
Malam semakin larut. Agria sudah tinggal di kamar itu selama satu jam lamanya untuk menemani Joanna. Saat ini Agria tidak bisa melepaskan senyum manisnya saat melihat Oskar yang terlelap. Tangannya sudah tidak bisa lagi menahan untuk membelai wajah menggemaskan itu. Dengan sangat pelan, sangat lembut akhirnya dia memberanikan diri untuk menyentuhnya.
"Louise selalu bilang bulu matanya sangat lebat dan panjang seperti sikat. Tapi kulihat bulu matamu tidak seperti itu. Mungkinkah bulu mata itu turunan dari ayahnya, Kakak?" goda Joanna.
"Mana aku tahu. Kami melakukannya di ruangan yang gelap. Aku bahkan tidak tahu dengan jelas bagaimana wajahnya waktu itu," jawab Agria mulai kesal. Terlihat jelas dari wajahnya yang melirik sebentar kearah Joanna.
Joanna tertawa, pun dengan Agria. Tidak ingin kalah dengan adiknya yang baru saja menggodanya, Agria pun mulai mengomentari Reagan yang sedang menyusu di pangkuan Joanna.
"Jose kecil yang nakal, siapa ayah dari bayimu ini. Apakah dia benar-benar Louise. Kalau iya, kenapa dia sangat mirip dengan William?" tanya Agria.
Joanna langsung loyo mendengar kata-kata itu. Sampai-sampai air susunya langsung berasa mampet. Sumpah, dia hanya melakukannya dengan Louise. Hanya saja dia suka memeluk William selama hamil.
"Kakak, mungkinkah aku salah melahirkan bayi? Mungkinkah anak ini sebenarnya calon anak Marissa dan William dimasa depan?" jawab Joanna asal.
Agria tertawa lagi, kemudian memukul kepala Joanna dengan ringan. Jelas-jelas anak itu keluar dari dirinya. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa anak itu anak Marissa dari masa depan?
"Bukankah kau melihat dengan matamu sendiri anak ini keluar dari dirimu?" tanya Agria.
"Aku melihatnya. Aku juga merasakannya. Kakak, kalau aku tahu rasanya melahirkan sesakit itu, aku akan meminta kompensasi lebih banyak lagi dari Louise," canda Joanna.
"Bukankah kau akan menikah dengannya setelah bercerai dengan William. Semua uangnya akan jadi milikmu saat itu. Kompensasi apalagi yang ingin kau minta. Berapa banyak uang yang sudah dia keluarkan untukmu. Lagipula jangan bertindak memalukan seperti pengemis begitu. Keluarga kita memang tidak sekaya mereka tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat anak-anak ini hidup lebih dari kata layak," protes Agria.
"Jangan marah, Kakak. Aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong apa kakak tidak ingin menciumnya?" tanya Joanna dengan melirik Oskar.
"Apa tidak apa-apa?" ijin Agria.
"Tidak. Dia kan tidur. Dia tidak akan marah asal tidak terbangun," kata Joanna.
Sebenarnya Agria sangat ingin menciumnya sejak tadi tapi tidak berani. Tapi, karena Joanna sudah mengatakan tidak apa-apa, diapun memberanikan diri sekali lagi untuk menyentuh pipi bakpao itu dan mencium seluruh wajahnya dengan pelan. Dia juga berkali-kali mencium tangannya dan memegangi jari-jarinya yang panjang.
"Jose, kau mungkin benar. Kurasa dia mirip dengan ayahnya," ucap Agria setelah puas mencium Oskar.
Joanna hanya tersenyum, sementara Agria masih memegangi jari-jari yang lentik itu. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama, karena Agria mulai panik melihat Oskar mulai menggeliat. Miring ke hadapannya dan mulai membuka matanya. Untungnya Joanna segera menarik tangan Agria, memintanya menepuk dadanya dengan lembut dan membelai kepalanya.
"Biasanya dia akan kembali tidur jika di tepuk seperti ini," kata Joanna pelan.
"Seperti ini?" tanya Agria tak kalah pelan.
Joanna hanya mengangguk saja kemudian Agria terus melakukan apa yang Joanna katakan. Benar saja, anak itu kembali menutup matanya. Bukan hanya itu dia bahkan mulai mencari tangan Agria yang menepuk dadanya untuk dia peluk, mengira pemilik tangan itu adalah Mommy Joannanya.
"Kakak, bersabarlah sebentar lagi. Dia pasti akan segera memanggilmu mama," kata Joanna senang.
"Jose, aku tidak berani berharap setinggi itu. Melihat dia kembali sehat dan tumbuh dengan baik seperti ini sudah membuatku senang," ucap Agria.
Joanna diam saja, kemudian melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan William belum juga pulang. Panggilan darinya pun juga di abaikan.
"Apa dia tidak akan pulang malam ini?" batin Joanna.
Joanna akhirnya menyudahi aktivitasnya. Memindahkan Reagan yang sudah tertidur pulas ke ranjang kecil yang ada di sebelahnya.
"Kaka, ini sudah larut. Tidurlah!" pinta Joanna.
"Kalau aku tidur disini bagaimana dengan William?" tanya Agria.
"Kakak, bukankah kita sudah sepakat tadi. Kau akan bermalam disini. Lagipula William bisa tidur di manapun. Dia kan seorang pria," jawab Joanna.
"Apa maksudmu, Kakak?"
"Sebelum melahirkan kau tidak pernah melepaskannya sedikitpun. Lalu setelah melahirkan kau membuangnya begitu saja. Tidakkah kau terlalu keterlaluan?" jelas Agria.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Joanna.
"Perhatikan dia sedikit. Bersikap baiklah padanya sedikit. Apa kau tidak ingin sedikit membalas budi baiknya karena menjagamu selama ini?" tanya Agria.
Kini Agria bangkit. Kemudian menyelimuti Oskar. Sepertinya dia sudah siap untuk pergi. Bukan sepenuhnya pergi tapi pindah ke rumah yang telah disediakan untuknya di sisi yang lain.
"Kakak, aku tahu itu. Tapi kalau aku terlalu perhatian padanya aku takut dia jatuh cinta padaku. Bukankah akan semakin rumit jika sampai hal seperti itu terjadi?" tanya Joanna.
"Jose, apa sih yang kau pikirkan. Dia itu pria yang berpikiran lurus. Dia tidak akan merebutmu dari Louise. Kakak tidak memintamu terlalu perhatian. Hanya saja jangan keterlaluan sampai membiarkannya tidur dimana saja," omel Agria.
"Baiklah-baiklah aku tahu," jawab Joanna.
"Jangan cemas, aku akan menemuimu kembali besok pagi," pesan Agria.
"Aku menunggumu," kata Joanna.
Dua wanita itu tidak berbicara lagi setelah itu. Karena Agria menyempatkan diri untuk pergi ke kamar mandi merapikan dirinya. Mereka hanya tidak tahu saja, bahwa diluar sana sudah berdiri seorang William yang ragu untuk masuk.
Setidaknya, dia sudah berdiri disana selama sepuluh menit. Memegang handle pintu dan mendengarkan percakapan mereka. Karena tak terdengar suara apapun lagi, dia memutuskan untuk turun. Memainkan ponselnya secara acak dan memikirkan apa yang Joanna katakan barusan.
"Joanna, ternyata kau pun takut aku mencintaimu. Jujur saja aku juga sangat takut. Tapi masalahnya itu sudah terjadi. Tapi jangan khawatir, karena apa yang dikatakan Agria itu benar. Aku tidak akan merebutmu dari Louise, kakakku sendiri."
.
.
.
"William, kau sudah pulang?" tanya Agria saat melihat William duduk sendirian di bawah. Wanita itu segera menuruni sisa-sisa anak tangga, lalu bergegas menghampiri William sebentar sekaligus berpamitan.
"Eum," jawab William sembari menoleh.
"Kenapa kau tidak segera keatas. Apa karena ada aku di dalam?" tanya Agria.
"Tidak, aku baru saja selesai berbincang-bincang dengan Okta," jawab William.
Bohong?
Tidak, William tidak sepenuhnya bohong karena sebelum naik tadi dia memang berbincang-bincang sebentar dengan Okta.
"Bukannya kau ingin bermalam disini?" tanya William basa basi.
"Aku akan tidur di rumah yang biasa digunakan ayah menginap. Seseorang sudah menyiapkan kamar untukku disana. Aku akan kembali besok," jawab Agria.
"Apa aku perlu mengantarmu?" tawar William.
"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Sebaiknya kau segera keatas dan beristirahat," tolak Agria lalu tersenyum dan pergi begitu saja.
...*** ...