CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Panen



"Sepertinya begitu, kebetulan aku sudah lama tidak membunuh orang," jawab Joanna. Layaknya devil, Joanna sudah merubah ekspresinya menjadi lebih mengerikan.


William segera berpaling, menganggap perkataan Joanna sebagai candaan. Membunuh? William tidak pernah tahu Joanna pernah membunuh. Arthur pun juga tidak tahu karena Louise menutup rapat-rapat mulut saksi mata yang melihat Joanna membunuh anggota keluarganya sendiri waktu itu.


Selesai dengan celana dan merapikan ikat pinggangnya, William menghadap ke cermin untuk memakai dasinya sendiri. Tapi Joanna segera merampas dan memakainya dalam waktu yang singkat.


Hal itu membuat William menepuk jidatnya sendiri karena semakin pusing dengan sikap aneh Joanna.


"Sudah selesai," seru Joanna ketika William sudah memakai jas miliknya.


"Terimakasih, kau baik-baiklah di rumah, aku berangkat sekarang," pamit William.


Biasanya Joanna hanya akan menjawab 'iya' atau 'sampai jumpa'. Tapi hari berubah 180° karena Joanna memeluknya dan mengatakan, "Peluk aku dulu!"


DEG.


William nyaris tak berkedip. Jantungnya hampir lompat. Dia tidak ingin mengatakan ini, tapi kenapa tiba-tiba dia melihat Joanna sangat cantik seperti bidadari. Jutaan cahaya seperti sedang menyinarinya dengan ribuan bias warna, membuatnya tampak berkilauan indah.


Tidak bisa, William tidak bisa menahan lagi. Dia ingin mendekati Joanna yang penuh cahaya untuk mendapatkan pantulan sinarnya.


Pria itu mendekat dan semakin mendekat tapi tertahan karena tangan Joanna mendorong pelan William, "Will, aku ingin makan sesuatu, bisakah kau membelikannya untukku?"


"Pantas saja dia sangat aneh dan bersikap manis sejak tadi, rupanya dia hanya ingin makan sesuatu," gumam William, "Tapi kenapa aku sedikit kecewa?" batinnya.


"Aku akan menyuruh seseorang membelikannya untukmu atau menyuruh seseorang mengantarmu pergi, bagaimana?" tanya William.


"Tidak mau, aku hanya mau kau yang membelikannya untukku," tolak Joanna.


"Joanna?"


"William, please!


"Baiklah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan kembali secepatnya," janji William.


"Tapi aku mau sekarang," pinta Joanna.


"Sekarang?" tanya William.


"Eum," jawab Joanna.


William segera melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Itu berarti dia hanya punya waktu 30 menit.


"Kenapa?" tanya Joanna.


"Aku bisa terlambat, tapi bukan masalah aku akan membelikannya untukmu," jawab William.


"William, kau kan bosnya!"


"Makanya aku bilang akan membelikannya untukmu. Kau ingin makan apa?" tanya William.


"Mangga," jawab Joanna.


"Di dapur seharusnya ada kan?" tanya William.


"Tapi aku ingin kau yang membelinya," jawab Joanna memelas.


"Aku akan pergi sekarang," kata William.


William segera pergi ke supermarket terdekat dan membeli sekeranjang mangga. Lalu segera kembali untuk memberikannya pada Joanna. Bukannya senang, wanita itu malah cemberut tanpa alasan.


"Bukannya kau minta mangga. Ini semua mangga, Joanna!" kata William mulai emosi tapi menahannya.


"William, aku mau yang muda!"


"Apa katamu, muda?" tanya William.


Tapi meskipun begitu dia tetap pergi mencarinya. Dengan bantuan Okta dan beberapa pengawal akhirnya William mendapatkan mangga muda pesanan Joanna.


Senyum Joanna langsung merekah setelah melihat sekarung mangga muda. William hanya bisa menelan ludahnya ketika sepotong demi sepotong mangga itu masuk ke mulut Joanna.


Joanna yang makan, tapi William yang merasakan asam.


"Jo, bolehkah aku berangkat kerja?" tanya William. Dia tidak tahan terus-terusan melihat pemandangan yang bisa membuat lambungnya sakit seperti ini.


"Hati-hati di jalan, Will!" kata Joanna sembari melambaikan tangannya.


.


.


.


"Apa kau masih niat kerja?" goda Arthur ketika melihat William baru sampai di perusahaan menjelang makan siang.


"Arthur, aku juga tidak ingin seperti ini. Joanna itu yang membuatku begini," kilah William. Dia tidak sengaja bertemu Arthur di depan ruangan Louise.


"Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Arthur.


"Dia hanya sangat aneh pagi ini," jawab William. Mana mungkin dia mengatakan Joanna membantunya memakai pakaian. Tidak akan, itu bisa menimbulkan sensasi nanti.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada yang harus ku selesaikan sekarang," pamit Arthur.


Melihat Arthur pergi, William segera masuk tanpa mengetuk pintu.


"Louise!"


"Ada apa?" tanya Louise. Pria itu tetap fokus dengan laptopnya meskipun William sudah duduk di depannya.


"Louise, kapan rencanamu itu membuahkan hasil. Aku sudah hampir gila menjadi suami Joanna. Apa kau tahu apa yang dia lakukan tadi pagi? Dia membantuku memakai pakaianku. Aku sempat berpikir dia mulai gila karena terlalu merindukanmu. Tapi ternyata dia melakukan semuanya hanya karena ingin makan sesuatu. Cobalah kau pikir, apa aku ini sangat pelit sehingga dia perlu melakukan semua itu? Lalu, apa kau tahu apa yang ingin dia makan, dia hanya ingin makan mangga dan harus aku yang membelinya. Aku bahkan memerlukan waktu berjam-jam untuk mencarinya. Louise, cepatlah pikirkan sesuatu untuk segera mengakhiri ini," gerutu William panjang lebar.


"Mangga?" tanya Louise.


Setelah beberapa saat mengabaikan William, akhirnya Louise mulai memperhatikannya dan menutup laptopnya.


"Iya, mangga. Kau tahu, aku sudah membeli sekeranjang mangga masak untuknya tapi dia menolaknya. Dia bilang ingin mangga yang muda dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia memakannya tanpa merasa asam sedikitpun. Ada apa dengannya, Louise? Dia tidak gila karena terlalu merindukanmu kan?" curhat William.


Tiba-tiba Louise tersenyum. Pertama karena mendengar Joannanya ingin mangga muda. Yang kedua tentu saja karena William.


Selama tiga bulan ini, William akan selalu mengadu seperti ini setibanya di perusahaan. Mendengar William uring-uringan adalah rutinitas Louise semenjak William menikah. Selalu saja ada cerita yang tidak akan pernah ada habisnya meskipun sudah berjam-jam.


"Louise kau benar-benar brengsek! Kau masih sempat tersenyum disaat aku pusing memikirkan masa depan. Aku ini memintamu memikirkan sebuah ide, sudah tiga bulan sejak aku menikahi Joanna dan kau masih santai begini. Louise, apa kau tak takut aku khilaf?" tanya William


"Will, jaga batasanmu. Kau akan mati jika menyentuhnya!" ancam Louise.


"Hei, aku selalu menjaga batasanku. Tapi bagaimana jika Joannamu itu yang tidak menjaga batasannya?" kata William.


"Apa ada hal semacam itu?" tanya Louise.


William diam, apakah benar tidak apa-apa jika dia mengatakan Joanna memeluknya tadi pagi?


"Sudahlah, lupakan! Aku akan membawanya keluar untuk makan malam nanti. Sebaiknya kau juga pergi dan lihatlah kelakuannya," ucap William.


William akhirnya pergi setelah mengatakan pesan terakhirnya. Sementara Louise, dia memutar kursinya dan mengecek kalender pribadi yang dia curi dari Joanna. Sebuah kalender yang biasanya ditandai Joanna ketika sedang datang bulan.


Louise tersenyum, "Will, lagi-lagi kau salah. Apa kau pikir aku hanya akan duduk diam dan tak melakukan apa-apa. Aku ini selalu punya rencana. Dan malam nanti, aku akan memastikannya."


Louise bangkit, berjalan ke tepian ruangannya dan melihat pemandangan di luar sana, "Sepertinya, aku akan segera panen."


...***...