CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Tersesat



"Kenapa kemari, bukannya kau ingin makan kemudian berolahraga?" tanya Joanna ketika mereka tiba di sebuah villa, bukan di rumah makan atau tempat olahraga seperti yang Joanna pikirkan sebelumnya.


"Aku tidak ingin ada pengganggu," jawab Louise sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Joanna melihat sekeliling, di atas bukit ini dia bisa melihat pemandangan yang membuatnya takjub hingga membuka mulutnya lebar-lebar, "Apa ini istana?" batinnya.


"Ayo!" ajak Louise.


Louise membawa Joanna turun, kemudian masuk ke villa pribadinya yang super megah dengan berbagai fasilitas lengkap di dalamnya. Sejauh ini, tidak pernah ada orang lain yang diijinkan masuk ke tempat ini selain orangtua, nenek juga William. Seluruh maid di villa ini adalah wanita berumur dengan jumlah yang lumayan sedikit. Sangat berbanding terbalik dengan pengawal yang jumlah berkali-kali lipat banyaknya.


Di pintu besar itu, mereka disambut lebih dari selusin pelayan baik pria maupun wanita yang berjejer rapi di kanan maupun kiri.


"Selamat datang, Tuan!"


"Selamat datang, Nona!"


"Tuan Muda, Anda kembali?" tanya seorang kepala pelayan dengan senyum yang mengembang. Di villa ini, dialah yang paling disegani dan dituakan diantara yang lainnya, sebut saja dia Kepala Suh.


Setelah menyambut Tuan Mudanya, Kepala Suh pun beralih menyambut Nona Mudanya, "Selamat datang, Nona!"


"Hallo," jawab Joanna dengan senyuman dari wajahnya yang sangat tertekan. Secara spontan mengeratkan tangannya untuk menggandeng tangan Louise yang berada di sampingnya.


"Kepala Suh, tolong sampaikan kepada maid untuk menyiapkan makan siang untuk kami," titah Louise kemudian kembali melangkah untuk masuk lebih dalam.


"Seperti yang Anda inginkan, Tuan!" jawab Kepala Suh dengan hormat, tentu saja dengan wajah bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan. Sudah terlalu lama dia melayani Louise, akhirnya tamu istimewa itu datang juga. Mungkinkah villa ini akan segera ramai dengan langkah kaki anak-anak?


"Kepala Suh, aku melupakan sesuatu. Di luar masih ada tamu, sepertinya mereka dari kelompok yang berbeda. Tolong suruh mereka masuk, jangan lupa menyiapkan jamuan untuk mereka juga. Aku akan menemui mereka setelah mengantar Nona kedalam," lanjut Louise.


"Baik, Tuan!" jawab Kepala Suh lagi.


"Joanna, aku akan turun menemui tamu-tamu pentingku dulu. Beristirahatlah sejenak sembari menunggu," pamit Louise dengan senyum tipisnya setelah membawa Joanna ke ruangan yang besar dan mempersilahkannya untuk duduk.


"Kapan kau akan kembali?" tanya Joanna.


"Mungkin, sepuluh menit," jawab Louise kemudian berlalu.


Sementara Joanna, dia memijit kakinya yang terasa sedikit panas, "Villa sialan ini, kenapa membutuhkan waktu sepuluh menit hanya untuk berjalan dari pintu utama ke ruangan ini?" keluh Joanna sambil melihat ruangan yang luasnya seperti lapangan.


"Jika aku punya rumah seperti ini, kira-kira berapa banyak lemak yang bisa ku bakar jika aku berjalan dari depan hingga belakang?" gumam Joanna bertanya-tanya.


"Nona Matthew, silahkan!" kata salah seorang maid dengan sopan setelah kepergian Louise. Beberapa maid itu sudah berbaris rapi di sekitar Joanna hanya untuk menyajikan teh khusus untuknya.


"N-nona Matthew?" tanya Joanna tergagap. Jantungnya hampir lepas saat mendengar panggilannya ditambah dengan embel-embel Matthew, "Panggil saja aku Joanna, aku bukan Nona Matthew," pinta Joanna. Tidak Louise, tidak orang-orang di perusahaan tadi. Bahkan pengawal, pelayan pria maupun wanita dirumah ini sepertinya telah sangat salah paham karena terus-terusan memanggilnya Nona Matthew.


"Mana bisa seperti itu Nona. Tuan Muda akan marah jika kami memanggil Anda dengan sebutan seperti itu," lanjut maid kemudian menuangkan teh itu kedalam gelas.


"Ya Tuhan, Louise brengsek itu. Aku benar-benar bisa gila kalau terus seperti ini," batin Joanna kemudian segera meminum tehnya untuk menenangkan diri. Masih panas, tapi terlanjur masuk ke tenggorokannya sehingga membuatnya terbatuk.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya maid panik.


"Aku baik-baik saja. Bisakah kalian menunjukkan dimana kamar mandinya?" tanya Joanna. Dia ingin merapikan tampilannya juga ingin mengeluarkan sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak mandi di pagi hari, Joanna belum juga buang air kecil. Dia tidak boleh menahannya lagi demi kesehatannya.


"Mari, Nona. Saya akan mengantarkan Nona," jawab maid.


Joanna bangkit, mengikuti kemana maid itu berjalan dan membawanya. Berjalan lurus, lalu belok, berjalan lurus lagi lalu belok lagi. Begitu seterusnya selama dua menit. Seandainya saja sedang kebelet, pasti dia sudah ngompol saat ini.


"Kau bisa pergi!" kata Joanna setelah mereka sampai di kamar mandi.


"Tapi," kata maid itu ragu. Villa ini terlalu luas, bagaimana jika Nona Matthewnya tersesat?


"Jangan cemas, aku ingat jalan kembali," kata Joanna meyakinkan.


"Oh, baiklah Nona!" kata maid itu lagi kemudian pergi meninggalkan Joanna.


.


.


.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kalian telah melindungi Joanna hari ini. Bisakah aku tahu siapa kalian?" tanya Louise kepada para pengawal milik Sir Alex dengan ramah.


"Maaf, Tuan Muda. Kami tidak bisa mengatakannya. Tapi kami bisa menjamin, bahwa kami tidak memiliki tujuan lain selain melindungi Nona agar tetap aman," jawab salah satu pengawal itu.


"Apa ini sangat rahasia sehingga aku tidak boleh mengetahui siapa sebenarnya kalian?" tanya Louise.


"Tuan, maaf! Sungguh tidak ada lagi yang bisa kami katakan selain itu," jawab pengawal dengan sopan.


"Tidak masalah. Kalau itu keinginan kalian aku tidak bisa memaksa," kata Louise kemudian menoleh ke kiri, "Kepala Suh, tolong bawa mereka bersamamu. Biarkan mereka bergabung dan makan siang dengan yang lainnya. Pastikan semuanya makan dengan baik!" titah Louise kepada Kepala Suh yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Seperti yang Tuan inginkan," jawab Kepala Suh.


"Tuan muda, tunggu!" tahan pengawal yang tadi menelepon Sir Alex, dia adalah ketuanya disini.


"Ada apa?" tanya Louise.


"Ada pesan yang ingin saya sampaikan secara pribadi kepada Anda," kata pengawal itu.


"Pesan? Katakan saja!" jawab Louise.


"Tapi," pengawal itu melihat ke sekitarnya. Sepertinya tidak baik mengatakannya disini.


"Kemarilah!" kata Louise, kemudian membawa pengawal itu sedikit menjauh agar yang lainnya tidak bisa mendengar percakapan mereka.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Louise saat mereka sudah menjauh.


"Itu, Tuan kami sempat berpesan. Tolong lembut sedikit jika ingin melakukan sesuatu pada nona. Dia akan menangis jika Nona lecet sedikit saja," kata pengawal itu sedikit berbisik.


Louise mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. Memangnya apa yang akan dia lakukan sampai harus pelan sedikit. Lalu kenapa juga tuan mereka harus menangis. Dia kan hanya akan meminta Joanna menonton dan menikmati saat dirinya melatih skill menembaknya setelah makan siang nanti, "Siapa Tuan kalian?" tanya Louise penasaran.


"Maaf, Tuan! Saya tidak bisa mengatakannya."


"Kalau kau tak mengatakannya, maka aku akan sangat kasar pada Nona kalian," ancam Louise. Mengatakannya tepat di telinga pengawal itu sehingga membuatnya berkeringat dingin.


"Tuan Muda, tolong jangan seperti itu," jawab pengawal panik.


"Tuan pengawal, tidak ada siapapun selain kita disini. Tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita. Hanya katakan padaku siapa Tuan kalian dan aku akan menjaga rahasia. Aku berjanji untuk itu," paksa Louise dengan tatapan yang tajam dan dua jari yang diangkat.


Pengawal itu berpikir sejenak. Menoleh ke kanan dan kiri kemudian memberikan isyarat kepada Louise untuk mendekatkan telinganya, "itu adalah ayah dari Nona kami," bisiknya.


"Ayah?" tanya Louise.


Pengawal itu mengangguk pelan.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan lembut pada Joanna," jawab Louise dengan senyum tipis.


"Tuan, Anda akan menepati janji kan?" tanya pengawal itu memastikan.


"Janji yang mana?" tanya Louise.


"Tuan, kenapa Anda bisa lupa secepat ini. Tentu saja untuk menjaga rahasia kita barusan," jelas pengawal.


Lagi-lagi, Louise tersenyum melihat pria yang saat ini berdiri dihadapannya. Siang tadi, pria inilah yang mematahkan tulang seorang pria karena mengganggu Joanna dengan wajah yang sangar dan sekarang tiba-tiba hatinya sudah berubah menjadi sangat lembut layaknya hello Kitty.


"Aku janji, sekarang pergilah untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan!" jawab Louise.


Akhirnya Kepala Suh membawa orang-orang Sir Alex untuk pergi, menyisakan satu kelompok lain yang sangat Louise kenal, "Kenapa kalian juga mengikuti Joanna?" tanya Louise tanpa basa-basi. Orang-orang ini adalah pengawal milik mamanya, Rose Matthew.


"Tuan Muda, kami diperintahkan nyonya untuk mencari tahu apakah ada pria lain selain Tuan Muda yang dekat dengan Nona," jawab pengawal itu.


"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Louise.


"Tidak ada siapapun yang kami temukan selain Tuan Muda," jawab pengawal lagi.


"Lain kali, tidak perlu melakukan ini lagi. Orang-orangku saja sudah cukup!" kata Louise sambil memijit kepalanya.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi-tapian atau aku akan mematahkan leher kalian!" ancam Louise kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan pengawal milik ibunya yang masih belum menjelaskan hingga akhir, bahwa ada pria yang sangat dekat dengan Oskar. Saingan berat Louise. Pria itu bahkan menyuapi Oskar makan dan membawanya jalan-jalan. Rose, mamanya hanya ingin tahu siapa brengsek itu tanpa tahu bahwa pria brengsek itu adalah Louise, anaknya sendiri.


.


.


.


"I-itu, Nona sepertinya hilang, Tuan!" jawab salah satu maid.


"Hilang?" tanya Louise tak percaya. Bukankah dirinya sudah mengatakan untuk beristirahat selagi menunggunya?


"Tadi Nona pergi ke kamar mandi dan menyuruh maid yang mengantarnya pergi," jawab maid.


"Apa kalian lupa berapa luasnya villa ini, kenapa membiarkannya pergi sendirian?" tanya Louise.


"T-tuan, Nona bilang dia ingat jalannya," jawab maid cemas.


"Dia pasti tersesat," batin Louise. Tapi, seluruh sudut villa sudah dijaga oleh pengawal. Kenapa dia masih bisa tersesat. Apa dia terjebak di suatu tempat dan tidak bisa keluar?


Louise segera mengambil telepon genggamnya, lalu menekan tombol dial untuk menghubungi Joanna, "Kau dimana?" tanya Louise setelah panggilannya tersambung.


"Aku juga tidak tahu," jawab Joanna. Wajahnya tidak terlihat, tapi sebenarnya dia sangat pusing sekarang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia saat semua orang tahu dia telah salah jalan.


"Katakan seperti apa tempat yang kau lihat saat ini?" perintah Louise.


"Itu, aku berada di sebuah lorong yang cukup panjang. Ada mural di sisi kiri dan tembok kaca tertutup gorden di sebelah kanan," jawab Joanna sambil mengamati tempat disekitarnya.


"Mural?" tanya Louise.


"Em," jawab Joanna.


"Di ujung lorong itu, apa kau melihat sebuah pintu berwarna hitam?" tanya Louise.


"Iya, aku melihatnya. Itu sangat jauh disana," jawab Joanna.


"Diamlah di tempatmu sekarang dan jangan bergerak sedikitpun jika kau tidak ingin ada keributan. Aku akan menjemputmu sekarang juga!" pinta Louise kemudian menutup teleponnya.


"Tidak perlu mencari, dia tidak hilang atau tersesat," kata Louise memberi pengumuman.


"Tidak hilang?"


"Nona hanya sedang lelah dan ingin beristirahat," jawab Louise sambil berlalu.


Louise segera melangkah, menjemput Joanna yang sedang tersesat di tempat keramat yang seharusnya tidak dia kunjungi. Tempat dimana tidak ada satupun penjaga, tapi alarm peringatan akan berbunyi jika ada orang asing masuk lebih jauh tanpa ijin Louise. Karena untuk memasuki tempat itu, harus menggunakan pendeteksi wajah, sidik jari dan sebuah kode yang hanya diketahui oleh Louise. Iya, tempat itu berada di ujung lorong yang bisa Joanna lihat dari tempatnya berdiri saat ini.


"Joanna, apa kau sangat ingin tidur denganku?" tanya Louise ketika sudah menemukan Joanna dan berdiri di depannya. Memberikan pertanyaan keramat lainnya kepada Joanna yang masih tidak berani bergerak.


"T-tidur denganmu? Siapa juga yang ingin tidur denganmu, aku hanya salah mengingat jalan kemudian tersesat dan terdampar disini," jawab Joanna dengan mata membesar.


"Lalu kenapa dari sekian banyak tempat kau bisa tersesat di kamarku?" tanya Louise sambil menunjuk ke arah pintu berwarna hitam mengkilap berukuran besar di ujung lorong sana.


"Mana aku tahu bahwa ujung itu adalah kamarmu. Lagipula ini salahmu, kenapa juga harus tinggal di villa seluas ini. Membuatku capek saja," jawab Joanna.


"Joanna, kau sendiri yang tersesat, kenapa malah menyalahkan aku?" tanya Louise tak terima.


"Karena kalau kau tak membawaku kemari, aku tidak akan tersesat. Lihatlah, betapa malunya aku nanti menghadapi ratusan pelayan dan pengawalmu itu karena ini," jawab Joanna.


"Jadi, ini salahku lagi?" tanya Louise.


"Tentu saja ini salahmu!" jawab Joanna.


"Kalau begitu bersikaplah biasa saja jika tidak ingin malu, lagipula mereka tidak tahu kau sudah tersesat," kata Louise.


"Tidak tahu? Bagaimana itu mungkin, aku kan sudah cukup lama menghilang dari kamar mandi," protes Joanna.


"Karena aku mengatakan pada mereka, kau sedang berada di kamarku. Dan mungkin saat ini sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian seksi untuk menyambutku," bohong Louise.


"Inikah yang kau sebut dengan tidak perlu malu? Asalkan kau tahu, aku sangat ingin merobek wajahku sekarang, brengsek!" umpat Joanna.


"Jangan panggil aku brengsek, aku ini suamimu!" kata Louise kemudian memegang tangan Joanna.


"Suami katamu?" tanya Joanna.


Dia sangat marah sekarang, lalu menggigit tangan Louise yang lagi-lagi memegang tangannya. Menggigitnya sekuat giginya tapi sepertinya tidak menimbulkan efek apapun untuk Louise.


Pria mesum itu, bahkan kemudian mengatakan dengan sangat santai, "Joanna, kalau kau ingin menggigit bisakah di tempat yang lain? Misalnya, disini atau disini. Lalu disini juga boleh," kata Louise sambil menunjuk titik-titik tertentu di bagian tubuhnya


"Louise, kau hmph!"


Louise geleng-geleng kepala, lalu menarik Joanna untuk membawanya makan siang. Baru beberapa langkah saja, tiba-tiba Louise memutuskan untuk berhenti. Membuat Joanna yang berjalan di belakangnya menubruk punggungnya.


"Lihatlah, apa ini sekarang. Apa kau ingin memeluk dan segera menggigitku?" tanya Louise.


"Louise, itu karena kau menarik tanganku dan berhenti tanpa memberi aba-aba. Kenapa kau selalu berpikir aku ingin berbuat mesum padamu?" jawab Joanna tak terima.


"Joanna, karena sudah disini. Apa kau tidak ingin masuk?" tawar Louise.


"Masuk?" tanya Joanna tidak mengerti.


"Masuk ke kamarku," jawab Louise.


"Tidak perlu," jawab Joanna dengan cepat lalu berjalan mendahului Louise dan belok kearah kiri.


"Joanna, kau salah jalan lagi. Kau harus belok ke kanan!" teriak Louise mengingatkan. Kemudian segera menyusul Joanna sebelum dia tersesat untuk yang kedua kalinya.


.


.


.


Di meja makan,


"Kenapa hanya makan sedikit. Apa ini tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Louise.


"Bukan begitu, aku sudah kenyang," jawab Joanna.


"Haruskah aku membantumu mengunyah dan memindahkannya ke mulutmu?" tawar Louise.


"Tidak perlu," jawab Joanna dengan singkat, kemudian menghabiskan segelas air putih yang ada di hadapannya.


Louise hanya melihat Joanna selagi dirinya mengunyah makanan di mulutnya. Memperhatikan Joanna yang sepertinya sangat menyukai air putih. Itu adalah gelas keduanya, dan sekarang sudah menuang untuk gelas yang ketiga.


"Ehm, Louise!" panggil Joanna.


"Apa?" jawab Louise dengan nada yang penuh kasih sayang.


"Itu, menurutmu bagaimana kalau aku mentraktirmu malam ini?" tanya Joanna. Bersikap semanis mungkin agar Louise menyetujuinya lalu setelah itu mengatakan selamat tinggal untuk selamanya.


"Tidak bisa!" tolak Louise. Tangannya sibuk memotong daging, menusuknya bersama sayuran dan mencocolkannya ke saus sebelum memasukkannya ke mulut.


"Kenapa?" tanya Joanna.


"Aku ada janji sore ini."


"Lalu kenapa membawaku kemari jika kau ada janji?" tanya Joanna.


"Karena aku merindukanmu."


"Ah bajingan ini," batin Joanna.


"Joanna, aku bahkan belum menyelesaikan makan siangku bersamamu. Lalu kau masih mengajakku makan bersama lagi nanti malam. Apa kau sangat ingin selalu bersamaku? Kalau iya, bagaimana kalau kita menikah saja agar lebih banyak waktu yang kita habiskan bersama?" tawar Louise.


"Bukan seperti itu. Kenapa kau selalu saja salah paham?" tolak Joanna.


"Joanna, setelah makan siang ini hanya akan ada olahraga. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Lalu kita akan bertemu lagi minggu depan setelah aku kembali. Tidak ada acara makan malam lagi hari ini, mengerti?" kata Louise menegaskan.


"Itu, aku bisa pulang sendiri," kata Joanna.


"Aku yang menjemputmu, aku juga yang akan mengantarmu," paksa Louise.


"Tapi, ada tempat lain yang ingin aku kunjungi. Lagipula, bukankah kau ada janji dengan seseorang?" tanya Joanna.


"Kalau begitu aku akan meminta orangku untuk mengantarmu nanti."