CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Hamil Lagi?



"Aku tidak berharap seperti itu. Tapi dia benar-benar masuk ke kamarku dan melakukannya. Kau bisa memeriksa tubuhku sebagai buktinya kalau tidak percaya," jawab Daisy.


"Memangnya apa yang ada di tubuhmu. Bekas gigitan atau tanda merah peninggalan? Apa bekas seperti itu bisa digunakan sebagai bukti bahwa suamiku yang melakukannya. Bagaimana kalau kau mabuk dan salah lihat karena obsesimu yang kelewat besar terhadap suamiku. Bagaimana kalau pria lain yang melakukannya. Apa kau melihat suamiku naik di atasmu?" cecar Joanna.


Sakit hati, cemburu, marah dan kecewa membuat Daisy tidak bisa berpikir jernih. Jadi dengan lantang menjawab pertanyaan jebakan yang Joanna lontarkan untuknya. "Aku memang tidak melihat William naik di atasku tapi aku jelas-jelas melihatnya saat dia berada di bawahku. Aku sendiri yang membuka kemejanya. Menurutmu apa yang terjadi setelah itu, Joanna?" jawab Daisy.


Jawaban itu membuat seisi ruangan saling bertanya-tanya.


"Daisy, kenapa kau sangat bodoh!" umpat Peter dalam hati.


"Celaka, aku keceplosan. Wanita sialan itu, apa dia sengaja menjebakku dengan pertanyaan seperti itu?" batin Daisy.


"Nona Daisy, kalau memang seperti itu ceritanya orang akan mengira kaulah yang sebenarnya meniduri suamiku. Bukan suamiku yang menidurimu. Jadi bagaimana yang benar. Apa kau bisa menjelaskannya pada kami?" tanya Joanna.


"Aku,-"


"Daisy, cukup!" akhirnya Peter maju. Menggantikan adiknya yang sedang kacau agar rencana mereka berjalan lancar.


"Nona Joanna, mental adikku sedang terpukul setelah kejadian semalam. Dia hanya sedang kacau sekarang jadi mengatakan hal yang tidak masuk akal," kata Peter.


"Lalu, sebaiknya kau saja yang bicara menggantikan adikmu!" titah Joanna.


"Aku melihatnya, aku melihat suamimu benar-benar masuk ke kamarku!" teriak Daisy lagi.


"Daisy, aku bilang cukup dan tenangkan dirimu!" bentak Peter.


Suasana menjadi tegang dan mulai memanas. William yang sejak tadi diam akhirnya mulai bersuara lagi. "Tetua, bolehkah aku menjelaskannya. Aku belum selesai bicara tadi," ijin William.


"Silahkan!" jawab Tetua mempersilahkan.


"Jujur saja aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingin pulang tapi sepertinya sudah terlanjur tumbang. Sehingga aku harus dibantu keempat pengawal untuk keluar dari Kediaman Amber. Untung saja Paman Okta sudah menungguku di luar. Tidak hanya itu, istriku juga menyusul. Karena aku sudah tidak sadar jadi dia langsung membawaku pulang. Meskipun kami sempat kecelakaan, tapi akhirnya kami kembali dengan selamat. Begitulah ceritanya," lanjut William.


"Benarkah seperti itu William?" tanya Tetua.


"Seharusnya seperti itu," jawab William.


"William, mungkin apa yang kau katakan memang benar. Tapi bagaimana kalau sebelum kau keluar dari rumah kami kau sudah masuk dan menodai Daisy kami sebelumnya?" tanya Tuan Amber.


"Tapi aku tidak merasa melakukannya," jawab William.


"Itu karena kau mabuk, William. Aku sebagai ibunya tidak terima kau melakukan ini pada Daisy ku yang terjaga. Aku ingin kau bertanggungjawab dan menikahinya!" pinta Nyonya Amber.


"Nyonya Amber, aku sudah mengatakan aku tidak melakukan apapun. Jangan sembarangan menuduh hanya untuk membuatku menikahi putrimu," tolak William.


"Tapi kau sudah melakukannya, William. Kau benar-benar sudah melakukannya semalam," teriak Daisy histeris.


"Apa kau punya buktinya. Apa kau tahu kejahatan tingkat apa yang kalian lakukan sekarang karena menuduh seseorang tanpa bukti. Apa kalian tahu apa konsekuensinya?" tanya William.


"Kami punya buktinya. Kami punya rekamannya," jawab Nyonya Amber.


"Maka tunjukkan biar aku melihatnya," titah William.


Tuan Amber segera menyerahkan buktinya kepada Tetua Utama. Memohon agar hanya Tetua saja yang melihatnya karena ada Daisy di dalamnya. Tapi kalau William masih mengelak, mereka tidak punya pilihan lain selain memutarnya di hadapan semua orang.


"Memangnya apa buktinya. Joanna, apa kau tahu sesuatu?" bisik William.


"Jangan tanya aku. Aku kan hanya menjemputmu di luar," kilah Joanna sok polos.


Seorang pelayan menerima rekaman itu. Lalu memasangnya sedemikian rupa sehingga Tetua Utama bisa melihatnya. William dan Okta menunggu dengan sedikit was-was. Keempat Keluarga Amber menunggu dengan senyum lebar dan Joanna siap memberikan selamat atas serangan mental yang akan di dapatkan oleh keempat manusia serakah itu.


Wajah Tetua Utama dan Tetua lainnya merah padam karena marah. Tetua Utama bahkan melemparkan benda pipih itu ke hadapan Daisy. "Kelima pria inikah yang kau sebut dengan William?"


"A-apa, lima?"


Nyaris semua orang berucap sama. Suasana semakin tak terkendali. Kasak kusuk mulai terdengar dari sana sini. Daisy segera melihatnya, melihat sebuah rekaman yang sudah dicuri oleh kelima pria berpenyakit itu dan menyerahkan pada Joanna. Tapi Joanna meminta mereka segera mengembalikannya setelah berhasil mendapatkan salinannya sebagai cadangan.


"B-bagaimana mungkin. Tidak mungkin, ini pasti tidak benar. Aku melihat dengan mataku sendiri William masuk ke kamarku. Ini pasti salah. Ini pasti salah!" teriak Daisy histeris dan melemparnya begitu saja.


Sementara itu Tuan dan Nyonya Amber serta Peter tidak bisa berkata-kata lagi. Sama seperti Daisy, mereka pun tidak menyangka akan berbalik seperti ini. Bagaimana bisa seperti ini, seharusnya bukan begini. Peter sendiri jelas-jelas menyuruh orang-orangnya membawa William masuk. Jadi kapan kesalahan itu dimulai. Tidak pasti ada seseorang yang mengeluarkannya. Tapi siapa dan kapan?


Disaat Peter masih sibuk dengan dunianya. Orangtuanya sudah sibuk menenangkan Daisy yang menggila. Wanita itu mulai tertawa, mulai berbicara ngelantur dan berteriak kesetanan seperti orang gila.


"William, apa yang akan kau lakukan pada mereka setelah mereka mencoba memfitnah dan merusak nama baikmu?" tanya Tetua Utama.


"Biarkan saja mereka pergi. Tetua, kami permisi," pamit William.


William segera bangkit. Tidak ingin berlama-lama di tempat seperti ini lagi karena sangat banyak yang ingin dia tanyakan pada Joanna sekarang.


"Jadi kenapa kita bisa kecelakaan. Apa ada seseorang yang mencoba mencelakai kita saat kita dalam perjalanan pulang?" tanya William saat mereka sudah di rumah.


"Tidak!" jawab Joanna.


"Lalu?" tanya William.


"Will, semalam kita terjun ke sungai karena aku kurang berhati-hati. Aku salah menginjak gas," jawab Joanna.


"Apa?"


"Tidak hanya itu, seharusnya mobilmu juga masih di dalam sungai sekarang. Maaf!" lanjut Joanna.


"Joanna?" William tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Inikah yang dia katakan kecelakaan ringan itu?


"Will, jangan marah!" kata Joanna lagi.


"Iya, aku tidak marah kok. Hanya saja bisakah memberikan alasan yang lebih masuk akal. Mana ada alasan salah menginjak gas?" tanya William.


William ingin terus ngomel tapi terhenti karena tiba-tiba Joanna aneh. Dia segera berlari ke kamar mandi dengan memegangi mulutnya.


"Huek!"


"Jo, kau kenapa?" tanya William dengan suara keras.


"Huek!"


Bukannya menjawab, tapi Joanna malah terus-terusan memuntahkan semua isi perutnya sehingga membuat William mendekatinya. Dia bahkan membantu memijit tengkuk Joanna dan tidak sengaja melihat bekas peninggalannya sendiri yang mengerikan dari pantulan cermin.


"Jo, apa kau hamil lagi?" tanya William.


Mendengar itu, Joanna langsung bangkit. Mengusap mulutnya dan melemparkan handuk kecil itu kemana saja. "Tidak!" jawabnya singkat.


"Will, aku lelah. Aku ingin istirahat!" katanya lagi sambil merebahkan tubuhnya dan beristirahat.


"Hamil? Will, aku hanya masuk angin karena kau memaksaku tidak memakai baju di ruangan terbuka semalam," batin Joanna.


Joanna menutup matanya tanpa melihat William lagi dan William pergi begitu saja karena dia akan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi karena semuanya sangat aneh.


...***...