
"Paman Arthur!" sapa Oskar dengan suara lantang setelah membuka pintu.
Arthur menoleh, tersenyum secerah cuaca hari ini saat melihat Oskar yang sudah berlari kearahnya dan langsung duduk manis di pangkuannya tanpa izin. Beberapa detik kemudian, sebuah toyoran langsung mendarat di kepala Oskar saat anak itu meletakkan pantatnya di paha Arthur dengan kasar. "Tumben kau ingat dengan pamanmu ini!" protes Arthur.
"Habisnya Xiao O punya banyak ayah sekarang. Jadi paman terlupakan," jawab Oskar tanpa sungkan. Anak itu tersenyum menanggapi protes dari pamannya. Kemudian sibuk meletakkan dan mengeluarkan bekal milik pamannya yang sejak tadi ada di genggaman tangannya.
Melihat itu, Arthur berpaling kepada Joanna. "Kau juga, setelah setahun lamanya apa kau baru ingat untuk memberiku makan sekarang. Seandainya aku hewan peliharaan, aku pasti sudah mati sejak berbulan-bulan yang lalu," protes Arthur.
"Maafkan aku. Untuk itulah aku datang kemari. Aku ingin menebusnya sekarang," jawab Joanna dengan senyum yang mengembang.
Dulu, Joanna sering liburan dengan Arthur dan Alexa. Memasak bersama dengan Alexa dan membiarkan Oskar menganggap Arthur sebagai ayah. Lalu orang-orang akan mengira Arthur memiliki dua istri dan satu anak yang lucu. Tapi sekarang mereka sudah jarang melakukan hal seperti itu. Bahkan memasak pun, Joanna sudah sedikit malas sejak ingat siapa dirinya.
Joanna menarik kursi di depan meja Arthur, lalu duduk disana dan melepaskan gendongan Reagan untuk dipeluk. "Reagan, lihatlah. Paman Arthur ada di depanmu. Apa kau tidak ingin menyapanya?" tanya Joanna.
Bayi yang hanya mengenakan kaos kaki tanpa sepatu itu hanya melihat Arthur dengan mata yang lebar. Sesekali melihat ibunya, sesekali melihat kakaknya, sesekali melihat pamannya. Reagan juga masih setia memakan jarinya yang masih utuh sebelum berbicara dengan bahasa yang hanya diketahui oleh ibunya.
"Ah, Reagan memang lucu. Tapi George ku lebih lucu," komentar Arthur tak ingin mengalah.
"Tentu saja bagimu George lucu. Dia kan anakmu," timpal Joanna.
Mendengar pujian untuk bayi-bayi itu rupanya membuat Oskar cemburu. "Mommy, paman, kalian salah. Xiao O yang lebih lucu!" protes Oskar dengan mulut yang sudah monyong sempurna dan berpura-pura sedih sehingga membuat Joanna dan Arthur tertawa bersama.
"Apa paman lupa paman pernah bilang Xiao O yang paling lucu dan selamanya akan tetap jadi yang paling lucu?" tanya Oskar. Anak itu rupanya sedang memperingatkan kalimat yang sering Arthur katakan selama ini.
"Maafkan aku pangeran kecil. Paman sudah tua, sampai lupa bahwa hanya Xiao O kesayangan paman inilah yang paling lucu," kata Arthur kemudian mencium anak itu. "Karena kau lucu, bisakah memberikan ciuman untuk pamanmu ini?"
Oskar tidak protes lagi sekarang. Tapi langsung mencium pria yang sangat rajin mengganti pampers miliknya saat dia masih bayi dengan penuh kasih sayang.
"Makanlah selagi hangat!" kata Joanna.
Tidak seperti William yang menyimpan makanannya. Arthur malah bergegas merapikan tumpukan pekerjaannya. Lalu pergi mencuci tangan dan siap makan dengan lahap. Tapi dia terkejut saat melihat isinya yang berantakan.
"Joanna, kenapa isinya seperti bubur diaduk begini?" tanya Arthur ketika melihat bekalnya berubah bentuk karena goncangan yang diberikan Oskar saat berlari tadi.
Sebuah pukulan dari sepasang sumpit itu mendarat di kepala Joanna. Membuat Joanna tertawa saat melihat bekal yang sangat acak-acakan. "Arthur, maafkan aku. Tadi bentuknya tidak seperti ini," kilah Joanna.
"Lain kali, saat kau ingat untuk memberi aku makan, aku tidak ingin bentuk yang amburadul seperti ini. Kau harus ingat itu!" protes Arthur dengan mengaduk bekal itu dan tetap memakannya dengan lahap.
"Kenapa kau masih memakannya?" tanya Joanna.
Satu pertanyaan itu sukses membuat Arthur meletakkan sumpitnya. "Lalu aku harus bagaimana. Karena kau sudah bekerja keras membuatnya, maka aku akan tetap memakannya. Lagipula aku sudah lama tidak menyantap makanan buatanmu yang rasanya tidak buruk," goda Arthur.
"Paman, paman salah. Yang benar masakan mommy sangat enak," ralat Oskar.
"Baiklah, masakan mommy memang yang paling enak!" puji Arthur.
Arthur kembali mengambil sumpitnya, lalu memakan bekalnya sampai habis tak tersisa di depan Joanna. Oskar bahkan dengan manis membantu Arthur membuka tutup botol mineral agar pria itu segera melepas dahaganya.
"Terimakasih!" kata Arthur kemudian mencium Oskar dan mencubit pipinya.
Tepat saat itu, ponsel Arthur berdering dan nama Alexa tertera sebagai pemanggil. Oskar pun mengangkatnya tanpa merasa sungkan. "Bibi Al, ini aku!"
"Bibi, dia kan pamanku. Kenapa aku tidak boleh bersama paman. Bibi, aku tidak sekolah hari ini. Untuk itulah aku mengunjungi paman," jawab Oskar.
"Oh, kau tidak sekolah. Tidak mengunjungi bibi dan Adik George, tapi hanya mengunjungi pamanmu. Xiao O, kenapa kau jadi seperti kacang lupa kulit. Apa kau tidak ingat siapa yang membawamu ke rumah sakit saat kau dibuang mamamu waktu itu?" omel Alexa.
"Aku tidak ingat. Aku kan masih merah," jawab Oskar tanpa dosa.
"Tapi kan kau sudah tahu sekarang. Katakan, kapan kau akan mengunjungi bibi. Apa kau pikir hanya Adik Reaganmu saja yang lucu. Lihatlah, Adik George juga lucu tahu. Dia bahkan sudah bisa berdiri sekarang!" pamer Alexa.
"Ah, benarkah?" tanya Oskar.
"Tentu saja benar. Makanya cepat kemari dan lihatlah!" jawab Alexa kemudian menunjukkan George yang mencoba berdiri.
Melihat George yang sudah berdiri membuat Oskar menoleh kepada mommy. "Mommy, Xiao O mau lihat Adik George!"
"Xiao O, apa mommy disitu juga?" tanya Alexa.
"Eum, Xiao O kemari bersama mommy dan Adik Reagan," jawab Oskar.
"Tumben sekali kalian datang. Memangnya apa yang kalian lakukan?" tanya Alexa.
Bukannya menjawab pertanyaan Alexa, Oskar malah protes karena Alexa tidak memberi pamannya makan siang. "Bibi, kenapa bibi tidak datang kemari dan mengantar makan siang untuk paman. Lihatlah, mommy tidak hanya memasak untuk paman. Tapi mommy juga sedang menemani paman makan sekarang!" kata Oskar dengan menunjukkan wajah mommynya dan bekal yang sudah kosong melompong.
"Oh, jadi maduku ada disitu sekarang?" tanya Alexa.
Oskar yang tidak tahu arti sesungguhnya dari madu pun menoleh dan bertanya pada ibunya. "Mommy, apa bibi punya madu. Bukannya hanya lebah yang punya madu?"
"Jangan hiraukan Bibi Alexa. Dia berbicara sembarangan dan membicarakan madu yang lain!" jawab Joanna.
"Joanna, apa kau sedang menggoda suamiku. Kenapa tidak menemuiku dan memilih menemuinya sih. Aku juga rindu tahu!" protes Alexa.
"Tidakkah kau berlebihan. Kita baru saja jalan-jalan saat mereka pergi kan?" tanya Alexa.
"Itu beda lagi, Joanna! Tunggu, apa kau tidak ingin kemari. Lihatlah, anakku sudah mulai berdiri sekarang. Eh, mana Reagan. Aku belum melihatnya sejak tadi," cerocos Alexa.
Joanna pun menunjukkan Reagan, sementara Alexa menunjukkan George. Dua bayi itu hanya tatap-tatapan sebelum saling mengabaikan. Padahal, saat mereka bertemu mereka sering berbicara dengan bahasa mereka sendiri sampai melupakan ibu mereka masing-masing.
"Al, sekali-kali kau juga harus mengantarkan makan siang untuk suamimu," kata Joanna.
"Aku tahu, aku ingin melakukannya tapi Arthur tidak ingin aku repot. Karena kau sudah memberinya makan hari ini, kenapa tidak memberinya makan untuk seterusnya?" tawar Alexa.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya!" canda Joanna.
"Joanna, apa kau tidak ingin ke rumahku. Kedua ibuku ada disini. Mereka pasti senang jika kau datang dengan membawa dua anak nakal itu," pinta Alexa.
"Sekarang?" tanya Joanna.
"Iya sekarang," jawab Alexa.
...***...