juga begitu," ujar Joanna.


"Dia sangat nakal, sangat persis dengan ayahnya. Lihatlah, rumah sakit terbaik sudah ditentukan. Kamar terbaik sudah dipesan tapi dia malah memilih keluar ditempat ini," lanjut William.


Joanna tertawa mendengar kata-kata William. Benar, anaknya memang sangat nakal.


Bagaimana bisa dia membuat semua usaha daddynya sia-sia?


Pelayan yang menemani mereka melihatnya dari kejauhan tersenyum ketika melihat Joanna dan William tertawa. Mereka mengira dua orang itu pasangan yang sangat romantis dan bahagia. Begitulah yang mereka pikirkan selama ini, karena semuanya terlihat seperti itu.


"Jo, apa kau takut?" tanya William.


"Aku sedikit takut," jawab Joanna.


"Jangan takut. Aku sudah ingat dengan apa yang kubaca. Aku akan menemanimu selama Louise tidak ada," hibur William dan tersenyum manis


"Jangan tersenyum seperti itu. Anakku ingin memelukmu jika kau terus melakukan itu!" protes Joanna.


"Kalau begitu peluk saja. Bukankah kau selalu tidur dengan memelukku selama hamil?" jawab William.


Joanna pun memeluk William seperti biasanya. Mencari kehangatan dan kekuatan dari tubuh William, suaminya saat Louise tidak ada.


"Ah," rintih Joanna tiba-tiba.


...***...