CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kita Bisa Bercerai Sekarang



Joanna melihat William tanpa berkedip sedikitpun. Bukannya segera mempersilahkannya untuk masuk dan duduk, tapi malah menahannya di depan pintu meskipun tahu pria itu butuh istirahat. Joanna bukannya tidak ingin melakukannya, tapi dia menjadi lupa seketika karena pikirannya sibuk menebak apa yang dilakukan William sampai dia babak belur seperti itu.


Iya, William akhirnya kembali setelah beberapa minggu meninggalkan rumah. Luka yang Joanna lihat itu sebenarnya sudah lebih baik karena William tidak langsung kembali setelah mereka berhadapan dengan Abixz99. Dia memilih tinggal beberapa hari disana untuk sedikit memulihkan kondisinya dan membiarkan lukanya sedikit mengering.


Hari ini bukan hanya dia yang kembali, Arthur pun juga pulang bersamanya. Hanya saja dia tidak sempat mampir dan langsung kembali kerumahnya karena sudah rindu berat dengan anak dan istrinya. Sementara Louise, dia berencana pulang beberapa hari kemudian karena tidak ingin Joanna atau siapapun melihatnya dengan kondisi yang memprihatinkan atau seluruh dunia akan menertawakannya. Lagipula, dia juga masih ingin membahas sesuatu dengan juniornya secara rahasia. Jadi dia tidak menahan dan terkesan membiarkan saja saat dua pria idiot ini ingin kembali.


"Jo, apa kau tidak membiarkan suamimu masuk?" tanya William.


Pria itu akhirnya membuka suara dan memasang senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya. Lalu tanpa menunggu jawaban dari istrinya, dia langsung mendorong Joanna dengan pelan untuk mundur agar dia bisa lewat.


William meletakkan tas miliknya ke meja, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sendal rumah sebelum menanggalkan jaket dan melonggarkan dasinya. Sementara Joanna, dia masih mematung meskipun matanya terus mengekor pada William. Tapi tersadar beberapa detik kemudian.


Dia pun segera menutup pintu kamar dengan pelan dan bergegas menghampiri William. "Apa yang kalian bertiga lakukan, William?" tanya Joanna. Pertanyaan itu sangat pelan dan datar tapi bisa di dengar William dengan sangat jelas.


Wanita itu berdiri tepat di hadapan William dengan melilat tangannya sekarang ini. Memperhatikannya sekali lagi dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Beberapa minggu ini semuanya aneh. Mereka bilang pergi untuk urusan bisnis. Tapi bisnis apa yang membuat ketiganya sangat sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk memberikan kabar sedikitpun. Dan sekarang mereka akhirnya kembali tapi dengan kondisi yang seperti ini. Sebenarnya apa yang mereka rahasiakan?


"William, aku sedang bertanya padamu. Apa yang sebenarnya kalian lakukan. Kenapa kau kembali dengan keadaan seperti ini?" tanya Joanna.


Joanna tidak hanya melihat luka yang belum sepenuhnya kering di tubuh suaminya. Tapi juga memeriksanya sampai membuka paksa dua kancing kemejanya karena melihat goresan yang mengintip di dada bagian atas milik William. Tepisan tangan dari William dia abaikan. Sekali ini saja biarkan dia menanggalkan baju dan melihat atletisnya tubuh pria lain selain milik Louise Matthew.


"Kalian bertiga, apa kalian berbohong dan membodohi kami selama berminggu-minggu ini?" tanya Joanna setelah melihat luka itu lebih jelas. Suaranya sedikit bergetar, begitupun dengan tangannya. Tapi dia segera membuat suaranya kembali normal dan sok acuh.


"Apa kalian baru saja melawan mereka tanpa memberitahu kami?" ulang Joanna.


William hanya mengangkat wajahnya tanpa menjawab apa-apa. Tapi itu malah membuat Joanna semakin marah.


"William, aku sedang bertanya. Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Joanna lagi. Nada itu semakin meninggi. Bahkan membuat beberapa pelayan yang berada di luar mendengar suaranya. Mungkin, mereka sedang mengira Joanna dan William sedang bertengkar sekarang.


"Jo, pelankan suaramu. Kau bisa membangunkan Reagan," jawab William dengan melirik Reagan yang sedikit terjingkat. Suara dari William akhirnya keluar juga meskipun tidak membawa jawaban yang Joanna inginkan.


Setelah membuang nafasnya, William akhirnya bangkit. Melihat Joanna dengan tatapan yang masih tidak bisa diartikan oleh Joanna. Lalu mendekat dan semakin dekat sampai membuat Joanna mundur dua langkah dan baru berhenti ketika William menahan tangannya agar tidak lagi mundur kebelakang.


Joanna tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun. Perceraian diantara mereka memang dia inginkan. Tapi saat ketiga pria itu menyembunyikan hal ini darinya dan mereka penuh luka seperti ini, pantaskah dia berbahagia atas perceraian mereka yang sudah di depan mata?


"Lalu, apa kalian bertiga masih hidup semuanya?" tanya Joanna dengan membuang muka. Terdengar sangat kasar, tapi itulah bentuk lain atas kekhawatirannya pada tiga pria idiot itu.


"Apa yang kau katakan. Tentu saja kami hidup. Kami semua baik-baik saja. Hanya saja Louise masih tinggal lebih lama untuk menyembuhkan lukanya. Kau tahu kan dia sangat gengsian. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depanmu," jawab William mencoba mencairkan suasana.


"Ck, kalian bertiga kenapa benar-benar,-"


Joanna menunduk dalam-dalam. Tidak melanjutkan kalimatnya apalagi melihat mata William. Dia sepenuhnya diam, hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun lagi meskipun dalam hatinya telah terlontar jutaan sumpah serapah atas ulah ketiga pria yang selalu melindunginya itu. Joanna tersenyum kecut saat ingat bagaimana dia menghabiskan waktunya saat mereka bertiga pergi.


Dia bersenang-senang dengan Oskar dan Reagan, makan dengan lahap, tidur dengan pulas, menghabiskan uangnya dengan berbelanja bersama Alexa dan Marissa. Dia bahkan sempat liburan bersama Alexa dan Marissa di akhir pekan tanpa tahu bahwa pria-pria mereka sedang berjuang di belahan bumi yang lain. Jika mereka tahu ternyata inilah yang ketiga pria itu lakukan, mereka pasti tidak akan sibuk menikmati hidup dan menyenangkan diri mereka sendiri disaat pria-pria mereka sedang berada di jalan menuju kematian.


"Kenapa mereka sangat bodoh. Tidak mengatakan apapun bahkan saat mereka sengaja mengantarkan satu-satunya nyawa mereka? Tidakkah mereka memikirkan bagaimana jika seandainya mereka mati saat melawan Abixz99 atau apalah itu?" batin Joanna.


Joanna sangat ingin marah sekarang, tapi apa gunanya marah saat semuanya sudah terjadi. Lagipula marah untuk apa, daripada marah bukankah lebih baik dia menenangkan dirinya dan mulai merawat ulang luka William sekarang?


Joanna menarik nafasnya dalam-dalam. Membuang egonya yang tinggi lalu melihat William sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan pergi untuk mengambil kotak obatnya.


"Biarkan aku membantumu merawat lukamu!"


Seharusnya, hanya kalimat itu yang akhirnya menutup percakapan diantara mereka. Joanna enggan berbicara lagi dan memilih fokus mengobati luka itu. Begitupun dengan William, dia memilih diam saja dan menikmati perih demi perih yang Joanna berikan saat dia mulai mengobati luka di punggungnya.


Wajah William berubah kusut. Sangat berbanding terbalik dengan wajah yang menyunggingkan senyum seperti yang dia tunjukkan saat berada di depan Joanna tadi.


"Akhirnya semuanya berakhir. Semuanya akan segera kembali ke trek yang benar. Kau telah bekerja keras, William!" batin William.


...***...