CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Identitas William



"Kau pergilah! Segera temui Louise untuk membantunya. Biar aku yang menolong orang itu," kata William saat melihat bayangan seorang wanita yang tidak asing sedang diganggu beberapa orang.


"Bukannya kau yang harus pergi menemui Louise dan aku yang menolong orang itu?" tanya Arthur.


"Tidak, cepatlah atau Louise akan marah."


"Baiklah," jawab Arthur.


Karena William sudah berkata seperti itu, Arthur pun meninggalkan William begitu saja. Arthur tahu William tidak akan mati hanya karena melawan tiga orang pria pengganggu, "Ah, benar-benar cari mati. Apa orang itu tidak tahu bagaimana kejamnya Louise. Mendatanginya dengan cara yang tak beretika seperti itu, lalu masih menggunakan wanita untuk menggodanya. Tunggulah sampai esok hari, ku harap kau tak akan terkejut sampai mati begitu melihat perusahaanmu hancur dalam semalam," gerutu Arthur di sepanjang perjalanannya menuju kamar Louise.


"Apa lagi ini?" tanya Arthur pada dirinya sendiri ketika mendengar suara sirine di luar hotel.


Suara itu ternyata berasal dari mobil petugas yang akan melakukan penyelamatan terhadap seorang gadis yang mengancam akan bunuh diri di atap gedung.


"Tuan," sapa seorang petugas hotel yang tiba-tiba sudah berada di samping Arthur. Dia adalah orang yang sama dengan orang yang mendatangi Louise sebelumnya.


"Ada apa?" tanya Arthur.


"Bisakah Tuan Arthur mencoba membujuk Tuan Louise? Wanita yang sekarang berada di atap akan benar-benar melompat," pinta petugas itu panik.


Arthur memijit keningnya yang tidak sakit, kemudian menjawab, "Kalau kalian tidak bisa menahannya, maka biarkan saja dia melompat. Biarkan dia merasakan akibatnya setelah sampai di bawah nanti, kalau tidak patah tulang paling-paling juga hanya mati," jawab Arthur lalu bergegas pergi.


"Apa?" tanya staff itu tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kenapa dua orang itu bisa sama kejamnya.


Arthur tak menjawab apapun, dia langsung pergi setelah berkata seperti itu. Tentu saja dengan sibuk menggerutu di dalam hatinya, "Louise, lihatlah kekacauan yang terjadi akibat wajah dan hartamu itu. Sudah ku bilang cepatlah menikah agar tidak muncul semakin banyak wanita gila karena itu."


.


.


.


Arthur membuka kamar Louise tanpa mengetuk pintu, kemudian menutupnya setelah masuk kedalam. Dia tidak tahu kenapa harus terburu-buru kemari, padahal urusan Louise sebenarnya sudah sepenuhnya dibereskan. Dari kejauhan, Arthur bisa melihat Louise sedang minum wine sendirian di mini bar yang tersedia di dalam kamar.


"Aku sangat iri denganmu, bisa menikmati waktu santai di tengah kekacauan seperti ini," tegur Arthur ketika sampai di sisi Louise. Tanpa permisi, Arthur menuang segelas wine ke gelas yang lain, kemudian memutar-mutarnya sebelum meminumnya hingga tersisa setengah.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Louise melihat kearah Arthur yang duduk di sebelahnya.


"Setidaknya berpura-puralah berbuat baik dengan menunjukkan dirimu," jawab Arthur.


"Itu membuang-buang waktuku. Lagipula, aku tidak sebaik dirimu, Arthur!"


"Aku tahu. Kau memang sangat kejam," kata Arthur. Dia kembali meminum sisa wine di gelasnya. Sedangkan Louise memeriksa ponselnya, karena Joanna belum juga membalas panggilan ataupun pesannya.


"Apa kau menunggu seseorang?" tanya Arthur.


"Hm," jawab Louise singkat.


"Pacarmu? Kudengar kau membawa seorang gadis ke perusahaan kemarin, dia siapa?" selidik Arthur.


"Aku tidak akan memberitahumu," jawab Louise.


Mendengar jawaban Louise membuat Arthur tersenyum, biasanya Louise tidak akan seperti ini. Jadi, apakah Louise benar-benar serius dengan wanitanya kali ini?


"Sepertinya kau sangat menyukainya," kata Arthur.


"Tentu saja aku menyukainya. Kalau tidak, apa aku akan membawanya ke perusahaan dan ke villaku?" jawab Louise.


"Kau, membawanya pulang? Apa yang kau lakukan padanya. Kau tidak macam-macam kan?" tanya Arthur.


"Arthur, urus saja urusan pribadimu. Persiapan pernikahanmu itu misalnya, bukankah waktunya sudah tidak lama lagi?" sindir Louise.


"Jangan menghawatirkan tentang pernikahanku, aku dan calon istriku sudah mengurusnya dengan sangat baik."


"Kalau begitu bisakah kita membahas yang lain?" tanya Louise.


"Sepertinya kau tidak ingin memperkenalkannya pada kami. Padahal aku sangat berharap kau akan membawanya di pernikahanku nanti," jawab Arthur.


"Entahlah, kurasa dia tidak akan pergi," jawab Louise.


"Kenapa?"


"Kau terlalu banyak bertanya," cibir Louise yang mendapatkan banyak pertanyaan dari Arthur.


"Cih," keluh Arthur, "ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukannya?" tanya Arthur mengalihkan topik pembicaraan.


"Siapa?"


"Tentu saja gadis yang berani masuk ke kamar Tuan Muda Matthew malam itu," jawab Arthur.


"Belum."


"Setelah hari ini, media cetak maupun elektronik pasti akan menampilkan dirimu sebagai highlight berita utama secara besar-besaran. Mungkin saja dia akan segera muncul setelah melihat kau kembali. Saat itu terjadi, apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Arthur serius.


"Karena dia sudah berani muncul, maka aku hanya perlu menghancurkannya," jawab Louise tanpa ragu.


"Louise Matthew memang tegas seperti yang orang katakan," puji Arthur.


"Siapa suruh dia membuat masalah denganku. Kalau dia tidak berbuat gila, adikku tidak akan mati," kata Louise.


"Bagaimana jika ternyata gadis itu malah membuatmu jatuh cinta?" tanya Arthur.


"Jangan bercanda, aku sudah menemukan gadis yang aku cintai," jawab Louise.


"Kau, serius dengannya?" tanya Arthur.


"Tidak, aku tidak berani. Baguslah kalau akhirnya kau serius. Sudah waktunya untukmu punya anak," kata Arthur.


Louise hanya tersenyum mendengar kalimat Arthur, "Kurasa kau benar. Ngomong-ngomong dimana William, bukankah kau pergi bersamanya tadi?" tanya Louise mengalihkan pembicaraan.


"Itu, kurasa dia sedang berkelahi dengan beberapa orang sekarang," jawab Arthur canggung. Lalu menuang lagi segelas wine untuknya sendiri.


"Kau meninggalkannya sendirian?" tanya Louise cemas.


"Tenanglah, dia tidak akan mati!" jawab Arthur


"Aku tahu dia tidak akan mati hanya karena hal sepele seperti itu. Tapi kau baru saja menunjukkan sikap yang tidak seperti biasanya. Kau yang biasanya tidak akan meninggalkan temanmu sendirian disaat seperti itu bukan?" tanya Louise dengan tatapan curiga.


"Aku meninggalkannya sendirian karena aku mendapat telepon dari anak buahmu yang memintaku segera kemari, jadi jangan berpikiran aneh-aneh. Kau lah pemeran utamanya disini, untuk itulah kau lebih diutamakan. Jadi mengertilah tentang alasanku meninggalkannya," jelas Arthur panjang lebar.


Tentu saja, jika bukan karena William menyuruhnya untuk segera pergi untuk menemui Louise, mana mungkin Arthur akan meninggalkan William disana. Terlebih wanita yang diganggu berandalan itu sepertinya tidak asing di mata Arthur.


"Apa seseorang yang akan menjalani kehidupan pernikahan akan cepat naik darah sepertimu?" goda Louise.


"Ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan," jawab Arthur.


"Benarkah?" lanjut Louise.


"Kalau kau tak percaya maka cobalah sendiri, kau akan mengerti nanti," kata Arthur.


"Maaf!"


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Arthur ketika mendengar Louise meminta maaf.


"Tidak, kau tidak salah dengar," jawab Louise pelan.


"Kau ini," ujar Arthur tanpa melanjutkan kalimatnya.


Mereka saling diam untuk sesaat. Saling mengisi gelas mereka dengan wine dan menikmati sensasinya. Louise menarik nafasnya panjang, sebelum akhirnya kembali bersuara, "Arthur, apa yang kulakukan kali ini sudah benar?" tanya Louise tiba-tiba


"Soal apa?" jawab Arthur.


"William."


Arthur melirik Louise, kemudian segera menegakkan badannya, sepertinya kali ini mereka akan segera membahas masalah serius tentang asal-usul William yang misterius, "Apa kau sudah menemukan siapa keluarganya?" tanya Arthur.


Louise menoleh, tersenyum meskipun terlihat menyedihkan tapi juga mengangguk disaat bersamaan.


"Siapa William sebenarnya?" tanya Arthur penasaran.


"Seorang anak yang spesial. Latar belakangnya tidak main-main. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi sampai dia berada di jalanan dan ditemukan orangtuaku hari itu," jawab Louise.


"Lalu, apa kau sudah memberitahunya tentang ini?" tanya Arthur.


"Belum."


"Kenapa?"


"Kudengar keluarga besarnya sedang berada dalam perang antar saudara untuk memperebutkan posisi ahli waris. William pun sebenarnya adalah salah satu kandidat itu. Kalau aku memberitahu William sekarang, bagaimana kalau dia ingin pergi. Maksudku, aku tidak bermaksud untuk menahannya. Tapi situasinya benar-benar tidak aman sekarang. Apa yang akan terjadi selanjutnya tidak akan bisa ditebak. Bagaimana jika kehadirannya akan dimanfaatkan oleh mereka. Lalu, bagaimana cara William melindungi dirinya di tempat asing itu. Meskipun dia berasal dari sana, tapi dia tidak tumbuh besar dan memahami tempat asalnya itu. Terlebih, saat William sudah berada disana, aku tidak bisa berbuat banyak untuk melindunginya karena aku hanya orang luar. Tentu saja, aku bisa menghancurkannya jika mereka menyakiti William. Tapi, mereka adalah keluarga William. Bagaimana mungkin aku menghancurkannya?" urai Louise panjang lebar.


"Ini sangat rumit. Tunggu, bagaimana dengan orangtua kandungnya. Seharusnya mereka akan melindungi William jika melihat anaknya mendapatkan perlakuan buruk kan?" tanya Arthur.


"Masalahnya, kedua orangtuanya sudah meninggal," jawab Louise.


"Meninggal?" tanya Arthur.


"Em," jawab Louise.


"Karena apa?" tanya Arthur.


"Aku juga tidak tahu," jawab Louise.


"Louise, kurasa apa yang kau lakukan ini sudah benar. Jika situasinya memang rumit seperti itu, pilihan terbaik adalah menunda untuk memberitahu William. Aku hanya bilang menundanya, karena bagaimanapun juga kau harus memberitahunya cepat atau lambat," kata Arthur.


"Soal itu aku juga tahu, hanya saja aku sedikit tidak rela. Kau tahu sendiri kan, setelah kematian adikku, William itu tidak pernah meninggalkanku. Dia juga menerima apapun yang aku katakan tanpa pernah membantah. Aku hanya takut dia akan benar-benar pergi suatu saat nanti. Sama seperti adikku, Juan yang meninggalkanku untuk selamanya," kata Louise menjelaskan perasannya.


Arthur paham akan kekhawatiran Louise, tapi Arthur juga paham bagaimana sifat William. Hubungan mereka juga lebih kental daripada yang terlihat. Mereka bukan hanya sekedar rekan kerja, tapi juga adik dan kakak. Tentu saja juga sahabat dan teman seperjuangan dalam membesarkan Matthews Group hingga sebesar ini.


"Louise, aku yakin William tidak akan meninggalkanmu. Dia tumbuh dan besar bersama-sama denganmu. Bagaimanapun juga, rumahnya adalah dimana kau berada," tutur Arthur pelan.


"Hhh, kalau begitu aku akan memberitahunya setelah konflik internal di keluarganya itu sedikit membaik. Saat itu tiba, aku akan mendukung apapun keputusannya. Apakah boleh jika seperti ini, Arthur?" tanya Louise meminta saran dengan menyelipkan sebuah senyum ketidakrelaan.


"Tentu saja boleh. Aku tahu kau hanya ingin mencoba melindunginya, aku mendukung keputusanmu apapun itu. Jika sampai saat itu dia tidak mengerti niat baikmu, aku akan membantu menghajarnya nanti," janji Arthur.


"Terimakasih, sudah mendengar ceritaku," ucap Louise.


"Bukan masalah," jawab Arthur.


Keduanya saling menuang kembali wine di gelas mereka, lalu bersulang sebelum menelannya. Sepertinya keduanya terlalu menghayati pembicaraan mereka. Tanpa sadar, bahwa seseorang telah masuk dan mendengar semua pembicaraan mereka sejak tadi. Orang itu adalah William. William yang baru saja kembali setelah mendapatkan perawatan dari Marissa.


William segera keluar dari kamar Louise sebelum Louise dan Arthur menyadari keberadaannya. Berjalan pelan menuju kamarnya sendiri dan duduk bersandar pada sisi ranjang.


Ditengah ruangan yang temaram itu, William tersenyum.


"Louise, aku sudah menunggu ini sangat lama. Aku tahu, dibalik sifatmu yang arogan dan kadang sangat menyebalkan, ada satu sisi lembut yang kau sembunyikan untukku sebagai seorang adik. Maaf, sebenarnya aku sudah tahu kau sengaja menyimpan rahasia ini dariku. Aku tak sengaja mengetahuinya, jadi jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri yang selalu menyuruhku tinggal di ruanganmu selama kau tak ada. Selama ini, aku tidak berani bertanya kenapa karena aku tahu kau pasti memiliki sebuah alasan. Untuk itulah aku memilih untuk menunggumu untuk mengatakannya. Karena aku sangat mempercayaimu, dan aku percaya ini pastilah keputusan yang terbaik. Sama seperti keputusan-keputusan luar biasa yang kau buat selama ini. Aku tidak menyangka bisa mendengarnya malam ini meskipun kau mengatakannya kepada Arthur, bukan kepadaku. Tapi jangan khawatir, karena semua yang dikatakan Arthur adalah benar. Matthew adalah tempatku berada, Matthew selalu memberikanku kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari keluargaku. Lalu kau, kau adalah satu-satunya yang ku kagumi. Aku mengagumimu dari semua aspek yang kau miliki, caramu menyelesaikan masalah, caramu membesarkan Matthews Group sampai tahap ini, ide-ide brilianmu dan semua keputusan gilamu. Semua yang ada pada dirimu menempatkanmu pada level yang berbeda dengan yang lainnya. Jika boleh mengatakan sebuah pengakuan, maka aku akan meneriakkan dengan lantang bahwa dirimu lah satu-satunya panutanku, rumahku, tujuanku. Terimakasih, karena membuatku menjadi seperti sekarang. Karena tanpa bantuan dan kesempatan yang kau berikan, aku bukanlah siapa-siapa. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, dan akan berusaha lebih keras lagi untuk menemanimu merajai bisnis dunia dan membuat Mattews Group kita semakin bersinar di masa depan," gumam William sambil memegangi liontin tua. Sebuah liontin yang menemani William saat dia ditemukan oleh orangtua Louise saat bayi. Sebuah liontin yang ada foto dua manusia kecil di dalamnya. Seorang anak laki-laki berusia dua tahun, juga seorang bayi perempuan yang masih merah.


"Apa dia adikku, kenapa dia sangat cantik. Haruskah aku mencarinya sekarang?" gumam William, lalu menyandarkan kepalanya di ranjang.