CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Rencana Oskar Matthew



"Kenapa mommy menangis?" tanya Oskar sore itu.


"Siapa yang menangis?" tanya Joanna.


"Mommy lah, masa Xiao O," jawab Oskar.


Joanna tidak menanggapi ucapan Oskar, tapi memilih terus memandangi wajah Oskar dan Reagan secara bergiliran tanpa ada bosan-bosannya. Joanna masih tenang saat melihat Reagan, tapi sedikit cemas saat melihat Oskar dan menyadari anak itu sudah menunjukkan potensinya yang menjanjikan untuk menjadi **** boy masa depan. Mungkin lima tahun dari sekarang sudah akan ada banyak persaingan diantara gadis-gadis muda teman sekolah Oskar untuk memperebutkan cintanya.


"Lalu, apa akhirnya Xiao O akan melupakanku. Apa posisiku di hati Oskar mulai tersingkirkan dalam waktu dekat?" batin Joanna.


"Mommy, kenapa melihatku seperti itu. Apa karena Xiao O sangat tampan?" tanya Oskar.


"Eum, kau sangat tampan," jawab Joanna.


"Kalau begitu lihat aku terus hari ini," pinta Oskar.


"Kenapa, apa mommy tidak boleh melihatmu terus besok?" tanya Joanna tanpa curiga sedikitpun.


"Karena mulai besok aku akan memasang tarif jika mommy ingin melihatku," jawab Oskar.


"Apa sih yang kau bicarakan. Kenapa mommy harus mengeluarkan uang untuk melihat wajah anak mommy sendiri?" kata Joanna.


Oskar hanya tertawa mendengarnya. Kemudian kembali bermain dengan Reagan yang sedari tadi berbaring di sebelahnya. Bayi itu terus menggerakkan kaki dan tangannya dengan lincah. Mulutnya yang mungil juga tidak berhenti mengajak kakaknya berbicara meskipun kakaknya tidak tahu bahasa bayi. Bukannya tidak tahu, tapi lebih tepatnya sudah lupa. Sementara Joanna saat ini duduk persis seperti yang Louise lakukan sebelumnya, duduk di posisi yang lebih rendah dari Oskar.


Awalnya Joanna ingin marah karena Louise menjemput Oskar tanpa ijin. Tapi niat itu urung ketika mengetahui Louise tidak memaksa Oskar seperti yang dia pikirkan. Sebelumnya dia juga sudah siap berebut dengan Louise jika dia sampai pria itu menghalangi dirinya mengambil Oskar, tapi nyatanya pria itu mengijinkan Oskar pulang bersamanya. Oskar juga baik-baik saja dan anak itu terlihat lebih ceria setelah bertemu Louise. Jujur saja itu membuat Joanna takut. Bagaimana kalau Oskar tidak ingin pisah dari Louise?


"Mommy, bukannya mommy bilang ada yang ingin dikatakan tadi?" tanya Oskar.


"Ada," jawab Joanna.


"Kenapa masih belum bilang, Xiao sudah menunggu loh," kata Oskar.


Joanna tersenyum, memegang dua tangan Oskar dan menciumnya sebentar sebelum berbicara. "Xiao O, apa Xiao O sangat menyukai daddy?" tanya Joanna.


"Tentu saja Xiao O sangat suka," jawab Oskar.


"Lalu bagaimana dengan mommy. Apa Xiao O tidak suka mommy?" tanya Joanna.


"Xiao O juga suka mommy," jawab Oskar jujur.


"Xiao O, jika mommy ingin pergi ke suatu tempat bersama adikmu, Xiao O akan ikut dengan mommy kan?" tanya Joanna dengan senyum yang dipaksakan.


"Apa mommy mau pergi?" tanya Oskar.


"Eum," jawab Joanna.


"Apa daddy tidak ikut?" tanya Oskar.


"Daddy tidak bisa ikut," jawab Joanna.


"Memangnya mommy mau pergi kemana?" tanya Oskar.


"Mommy belum memutuskannya," jawab Joanna.


"Kenapa mommy harus pergi. Kenapa tidak tinggal dirumah dengan daddy seperti dulu lagi?" tanya Oskar.


"Sayang, sebenarnya,-"


"Mommy dan daddy tidak akan menikah kan?" potong Oskar.


"Darimana kau tahu. Apa daddy yang memberitahumu?" tanya Joanna dengan wajah sendu.


"Eum," jawab Oskar.


"Apa lagi yang dia katakan?" tanya Joanna.


"Tidak ada," jawab Oskar singkat. Dengan wajah polos itu, siapa yang tahu bahwa Oskar sudah membohongi Joanna. Sangat banyak yang sudah Louise ceritakan. Sangat banyak yang Louise tanamkan di hati anak itu. Tapi Oskar tidak akan menceritakannya pada ibunya sekarang.


"Xiao O akan ikut mommy kan. Tinggal bersama mommy dan Reagan?" tanya Joanna.


"Kalau Xiao O ikut mommy apa Xiao O boleh bertemu dengan daddy?" tanya Oskar.


"Tidak boleh!" jawab Joanna.


"Kenapa?" tanya Oskar.


"Karena kita akan pergi ke tempat yang jauh. Mungkin kita tidak akan melihat daddy lagi," jawab Joanna.


"Kalau kau sudah besar dan bisa melindungi dirimu sendiri, mungkin mommy akan mengijinkannya," jawab Joanna.


"Xiao O mengerti," jawab Oskar.


Oskar tersenyum lebar kemudian mencium dan memeluk Joanna. Joanna pun membalas pelukannya dengan erat. Mengira senyuman dari Oskar barusan adalah senyum persetujuan atas pertanyaannya. Padahal Oskar hanya tidak ingin membuat Joanna cemas. Karena sebenarnya Oskar sudah memilih untuk ikut dengan Louise.


Oskar menyukai keduanya, jadi kenapa harus tinggal dengan salah satunya saja. Jika tinggal dengan mommy tapi mommy tidak mengijinkannya bertemu dengan daddy, maka Oskar akan memilih tinggal bersama daddy karena daddy sudah berjanji akan mengijinkannya menemui mommy. Meskipun tahu bagaimana tersiksanya merindukan mommy dan Reagan, tapi Oskar tetap teguh pada pendiriannya.


Dia kan bukan anak kecil lagi, dia sudah menjadi pria kecil sekarang. Pria kecil harus melindungi adiknya tersayang. Bukan hanya itu, dia juga sudah jadi seorang kakak sekarang. Kakak pasti akan memastikan adiknya bahagia kan? Membuat adiknya merasakan kasih sayang dari mommy dan daddy lalu hidup bersama suatu hari nanti. Membelikannya banyak makanan dan mainan juga meskipun uangnya berasal dari daddy.


Lagipula bukankah pengemis wanita dengan perut buncit yang kemarin memohon menjadi istri daddy itu harus di beri pelajaran? Jadi bagaimana mungkin Oskar pergi dengan mommy. Bukankah balas dendam selalu lebih seru?


"Sayang, sepertinya pelukanmu berbeda hari ini. Ada apa?" tanya Joanna.


"Itu hanya perasaan mommy," jawab Oskar. Lalu menikmati pelukan ibunya sepuas hatinya.


.


.


.


"Will, bukankah sudah waktunya untuk mengakhiri sandiwara kita?"


Akhirnya kalimat itu keluar juga setelah sekian lama William menunggu. Sebelumnya, karena Joanna masih enggan berbicara juga, William memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Jari-jari William yang awalnya sibuk menari-nari dengan lincah di atas tuts-tuts keyboard langsung terhenti. William mengangkat wajahnya, melihat Joanna sedang menyingkirkan bantal yang sebelumnya sengaja William letakkan di sampingnya dan duduk disana.


"Kapan?" tanya William.


Kata itu akhirnya meluncur juga meskipun sebenarnya William tidak ingin. Jujur saja dia ingin sedikit lebih lama menjadi suami Joanna. Tapi hanya dengan cara bercerai baru bisa membuat Joanna menikah dengan Louise. Lagipula mereka sudah sepakat sebelumnya. Jadi apa masih perlu menunda lebih lama lagi?


"Sekarang," jawab Joanna.


"Sekarang tidak bisa," tolak William tanpa berpikir.


"Kenapa?" tanya Joanna.


"Terlalu mendadak," jawab William kemudian kembali sibuk dengan laptopnya.


"Kalau tidak bisa sekarang, bagaimana kalau besok. Seharusnya bisa kan?" tanya Joanna lagi.


"Besok juga terlalu mendadak," tolak William.


"Apa kau tidak ingin bercerai denganku, Will?" tanya Joanna.


Jari-jari William yang sempat bergerak kembali berhenti. Sepertinya dia sudah enggan melanjutkan pekerjaannya sekarang. "Aku akan menghubungi Louise terlebih dulu untuk membahas ini," jawab William.


William segera mengambil ponselnya yang dia letakkan di meja dan siap menelepon Louise saat itu juga. Tapi Joanna menahannya. "Bukankah aku atau Louise yang mengatakan sama saja. Apa kau tidak percaya padaku?"


"Tapi,-"


DDRRTT


Pembicaraan mereka terhenti karena kebetulan sekali Louise memanggil William saat itu juga.


"Berikan padaku!" pinta Joanna. Dia merampas ponsel William tanpa permisi. Menggeser warna merah karena takut Louise akan memberitahu William apa yang sebenarnya terjadi. Tidak boleh, William tidak boleh tahu apa yang terjadi setidaknya sampai mereka bercerai.


"Apa yang kau lakukan?" tanya William.


"Ponselku mati. Louise menghubungimu pasti karena dia mencariku," jawab Joanna.


"Tapi kenapa kau menolak panggilannya?" tanya William.


"Aku bisa menghubunginya nanti," bohong Joanna.


Dua anak manusia itu saling tatap. Salah satunya berusaha menutupi fakta dan satu yang lainnya memendam ribuan pertanyaan dalam hatinya.


"Baiklah, besok kita bercerai!" kata William.


William bangkit, membersihkan dirinya sebelum berpura-pura tidur membelakangi Joanna seperti biasanya meskipun sebenarnya tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun.


...***...