
"Mommy?" panggil Oskar.
Jose tidak tahan lagi. Dia mengangkat anak itu dan memeluknya dengan erat. Sangat erat karena dia sangat merindukan Oskar. Tak terhitung berapa kali Jose menghujani Oskar dengan ciuman, tak terhitung berapa banyak syukur yang dia serukan dalam hatinya karena bisa kembali menyentuh dan memeluk Oskar.
"Xiao O, mommy rindu!" kata Jose.
"Mommy, Xiao O hanya mau mommy," rengek Oskar. Tangisan anak itu pecah memenuhi ruangan. Tidak lagi menahannya karena tahu mommy tidak akan akan pernah memukulnya saat dia menangis.
"Katakan ... siapa ibumu?" tanya Jose setelah melepas pelukannya dan memegang bahu anak itu dengan kuat.
"Mommy," jawab Oskar.
"Siapa, siapa nama mommy mu?" tanya Jose lagi dengan mata yang merah.
"Mommy Joanna," jawab Oskar berurai air mata.
"Ulangi sekali lagi, aku tuli dan aku tidak bisa mendengarnya. Apa kau tidak bisa berteriak?" tanya Jose.
"Ibuku hanya Mommy Joanna, yang berada di depan Xiao O sekarang!" teriak Oskar lantang kemudian menyeka air matanya dengan kedua tangannya.
"Bagaimana kalau mommy adalah seorang penjahat?" tanya Jose.
"Xiao O tetap ingin bersama mommy," jawab Oskar.
"Bagaimana kalau mommy membawa Xiao O dan tidak membiarkan Xiao O bertemu wanita itu?" tanya Jose.
"Xiao O akan tetap ikut mommy," jawab Oskar sekeras yang dia bisa.
Untungnya Edgar sudah menyusup dan melumpuhkan penjagaan diluar sebelumnya.
Entah Agria dan sesepuh itu yang terlalu bodoh, atau Edgar yang terlalu hebat seperti Louise. Mereka bisa-bisanya tidak menyadari banyaknya mata-mata yang sudah Edgar sisipkan diantara mereka dan siap menghancurkannya kapan saja. Mata-mata Edgar, bahkan beberapa diantaranya ada yang sangat spesial.
Dua diantaranya adalah sepasanga suami istri paruh baya yang mengikuti Agria sejak lama. Mengikuti Agria kemanapun dia pergi dan bersedia menjadi kacungnya hanya untuk mengawasinya. Wanita paruh baya itu adalah wanita menghalangi Agria memukul Oskar di mobil waktu itu, yang selalu memastikan keadaan Oskar stabil dan aman di bawah pengawasannya.
Wanita itu, adalah mantan dokter yang misterius. Dia dan suaminya mendatangi Edgar saat peristiwa nahas yang menyebabkan kematian ibu kandung Jose. Meminta Edgar untuk mengubah identitas mereka dan mengirimnya untuk mengikuti Agria sebagai mata-mata.
Jawaban Oskar sangat cukup untuk membuat Jose memutuskan sesuatu. Bahwa dia, tidak peduli apapun caranya akan membuat Oskar tetap jadi anaknya. Jose menghapus air mata Oskar, memegang kedua pipi anak itu erat-erat, "Xiao O, kau itu anakku ... dan hanya boleh jadi anakku. Apa kau mengerti?" kata Jose. Lalu menciumnya lagi dan mendekap Oskar kesayangannya kedalam pelukannya.
.
.
.
"Anak mommy sepertinya kehilangan berat badan. Apa Xiao O tidak punya selera makan?" tanya Jose.
"Itu karena mommy tidak merawat Xiao O," jawab Oskar dengan wajah cemberut.
"Apa Xiao O ingin makan?" tanya Jose.
Oskar menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sebenarnya dia sedikit lapar setelah melihat mommynya, tapi dia ingat Kakek Alex pernah bilang bahwa mommy tidak akan pernah memasak lagi saat Kakek Alex mengunjunginya untuk kali yang kedua. Oskar tidak ingin nakal dan membuat mommy marah lagi jadi memilih untuk berbohong, "Xiao O hanya ingin mommy."
Jose tersenyum, ragu dengan jawaban Oskar. Dan semakin yakin saat usus-usus di perut kecil itu tidak bisa menutupi kebohongan Oskar. Mereka berbunyi, membuat Jose tertawa karena geli dan membuat Oskar malu.
"Apa Xiao O sudah berani berbohong kepada mommy?" tanya Jose dengan mendekatkan kepalanya.
Takut mommynya marah, Oskar pun langsung memegang tangan Jose dan menjelaskannya, "Xiao O sedikit lapar. Tapi kakek bilang mommy tidak mau memasak lagi."
"Lain kali, kau hanya boleh mendengar dan menuruti apa kata mommy. Jangan mendengarkan kata-kata orang lain termasuk kakek tua yang menyebalkan itu. Apa kau mengerti?" tanya Jose.
Oskar mengangguk, sementara Jose bangkit untuk mengambil sesuatu dari dalam tas yang tadi dia letakkan di meja. Oskar membuka matanya lebar-lebar saat melihat mommy membawakan banyak makanan kesukaannya. Kemudian tersenyum dan memamerkan gigi-giginya seperti kebiasaannya.
"Sini, ayo cuci tanganmu dulu!" perintah Jose.
Oskar patuh, mencuci tangannya hingga bersih kemudian menikmati rasa masakan mommynya. Ini ... adalah makanan terenak yang Oskar makan. Terlebih saat dia makan dengan di temani dan disuapi mommy kesayangannya.
Setelah Oskar menyelesaikan makannya, Jose mengajak anak itu bercerita. Sangat banyak yang Joanna ceritakan, termasuk dirinya yang sudah ingat semuanya.
"Tapi mommy tetap mommyku kan?" tanya Oskar setelah Jose selesai dengan semua ceritanya.
"Panggil aku Bibi!" goda Jose.
"Mommy!" tolak Oskar manja.
"Aku ini bibimu," jelas Jose.
"Bukan, mommy itu mommynya Xiao O," tolak Oskar.
"Xiao O?"
"Pokoknya Xiao O ngga mau manggil Bibi!" tolaknya kemudian memeluk Jose.
"Apa mommy mau pergi. Mommy jangan pergi," pinta Oskar.
"Xiao O, mommy akan mencari cara untuk membawa Xiao O kembali secepatnya. Membawa Xiao O pergi dari tempat ini dan kembali kerumah. Tapi, mommy butuh sedikit waktu. Bisakah Xiao O menunggu mommy?" tanya Jose.
Oskar terdiam sebentar. Mencerna dengan baik kata-kata mommynya. Oskar baru akan membuka mulutnya, tapi terhenti karena kehadiran seorang pria yang sedang bersandar di dinding tepat di belakang Joanna.
Oskar tidak bisa melihatnya dengan jelas dan baru menjawab pertanyaan mommy ketika orang yang kini duduk manis di sudut ruangan itu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Oskar memenuhi permintaan Jose.
"Mommy, Xiao O akan menunggu mommy," jawab Oskar kemudian.
"Anak pintar," puji Jose.
Jose menggendong Oskar, mencoba membuatnya tidur dengan menyanyikan lagu pengantar tidur sembari menari pelan. Kemudian berencana untuk pergi saat Oskar terlelap nanti.
Oskar yang manis, anak itu telah menemukan kenyamanan miliknya yang beberapa hari ini sempat hilang. Dan tertidur tidak lama setelah Jose selesai dengan lagu ke empatnya. Jose segera meletakkan Oskar di pembaringan, lalu ikut membaringkan dirinya sendiri di ranjang. Entah kenapa, Jose merasa matanya sangat berat. Dia tahu harus segera pergi tapi masih enggan meninggalkan Oskar. Jose terus-terusan memandangi wajah Oskar, sesekali mencubit pipinya yang lucu. Sampai akhirnya ikut terlelap dengan memeluk Oskar karena kantuk yang tak tertahan.
"Mommy sepertinya sudah tidur," kata pria yang rupanya masih belum pergi.
Oskar membuka matanya, anak itu rupanya masih nakal karena berpura-pura tidur sebelumnya. Dan tersenyum lebar saat melihat bahwa pria itu adalah paman barunya.
"Bisa geser sedikit?" tanya pria itu lagi.
"Geser ... kemana?" tanya Oskar.
Pria itu tidak menjawab, tapi sudah mengangkat Jose dan membawanya ke tepian ranjang. Lalu mengangkat Oskar, meletakkannya ke pelukan Jose kemudian ikut berbaring di ranjang yang sempit. Lalu memeluk Oskar dan Jose dengan tangannya yang panjang.
"Bukankah begini lebih nyaman?" tanya pria itu lagi.
"Xiao O suka," jawab Oskar. Ini kali keduanya dia tidur ditengah-tengah seperti ini.
Pertama kalinya adalah saat Louise membawa mereka liburan ke pulau pribadinya waktu itu.
Pria itu melihat Jose yang tertidur lelap, tersenyum tanpa arti, "Lihatlah, bukankah bibimu sangat cantik?" tanya pria itu dengan menyentuh wajah Jose.
"Paman, dia bukan bibiku. Dia itu mommyku," protes Oskar.
"Tapi ibumu kan wanita jahat itu."
"Tapi Xiao O tidak mau. Xiao hanya mau Mommy Joanna," rajuk Oskar.
"Baiklah, paman tahu!" kata pria itu sambil menyentuh rambut Jose.
"Paman, jangan menyentuh mommy!" larang Oskar.
"Kenapa?"
"Nanti mommy bangun dan pergi," jawab Oskar.
"Jangan khawatir, paman dan mommy tidak akan pergi sebelum pagi," lanjut pria itu.
"Sungguh?" tanya Oskar senang.
"Sungguh, karena paman sudah memasukkan obat tidur di minuman mommy saat kalian pergi menggosok gigi tadi," jawab pria itu.
"Bisakah Xiao O tidur seperti ini selamanya bersama paman?" tanya Oskar.
"Bertiga?"
"Eum. Mommy, paman dan aku," jawab Oskar.
"Tidak mau," jawab pria itu dengan cepat.
"Kenapa, bukannya paman bilang mommy cantik?" protes Oskar.
"Cepatlah tidur, anak-anak tidak boleh begadang!" kata pria itu mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Oskar.
"Kau akan tahu saat dewasa," katanya lagi.
"Bagaimana kalau aku tidak hidup sampai dewasa?" tanya Oskar.
"Omong kosong. Kau itu akan tetap hidup. Kalau kau mati siapa yang akan menjaga adik-adikmu nanti?"
"Apa mommy hamil?" tanya Oskar.
"Makanya cepatlah tidur. Kalau kau tidak tidur juga kapan mommy bisa hamil. Dengar, paman tidak mau tidur hanya bertiga, tapi bersepuluh."
...***...