
"Xiao O, apa ini ulahmu?" tanya Joanna ketika melihat banyak hadiah yang dikirim kerumah mereka. Hadiah itu terus berdatangan sampai memenuhi salah satu ruangan kosong yang berukuran 6×6 meter. Oskar yang tahu mommynya akan marah hanya bisa bersimpuh menekuk lutut dan menundukkan kepalanya. Sementara Joanna, dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat selembar selebaran yang dia dapatkan dari jalanan.
"Mommy, Xiao O tahu salah," ucap Oskar pelan. Mendongakkan kepalanya dengan akting menyesal yang dibuat-buat.
"Xiao O, jangan menunjukkan akting seperti itu di depan mommy. Mommy tidak sedang melakukan casting artis cilik," kata Joanna dengan memukul ringan kepala Oskar dengan gulungan selebaran.
"Mommy!" rengek Oskar dengan menyentuh kepalanya.
Ting Tong
Joanna menoleh ke arah pintu. Lalu memeriksa jam ditangannya, sedikit heran karena sudah ada tamu pagi-pagi seperti ini, "Xiao O, kau dilarang pergi kemanapun sebelum memberikan penjelasan yang masuk akal kepada mommy, mengerti?" jelas Joanna, kemudian pergi untuk membuka pintu.
"Nenek?" kata Oskar, mengiba kepada Diaz yang duduk membaca buku tidak jauh dari tempatnya bersimpuh. Berharap Diaz akan membelanya nanti.
"Dengarkan saja saat mommymu marah," kata Diaz.
"Louise?" tanya Joanna ketika melihat siapa yang datang, "kenapa kau kemari. Bukankah aku sudah bilang tidak perlu mencariku?" tanya Joanna.
"Joanna, tidak perlu mengingatkannya. Aku tahu," jawab Louise.
"Lalu kenapa kau masih kemari?" tanya Joanna.
"Aku kemari untuk mencari anakku," jawab Louise.
"Anakmu, siapa yang kau sebut dengan anakmu?" tanya Joanna.
"Tentu saja Oskar, siapa lagi?"
"Sejak kapan dia jadi anakmu. Aku tidak merasa pernah membuatnya denganmu," kata Joanna mulai marah.
"Sejak dia memanggilku daddy, saat itulah dia jadi anakku. Lagipula, kalau kau tak menolaknya hari itu, bukankah harusnya calon adiknya sudah berada di perutmu sekarang?" jawab Louise, "minggir, aku mau lewat. Kau menghalangi jalanku!" perintah Louise sesuka hatinya.
"Louise!"
Louise hanya menoleh sebentar, sebelum akhirnya mengabaikan panggilan Joanna yang sudah siap mengusirnya, "sudah ku bilang aku tidak mencarimu," kata Louise kemudian berjalan mendekati Oskar. Oskar yang melihat Louise datang pun langsung bangkit. Segera berlari dan memeluknya, siap untuk mengadu bahwa mommy akan menghukumnya.
"Daddy!" kata Oskar dengan wajah yang sengaja dibuat memelas. Membuat Daddy Louise termakan aktingnya dengan uraian airmata.
"Jagoan kecil, kenapa kau menangis?" tanya Louise, lalu mengangkatnya.
"Mommy marah!" jawab Oskar.
"Lagi?" tanya Louise.
Oskar mengangguk, kemudian bersembunyi di pelukan daddynya, memeluk pria yang pasti membelanya saat ibunya marah, "Joanna, apa yang kau lakukan pada anakku. Kenapa dia sampai ketakutan begini?" bela Louise.
Joanna tidak tahu harus mengatakan apa, mulai memijit kepalanya yang semakin pusing. Kenapa dia seperti orang asing bahkan saat berada di rumah dan di depan anaknya sendiri, "Apa yang kau bicarakan, Louise. Dia itu anakku bukan anakmu. Jangan berbicara seolah kau itu ayahnya dan aku orang asing."
"Joanna daripada terus-terusan berebut anak, kenapa kita tidak memilikinya bersama-sama saja. Kau jadi ibunya dan aku ayahnya. Bukankah itu lebih baik. Dan lagi, kenapa kau selalu marah-marah padanya. Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Louise.
"Daddy!" kata Oskar, kemudian menyerahkan selebaran yang saat itu Louise sebarkan dengan mengerahkan anak buahnya.
"Apa ini?" tanya Louise dengan mengangkat satu alisnya. Tapi mengabaikan gambar dan tulisannya.
"Daddy, kan daddy yang membantuku hari itu. Apa daddy lupa?" tanya Oskar.
"Ah, apa ini selebaran yang ku sebarluaskan hari itu?" tanya Louise. Masih santai dengan kalimat yang dia katakan, tanpa menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Joanna sangat marah di belakangnya.
"Oh, jadi ini ulahmu juga?" tanya Joanna. Kemarahannya sudah memasuki tahap puncak saat ini.
"Iya, aku yang melakukannya. Tapi, apa masalahnya?" tanya Louise.
"Daddy, lihat dulu isinya!" pinta Oskar.
Louise pun kembali memungut selebaran yang sudah dia hempaskan. Lalu mulai melihat foto dan membaca baris demi baris yang tertulis diatasnya. Melirik Joanna sebentar, sebelum menelan ludahnya dengan kasar.
"Oskar, kenapa kau sangat nakal. Kenapa tidak memberitahu daddy kalau isinya seperti ini?" tanya Louise panik, "Itu, Joanna aku tidak tahu kalau isinya seperti itu, jadi,-"
"Kalian berdua keluar, jangan pernah kembali sebelum memungut semua selebaran yang bertebaran di jalanan itu!" usir Joanna.
"Apa?" kata Louise tak berdaya. Hanya bisa pasrah saja saat Joanna mendorongnya keluar bersama-sama dengan Oskar. Kemudian mengunci pintunya dari dalam sana.
Dengan cepat Louise segera menghubungi anak buahnya, meminta mereka memungut kembali selebaran yang sudah mereka sebarkan berminggu-minggu yang lalu sebelum Joanna semakin marah dan tidak mengijinkan mereka masuk rumah.
"Kenapa dia selalu saja membuat masalah," gerutu Joanna dari dalam rumah.
Lagi, dua orang dewasa itu kembali bertengkar seperti biasanya. Untung saja seorang malaikat datang di saat yang tepat. Seorang pengantin baru yang harusnya sedang dalam perjalanan untuk berbulan madu, "Apa yang kalian lakukan?" tanya Arthur ketika melihat Louise dan Oskar di depan pintu. Tidak sendirian, karena tangannya menarik William yang masih mengenakan jas lengkap. Maklum, sebelumnya William akan pergi ke perusahaan seperti biasa sebelum akhirnya di culik oleh Arthur.
"Arthur, kenapa kau disini. Bukankah seharusnya kau pergi bulan madu?" tanya Louise.
"Aku ketinggalan pesawat," jawab Arthur singkat.
"Ketinggalan pesawat, apa kau tak pernah naik pesawat sebelumnya?" tanya Louise heran.
"Arthur, lepaskan. Kita sudah sampai, tidak perlu menarikku seperti ini," pinta William.
Arthur pun segera melepaskan William, kemudian menoleh kearah Louise yang masih menggendong Oskar, "Louise, karena itulah aku mencarimu," jawab Arthur.
"Kenapa kau mencariku. Apa kau ingin mengajakku bulan madu dan membiarkan aku jadi setan?" tanya Louise.
"Louise, daripada jet pribadimu itu karatan, kenapa tidak memakainya sesekali untuk jalan-jalan. Istriku sedang dalam perjalanan kemari membawa Marissa dan Ebra. Lalu pria ini juga sudah ada disini. Apa kau tidak berencana menyenangkan hati teman-temanmu untuk berkunjung ke pulau yang baru kau beli itu?" tanya Arthur.
"Oh, menarik. Sudah lama aku tidak liburan seperti itu," jawab Louise.
"Jadi tunggu apa lagi, segera hubungi orang-orangmu untuk mempersiapkannya!" perintah Arthur.
"Arthur, itu soal mudah. Hanya saja, ada hal yang harus kau lakukan. Tolong bantu aku membujuk istri masa depanku itu, aku dan anak nakal ini baru diusir beberapa menit yang lalu," kata Louise menyetujui. Tentu saja dia juga sudah mengambil ponselnya untuk menghubungi orang-orangnya di rumah untuk menyiapkan liburan dadakannya.
"Bukan masalah," jawab Arthur menyanggupi.
Arthur pun segera memanggil Joanna, memintanya untuk segera membuka pintu karena ada banyak tamu di depan rumah.
"Arthur, kenapa kau kemari. Kenapa membawa William bersamamu tapi tidak membawa Alexa?" tanya Joanna. Sepertinya Joanna masih sangat marah kepada Louise, mencari yang tidak ada dan mengabaikan dua pria yang tadi diusirnya.
"Kenapa?" tanya Joanna.
"Pergi bulan madu," jawab Arthur santai.
"Kau yang menikah, kenapa aku yang pergi bulan madu?" protes Joanna.
"Joanna, ayolah. Sudah lama kita tidak liburan bersama kan. Lagipula kali ini formasinya sudah lengkap," bujuk Alexa yang baru datang. Sedikit berlari dengan menarik Marissa dan Ebra bersamanya.
"Kalau kalian ingin pergi ya pergi saja. Aku dan Xiao O tidak akan ikut," kata Joanna.
"Mommy, Xiao O tidak bilang tidak ingin ikut," kata Oskar.
"Kau dengar kan, Xiao O ingin ikut," kata Alexa.
"Kalau begitu bawa saja dia. Bukankah biasanya kalian membawanya pergi bersama kalian?" tolak Joanna.
"Masalahnya kalau kau tak pergi, Louise brengsek ini tidak akan mungkin mengeluarkan pesawat pribadinya itu dari kandang," jelas Arthur.
"Kalian kan bisa naik pesawat seperti penumpang pada umumnya," kata Joanna tak habis pikir.
"Joanna, kalau ada yang gratis kenapa harus repot-repot mengeluarkan uang. Lagipula calon suamimu ini sangat kaya, aku hanya mengajarimu bagaimana caranya menghabiskan uangnya yang hampir lumutan itu," desak Arthur.
"Arthur!" teriak Joanna.
"Joanna!" teriak Arthur dan Alexa bersamaan.
"Ck, baiklah aku akan pergi. Tapi, aku tidak ingin pria ini dekat-dekat denganku," kata Joanna dengan menunjuk kearah Louise.
"Joanna, aku tokoh utamanya disini. Kenapa kau memperlakukan aku secara tidak adil begini?" protes Louise.
"Itu karena kau sangat mesum!" jawab Joanna.
"Baiklah, aku tidak akan dekat-dekat denganmu," kata Louise menyanggupi.
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Joanna, cepat kemasi barangmu sekarang juga!" perintah Alexa.
"Tunggu, aku berubah pikiran!" kata Louise tiba-tiba.
"Apalagi?" tanya Arthur.
"Aku tidak akan mengeluarkan pesawat dari kandang sebelum wanita ini menciumku dan mengatakan aku mencintaimu Louise," kata Louise licik.
"Louise, hentikan. Kapan kita berangkat jika terus begini?" larang Arthur.
"Arthur, aku tak keberatan mengeluarkan pesawat pribadiku, masih membiarkan kalian berlibur di pulau yang bahkan belum sepenuhnya selesai dibangun untuk kalian nikmati. Lalu tidak boleh dekat-dekat dengan wanita ini, kenapa aku harus merugi sebanyak itu?" protes Louise.
"Aku tidak mau," tolak Joanna.
"Will, tolong pegang anak ini dan jangan biarkan dia mengintip," perintah Louise kemudian menyerahkan Oskar pada William.
"Kau mau apa?" tanya William.
"Karena wanita ini menolak untuk menciumku, maka biarkan aku yang menciumnya. Ayo!" katanya sambil menarik tangan Joanna dan menutup pintu.
.
.
.
Dan disinilah mereka berdelapan sekarang. Berada di landasan pacu yang terletak di samping bangunan villa milik Louise. Untuk yang kedua kalinya, akhirnya Joanna kembali menginjakkan kakinya disini.
Pria bertangan retak itu sudah ganteng maksimal dengan kacamata hitamnya. Dengan rambut yang berkibar-kibar ditiup angin, tubuh atletis menjulang tinggi dan banyak uang, masih menggandeng seorang wanita cantik dan seorang anak yang lucu membuatnya seperti tokoh utama dalam film dengan peran sebagai ayah yang keren.
Louise, dia memegang tangan Joanna dengan mesra seperti biasanya di urutan paling belakang. Membiarkan pasangan William dan Arthur berjalan mendahului mereka di depannya.
"Joanna, apa kau ingat apa yang kita lakukan disana?" tanya Louise dengan menunjuk ke pinggiran arena tembak. Membuat Joanna mengingat kembali kejadian memalukan yang sangat ingin dia lupakan.
"Aku tidak ingat," jawab joanna singkat. Tanpa melihat, Joanna sudah tahu bahwa tempat yang ditunjuk Louise adalah tempat dimana Louise mencuri ciuman Joanna dan memeluk serta menjelajahi dirinya seenak jidatnya.
"Joanna, kenapa ingatanmu benar-benar payah. Haruskah aku membantumu mengingatnya saat di pesawat nanti?" tawar Louise.
"Louise, kenapa kau selalu mesum saat di depanku. Jika hanya kalimat seperti itu yang ingin kau bicarakan, maka tutup saja mulutmu," kata Joanna memperingatkan.
"Joanna, itu tandanya aku setia padamu. Apa kau lebih suka kalau aku mesum di belakangmu. Lagipula aku pria normal, bagaimana bisa seorang pria kau pisahkan dengan hal-hal berbau mesum seperti itu?" tanya Louise balik.
"Terserah kau saja!" jawab Joanna, kemudian melangkah lebih cepat untuk mendahului Louise.
Louise hanya tersenyum melihat Joanna yang membawa Oskar pergi mendahuluinya dan berhenti ketika yang lainnya mulai naik ke dalam pesawat. Mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang harusnya dia panggil sebagai ayah mertua mulai sekarang, "Apa Anda masih mengingatku, Ayah?" tanya Louise saat Sir Alex menjawab panggilannya.
"Tuan Muda Matthew, apa kau sudah mengerti sekarang?" jawab Sir Alex dari seberang sana.
"Yah, meskipun sangat terlambat, tapi pada akhirnya aku tahu kalau Joanna adalah putrimu," jawab Louise.
"Ada apa, kenapa Tuan Muda Matthew tiba-tiba menghubungiku. Siapa yang memberimu ijin memanggilku dengan sebutan ayah?" tanya Sir Alex.
"Aku tidak memerlukan ijin dari siapapun untuk memanggil Anda dengan sebutan ayah. Ayah, aku ingin mengundangmu untuk hadir di suatu tempat. Aku akan segera mengirim lokasinya setelah aku menutup teleponnya," kata Louise.
"Mengundangku, untuk apa?" tanya Sir Alex.
"Tentu saja karena aku ingin berterimakasih atas bantuan yang ayah mertua berikan hari itu. Selain itu, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan berdua," kata Louise.
"Baiklah, kirimkan dimana lokasinya. Aku pasti akan datang memenuhi undangan Tuan Muda dari keluarga Matthew," jawab Sir Alex tanpa tahu apa maksud Louise sebenarnya.
"Ayah mertua, sudah begini kenapa tidak segera memanggilku dengan sebutan menantu?" protes Louise mulai sebal.
"Nak, jalanmu masih panjang jika ingin menjadi menantuku," jawab Sir Alex diselingi tawa yang membuat Louise semakin gemas. Lalu tanpa aba-aba sudah menutup teleponnya.
"Tidak ayahnya, tidak anaknya. Kenapa kalian berdua sama-sama menyebalkan. Untung saja Oskar yang manis itu tidak seperti kalian," gumam Louise sebelum akhirnya menyusul rekan-rekannya untuk naik ke pesawat.