CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Menemui Edgar



Seorang pria muda berperawakan proporsional sedang duduk menikmati minumannya. Berpakaian serba hitam dengan kemeja yang kancingnya sengaja dibuka, rambut cepak berwarna coklat terang juga otot-otot yang menonjol membuatnya menjadi pusat perhatian meskipun dia tidak berada di tengah kerumunan. Sorot matanya yang tajam sangat menarik untuk dilihat.


Dengan wajah dan senyum yang rupawan sudah sangat cukup untuk membuatnya manjadi sasaran para gadis. Terlebih, saat ini dia sedang duduk sendirian.


Disela-sela alunan musik yang diputar keras dan lampu disko, dia tersenyum menikmati tarian wanita-wanita nakal yang mulai datang mengerumuninya.


Pria itu bangkit tanpa ada keraguan sedikitpun, menerima sambutan hangat dan uluran tangan dari para gadis untuk mulai berpesta.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, karena sesaat setelah dirinya mulai berdiri dia langsung menjadi center para wanita.


Wanita-wanita itu mulai mengerubunginya, menari-nari dengan lincah untuk menarik perhatiannya juga memberikan tatapan nakal untuk menggoda. Tidak, masih ada yang lebih parah, sebagian dari mereka mulai memberikan sentuhan-sentuhan unik memancing kepekaannya. Pria itu tersenyum, dan dalam hatinya berkata "Mereka benar-benar sangat berterus-terang."


Dia terus berpesta hingga bosan, kemudian memilih untuk duduk di ujung sebuah ruangan yang dingin dengan nyaman ditemani beberapa gadis pilihannya. Tidak melakukan apa-apa, hanya minum sepuasnya dengan menikmati pelukan atau pijitan dari mereka sambil melihat lautan manusia yang masih terus menari.


Untuk ciuman, maaf dia tidak tertarik apalagi untuk mencumbu atau membawanya ke ranjang.


Semuanya bersenang-senang sampai akhirnya pintu terbuka. Seorang pengunjung yang baru datang mengalihkan perhatian semuanya.


Dia adalah Jose yang datang ke klub malam hanya untuk mencari Edgar.


Pandangan Jose cukup jeli, karena di ruangan yang minim pencahayaan itu dia dapat menemukan Edgar dengan mudah. Sedang duduk di ujung dengan merangkul dua wanita dan masih ada beberapa lainnya yang sibuk melayaninya.


"Cih, pria memang brengsek!" umpat Jose, "tidak Louise, tidak Edgar, mereka sepertinya sama saja. Percuma saja aku kemari," batinnya.


Beberapa pria mulai mendekat, mencoba merayu dan membujuknya untuk menari bersama mereka. Tampil sok keren atau apalah-apalah, tapi tidak sedikitpun menarik perhatian Jose. Karena Edgar, sangat jauh diatas dari tampilan mereka.


Tangan-tangan dari sekumpulan pria idiot itu mulai bergerak, mencoba menyentuh dagu Jose. Jose sangat muak melihatnya, tapi masih tidak melakukan perlawanan karena dia tahu seseorang pasti akan datang sebentar lagi. Atau kalau tidak, orang itu akan berada dalam masalah karena telah mengabaikannya.


Dari tempatnya sekarang, Edgar bisa melihat semuanya. Namun masih enggan mendekat, dia masih menikmati segelas minuman ditangannya. Bukannya tak ingin menolong, tapi Edgar berencana menghampiri Jose kecilnya dan menyingkirkan para pengganggu di timing yang tepat agar terlihat keren.


Edgar yang Jose rindukan. Edgar yang selalu ada untuk Jose, pria yang sebelumnya tidak pernah membiarkan Jose sendirian ataupun kesepian. Karena Edgar selalu bersama Jose sebelum kecelakaan yang menimpa Jose hingga kehilangan ingatannya.


Iya, dialah Edgar. Seorang pria yang juga berdarah bangsawan yang berhasil mendapatkan ciuman pertama milik Jose saat mereka masih remaja. Karena hubungan mereka, awalnya tidak sedangkal apa yang orang pikirkan.


"Singkirkan tanganmu!" ucap Jose pelan tapi bisa didengar oleh sekumpulan lelaki pengganggu. Bukannya menurut mereka malah mengerubungi Joanna.


"Bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalau begitu, seseorang akan mematahkan tulang kalian," jawab Jose datar.


Edgar geleng-geleng kepala, karena semuanya masih tetap sama. Dia masih harus turun tangan untuk membereskan kumbang liar yang mencoba menyentuh bunganya. Bunga langka yang baru saja mengingat apa yang disebut itu 'rumah' baginya.


"Lihatlah kekacauan apa yang ditimbulkan oleh wajah cantikmu itu, Jose. Lagipula, kalau kau merindukanku tidak perlu sampai mencariku ke tempat ini bukan?" ucap Edgar pelan kemudian mulai bangkit dari duduknya yang nyaman.


"Kalian pergilah! Aku harus segera menolong wanitaku sebelum aku kehilangan manik-manikku," usir Edgar. Mengabaikan sekumpulan gadis berpakaian kurang bahan yang kini mendengus kesal.


Manik-manik ya?


Kelihatannya seperti itu, karena di mata Edgar Jose layaknya manik-manik indah yang harus dia jaga. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya atau pun mengotorinya. Karena manik-manik indah itu, tidak cocok untuk disentuh mereka yang bertangan kotor.


Jose memalingkan wajahnya begitu melihat Edgar mendekat dengan keren dan berdiri di belakang sekelompok pengganggu.


"Setelah sekian menit baru datang menghampiriku, Edgar kau cari mati," batin Joanna.


"Jangan mencoba untuk menyentuh bunga milikku!" ujar Edgar dingin, dengan tatapan mata yang tajam.


"Kau ini ... siapa?" tanya salah satu dari mereka. Sementara yang lainnya hanya melihat.


"Aku ini, kekasihnya. Jadi ... enyahlah!" usir Edgar.


"Nona ini bahkan tidak menyambutmu. Bagaimana kami bisa percaya?" tanya mereka lagi.


"Itu karena dia sedang marah padaku. Bukankah kesalahpahaman itu biasa terjadi pada setiap pasangan?" jawab Edgar.


Mereka masih belum juga beranjak. Malahan menatap Edgar dengan tatapan merendahkan. Edgar hanya sendirian, mereka banyak orang jadi takut apa. Itulah yang mereka pikirkan sekarang.


Karena tidak suka melihat ekspresi merendahkan dari sekumpulan pengganggu itu, Edgar pun tanpa segan menarik kerah salah satu dari mereka. Mengepalkan tangannya dan bersiap memberikan bogem mentah. Tapi terhenti karena Jose sudah mulai bersuara.


"Edgar, cukup!" kata Jose.


"Jose, aku belum mulai untuk bersenang-senang," jawab Edgar.


"Ikatlah bersamaku sekarang juga!" perintah Jose. Tanpa menunggu Edgar lagi, dia sudah berjalan meninggalkan Edgar yang masih mencengkeram kerah lelaki itu. Menunggu Edgar di dalam ruangan privat di dalam sana.


Edgar melepaskan tangannya, dan mendorong pria yang hampir jadi samsak tinjunya ke arah teman-temannya yang terlihat gemetar. Gemetar, karena dia baru sadar menyinggung orang yang salah setelah Jose menyebut nama Edgar.


Yah, Edgar.


Berandalan bertangan dingin yang ditakuti banyak orang. Memiliki begitu banyak pengikut setia dari segala penjuru dan pemilik tahta kehidupan malam. Di Kota Utara, Edgar lah yang terkuat. Masih ditambah dengan antek-anteknya yang berpusat di luar negeri, seharusnya bisa dikatakan Edgar kurang lebih setara dengan Louise.


.


.


.


"Dasar anak nakal, kau baru mengingat semuanya setelah lima tahun?" tanya Edgar saat dirinya sudah menyusul Jose dan duduk di sebelahnya. Edgar menepuk-nepuk kepala Jose, tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang putih, bersih dan rapi.


"Kau sedang mengejekku?" tanya Jose. Menatap Edgar dengan tatapan sinis. Kehilangan ingatannya, apakah Edgar pikir dirinya menginginkannya?


"Jose, kenapa kau masih saja sangat emosian dan keras kepala?" tanya Edgar.


"Jangan bicara omong kosong lagi. Mari bersulang!" ajak Jose, laku menuangkan sebotol alkohol untuk Edgar sebelum menuang untuk dirinya sendiri. Edgar menerima gelasnya, dan bersulang dengan Jose setelah sekian lama.


...***...