CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kau Mati Saja



"Cepat pergi dari sana dan selamatkan nyawa kalian!" titah Joanna.


Joanna segera menghubungi kelima pria yang sedang menggagahi Daisy saat ini. Lalu semakin menambah kecepatan sebanyak yang dia bisa tanpa terkejar Okta dan lainnya. Mobil itu tidak hanya cepat, tapi juga berbelok-belok mengikuti jalanan seperti ular yang mencari mangsa dengan gesit.


Karena badan mobil yang terus terguncang, tentu saja itu membuat tidur nyenyak William terganggu. Pria itu akhirnya sedikit membuka matanya. Hanya bangun saja, tapi masih mabuk berat dan tidak mengenali siapapun dengan baik.


"Kau siapa. Apa yang kau lakukan?" tanya William.


"William kau sudah bangun. Maafkan aku tapi sekarang ini sedang urgent. Tapi percayalah aku akan segera membawa kita pulang," jawab Joanna.


William tidak menjawab apapun. Jujur saja, William ingin marah pada siapapun yang berada disekitarnya saat ini. Pandangan matanya masih kabur dan memiliki banyak bayangan. Suara yang di dengarnya pun juga terus menggema hingga beberapa kali dan sekarang guncangan itu semakin menambah sakit di kepalanya.


Jadi inilah yang terjadi sekarang. Dengan sisa-sisa kesadaran yang dia miliki, William meraih kemudi. Ingin sekali menguasai mobil ini dan membuatnya berhenti.


"W-William, apa yang kau lakukan?"


Joanna panik. Mobil itu sangat tidak stabil sekarang. Kadang oleng ke kanan kadang oleng ke kiri dan berkali-kali hampir menabrak pepohonan. Joanna sudah tidak bisa menguasai mobil itu sepenuhnya. Beberapa jalanan bercabang telah dia lewati dan William masih terus mengganggunya. Joanna bahkan sudah tidak tahu lagi mereka sekarang sebenarnya ada dimana. Masih bagus kalau hanya tersesat, tapi masalahnya adalah di belakang sana sudah ada mobil yang mendekati mereka.


"William, jangan ganggu aku!"


Joanna mendorong William sekuat tenaganya meskipun sudah tahu dia akan gagal. Untung saja sensasi mabuk seperti ingin muntah itu kembali menyeruak dan membuat William meringkuk. Sehingga Joanna bisa memanfaatkannya untuk mengambil alih kuasanya atas mobil itu.


"Bos, dia adalah Nona Joanna. Istri Tuan William. Tapi apa yang terjadi barusan. Kenapa mobilnya sangat tidak stabil. Lalu apa yang dia lakukan disini. Apa dia mabuk sampai lupa jalan pulang?" kata seorang pengawal milik Peter yang saat ini mengikuti mereka.


"Oh di dalam mobil itu ada istrinya William?" tanya Peter.


Pria itu tersenyum. Kemudian meminta sopirnya berhenti. Bukan untuk berhenti mengejar. Melainkan hanya pindah posisi. Sekarang Peter sudah duduk di bangku kemudi. Kembali melanjutkan pengejarannya yang tertunda pada wanita yang menjadi penghalang hubungan Daisy dan William.


"Karena kau sudah disini, maka jangan berpikir bisa pergi lagi. Lebih baik kau mati!" batin Peter.


Senyum tipis itu muncul juga. Menghiasi wajahnya yang sangat bersemangat untuk mengejar mobil yang dikemudikan Joanna tanpa tahu ada William yang sedang meringkuk disana.


"Sial!" umpat Joanna.


Jarak itu semakin dekat dan dekat lagi. Beberapa kali mereka saling senggol dan saling mendahului. Beberapa kali terus begitu sampai akhirnya Peter mengingat sesuatu. Bahwa di depan sana, seharusnya aja jurang dengan sungai yang dalam dibawahnya.


Peter mengurangi sedikit kecepatannya, bersiap sebentar sebelum mengerahkan seluruh kemampuannya. Pria itu kembali menambah kecepatan, membanting stir ke kiri dengan cepat dan tersenyum puas saat melihat mobil Joanna yang masuk ke sungai di sisi kiri jalan. "Kau sebaiknya mati saja!" seru Peter.


"Siapapun kau. Aku pasti akan membalasnya nanti!" umpat Joanna saat mobilnya mulai terjun bebas.


.


.


.


Puft


Akhirnya dua kepala itu muncul juga di permukaan. Dengan susah payah Joanna membantu William menepi dan naik ke permukaan.


"William, kau tidak apa-apa kan?" tanya Joanna saat keduanya sudah diatas permukaan.


"Will, bangun!" seru Joanna.


Joanna segera melakukan CPR pada William. Menekan titik tertentu tubuh pria itu sehingga membuatnya memuntahkan air yang masuk ke tubuhnya. Tidak cukup, Joanna masih memberikan beberapa kali ciuman untuk mengirim nafas buatan.


Akhirnya pria itu sadar juga. Bukan, bukan sepenuhnya sadar tapi hanya setengah sadar. Bukannya tenang, dia malah semakin menjadi dan meluapkan amarahnya yang sempat tertunda. Memang tidak mengganggu Joanna lagi tapi malah terlihat seperti ingin membunuhnya.


Mereka sudah berganti posisi. Kini William yang duduk, sedangkan Joanna menggantikan William dan berbaring di bawah tekanan William. Tangan kekar itu masih menekan leher Joanna yang sejak tadi mengganggu tidur nyenyaknya.


"William, apa yang kau lakukan. Beginikah caramu berterimakasih setelah aku menolongmu berkali-kali?" tanya Joanna dengan memegangi tangan William agar tidak semakin menggencetnya.


"Kau siapa. Kenapa terus mengganggu istirahatku?" tanya William.


"William, ini aku Joanna!" jawab Joanna.


"Joanna?" tanya William.


Pria itu seperti berpikir. Tapi tidak tahu memikirkan apa. Otaknya seperti tersumbat air sampai tidak berfungi dengan baik.


"Iya, aku Joanna!" jawab Joanna lagi.


"Oh. Apa kau benar-benar Joanna istriku?" tanya William.


"Eum, aku Joanna istrimu!" jawab Joanna.


Tekanan di leher itu mulai melemah. Joanna kira bisa lepas dari kungkungan William karena mengira William bisa mengerti apa yang dia katakan. Tapi tekanan itu kembali kuat beberapa saat kemudian.


Joanna melihat dengan samar William tersenyum, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. "Jangan berbohong. Istriku Joanna ada di rumah ayahnya. Katakan, kenapa kau terus menggangguku. Apa kau ingin mati?" tanya William.


"William, aku benar-benar Joanna. Aku datang untuk menolongmu." jawab Joanna.


"Omong kosong. Joanna tidak mungkin ada disini. Joanna itu lemah lembut dan penyayang. Dia tidak ugal-ugalan sepertimu. Jadi kau ini siapa?" tanya William lagi.


"William, ini benar-benar aku. Lihatlah aku baik-baik!" kukuh Joanna.


William mendekatkan wajahnya. Mencoba melihat Joanna dengan pandangan mata yang acak-acakan. Tapi segera melepaskan Joanna saat sensasi mabuk itu semakin mengambil alih kesadarannya.


Pria itu kembali meringkuk dengan nafas yang terengah-engah. Sangat benci dengan keadaannya yang seperti ini. Joanna tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera bangkit dan memeriksa ponselnya. Meskipun telah terjun ke sungai dan dalam keadaan basah, untungnya ponsel itu masih berfungsi.


Joanna segera mencari satu nama yang mengisi setiap relung hatinya, Louise Matthew. Tapi beberapa panggilan itu diabaikan.


"Louise, bukankah kau sendiri yang bilang jangan sampai William mabuk. Kau sendiri juga yang bilang bahwa aku harus segera menghubungimu jika sampai William mabuk agar kau bisa mengirim orang-orangmu yang tersebar dimana-mana untuk menolongku. Tapi apa ini Louise?" kata Joanna.


Tangan Joanna mulai gemetaran, tubuhnya mulai kedinginan. Buliran bening itu jatuh tanpa bisa dia tahan lagi. Dia sudah melewati malam yang melelahkan hari ini. Berkali-kali hampir mati hanya untuk menolong adik kesayangan Louise.


Dia sudah berusaha sekuat yang dia bisa. Melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan. Hanya kurang sedikit saja. Padahal Joanna hanya membutuhkan bantuan sedikit saja. Dia hanya ingin Louise Matthew itu mengirim siapapun untuk menjemput mereka yang sedang tersesat entah dimana. Tapi kenapa dia masih diabaikan juga.


Apa yang sebenarnya dia lakukan. Apakah dia sedang menghabiskan malam yang menyenangkan dengan wanita bernama Stella itu. Apa posisi Joanna di hati Louise sudah tergantikan?


Semudah itukah?


Setelah apa yang Joanna lakukan. Setelah Joanna melahirkan anaknya bahkan tanpa status pernikahan. Apa pria penguasa selalu seperti ini. Membuang seorang wanita yang bersedia melakukan apa saja untuknya demi wanita cantik lainnya. Apakah Louise Matthew benar-benar tidak bisa seandainya hanya mencintai Joanna saja?


"Louise Matthew, kau memang benar-benar brengsek!" umpat Joanna.


Mulut itu mengumpat dengan keras. Sangat keras karena cintanya yang teramat dalam dan mulai terabaikan.


...***...