CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kunjungan Daisy



Sebulan telah berlalu. Hari ini langit tidak begitu cerah. Tapi sinar matahari yang sendu sudah cukup untuk menghangatkan bumi yang indah ini. Di paviliun mereka yang baru, William tersenyum tipis melihat Joanna yang sedang menyusui Reagan.


Ngomong-ngomong, membicarakan soal Reagan. Bayi itu sudah berusia sebulan dan semakin tampan dari hari ke hari. Bukan hanya semakin tampan, dia juga semakin mirip dengan Daddy Louise dan sedikit demi sedikit membuang wajah peninggalan Papi William yang menempel di wajahnya.


Selain itu, Joanna sudah kembali normal. Sangat normal sampai bisa membunuh siapapun jika dia mau. Bisa melakukan semuanya sendiri. Sudah tidak membutuhkan bantuan siapapun lagi dan yang pasti sudah tidak terus bermanja-manja pada William. Memang masih manja, tapi manjanya sudah kembali kepada lelaki yang sebenarnya, yaitu Louise Matthew.


Di samping ayunan bayi itu, Joanna masih sibuk merawat Reagan yang baru saja menyusu. Layaknya orangtua yang lain, Joanna juga mengalami apa yang disebut dengan begadang di setiap malam. William pun juga selalu begadang untuk menggantikan Joanna menjaga anak itu. Meskipun bukan anaknya, tapi William sudah terbiasa dengan sosok Joanna yang selalu bersamanya sebagai istri dan Reagan yang jadi anaknya.


Karena Joanna mulai sibuk mengganti popok, William pun memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di sofa. Menutup wajahnya dengan buku yang baru dia baca dan memejamkan matanya karena sedikit mengantuk. Tapi suara Joanna langsung membuyarkan perjalanannya ke alam mimpi.


"Will, terimakasih!" kata Joanna tiba-tiba.


William yang hampir tertidur kembali terjaga dan mengambil buku yang menutupi wajahnya.


Dia mendapati Joanna sudah duduk disebelahnya, melingkarkan tangan di tangan kanannya dan menyandarkan kepala di pundaknya.


William sedikit aneh. Memang selama hamil Joanna selalu menempel seperti ini. Tapi sekarang sudah satu bulan setelah Joanna melahirkan. Satu bulan juga Joanna sudah ogah-ogahan. Jangankan menempel, menyentuh saja tidak pernah. Entah kenapa Joanna tiba-tiba menempel manja padanya hari ini. Firasatnya mengatakan tidak baik. Mungkin saja dia menginginkan sesuatu semacam harta gono-gini mengingat mereka akan bercerai sebentar lagi kan?


"Terimakasih untuk apa?" tanya William setelah menyingkirkan prasangka buruknya. Pria itu akhirnya tidak hanya luluh, tapi juga mengelus kepala Joanna dengan tangannya.


"Karena kau menjagaku dan anakku disini. Aku ingat belum pernah berterimakasih padamu selama ini, Will!" jawab Joanna.


"Itu sudah kewajibanku, aku kan suamimu," jawab William singkat. Lalu kembali sibuk dengan bukunya.


"Suami?" tanya Joanna canggung.


"Eum, apa kau lupa? Aku sudah menjadi suamimu setahun ini," jelas William.


Secara alami, William merangkul Joanna dam mencium keningnya. Bukan hanya itu, dia juga menariknya ke pelukannya. Selama hamil, posisi seperti inilah yang membuat Joanna nyaman. Kemudian akan langsung tertidur ketika William mengusap perutnya yang besar.


Karena selalu melakukannya selama berbulan-bulan, William sampai lupa bahwa bayi itu telah lahir dan sedang mengawasinya dari ayunan. Tangannya sudah telanjur mengusap perut Joanna yang sudah kembali rata dan terkejut ketika menyadari tidak ada bayi yang menendang-nendang disana.


Plak!


"Anakku sudah lahir, Will!" kata Joanna dengan memegang pipi William.


"Oh Tuhan! Apa yang sedang kulakukan sekarang?" batin William.


Dua manusia itu main tatap-tatapan. Tapi karena kepalang tanggung, akhirnya William malah memeluk Joanna dan mencoba mencium pipinya.


"William, apa yang kau lakukan?" tolak Joanna. Tangannya sudah menolak tapi pada akhirnya satu kecupan berhasil mendarat di pipinya.


"Mencium calon kakak iparku!" jawab William kemudian melepaskan Joanna dari kungkungannya dan kabur sebelum Joanna melemparkan sendalnya.


"Bi Diaz?" tanya William.


Dia ingin keluar, tapi mendapati Diaz yang sudah berdiri di depan pintu.


"Jose, William. Dibawah ada tamu," kata Diaz.


Diaz yang sejak peristiwa Oskar tenggelam diminta Sir Alex untuk tinggal disini. Membantu Joanna merawat Reagan, terkadang juga merawat Oskar saat bocah itu berkunjung. Tidak hanya itu, dia juga memiliki identitas yang lain sekarang. Karena beberapa hari yang lalu, Diaz memutuskan untuk menikah untuk yang kedua kalinya dengan Okta. Jadi, beginilah hidup mereka sekarang. Mereka semua sudah saling berhubungan. Antara Kota Utara, Bangsawan Timur, dan tentunya Keluarga Matthew.


"Siapa?" tanya William.


"Dia?" batin William. William berpikir sejenak. Apa yang Daisy inginkan. Kenapa akhir-akhir ini terus bertemu dengannya secara sengaja ataupun tidak?


Meskipun enggan, tapi akhirnya William turun untuk menemuinya. Dia sangat penasaran, kenapa Daisy jauh-jauh datang bertamu?


"Ada apa?" tanya William tanpa basa-basi.


"Aku baru saja pindah. Kebetulan aku tinggal di depan paviliunmu sekarang. Jadi aku mampir," jawab Daisy senang.


"Oh," jawab William singkat.


Pindah atau tidak itu bukan urusannya dan dia sama sekali tidak peduli. Dia tidak terlalu kenal dengan Daisy. Juga tidak memiliki hubungan yang dekat. Hubungan mereka biasa-biasa saja. Hanya saja semenjak almarhum Anye dimakamkan, entah kenapa wanita ini jadi lebih sering mendekat. Apa hanya karena William memberikan sapu tangan miliknya saat Daisy menangis sesenggukan saat pemakaman Anye?


"Ngomong-ngomong dimana Reagan dan ibunya?" tanya Daisy.


"Mereka ada di kamar," jawab William singkat.


"Dia tidak marah kau menemuiku sendirian seperti ini?" tanya Daisy lagi.


"Kenapa harus marah?" tanya William. Pria itu mengangkat alisnya sebagai tanda tak mengerti.


"Apa dia tidak cemburu melihatmu menemui wanita lain?" tanya Daisy.


William diam sebentar. Ada apa dengan wanita ini. Apa tujuannya. Kenapa terus-terusan memancing obrolan tentang Joanna. Tunggu, kenapa juga Joanna harus cemburu hanya karena dia menemui Daisy.


"Istriku sangat pengertian dan dia percaya padaku. Dia tidak akan marah hanya karena aku menemui seorang tamu," jawab William sekenanya.


"Syukurlah kalau begitu," kata Daisy dengan senyum yang manis. Kelewat manis di wajahnya, tapi tidak dengan hatinya. Karena jauh di dalam hatinya dia marah. Apa dia hanya dianggap sebagai seorang tamu oleh William yang dia incar?


"Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?" tanya William.


"Ah, aku membawa sedikit camilan untukmu. Cobalah!" kata Daisy.


Daisy membuka bungkus camilan buatannya. Lalu tanpa meminta ijin sudah menyodorkan satu suapan kepada William. William menolaknya, mengatakan bahwa dia bisa mencicipinya sendiri. Tapi Daisy tetap memaksa. William sangat dongkol dibuatnya, tapi Daisy ini dikenal memiliki perangai yang lemah lembut dan gemulai dan menjadi kesayangan Tetua Utama.


Bagaimana ini, apa tidak ada cara untuk menolak dengan sopan. Lagipula apa-apaan ini, istrinya saja tidak pernah menyuapinya. Jadi kenapa dia harus menerima suapan dari wanita lain?


"Nona Daisy, apa kau sedang mencoba menggoda suamiku?"


Akhirnya penyelamat William datang juga. Siapa lagi kalau bukan Joanna.


"Kakak ipar, William adalah kakak sepupuku. Apa aku tidak boleh menyuapi kakak sepupuku sendiri?" tanya Daisy.


Joanna tersenyum tipis. Melihat Daisy dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Hanya sekali lihat, dia tahu Daisy menyukai William. "Marissa, sepertinya calon suamimu ini memiliki banyak penggemar," batin Joanna.


"Apa aku salah?" ulang Daisy.


"Kau tidak salah, hanya saja aku tidak suka suamiku diurus olehmu. Lagipula, meskipun aku punya bayi, aku masih sangat sempat untuk menyenangkan suamiku. Jadi jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi di masa depan!" kata Joanna.


...***...