CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Hadiah Untuk Daisy



Satu jam yang lalu.


"Kenapa Okta tidak boleh ikut?" tanya William kepada seorang utusan yang dikirim Tetua Utama saat William tengah bersiap.


"Tetua bilang hanya acara makan malam saja sehingga Okta tidak perlu ikut. Lagipula apa kata orang jika Tuan William membawa pengawal? Tuan William dan Tetua hanya menghadiri acara makan malam keluarga, bukannya pergi perang," jawab utusan itu menirukan ucapan Tetua.


"Baiklah, aku tahu!" jawab William.


William mempersilahkan utusan itu pergi. Lalu termenung sebentar di ruang tamunya yang lebar. Ada apa dengan tetua. Meskipun hanya makan malam, memangnya apa salahnya membawa Okta. Okta kan bukan orang asing. Apa tujuannya sebenernya? Sementara Okta yang sedari tadi menunggu diluar segera menemui William saat melihat utusan itu pergi.


"Tuan?" sapa Okta. Dia ingin bertanya apa yang disampaikan utusan itu. Tapi mengurungkan niatnya karena takut dianggap tidak sopan. Untungnya William tidak merahasiakan apapun.


"Tetua tidak ingin kau pergi bersamaku," kata William memberitahu.


"Tuan, biarkan saya tetap pergi. Saya bisa menyusup dan menyamar menjadi salah satu pelayan disana," kata Okta. Wajah itu langsung menegang saat tahu dia tidak boleh ikut.


Okta sudah terbiasa menjadi pengawal sejak usia belia. Tepatnya saat mengikuti orangtua William sebagai tuannya. Lebih dari separuh hidupnya sudah dia habiskan dengan profesi seperti ini. Jadi sudah tidak diragukan lagi bagaimana pengalamannya di kehidupan kebangsawanan dengan segala trik dan cara licik. Instingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi nanti malam.


"Aku tahu kau pasti juga menyadarinya. Tapi wajahmu itu terlalu familiar untuk mereka. Kirim saja beberapa orang terbaik yang kau punya untuk menyusup," kata William.


"Tapi, bagaimana dengan saya. Apa saya benar-benar tidak boleh pergi?" tanya Okta.


"Bersembunyilah diluar hanya untuk jaga-jaga!" jawab William.


William akhirnya bangkit. Menuju lokasi yang telah mereka sepakati sebelumnya sebagai titik awal keberangkatan mereka. "Asalkan aku tidak minum alkohol, seharusnya tidak masalah," batin William.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, William langsung mengikuti tetua memasuki kediaman super besar itu. Sementara Okta dan pengawalnya berjaga-jaga di sekitar lokasi. Lima belas menit telah berlalu dan ponsel milik Okta bergetar karena ada sebuah notifikasi masuk.


"Apa? Kenapa Nona Daisy ada di dalam. Bukankah seharusnya dia dikurung. Kalau dia ada di dalam ini bisa gawat," batin Okta.


Alis Okta terangkat setelah membaca pesan yang dikirim oleh penyusup yang dia kirim. Semakin cemas saat menyadari keanehan ini. Dia pun memutuskan untuk tidak mematuhi William. Dia meminta pengawalnya untuk tetap tinggal dan dia sendiri mencoba masuk kedalam lewat jalur normal. Tapi sepuluh orang menghalanginya. Mereka berdalih tidak ada siapapun yang diijinkan masuk selain keluarga inti.


Untuk itulah dia memutuskan untuk menghubungi Louise. Karena Louise adalah salah satu tuannya juga. Tapi apa yang Louise katakan membuat Okta menyesal untuk menghubunginya.


"Hanya masalah kecil seperti itu saja apa harus aku yang turun tangan. Hubungi saja William dan suruh dia kembali secepatnya jika memang kalian menyadari ada yang janggal!" Setelah mengatakan kalimat itu, Louise langsung menutup sambungan telepon Okta tanpa mengatakan apapun juga.


"Ada apa dengan Tuan Muda Louise. Bukankah dia yang berpesan untuk melaporkan apapun yang terjadi?" batin Okta.


Okta segera menepis rasa penasarannya. Baiklah karena hanya keluarga inti yang bisa masuk, maka Okta akan menghubungi Joanna sekarang juga. Karena kalau dia yang datang, sudah pasti tidak ada yang menghalanginya karena dia adalah istri William.


.


.


.


"Tidak ada apa-apa, Mommy!" kata Oskar.


Sejak tadi hanya kata itulah yang keluar dari mulut Oskar saat Joanna bertanya kenapa dia marah hari itu.


"Mommy, Xiao O ngantuk. Ingin tidur," pamit Oskar kemudian.


"Sayang, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bercerita pada mommy. Kau mengerti kan?" tanya Joanna.


"Eum," jawab Oskar.


Joanna bangkit. Siap menemani Oskar menyikat dan mencuci tangan serta kakinya. Tapi dia berhenti karena ponselnya berdering.


"Bukan. Ini Kakek Okta. Mommy mengangkat teleponnya sebentar ya?" ijin Joanna.


Oskar hanya mengangguk. Kemudian pergi ke kamar mandi sendiri untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Meskipun terlihat biasa saja, tapi jauh di dalam hatinya kecewa karena sampai sekarang daddy belum meminta maaf padanya. Jangankan meminta maaf, daddy bahkan tidak pernah menelepon mereka dan Oskar gengsi jika harus meneleponnya terlebih dulu.


"Apa daddy sudah tidak sayang Xiao O. Tidak apa-apa kalau daddy tidak mau Xiao O lagi, Xiao O kan masih punya Paman Arthur. Tapi Adik Reagan masih kecil. Kalau daddy tidak sayang dan tidak mau Adik Reagan lagi, lalu siapa yang akan menyayangi Adik Reagan nanti. Apa Papi Will mau?" batin Oskar.


"Ada apa, Paman?" tanya Joanna. Sejak Okta menikah dengan Diaz, Joanna sudah merubah panggilannya untuk Okta menjadi paman.


"Nona, Tuan William sedang menghadiri acara makan malam di rumah Keluarga Amber saat ini," jawab Okta.


"Keluarga Amber. Mereka siapa?" tanya Joanna.


"Mereka adalah keluarga besar Nona Daisy, Nona. Nona, bisakah Anda kemari?" tanya Okta.


"Kenapa aku harus kesana. Bukankah hanya makan malam saja. Seharusnya tidak masalah meskipun aku tidak ikut," jawab Joanna.


"Nona, masalahnya Nona Daisy ternyata juga ada di dalam," kata Okta.


"Daisy?" ulang Joanna.


"Benar, Nona! Kami semua tidak tahu bahwa Nona Daisy di bebaskan hanya untuk hari ini," jelas Okta.


"Lalu?" tanya Joanna.


"Sebelumnya Tetua Utama melarang saya mengawal Tuan William dengan alasan hanya makan malam. Jadi Tuan William meminta beberapa pengawal untuk menyusup dan meminta saya menunggu diluar. Tapi saya menerima laporan bahwa di dalam ada Nona Daisy. Saya memutuskan untuk menyusul tapi penjaga bilang selain keluarga inti tidak ada yang diijinkan masuk," jelas Okta panjang lebar.


"Benar-benar cari mati!" rutuk Joanna setelah mendengar penjelasan Okta.


"Nona, apa yang harus saya lakukan. Bolehkah saya menyusup saja. Saya takut terjadi sesuatu di dalam sana," ijin Okta.


"Masuklah!" jawab Joanna.


"Bolehkah?" tanya Okta.


"Pilih pengawal terbaik untuk menyusup. Ingat, jangan melakukan apapun setelah kalian sampai di dalam. Hanya awasi saja apa yang mereka lakukan. Juga jangan berinteraksi dengan William agar mereka tidak curiga," jawab Joanna.


"Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak di harapkan?" tanya Okta.


"Hanya lakukan saja apa yang aku katakan. Ingat, hanya awasi mereka. Jangan melakukan pergerakan lebih dari itu sebelum aku datang. Kirimkan aku dimana lokasi kalian sekarang. Aku akan segera kesana. Satu lagi, aku butuh denah rumah itu. Jadi segera kirimkan petanya ke ponselku," titah Joanna.


"Baiklah Nona. Kalau begitu saya akan segera mengirimkan denahnya dan mengirim beberapa orang untuk menyusup sekarang juga," kata Okta kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Daisy, aku belum membuat perhitungan yang layak saat kau mencoba mencelakai anakku. Malam ini, jika sampai aku tahu keluarga kalian sengaja mengundang William hanya untuk memasang sebuah jebakan, aku tidak akan ragu lagi untuk memberikan pelajaran yang setimpal untukmu. Tapi tenanglah, pelajaran yang akan kuberikan padamu bukanlah sebuah hadiah kematian. Tapi hal yang lebih mengerikan daripada kematian. Jadi, tunggu saja karena aku akan segera datang. Lalu, mari kita hitung dengan benar bagaimana caramu membayar apa yang sudah kau lakukan selama ini untuk anakku," batin Joanna.


Joanna tidak langsung pergi saat itu juga. Melainkan menghubungi kenalan lama yang sering dia temui saat dia masih bersama Edgar dulu. Meminta temannya itu untuk menyiapkan sesuatu yang akan Joanna berikan pada Daisy sebagai hadiah jika dia terbukti merencanakan sesuatu untuk menjebak William.


"Sayang, mommy harus pergi menemui Papi William. Mommy akan meminta mamamu menemanimu dan Adik Reagan malam ini. Boleh?" ijin Joanna.


"Kapan mommy akan pulang?" tanya Oskar.


"Mommy akan kembali secepatnya," jawab Joanna.


"Hati-hati, Mommy!


...***...