CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Jangan Berteriak



Louise Matthew.


Sejauh ini semua berjalan sesuai keinginan pria yang masih melajang diusia 29 tahun itu. Melajang, tapi sudah menyelami banyak wanita bertahun-tahun yang lalu. Posisi, kekayaan dan tentunya cinta, semuanya berpihak kepadanya saat ini.


Louise, dia hanya berleha-leha saat orang-orangnya disibukkan dengan pembantaiannya. Bukannya tidak bisa, tapi hanya untuk menghancurkan mereka tidak perlu seorang Louise turun tangan.


Louise terlihat sangat menikmati indahnya kembang api yang membumbung tinggi di Kota Utara disela-sela kesibukannya menjaga anak. Ampuni mereka yang menyerah dan bersedia tunduk. Mereka akan sangat beruntung jika bersedia patuh karena Louise tidak akan membiarkan siapapun yang mengikutinya merugi. Lalu miskinkan sisanya dan habisi yang melawan. Itu adalah perintah yang beberapa jam yang lalu Louise perintahkan. Tentu saja itu hanya berlaku pada bangsawan lainnya. Tidak pada pada keluarga besar Joanna, karena untuk mereka hanya ada satu jalan, yaitu kematian.


Louise, dari jendela kaca di sebuah bangunan tinggi itu bisa melihat puluhan ribu orang patuh. Dan beberapa lainnya mengamuk seperti orang gila.


Sangat berbeda dengan Louise, Oskar tampak tidak peduli dengan kembang api itu meskipun berada di gendongan paman besarnya. Dia hanya sibuk dengan mainannya selagi menunggu mommy datang.


"Mommy!" panggil Oskar saat pintu terbuka dan melihat siapa yang datang. Joanna, dengan senyuman mengembang segera masuk dan menghampiri Oskar. Bocah itu ingin sekali turun dan berlari, tapi Louise melarangnya.


"Jangan lari-larian!" larang Louise, lalu membawanya mendekat kepada Joanna.


Joanna tersenyum, segera mengambil Oskar dari tangan Louise. Mengabaikan Louise dan hanya menyapa Oskar, "Sayang, mari kita pulang!" katanya kemudian menciuminya.


"Terimakasih, mommy!" kata Oskar pelan. Anak itu masih saja pucat, tapi terlihat jelas bahwa dia sangat senang.


"Hei, apa yang baru saja kau katakan. Sepertinya ada yang salah, bagaimana Xiao O memanggilku tadi?" tanya Joanna sambil mencubit pipi Oskar.


"Mommy," jawab Oskar.


"Xiao O sayang. Aku ini bibimu loh, bukankah seharusnya kau memanggilku dengan sebutan aunty?" goda Joanna.


"Aaa, mommy!" rengek Oskar. Memasang ekspresi tidak suka karena harus mengganti panggilannya kepada Joanna.


Bukannya menurut Oskar malah terus-menerus memanggil Joanna dengan sebutan mommy, "Mommy, mommy, mommy!" kata Oskar berulang-ulang.


"Sudah kubilang panggil aku dengan sebutan aunty," goda Joanna lagi.


"Nggak mau, maunya mommy!" rajuk Oskar. Tetap kukuh dengan pendiriannya dan memeluk Joanna dengan erat. Selamanya, mommynya tetaplah hanya Joanna, bukan yang lain.


"Paman, mommy nakal!" Oskar mengadu pada Louise yang melihat keduanya dengan senyum tipis. Berakting dengan tatapan mengiba kepada pamannya agar dibela seperti biasanya.


"Joanna, kau itu ibunya. Berhenti menggodanya!" kata Louise.


"Aku hanya bercanda tadi," kata Joanna, "Ngomong-ngomong. Xiao O, kenapa kau memanggilnya paman. Dia kan ayahmu!"


Oskar berhenti tertawa, lalu melihat Louise. Anak itu hanya bingung mau mengatakan apa.


"Kau ini. Saat harus memanggilnya paman malah memanggil daddy. Saat harus memanggil daddy malah memanggil paman. Maumu itu sebenarnya apa, hm?" tanya Joanna sambil mencubit hidung Oskar.


"Mommy, itu,-" Oskar tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Oskar, karena mommy ingin Oskar memanggil paman dengan sebutan daddy, jadi panggil saja dengan sebutan itu," potong Louise.


"Tapi kan," keluh Oskar.


Ingin sekali bilang 'Paman Louise kan bukan ayahku' tapi tidak mengatakannya karena ingat janjinya tempo hari kepada pamannya. Bahwa Louise meminta Oskar untuk menuruti semua apa yang dikatakan mommy dan mengabaikan pamannya.


"Daddy!" panggil Oskar.


"Nah, begitu baru benar!" puji Joanna.


"Daddy!" panggil Oskar lagi.


"Hm?" sahut Louise.


"Apa kita akan pulang kerumah daddy sekarang?" tanya Oskar. Anak itu sepertinya beradaptasi kelewat cepat. Melupakan keraguannya tentang panggilan yang cocok untuk Louise.


"Xiao O, apa yang kau bicarakan. Rumah yang mommy bilang itu rumah mommy ya. Bukannya rumah pria ini!" tegas Joanna.


"Tapi kan mommy yang bilang dia daddy-ku," kata Oskar.


"Tapi bukan berarti kau tinggal dirumahnya. Kau ikut mommy, di rumah mommy, bersama mommy!" jelas Joanna.


"Apa daddy juga tinggal di rumah kita?" tanya Oskar.


"Tentu saja tidak. Daddy-mu tinggal di rumahnya," jawab Joanna.


"Mommy, bukankah biasanya sepasang orangtua akan tinggal serumah. Iya kan daddy?" tanya Oskar.


"Oskar, kau tinggal di rumah mommy. Sesekali bisa tinggal di rumah daddy," jawab Louise.


"Begitu baru benar. Kau dengar apa yang dia bilang kan?" tanya Joanna sumringah.


"Tapi karena sekarang Oskar sedang sakit, daddy akan membawa Oskar tinggal di rumah daddy. Tentu saja dengan membawa mommy juga, bagaimana?" lanjut Louise.


"Sungguh?" tanya Oskar.


"Tentu saja!" kata Louise mengiyakan.


"Louise, aku tidak setuju. Dia anakku, kenapa kau yang memutuskan dia tinggal dimana?" protes Joanna.


"Memangnya kenapa kalau kau ibunya. Bukankah kau yang bilang kalau aku ayahnya. Seorang ayah akan memastikan anaknya baik-baik saja, Joanna!" kata Louise.


"Tidak bisa, apa kau pikir aku tidak akan memastikannya baik-baik saja. Louise, apa kau lupa. Aku yang membesarkannya lima tahun ini!" kata Joanna berapi-api.


"Tapi tidak ada pria di rumahmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu. Aku hanya memastikan tidak ada kesalahan sedikitpun yang bisa membahayakan Oskar," lanjut Louise.


"Aku bisa meminta ayahku tinggal bersamaku. Aku juga memiliki banyak pengikut. Jadi,-"


"Joanna, apa kau berencana merepotkan ayahmu yang sudah tua itu. Daripada memintanya ikut menjaga Oskar, lebih baik memintanya untuk bersantai dan ngopi bersama papaku," potong Louise.


"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Louise.


"Tentu saja ada, dia tidak boleh minum kopi. Apa kau berharap ayahku cepat mati?" tanya Joanna.


"Aku tidak bilang begitu!" sanggah Louise.


Pertengkaran itu terus berlanjut. Dua orang dewasa itu terus saja adu argumen. Melupakan ada anak diantara mereka yang terus menoleh ke arah daddy dan mommynya.


Oskar, lagi-lagi dia harus menjadi penonton saat mereka berselisih paham. Tapi tersenyum geli dan menutup mulut untuk menyembunyikan tawa bahagianya. Sampai Oskar melihat luka yang ada di sudut bibir mommy.


"Mommy, apa mommy sakit?" tanya Oskar tiba-tiba.


Satu pertanyaan Oskar sangat sukses membuat keduanya diam.


"Mommy sehat, kok. Ada apa?" tanya Joanna.


"Ujung mulut mommy kenapa?" tanya Oskar cemas.


"Oh, ini itu karena mommy,-"


"Mommy terlalu bersemangat saat makan lollipop kemarin," jawab Louise. Lalu meminta Oskar dari Joanna.


"Mommy kan sudah besar, kenapa masih makan permen?" protes Oskar.


"Itu, karena daddy mu ini yang memaksa mommy, sayang!" jawab Joanna. Sangat jujur tapi membicarakan permen yang berbeda.


"Daddy!" Oskar memukul Louise dengan ringan. Tidak suka daddy melukai mommy.


"Sayang, itu bukan permen biasa. Itu khusus untuk orang dewasa. Kau tahu, kau juga punya. Daddy akan memberitahumu saat kau remaja nanti," kata Louise.


"Louise, jangan berbicara sembarangan. Jangan ajari Xiao O ku jadi pria mesum sepertimu!" larang Joanna.


"Joanna!"


"Berikan dia padaku. Aku akan membawanya pulang sekarang!" pinta Joanna.


"Bi Diaz, apa bibi diluar?" panggil Louise. Mengabaikan permintaan Joanna yang sudah mengangkat kedua tangannya untuk mengambil Oskar.


Bibi Diaz segera masuk begitu mendapat panggilan. Lalu Louise segera menyerahkan Oskar padanya.


"Tolong jaga anakku. Aku ingin mengobati luka ibunya," pinta Louise.


"Baiklah!" jawab Diaz. Tersenyum, lalu membawa Oskar bersamanya dan pergi. Menyisakan Louise dan Joanna seorang.


"Joanna?" panggil Louise dengan ekspresi wajah yang sedikit berbeda. Dia terlihat sangat menyesal.


"A-apa?" tanya Joanna. Merasa aneh dengan perubahan ekspresi yang terlalu cepat itu.


"Maafkan aku!" kata Louise.


"Ha?" tanya Joanna. Tidak menyangka Louise akan meminta maaf.


"Aku minta maaf. Apa itu sakit?" tanya Louise. Satu tangannya sudah berlabuh di pipi Joanna


"Ini hanya sedikit sakit," jawab Joanna dengan menepis tangan Louise.


"Aku akan mengobati lukamu sebagai permintaan maafku yang tulus," kata Louise.


"Tidak perlu. Aku sudah sembuh," tolak Joanna ketika Louise semakin mendekat.


"Kalau begitu anggap saja sebagai hadiah," kata Louise.


"Hadiah?"


"Hadiah karena kau telah menyenangkan aku kemarin," jawab Louise.


Firasat Joanna tidak baik. Sepertinya ada yang salah, karena Louise sepertinya sedang mengerjainya dan hanya berpura-pura menyesal. Pria itu semakin mendekat, bersiap menggigit bibir Joanna tapi Joanna nyatanya terlebih dulu meraih leher itu dan menggigitnya dengan kasar dan melepaskannya begitu saja.


"Joanna, aku baru tahu kau sangat agresif." Louise menjilat bibirnya yang berdarah. Tapi tak lupa memberikan pujian untuk Joanna.


"Louise!"


"Joanna, apa perlu berteriak sekeras itu. Sepertinya kau sudah sembuh dari datang bulanmu. Haruskah, aku mulai menitipkan calon anakku disana sekarang?" tanya Louise tiba-tiba.


"Ah. A-aku masih belum sembuh kok," jawab Joanna.


"Sungguh?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna.


"Sini, biar aku memeriksanya!" pinta Louise.


"Jangan macam-macam!" tolak Joanna.


"Aku bilang sini!" paksa Louise.


"Louise!"


"Aku bilang jangan berteriak!"


...***...