
William dan Joanna sudah menjadi suami istri selama tiga bulan. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka pasti menjadi semakin dekat dari hari ke hari. Mau bagaimana lagi, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Joanna bahkan tidak pernah diijinkan keluar jika tidak bersama William.
Tapi meskipun begitu mereka masih bersikap sopan, saling menghormati dan saling menjaga. Tidak pernah melanggar privasi, mencampuri urusan pribadi dan yang lebih penting adalah tidak pernah melewati batas ranjang mereka.
Semuanya sangat normal, karena memang orang yang diinginkan William adalah Marissa dan yang Joanna inginkan adalah Louise.
Mereka masih tidur terpisah meskipun berada di ranjang yang sama, setidaknya selama tiga bulan ini.
Karena setelah hari ini, mereka sudah saling melewati batas, tepatnya dimulai malam tadi. William dan Joanna sama-sama tidak menyadarinya karena tidur terlalu lelap setelah melewati serangkaian acara kebangsawanan yang mereka hadiri sepanjang hari.
Posisi mereka baru disadari William saat dia membuka matanya karena merasa aneh dengan benda kenyal dan lembut yang memenuhi telapak tangannya.
Matanya langsung membesar ketika menyadari dia sedang memeluk Joanna dan Joanna juga memeluknya. Wanita itu bahkan menyembunyikan wajah di dadanya.
Lalu, William semakin melotot saat melihat satu tangannya ternyata berada di atas bukit milik Joanna.
"Pantas saja sangat lembut," batin William.
Dengan sangat pelan, William segera menarik tangannya yang kurang ajar dan melepaskan pelukannya sebelum si empunya bangun dan memarahinya habis-habisan.
William tidak mengerti kenapa bisa begini. Tapi yang jelas mereka tidak sengaja melakukannya. Sementara dua guling pembatas itu entah bagaimana bisa bertebaran di lantai.
"Baiklah, setelah hari ini aku tidak akan pernah tidur di ranjang yang sama dengannya lagi," kata William sambil melirik Joanna yang masih tidur nyenyak dan menyelimutinya.
Hari ini masih seperti hari biasanya. William selalu bangun lebih awal daripada Joanna. Wanita itu sangat rajin saat amnesia. Dia akan bangun pagi-pagi dan mengurus semuanya sendirian. Tapi setelah mendapatkan ingatannya sifat aslinya kembali muncul. Bangun pagi adalah sesuatu yang sangat jarang dia lakukan.
William menarik nafasnya panjang, kemudian segera bangkit untuk membersihkan dirinya. Rutinitas dia setiap hari selalu seperti ini. Dia akan bangun duluan saat Joanna masih terlelap, lalu akan berangkat kerja saat Joanna masih bermalas-malasan di atas ranjang.
Tidak ada hal spesial yang mereka lakukan selain bertegur sapa dan terkadang memainkan sedikit drama dengan menunjukkan sikap romantis di hadapan keluarga besar.
"Menikah dengan orang yang tidak kucintai. Menikah tapi tidak ada bedanya dengan saat masih lajang. Kenapa bisa begini, sungguh takdir sedang mempermainkan jalan hidupku," gerutu William disela-sela aktivitas menyikat giginya.
Selesai menyikat gigi, William mengguyur seluruh tubuhnya di bawah air yang mengalir dari shower. Dari pantulan dinding yang mengkilap, dia bisa melihat bayangannya sendiri yang tidak menggunakan apapun juga. Sedikit menyesal karena tubuh sebagus itu diabaikan oleh istrinya sendiri.
Kini pandangannya tertuju kepada tangannya yang sempat khilaf. Setelah beberapa saat dia membatin, "Jika sebesar ini, bukankah seharusnya 36? Hhh, apa sih yang sedang ku pikirkan."
William membuang jauh pikiran liarnya. Kemudian segera menyelesaikan ritual mandinya dan keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Baru saja membuka pintu, Joanna sudah menyambutnya meskipun masih berada di atas ranjang kesayangannya.
"Will, selamat pagi! Apa kau sudah selesai?" tanya Joanna dengan senyum lebar.
"Pagi, apa kau mau mandi?" tanya William. Dia memang menyahut, tapi tidak melihat Joanna lagi dan sibuk mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk kecil yang lain.
"A-aku mandi?" tanya Joanna.
William melirik sebentar, kemudian segera mengalihkan pandangannya, "Lalu apa gunanya bertanya jika dia tidak punya niat untuk mandi?"
"Benar juga, sudah lama sekali aku tidak mandi pagi," kelakar Joanna.
Joanna memang hanya menyikat dan mencuci mukanya saat pagi. Lalu baru benar-benar mandi di siang atau malam harinya tergantung situasi dan cuaca hari itu.
"Kalau begitu cepatlah mandi sebelum keinginanmu menguap dan menghilang di udara," sindir William.
William bisa melihat sekilas Joanna perlahan bangkit dari ranjang. Dia mengira Joanna akan pergi ke kamar mandi tapi nyatanya tidak, "Kenapa kemari, bukannya kau bilang ingin mandi?" tanya William ketika menyadari Joanna berjalan kearahnya.
"Aku ingin mandi, tapi aku merasa aneh," jawab Joanna.
"Aneh, apanya yang aneh. Apa kau sakit?" tanya William.
"Bukan seperti itu. Hanya saja tiba-tiba aku merindukanmu," keluh Joanna.
"Eh, apa yang ku katakan barusan. Kenapa itu keluar begitu saja?" batin Joanna panik.
Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sungguh dia tidak ingin mengatakan hal seperti itu.
Pengakuan tak terduga itu membuat William serasa ingin muntah darah. Ada apa dengan hari ini. Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi aneh.
"Ehm, W-will, bukan aku yang mengatakan itu barusan, sungguh!" ralat Joanna.
"Lalu siapa, jelas-jelas itu keluar dari mulutmu kan?" omel William.
"Iya, tapi itu bukan kemauanku!"
"Lalu kemauan siapa, tidak mungkin ada setan yang masuk di tubuhmu kan? Aish, Kau ini. Tunggu, kau tidak mungkin menyukaiku kan?" tanya William.
"Apa yang baru saja kau katakan. Tentu saja tidak, bagaimana bisa aku menyukaimu. Itu tidak boleh dan tidak mungkin terjadi," tolak Joanna mentah-mentah.
"Kalau begitu cepatlah mandi agar kau kembali normal!" perintah William.
"Aku akan mandi setelah membantumu bersiap," kilah Joanna singkat.
Sangat singkat sampai William tidak menyadari handuk yang dipegangnya sudah berpindah tangan. Dengan cekatan Joanna membantu William mengeringkan tubuh atletisnya dari sisa-sisa air yang belum sepenuhnya kering.
William serasa berada di dunia lain. Apa dia masih waras, kenapa Joanna bertindak layaknya seorang istri sungguhan? Apa malaikat baru saja lewat ketika dirinya mengeluh tentang takdir hidupnya yang dipermainkan?
William diam saja ketika Joanna menyelesaikan tugas pertamanya sebagai istri. William kira, Joanna akan menyudahi kemurahan hatinya setelah membantunya mengeringkan tubuh, tapi ternyata Joanna masih berbaik hati. Dia berjalan kearah lemari, mengambil setelan jas yang sudah disiapkan oleh pelayan sebelumnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya William ketika Joanna membantunya memakai kemeja.
"Sstt! Sebenarnya aku juga tidak mengerti. Tanganku sepertinya bergerak sendiri," jawab Joanna.
William tidak mengerti maksudnya, kenapa Joanna sampai menyuruhnya diam. Apa suaranya bisa mengganggu Joanna yang hanya membantunya memakai kemeja?
Lalu apa maksudnya tangannya bergerak sendiri? Tapi ya sudahlah, begini juga bagus. Karena dia bisa melihat wajahnya yang cantik secara gratis dan tanpa dimarahi meskipun baru bangun tidur.
Joanna mengaitkan kancing demi kancing dengan cepat, lalu menepuk-nepuk perut William yang menonjolkan absnya. Joanna terlihat biasa saja, tapi tidak dengan William. Perasaan ini sungguh sangat aneh.
"Will, kau bisa memakai celanamu sendiri kan?" tanya Joanna.
"Kalau kau ingin memakaikannya, aku bisa apa?" jawab William.
"Jangan pernah berharap aku akan melakukannya!" sembur Joanna bersamaan dengan celana yang tiba-tiba mendarat di wajah tampan William.
"Jo, kau melukaiku."
"Apakah sakit?" tanya Joanna dengan memasang wajah berpura-pura prihatin.
"Kurasa aku tidak akan pergi bekerja karena luka ini," jawab William mendramatisir.
PLAK
Pukulan kembali mendarat di dada William, masih ada serangan lanjutan di sekujur perut dan dadanya.
"Joanna, apa kau mau membunuh suamimu. Bukan, bukan, maksudku calon adik iparmu?" tanya William.
...***...