CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Malam Pembunuhan



"Kau darimana saja. Joanna, kau ini seorang ibu. Lain kali bisakah lebih lama tinggal dirumah dan memperhatikan anakmu saja?" gerutu William saat melihat Joanna masuk kamar.


Pria itu masih terjaga. Membaca sebuah buku sembari duduk santai tidak jauh dari ranjang milik dua anak yang meringkuk di kasurnya.


"Maaf, lain kali aku tidak begitu lagi," kata Joanna.


"Apa kau baru saja menemuimu Louise. Kalau ingin bertemu dengannya, aku bisa mengantarmu dengan membawa anak-anak juga. Atau biarkan saja dia yang kemari seperti biasanya agar Reagan bisa terus bersamamu. Oskar juga terus mencarimu sejak dia pulang sekolah," omel William kemudian menutup bukunya.


Pria itu terlihat marah. Seharian ini hanya di rumah saja dan tidak ke perusahaan. Jika ada kesibukan yang dia lakukan, itu hanyalah serangkaian acara kebangsawanan yang mengharuskannya hadir hingga beberapa hari ke depan. Lalu, sore harinya saat dia pulang dia sudah tidak mendapati Joanna tapi melihat Agria dan Diaz yang sibuk menjaga Oskar dan Reagan menggantikan Joanna.


"Aku tahu," jawab Joanna lagi.


Joanna hanya menjawab seperti itu saat William bertanya. Tidak meledak-ledak dan banyak bicara seperti biasanya. Masih dengan wajah menyedihkan itu dia meletakkan tasnya, meletakkan segelas susu hangat, melepaskan mantel dan mencuci tangannya sebelum menghampiri Oskar dan Reagan yang sudah terlelap.


Melihat wajah sayu itu membuat William menyesal karena telah memarahinya. "William, apa sih yang kau lakukan. Bukankah kau sudah berjanji akan bersikap baik di hari-hari terakhirmu jadi suaminya?" batin William.


William akhirnya mendekat. Ikut-ikutan memperhatikan dua anak yang masing-masing tersenyum di tidurnya. "Maafkan aku!" kata William sambil mengusap kepala Joanna.


"Aku tidak apa-apa kok!" jawab Joanna dengan senyum tipis di bibirnya.


"Ngomong-ngomong sepertinya Louise sudah lama tidak kemari. Apa dia tidak rindu anak-anak ini?" tanya William.


"Siapa yang bilang. Dia menemui mereka kok," bohong Joanna.


"Kapan, kenapa aku tidak melihatnya?" tanya William lagi.


"Dia menemuinya saat kami di Kota Utara. Lebih tepatnya saat kau mabuk," jawab Joanna.


"Oh, pantas saja pagi harinya banyak tanda itu," batin William. Sedikit cemburu tapi bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.


"William apa kau sudah lama tidak mengunjungi mama?" Kini giliran Joanna yang membuka obrolan setelah William tiba-tiba menjadi pendiam.


"Dua minggu yang lalu aku mengunjunginya kok. Memangnya kenapa?" tanya William.


"Dia sudah merindukanmu," jawab Joanna.


"Joanna jangan bercanda, dia pasti merindukan satu bayi tuyul dan satu tuyul panjang ini kan?" tanya William tidak percaya.


"Will, mereka berdua itu anakku bukan anak tuyul. Mereka mempunyai rambut yang lebat jadi jangan menyebutnya tuyul lagi dimasa depan. Lagipula aku tidak bercanda. Mama mengatakan padaku bahwa dia merindukanmu. Besok kalau kau sempat, bawa Marissa dan Ebra untuk menemui mama sekalian menemui oma!" perintah Joanna.


"Marissa dan Ebra? Apa bukan pergi denganmu dan dua anak ini?" tanya William.


"Tidak, kau pergi saja dengan Marissa. Dia kan calon istrimu, kau harus sering-sering memperhatikannya dan menghabiskan waktu dengan mereka," jawab Joanna.


"Tapi sekarang yang jadi istriku kan dirimu," kata William lagi.


"Eum, aku ini istrimu. Tapi kita akan segera bercerai. Sudah malam, sebaiknya kau segera tidur!" kata Joanna yang sepenuhnya mengabaikan protes dari William tapi masih sempat menyodorkan segelas susu.


"Apa ini?" tanya William.


"Susu sebelum tidur," jawab Joanna.


"Joanna aku bukan anak-anak!" tolak William.


"Apa kau sedang menolak pemberianku, Will?" tanya Joanna.


"Ah, aku akan meminumnya!" jawab William. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung mengambil segelas susu itu dan meminumnya hingga tak tersisa barang setetes.


"Pergi dan sikat gigimu lalu tidur sekarang juga. Setelah aku kembali nanti kau harus sudah keluar dari kamar mandi karena aku akan mandi!" pesan Joanna setelah mengambil gelas bekas susu dari tangan William.


"Aku mengerti."0


"Senior, ayo pulang!" ajak Junior kesayangan Louise setelah meletakkan gelas terakhirnya.


Pria itu terlihat kecewa berat. Beberapa hari yang lalu Louise mengundang dan memintanya untuk segera menemuinya. Dia pun terbang secepatnya karena mengira ada tugas penting yang akan di berikan oleh senior kesayangannya itu. Alih-alih mendapatkan tugas penting, siapa yang menyangka jauh-jauh datang dari belahan bumi yang lain ternyata hanya untuk menjaga seniornya yang mabuk seperti orang gila.


Siangnya bekerja lalu malam harinya mabuk. Siang harinya pusing memikirkan pekerjaan dan malam harinya pusing memikirkan masa depan. Hanya itulah yang senior itu habiskan beberapa hari terakhir ini. Baiklah, junior itu memang ikut-ikutan mabuk. Tapi tidak separah Louise karena junior itu menjaga porsi alkohol yang masuk ke tubuhnya. Bukannya tidak ingin, tapi setidaknya harus ada salah satu diantara mereka yang waras. Kalau mereka sama-sama mabuk, lalu siapa yang akan menjaga mereka jika ada perempuan yang mendekat untuk menjebaknya menuju kekhilafan?


Wanita bernama Stella itu misalnya. Tak terhitung berapa kali Junior menambah dan meminta pengawal untuk memeriksa keamanan di sekitar hotel tempat mereka menginap. Tak terhitung berapa kali Junior mengusir wanita itu. Tak terhitung pula berapa banyak kali dia melemparkannya setelah memergokinya menyelinap dan mencoba naik di ranjang Louise saat pria itu tumbang karena terlalu banyak minum. Junior itu bahkan harus rela berbagi kamar dengan seniornya atas minimnya kesadaran yang dimiliki Louise karena otaknya yang terlalu banyak terendam alkohol.


"Senior, apa matamu buta. Wanita seperti itukah yang membuatmu berpaling dan meninggalkan permata seperti Joanna. Kalau kau tidak menginginkannya, kenapa tidak memberikannya padaku saja. Aku dengan senang hati pasti akan menerimanya beserta dua anak kucing itu," omel Junior setelah berhasil mengusir Stella waktu itu.


"Senior, aku akan membawamu pulang," kata Junior.


"Tidak mau!" tolak Louise.


"Senior, ayolah!" paksa Junior.


"Aku belum mabuk kenapa harus pulang?" tanya Louise.


Junior itu hanya geleng-geleng kepala. Jelas-jelas Louise sudah tidak kuat lagi menahan kepalanya dan tersungkur ke meja tapi dia bilang belum mabuk. Standar mabuk dimata seorang Louise Matthew itu sebenarnya seperti apa?


"Senior, ABS ku hampir hilang karena terlalu banyak minum. Bagaimana wanita cantik akan tertarik padaku di masa depan jika kita terus seperti ini?" protes Junior.


"Asal kau banyak uang bukankah kau bisa mendapatkan wanita secantik apapun?" jawab Louise dengan mata yang semakin tertutup rapat.


"Senior, kau sudah benar-benar mabuk sekarang. Ayo pulang!" ajak Junior lagi.


Karena tidak ada jawaban lagi Junior itu akhirnya membawa Louise kembali ke hotel.


"Senior, kenapa kau sangat berat!" protes pria itu kemudian membaringkan Louise di kasur begitu saja bahkan tanpa melepaskan sepatunya. Yang dia lakukan hanyalah melepaskan mantelnya dan melonggarkan ikat pinggang serta dasinya.


Junior itu ingin pergi berbaring ke kasur lainnya di ruangan itu, tapi suara Louise menghentikan langkahnya. "Junior, ikut aku sekarang juga!"


Junior itu menoleh. Melihat seniornya yang sudah duduk di ranjang. Pria itu sadar, benar-benar sudah tersadar dan sedang berbicara serius dengannya dan merapikan dan memakai kembali mantelnya


"Kemana?" tanya Junior.


"Menemui seseorang. Aku ada tugas lain untukmu," jawab Louise singkat.


Dua pria itu akhirnya pergi dengan mobil yang berbeda karena tujuan mereka berbeda. Sementara di tempat lain, Joanna yang sudah selesai mandi langsung memeriksa William. Memastikan suaminya itu tertidur pulas setelah meminum susu yang dia berikan obat tidur.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Agria yang saat ini sudah berada di kamar itu.


Agria sudah dihubungi Joanna saat Joanna masih di taman sebelumnya. Dia meminta Agria untuk datang karena ada hal yang harus Joanna selesaikan malam ini juga.


"Membunuh orang," jawab Joanna.


"Bukankah kau bilang sudah tidak ingin membunuh lagi?" tanya Agria.


"Tiba-tiba aku ingin mengingkari janjiku," jawab Joanna santai dan pergi begitu saja.


"Kakak, aku berhenti membunuh karena orang itu melarangku. Aku tidak perlu membunuh karena dia selalu membereskannya untukku. Tapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Mulai sekarang dan seterusnya aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan hidup dan membunuh siapapun yang mencari masalah denganku," batin Joanna.