
Beberapa minggu telah berlalu setelah acara barbeque an malam itu. Setelah melewati serangkaian proses yang panjang akhirnya hari yang mendebarkan itu datang juga. Besok, William dan Oskar akan menjalani transplantasi sumsum tulang demi kesembuhan Oskar.
"Will, setelah transplantasi nanti kau pasti akan susah bergerak. Kau akan membutuhkan bantuan bahkan untuk melakukan hal kecil seperti buang air kecil atau mengambil air. Bagaimana menurutmu?" goda Arthur.
"Arthur kau harus sering-sering kemari untuk merawat ku nanti," pinta William.
"Will, aku tidak sangat nganggur seperti itu. Tapi aku akan mengusahakannya. Tapi kau tidak mungkin menungguku hanya untuk kencing atau menyeka tubuhmu kan?" tanya Arthur.
"Bukankah ada mama dan suster, jadi takut apa?" jawab William.
Semuanya tertawa, sepertinya mereka senang telah menggoda William sampai menekuk wajahnya seperti sekarang.
"Joanna, maaf merepotkanmu. Sepertinya tidak lama lagi akan ada dua bayi yang harus kau jaga," kata Louise membuka suara.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga dua bayiku dengan baik," kata Joanna.
"Tapi tenang saja. Ada mamaku juga, kau tidak harus merawatnya selama dua puluh empat jam penuh," kata Louise lagi.
"Aku tahu," sahut Joanna.
Louise dan Joanna tersenyum, tapi tidak dengan William. Salah satu bayi yang harus Joanna jaga sudah tentu adalah Oskar dan satu yang lainnya adalah William yang sekarang sudah mengenakan seragam pasien.
"Apa kalian belum puas menggodaku. Siapa bayi yang kalian maksud barusan?" protes William dengan melirik tangan Louise yang terus berada di pinggang Joanna.
"Tentu saja kau bayinya. Siapa lagi?" jawab Arthur. Tapi jawabannya tidak dihiraukan oleh William karena sibuk dengan pikirannya yang sudah membayangkan bagaimana merepotkannya nanti saat tidak bisa bergerak bebas.
Selain itu masih harus melihat Louise dan Joanna yang terus menempel seperti perangko. Sudah cukup, mata William sudah sakit setiap saat melihat pemandangan seperti itu beberapa minggu ini. Dunia ini milik semuanya, bukan hanya milik mereka berdua. Kenapa mereka tidak memiliki sedikit empati untuk tidak memamerkannya di depan seorang calon pasien sih?
Tanpa selalu mesra seperti itu pun William juga tahu Joanna milik Louise. Jadi apa perlu sampai seperti ini setiap saat?
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku merepotkan calon istrinya Louise," sindir William.
"William, jangan takut! Aku akan merawat mu dengan sangat baik," kata Joanna dengan senyum lebar.
"Sudah ku bilang tidak perlu. Aku bisa melakukan semuanya sendiri!" kukuh William.
"Will, kau mengatakan ini karena masih bisa melakukan semuanya sendiri. Kalau berani coba katakan setelah kau menjalani transplantasi nanti," tegur Louise
Tidak akan merepotkan katanya, mana mungkin. Louise sangat ingat William sangat membutuhkan bantuan saat sakit. Louise sudah berpengalaman soal kebiasaan William karena sekali lagi ini bukan pertama kalinya William harus berurusan dengan hal semacam ini.
"Baiklah, terserah kalian saja. Aku akan patuh, aku kan pasien," kata William mengalah.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Alexa sudah menungguku di kamar Oskar," pamit Arthur.
"Aku akan mengantarmu," pinta Joanna.
"Sampai jumpa besok!" kata William.
Arthur pun segera keluar bersama Joanna. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat Oskar dan memberikan semangat untuknya.
Sementara Louise masih belum beranjak pergi. Dia ingin berlama-lama menemani William.
"Apa yang kau lakukan disini. Apa masih belum puas menggodaku. Pergi sana!" usir William.
"Aku takut kau kesepian, Will!" kata Louise kemudian duduk di sebelah William.
"Ada apa denganmu. Kau tidak mungkin akan menangis karena mengkhawatirkan aku kan?" tanya William.
"Omong kosong. Sudah ku bilang aku tidak peduli. Siapa juga yang mengkhawatirkanmu," jawab Louise.
"Kalau begitu kenapa masih disini. Merusak pemandangan saja," keluh William.
"Pukul saja, kau pikir aku takut?" tantang William.
"Aku memang akan memukulmu. Tapi nanti setelah kau pulih," kata Louise.
"Terserah kau saja," kata William.
Louise tersenyum, dia tahu William tidak pernah menang berdebat dengannya. Dan sangat senang melihat William yang selalu uring-uringan setelahnya.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Beristirahatlah!" pamit Louise.
"Pelankan laju mobilmu. Jangan sampai mati sebelum aku melakukan transplantasi besok!" pesan William saat Louise bangkit.
"Bisakah mengatakannya lebih jelas?" tanya Louise.
"Bukankah aku sudah mengatakan dengan sangat jelas?" jawab William acuh.
"Aku mengerti!" kata Louise. Dia menyempatkan mengacak-acak rambut William sebelum benar-benar pergi.
Louise tersenyum menahan tawanya di balik pintu, yang dimaksud William dengan jangan mati sebelum dia melakukan transplantasi adalah kau harus menemaniku dan melihatku sebelum aku masuk ruangan yang mengerikan itu besok.
Berbeda dengan Louise yang menahan tawanya, William malah tersenyum lebar seperti anak kecil. Tangannya bahkan sempat menyentuh rambutnya yang diacak-acak Louise barusan. Sentuhan itu masih sama seperti dulu. Masih sangat hangat dan memberikan rasa aman untuknya. Meskipun begitu, mulutnya masih enggan mengakui. Karena William masih saja mengatakan, "Aku bukan anak kecil!"
Beberapa menit berlalu setelah kepergian Louise. William masih duduk di ranjangnya dan memainkan gadgetnya. Tepat saat itu seorang pria berpakaian mirip dokter masuk.
"Apa masih harus diperiksa lagi?" batin William. Seingatnya Dokter yang tadi memeriksanya bukan orang ini dan dia juga sudah mengatakan akan datang lagi besok. Jadi siapa pria ini?
"Kau bukan seorang dokter kan?" tanya William tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Salam untukmu, Tuanku!" kata pria itu.
William tidak menyahut apapun. Siapa pria ini, kenapa memanggilnya dengan sebutan itu dan bersikap hormat seperti ini.
"Tuanku, setelah sekian lama mencari, akhirnya kami menemukan Anda, Tuan!" lanjut pria itu.
"Kau siapa?" tanya William.
"Tuan, saya adalah orang kepercayaan almarhum orang tua Tuan. Tuan bisa memanggilku Okta," jawab Okta.
"Orang tuaku?" tanya William.
"Benar, Tuan!" jawab Okta.
William tersenyum sinis. Siapa yang percaya dengan omongan Okta. Bisa saja dia menipu William dan memanfaatkannya kan. Lebih dari dua puluh tahun William hilang dan akhirnya ditemukan oleh keluarga Matthew, mengangkatnya sebagai anak dan memperlakukannya seperti anak kandung. Lalu tiba-tiba orang ini muncul sekarang. Kenapa mereka baru mencarinya sekarang. Bukankah ini terlalu frontal?
"Apa kau menyumpahi orangtuaku agar cepat mati. Orangtuaku masih hidup dan mereka sangat sehat. Apa kau tak takut aku membunuhmu jika berbicara sembarangan seperti ini?" tanya William.
"Tuan, maksud saya adalah orangtua kandung Anda," lanjut Okta.
"Mereka sudah lama mati kan. Kenapa kau baru mencariku sekarang. Apa tujuanmu?" tanya William.
"Tuanku, apa Anda sudah mengetahui identitas Anda yang sebenarnya?" tanya Okta.
"Tentu saja aku tahu," jawab William.
"Lalu kenapa Anda tidak kembali. Kami, pengikut setia orangtua Tuan selalu mencari Tuan sejak lama. Tapi tidak menemukan apapun. Baru setelah kabar Kota Utara menyebar kami baru bisa sedikit menemukan titik terang keberadaan Tuan," jelas Okta.
"Kembali untuk apa, aku sudah memiliki keluarga baru yang sangat menyayangiku sejak kecil disini. Kenapa aku harus meninggalkannya demi keluarga yang mengabaikanku?" tanya William.
...***...