
"Sayang, kenapa kau menangis terus hm. Apa kau marah karena mommy meninggalkanmu kemarin. Cup cup cup. Sudah ya, mommy janji tidak akan pergi-pergi lagi mulai hari ini," janji Joanna dengan menyentil hidung Reagan yang mancung.
Reagan sempat berhenti menangis. Melihat wajah ibunya beberapa saat sebelum kembali menyebik dan menangis lebih keras. Tidak hanya itu saja, karena tangannya yang mungil menyentuh hidungnya sendiri seolah tidak suka karena Joanna telah menyentuhnya.
"Ah, kenapa kau sangat mirip dengan kakak Xiao O. Dulu kakakmu juga sangat marah saat mommy mencium atau menyentuhnya. Reagan, apa sentilan tadi sakit? Maafkan mommy, sayang. Mommy tidak akan melakukannya lagi kalau kau tidak menyukainya," kata Joanna.
Tapi permintaan maaf itu sepertinya belum membuat Reagan puas karena dia masih belum menurunkan volume tangisannya. Bahkan meskipun Joanna mencoba memberikan minuman bergizi untuknya, dia menolak dan enggan meminumnya.
"Mommy tahu sekarang. Kau pasti merindukan daddy kan. Tapi daddy tidak akan menemui kita lagi. Jadi jangan cengeng."
Joanna menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian bangkit dan sibuk menenangkan Reagan yang terus menangis sampai-sampai melupakan Oskar yang saat ini sedang sarapan bersama William. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia bahkan sudah menggendong Reagan dengan cara tiger position seperti yang selalu dilakukan Louise. Tapi kenapa pagi ini berbeda, kenapa Reagan masih menangis juga. Apa karena tangannya terlalu lembut seperti tanpa otot?
"Berikan dia padaku!" kata William setelah dia masuk dan menutup pintu. Sepertinya dia mempercepat sarapannya karena mendengar Reagan yang rewel pagi ini.
"Apa yang kau lakukan. Sekarang sudah jam berapa. Apa kau lupa tugas yang kuberikan untukmu pagi ini?" tanya Joanna saat melihat William merampok Reagan tepat di depan matanya.
"Masih ada waktu tiga puluh menit. Aku bisa mengantar tuyul itu dalam waktu lima menit. Jadi takut apa. Lagipula anak seorang Presdir terlambat datang ke sekolah juga bukan masalah besar," jawab William.
Pria itu tidak terlalu menghiraukan omelan Joanna. Bahkan bayi yang dia rampok sudah tengkurap manja di tangannya dan membawanya pergi ke balkon kamar untuk menghirup udara pagi yang segar.
"William, aku memintamu mengantar Oskar ke sekolah bukannya ke akhirat. Jadi berikan Reagan padaku dan segera antar anak itu ke sekolah. Apanya yang sampai dalam waktu lima menit. Apa kau lupa satu tugasmu yang lain untuk menjemput Ebra?" kata Joanna mengingatkan.
William tak bergeming. Dia malah duduk santai di kursi yang ada di balkon dan memamerkan keahlian terpendamnya. "Aku tahu. Aku akan mengantar mereka dengan hati-hati nanti. Setidaknya biarkan bayi tuyul ini benar-benar pergi ke alam mimpi," kata William dengan menunjuk Reagan yang mulai mengeluarkan liurnya di lengan William.
"Ah, sejak kapan dia tidur?" tanya Joanna saat memperhatikan Reagan yang mulai terlelap.
Ah, apa nasib Joanna selalu begini. Selalu tidak dipilih oleh anak-anaknya sendiri?
"Jo, apa dia benar-benar anakmu. Kenapa dia selalu menangis saat bersamamu?" tanya William mulai meragukan hubungan ibu dan anak antara Joanna dan Reagan.
"Apa yang kau bicarakan, tentu saja dia anakku. Bukankah kau sendiri yang melihatnya keluar dariku malam itu?" jawab Joanna.
"Jo, jaga bicaramu. Louise akan marah besar jika mendengar omong kosongmu itu. Aku tidak benar-benar melihatnya. Apa kau pikir aku punya mata tembus pandang sehingga bisa melihat anak ini keluar dari balik kain yang membungkusmu?" tanya William.
"Bukan itu maksudku. Maksudku adalah, bukankah kau melihat saat dokter mengambil anak ini dari sela kaki-kakiku?" jelas Joanna.
"Oh, kalau itu aku memang melihatnya sih," jawab William kemudian melihat Reagan yang tidur dengan manis. Kelakuan bayi ini sudah sangat berbanding terbalik seperti saat dia lahir yang hampir membuatnya mati.
"Ya sudahlah. Aku akan menemui Oskar sekarang. Oh iya, setelah kau selesai mengantar anak-anak sekolah ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu. Jadi jangan berpikir untuk mampir kemana-mana," kata Joanna memperingatkan sebelum berlalu pergi.
"Dasar siluman. Bisakah sedikit lebih manis saat meminta tolong?" batin William.
"Kau setuju kan, Reagan. Ibumu seperti siluman dan ayahmu seperti malaikat pencabut nyawa kan? Tapi kenapa kau seperti tuyul? Apa kau terlalu banyak minum air kawah saat lahir sampai memperbaharui gen yang mengalir di tubuhmu?" tanya William dengan menggigit kaki Reagan saking gemasnya.
.
.
.
"Mommy, kenapa mommy semakin jahat dari hari ke hari. Kemarin mommy pergi kemana saja. Apa adik Reagan tidak cukup imut untuk membuat mommy tinggal dirumah?" tanya Oskar saat Joanna membantu Oskar memakai jas almamaternya.
"Mommy ada urusan kemarin," jawab Joanna.
"Tapi adik Reagan masih kecil, Mommy! Bagaimana kalau dia merangak dan tenggelam sepertiku?" kata Oskar mulai memarahi ibunya.
"Apa yang kau bicarakan, Xiao O? Adikmu itu belum merangkak," jawab Joanna dan mencubit hidung Oskar.
"Bagaimana kalau ada orang jahat yang menculiknya saat mommy tidak ada?" tanya Oskar lagi.
Joanna hanya geleng-geleng kepala. Apa anak berusia enam tahun sudah memiliki pemikiran sejauh ini. Memikirkan penjahat yang mungkin menculik adiknya jika mommy tidak ada di rumah. Itu pasti hanya sebuah alasan agar ibunya tinggal dirumah untuk menemani Reagan.
"Kalau begitu kau yang harus menjaga adikmu," jawab Joanna.
Joanna ingin sekali mencubit bibir yang manyun itu karena telah berbohong. "Benarkah tugasmu hanya itu? Lalu siapa yang marah-marah saat seseorang menyuruhmu belajar karena lebih memilih menjaga adik bayi?" tanya Joanna.
"Mommy, yang Xiao O lakukan itu bukan menjaga adik bayi tapi bermain dengan adik bayi. Kalau Xiao O menjaga adik bayi lalu apa yang dilakukan daddy. Tugas menjaga anak itu urusan daddy dan mommy. Apa mommy sengaja menyuruh Xiao O menjaga adik bayi agar mommy bisa membuat adik bayi yang baru bersama daddy?" kata Oskar.
"Hei, apa yang kau bicarakan. Siapa yang mengajarimu berbicara sembarangan seperti itu?" tanya Joanna.
"Daddy selalu bilang begitu kok. Daddy selalu bilang 'Xiao O tolong jaga adikmu'. Lalu saat Xiao O bertanya memangnya daddy mau kemana daddy akan menjawab 'Membuat adik bayi yang baru'," jawab Oskar.
"Begitu?" tanya Joanna.
"Eum," jawab Oskar.
"Tapi itu dulu. Sekarang tidak akan seperti itu lagi," batin Joanna.
"Mommy, apa mommy bertengkar dengan daddy?" tanya Oskar saat melihat perubahan ekspresi pada ibunya.
"Kapan mommy bertengkar dengan daddy. Mommy kan tidak pernah bertemu dengan daddy," jawab Joanna asal.
"Mommy, jangan bohong. Apa mommy pikir Xiao O tidak tahu?" tanya Oskar.
"Xiao O, bolehkah mommy bertanya sesuatu?" tanya Joanna.
"Apa?"
"Apa Xiao O sangat menyukai daddy?" tanya Joanna.
"Tentu saja Xiao O suka," jawab Oskar dengan mencium pipi Joanna.
"Mana yang lebih Xiao O suka. Daddy atau mommy?" tanya Joanna.
"Kenapa mommy bertanya seperti itu. Apa mommy dan daddy akan bercerai?" tanya Oskar.
"Mommy dan daddy kan belum menikah. Mana bisa bercerai?" kata Joanna.
"Lalu kenapa mommy bertanya seperti itu?" tanya Oskar.
"Itu karena,-"
"Apa mommy akan jadi istri Papi Will selamanya?" tanya Oskar.
"Tidak. Bukan, seperti itu!" jawab Joanna.
"Lalu?" tanya Oskar lagi.
Joanna belum sempat menjawab pertanyaan Oskar. Tapi William sudah mulai menuruni anak tangga sehingga membuat Joanna menunda pembicaraannya. "Mommy akan menjawabnya nanti ya?" kata Joanna.
"Janji?" tanya Oskar.
"Janji," jawab Joanna kemudian mencium Oskar.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya William.
"Tidak ada," jawab Joanna.
"Papi, mommy bilang tidak punya uang saat Xiao O minta uang jajan," jawab Oskar sembari berlari dan memeluk kaki William.
"Apa?" tanya William.
...***...