
"Arthur, apa yang kau lakukan?" tanya Joanna. Ini pertama kalinya dirinya dipeluk seorang pria setelah kehilangan ingatannya.
"Joanna, sekali saja. Hanya sekali saja biarkan aku memelukmu seperti ini. Ini hanyalah pelukan dari seorang teman," pinta Arthur dan mendekap Joanna dalam-dalam. Merengkuh tubuh wanita cantik itu dengan dua tangan hangatnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang mereka katakan, tidak ada juga yang mereka lakukan selain saling diam. Arthur, dia hanya ingin menikmati saat-saat dirinya bisa memeluk Joanna. Pelukan ini, mungkin bukan hanya untuk yang pertama tapi juga yang terakhir kalinya. Sedangkan Joanna, dia hanya merasa bahwa perasaan ini tidak asing untuknya. Seseorang pernah memeluknya seperti ini. Sangat hangat dan nyaman, tapi siapa dia? Joanna benar-benar tidak bisa mengingatnya sama sekali.
Mata Joanna berkaca-kaca, bukan karena mendapatkan kembali serpihan ingatannya. Tapi karena pelukan Arthur mengingatkannya pada kejadian-kejadian lima tahun belakangan. Selama itu, pria inilah yang selalu membantunya bersama Alexa. Membantu Joanna dengan semua hal yang mereka bisa.
Mengingat semua kebaikan malaikat tak bersayap itu membuat Joanna merasa bersalah. Karena Joanna sempat berpikir untuk menjauh dan menjaga jarak untuk menghindari hubungan yang rumit diantara mereka.
Alasan Joanna menjadi sungkan, alasan Joanna tidak pergi dalam liburan terakhir sebenarnya karena Joanna menyadari bahwa Arthur menyukainya. Dan yang membuatnya semakin ingin menjauh adalah apa yang Alexa tawarkan. Joanna tidak ingin menghancurkan hubungan persahabatan diantara mereka hanya karena cinta Arthur untuknya. Hanya itu, hanya itu sebenarnya alasannya.
Tapi sepertinya Joanna telah salah, karena faktanya Arthur pun tahu batasannya. Dia akan tetap jadi Arthur yang setia, meskipun ada sedikit ruang dihatinya untuk Joanna.
"Maaf!" kata Arthur memecah kebuntuan.
"Untuk apa?" tanya Joanna. Seharusnya dirinya yang meminta maaf, bukannya Arthur.
"Sepertinya aku gagal mendapatkan seorang pria calon suami terbaik untukmu," jawab Arthur ringan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Joanna tak mengerti. Calon suami apa?
"Apa kau lupa, aku pernah berjanji untuk mencari seseorang yang akan menjagamu lebih baik daripada aku kan?" ujar Arthur menjelaskan.
"Arthur, kenapa kau melakukannya?" tanya Joanna.
"Joanna, aku akan segera menikah sebentar lagi. Mungkin aku juga akan segera punya anak. Akan sangat merepotkan jika aku harus membagi waktu untuk mengurus dua wanita sekaligus antara kau dan Alexa. Lalu masih ada dua anak yang lainnya bukan?" jawab Arthur dengan diselingi tawa.
"Apa sih yang kau lakukan. Itu tidak perlu, itu memalukan tahu," jawab Joanna.
Kenapa harus dicarikan seperti itu. Bila memang ada, Joanna ingin pertemuan itu terjadi secara natural. Joanna malu, kenapa Arthur harus berbuat sampai sejauh itu. Tapi juga terharu disaat yang bersamaan atas perhatian Arthur untuknya.
"Joanna, apa kau menangis?" tanya Arthur ketika mendengar sedikit isakan Joanna.
Joanna tidak menjawab, tapi air matanya sudah menjawab semuanya.
"Joanna, jangan menangis lagi. Masih ada banyak pria yang baik dan tampan di dunia ini. Aku akan mencarikan yang lebih baik untukmu nanti."
"Arthur, aku menangis bukan karena itu."
"Lalu karena apa?"
"Karena kau dan Alexa sangat baik padaku. Aku sering merasa sungkan karena kebaikan kalian. Lebih sungkan lagi saat Oskar terus-terusan menyita waktumu dan menganggapmu sebagai ayahnya. Aku takut itu menyakiti Alexa jadi aku sedikit menjauh. Tapi, pada akhirnya aku senang karena kau sudah memutuskan untuk tetap pada pendirianmu. Aku hanya sangat senang sampai aku menangis. Arthur, kenapa kalian sangat baik padaku?"
"Dasar bodoh! Aku lebih tahu Alexa daripada dirimu. Dia bukan orang yang seperti itu. Lalu, alasan kami menjadi baik karena kami sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami," kata Arthur mencoba menenangkan Joanna, "Sudahlah jangan menangis lagi."
Joanna mengangguk, keluarga ya? Sepertinya sangat menyenangkan jika dirinya bisa mengingat keluarganya yang sebenarnya.
Joanna menghapus air matanya, kini dia tidak ragu untuk membalas pelukan Arthur. Memeluk Arthur sebagai ucapan terimakasih karena telah bersedia menemaninya disaat-saat dia sangat membutuhkan uluran tangan. Menenggelamkan wajahnya di dada Arthur dan meninggalkan ingus dan air matanya disana.
"Joanna, apa yang kau lakukan sekarang. Kau tidak pernah memelukku selama ini. Apa kau tiba-tiba menyukaiku sekarang? Maaf, tapi aku harus mengatakan ini. Sudah sangat terlambat untuk mencintaiku karena aku sudah akan menikah," goda Arthur.
"Arthur, aku hanya terharu karena memiliki kalian. Jangan merusak momennya dong!" jawab Joanna. Tiba-tiba dirinya menyesal telah mengeluarkan banyak kata-kata yang berasal dari hatinya yang terdalam.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Menangislah dan peluk aku sepuasmu kali ini. Tapi jangan lupa untuk mencuci ingus yang kau tinggalkan disana," kata Arthur. Kini, dia tidak hanya sedang memeluk Joanna, tapi juga berani mendaratkan ciuman di dahinya.
"Jo, ambilkan aku handuk. Aku ingin mandi," kaya Arthur tiba-tiba.
"Mandi, apa kau tak pulang?" tanya Joanna.
"Joanna kau memang semakin cantik tapi kenapa menjadi semakin kejam juga. Bukankah aku sudah bilang akan menginap malam ini?" protes Arthur.
"Ah, aku pikir kau hanya membohongi Oskar."
"Joanna, aku ini selalu menepati janjiku meskipun kepada anak kecil. Cepatlah!" pinta Arthur.
.
.
.
Cup. .
Sebuah ciuman mendarat di dahi Oskar yang tertidur semakin lelap. Joanna tersenyum, kemudian mengambil mainan yang sudah terlepas dari tangan Oskar dan meletakkannya di atas meja yang berada disamping tempat tidur.
Tangan keibuannya menarik selimut yang tertindih di bawah kaki Oskar dengan pelan. Lalu menyelimuti Oskar sampai ke dada dan memperbaiki letak kepalanya yang sedikit miring.
Joanna memandangi wajah Oskar dengan penuh kasih sayang, menggenggam erat tangan mungilnya dan membelai rambutnya yang hitam lebat.
Sangat segar diingatan Joanna 5 tahun yang lalu. Tangan kecil itulah yang dulu menahannya, tangan mungil itulah yang memegang jarinya saat Alexa dan seorang dokter berencana mengantarkan Oskar ke panti asuhan.
Iya, tangan itulah yang menggugah naluri keibuannya dan bersedia menjadi seorang ibu untuknya. Jika dipikir-pikir, hari-hari yang dilewatinya sangatlah menyenangkan dengan kehadiran Oskar. Semua lelah dan letih yang dirasakannya seolah hilang begitu melihat senyum ceria milik Oskar dan panggilan mommy dari mulut manisnya.
Iya, semuanya menyenangkan meskipun terkadang ada hal yang tak menyenangkan. Tak jarang Joanna harus menerima apa itu yang disebut cacian dari orang-orang karena dirinya memiliki anak tanpa seorang ayah. Dan, semuanya menjadi manis karena ada Alexa, Arthur, jua Diaz yang memasang badan mereka untuk melindungi Joanna.
Tapi meskipun begitu, itu tak membuat Joanna berkecil hati. Asalkan Oskar bahagia, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengabaikan ocehan mereka. Hatinya tidak akan patah hanya karena gunjingan ataupun sindiran mereka. Karena semua bagian yang ada pada Joanna sudah sibuk untuk memberikan semua cintanya untuk Oskar, terlebih hatinya. Jadi sudah dipastikan tidak ada lagi bagian yang tersisa hanya untuk menampung ujaran kebencian dari para pembenci.
"Aku pasti akan menyesal seumur hidup jika membiarkanmu pergi saat itu. Terimakasih, karena kau telah bertahan di tengah malam dengan cuaca yang dingin itu. Terimakasih, telah menjadikanku ibumu meskipun kita sering berselisih paham dan bertengkar. Terimakasih, karena telah menjadi satu-satunya yang tetap menjaga nyala api kekuatan mommy agar tidak padam," ujar Joanna lirih.
Pada akhirnya Joanna bangga telah melewati semuanya. Bangga pada dirinya karena telah melewati masa-masa sulit itu bersama dengan anak dan orang-orang terdekatnya.
Dan, selain itu saat ini Joanna telah memutuskan untuk menyerah. Menyerah untuk mencoba mengingat masa lalunya meskipun terkadang potongan-potongan ingatan itu muncul. Joanna menyerah untuk mencari tahu siapa dirinya. Iya, dia telah menyerah untuk itu semua dan memilih terus melanjutkan hidupnya dengan identitas baru yang diberikan Alexa untuknya selama ini, sebagai Joanna Samantha.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, tapi villa itu masih cukup ramai karena suara yang ditimbulkan dari air kolam. Louise, pria yang tergila-gila kepada Joanna itu masih menikmati waktu santainya dengan berenang. Entah berapa banyak kali dia berputar dengan berbagai macam gaya, tapi sepertinya masih belum membuatnya ingin mengakhirinya.
Sangat berbeda dengan William yang saat ini sudah berada di sisi lain pinggiran kolam. William tampak bersantai ria di atas pembaringan dengan mata terpejam. Entah tidur atau tidak hanya William yang tahu. Rambutnya masih setengah basah, sedangkan tubuh bagian bawahnya hanya berbalutkan handuk kering disaat tubuh bagian atasnya memamerkan otot-otot indahnya.
Tidak jauh dari tempatnya menikmati kenyamanan dunia, tersaji dua gelas jus, potongan buah juga beberapa cemilan di atas meja kayu berukuran kecil.
Byur. .
Percikan air membuat William membuka matanya.
"Apa?" tanya William setelah membuka matanya, tapi masih berbaring di tempat yang sama tanpa merubah posisinya. William tahu, cipratan air barusan berasal dari Louise.
"Aku pikir kau tertidur," jawab Louise tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Louise segera naik ke permukaan, mengibaskan rambutnya yang basah kuyup. Lalu memeras handuk kecil sebelum meletakkannya di pundaknya. Terlihat sangat jelas otot-otot dari tangannya yang kekar saat Louise memeras handuk itu hingga tak ada air sedikit pun yang menetes.
Sementara di perutnya terpampang nyata kotak berjumlah delapan juga beberapa bulu halus yang membuatnya semakin terlihat seksi. Sungguh sebuah pemandangan luar biasa yang tidak pernah dilihat siapapun selain William. Benar, sejauh ini hanya Williamlah satu-satunya yang pernah melihatnya. Sisanya, mereka hanya bisa melihat dan membayangkannya dari balik pakaian yang dikenakan Louise.
"Kenapa, apa kau tertarik denganku?" canda Louise ketika melihat William sedang memperhatikannya dari atas hingga bawah.
"Jangan bercanda, semua yang ada di tubuhmu itu aku juga memilikinya," jawab William santai. Kemudian menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain meraih segelas jus dan meminumnya.
Memang benar, bentuk tubuh William kurang lebih sama dengan bentuk tubuh milik Louise, yang membedakan hanyalah warna kulit William yang sedikit lebih terang daripada kulit Louise. Sedangkan untuk tinggi badan mereka, Louise sedikit lebih tinggi daripada William, tepatnya hanya terpaut tiga sentimeter saja. Selain itu, tubuh William sedikit lebih kecil. Tapi, meskipun demikian dia juga memiliki delapan kotak sama seperti milik Louise.
Dengan wajah rupawan, bodi menawan, dan keuangan yang luar biasa mapan, sungguh mereka bisa menaklukkan dunia tanpa harus memiliki kekuatan super apapun.
"Apa yang sedang kau pikirkan. Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu," tanya Louise.
Beberapa hari ini sepertinya William lebih banyak diam, tak banyak bicara seperti biasanya. Louise takut adik angkat kesayangannya itu kesambet atau semacamnya. Jadi malam ini, biarlah Louise membuang sifat acuh dan bodo amat miliknya dan mulai menanyakan keadaannya.
"Louise, diantara beberapa klien yang ku temui kemarin, sepertinya aku tertarik dengan salah satunya," jawab William terang-terangan.
Louise mengangkat satu alisnya, kemudian mengambil handuk kering yang sudah disiapkan dan duduk di pembaringan yang lain, "Seorang gadis?" tanya Louise.
"Tentu saja, apa menurutmu aku tertarik dengan seorang pria?" jawab William.
"Kalau kau tertarik dengannya, maka kau hanya perlu memilikinya," respons Louise.
William terbangun dari rebahannya setelah mendengar jawaban Louise, sementara Louise kini mulai berbaring menggantikan posisi nyaman yang baru saja William tinggalkan. Bukannya apa-apa, tapi biasanya Louise akan julid ketika William membicarakan wanita. Tapi kali ini reaksinya sangat berbeda.
"Kau serius bilang seperti barusan?" tanya William tak percaya.
"Em. Sebagai orang nomor dua di Matthews Group, bukankah itu tidak sulit untukmu?" tanya Louise dengan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sehingga menampakkan otot-otot lengan yang kekar.
"Apa, kau sedang mendukungku?" tanya William.
"Kenapa tidak. Kalau kau menyukainya maka kau harus berusaha untuk mendapatkannya bukan? Terlebih, kau harus mencari pasangan untuk dibawa hadir di pernikahan Arthur sebagai teman dansamu, bukankah begitu?"
"Bagaimana denganmu. Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya William.
"Aku berencana makan malam bersamanya akhir pekan ini, dia bilang akan mentraktirku. Aku akan bertanya padanya apakah dia ingin pergi denganku nanti. Bagaimana, sepertinya aku selangkah lebih cepat darimu," jawab Louise percaya diri sambil memberikan kedipan mata kepada William.
"Aku senang mendengarnya, tapi tentang makan malam di akhir pekan, lupakanlah!" ujar William.
"Kenapa?" tanya Louise dengan ekspresi tidak suka.
"Karena mulai besok lusa kita akan melakukan perjalanan bisnis di luar kota selama satu minggu. Apa kau lupa, kau sendiri yang mengatur jadwalnya jauh-jauh hari kan?" jawab William mengingatkan jadwal mereka yang padat.
"Bukannya itu minggu depan?" tanya Louise.
"Kau sendiri yang memajukan jadwalnya. Kau juga lupa ini?" jawab William.
"Sialan!" jawab Louise ketika melupakan perubahan jadwal atas kemauannya sendiri. Kemudian melemparkan handuk kearah William yang terkekeh. Sepertinya dia sangat puas melihat kegagalan Louise untuk kencan pertamanya.
"Louise, sepertinya aku merindukan dua anak-anak yang menggemaskan itu," kata William mengalihkan pembicaraan.
"Kalau begitu besok ikutlah denganku, aku sudah berjanji akan mengajarinya bermain ice skating besok."
"Hanya Oskar?"
"Tidak, Ebra juga akan pergi. Kalau kau ikut, aku tidak perlu bergantian mengajari mereka."
"Baiklah!"
"Sepertinya kau sangat menyukai Ebra, kenapa tidak mencoba mendekatinya ibunya?" goda Louise.
"Pertanyaan itu ku kembalikan untukmu. Bagaimana menurutmu?" sanggah William kesal. Baru saja dia mengatakan tertarik dengan seorang wanita, tapi Louise dengan tenang menyuruhnya mendekati mamanya Ebra, tidakkah Louise ini kurang ajar?
"Seandainya aku belum bertemu dengan Joanna, mungkin aku akan mempertimbangkan nasehatmu barusan," jawab Louise.
"Jadi namanya Joanna?"
"Ya, lalu siapa nama perempuan yang menarik perhatianmu itu?"
"Itu, namanya Marissa."