CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kenapa Kau Juga Punya?



"Anak pintar!" puji Joanna ketika Oskar tidak menyisakan sedikitpun makan siangnya kali ini.


"Mommy, bukannya mommy bilang akan ada hadiah jika Xiao O menghabiskan semuanya?" tanya Oskar dengan wajah berbinar.


"Tentu saja ada," jawab Joanna tak kalah berbinar dengan mencubit pipi Oskar yang sudah kembali menjadi seperti bakpao.


Joanna meletakkan piring itu ke meja. Lalu mencium seluruh wajah Oskar sebagai hadiahnya.


"Mommy, apa tidak ada hadiah yang lain. Xiao O bosan dengan ciuman mommy!" tolak Oskar dengan tangan mungilnya. Tidak lupa segera mengusap bekas ciuman yang mendarat di wajahnya.


"Apa katamu, bosan?" tanya Joanna.


"Hmph!" Oskar merajuk.


Setelah berhasil melakukan transplantasi dan otewe sehat, sepertinya dia sudah menunjukkan tanda-tanda kembali nakal seperti dulu lagi. Suka hilang-hilangan, kabur-kaburan dan membuat mommynya selalu uring-uringan.


"Xiao O, mommy lupa. Sepertinya mommy sudah lama tidak memberikan hukuman untukmu kan?" tanya Joanna memperingatkan.


"Mommy, Xiao O hanya bercanda," jawab Oskar dengan memainkan dua jari telunjuknya. Wajah imut itu tersenyum grogi. Sepertinya dia baru mengingat pesan daddynya beberapa waktu yang lalu. Mommy bukan orang yang dulu lagi. Jadi jangan membuat mommy marah atau mommy akan menjungkirbalikkan dunia.


"Mommy, jangan marah ya?" pinta Oskar mengiba.


Dia tidak kehabisan akal, karena setelah melihat mommy tidak menyahut kalimatnya, dia langsung mendekatkan wajahnya.


"Mommy, Xiao O hanya bercanda. Xiao O tidak bosan dengan ciuman kasih sayang dari mommy kok," kata Oskar lagi. Lalu segera mengambil inisiatif untuk mencium seluruh wajah ibunya dengan menunjukkan wajah imutnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Joanna ketika Oskar berhenti menciumnya.


"Apa masih kurang?" tanya Oskar.


"Tentu saja masih kurang. Ayo sini, cium mommy lagi!" pinta Joanna kemudian mendekatkan pipi kanannya pada Oskar.


Oskar memonyongkan bibirnya, siap mencium mommy. Tapi mulut mungilnya tertahan tangan kekar milik daddynya.


"Kalau kurang, minta saja pada daddynya. Kenapa malah meminta pada anak kecil yang belum sepenuhnya sehat. Bukankah ciuman dari daddynya lebih menyenangkan dan membuatmu tegang?" tanya Louise. Kemudian mengangkat dagu Joanna dan mendaratkan ciumannya disana.


"Itu hanya alasanmu untuk menciumku kan?" tanya Joanna.


"Bukan, aku hanya mengurangi kebiasaan Oskar yang selalu menciummu. Mau jadi apa saat dia besar nanti jika masa kecilnya kau isi dengan ciuman?" tanya Louise.


"Aku kan ibunya, benar kan Oskar?" jawab Joanna.


"Daddy. Apa daddy cemburu?" tanya Oskar.


"Tentu saja," jawab Louise.


"Kalau begitu segera berikan adik yang banyak dan lucu agar Xiao O punya kesibukan!" pinta Oskar.


"Tunggulah sampai kau sehat. Daddy akan memberikan yang banyak untukmu," kata Louise.


"Xiao O, apa kau terlalu nganggur sampai meminta banyak adik?" tanya Joanna, "Louise, kau juga. Jangan selalu memanjakannya dengan menuruti semua permintaannya," tegur Joanna.


"Mau bagaimana lagi, dia kan anakku. Benar kan, Oskar?" kilah Louise.


"Daddy, i love you!" kata Oskar kemudian menggelayut manja di pelukan Daddy Louise.


"Kalian ini benar-benar," keluh Joanna.


"Baiklah, daddy harus segera kembali ke perusahaan. Sampai jumpa nanti!" pamit Louise.


Louise mencium Oskar kemudian meletakkannya kembali ke ranjang dan mencium Joanna lagi, "Joanna, ada yang ingin ku katakan padamu malam nanti. Tunggu aku di rumah!" pesan Louise sebelum pergi.


"Aku mengerti," kata Joanna.


Joanna mengantar kepergian Louise sampai di depan pintu kamar. Kemudian segera kembali untuk berpamitan dengan Oskar karena dia juga harus mengurus bayi besarnya sekarang.


"Sayang, mommy pergi melihat Paman William dulu ya? Nenek Diaz seharusnya akan segera kembali. Xiao O berani sendirian kan?" tanya Joanna berpamitan.


"Iya, mommy!" jawab Oskar.


Joanna pun segera melangkahkan kakinya ke kamar William. Memastikan keadaan bayi besarnya baik-baik saja.


William menoleh sebentar saat mendengar seseorang membuka pintu. Tapi perhatiannya kembali tertuju pada layar laptopnya setelah dia tahu siapa yang datang, "Jo, kau datang?"


"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna.


"Kau belum makan siang?" tanya Joanna setelah melihat makanan yang belum tersentuh.


"Aku akan memakannya sebentar lagi. Ini hampir selesai," jawab William.


"Tapi ini sudah lewat tengah hari. Cepatlah makan, kau harus minum obatmu setelah itu," kata Joanna mengingatkan.


"Aku tahu. Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku ini sebentar lagi. Lagipula lima belas menit lagi aku selesai," janji William.


"Tapi aku tidak mau menunggumu lagi meskipun hanya lima belas menit," tolak Joanna.


"Jo, aku tidak memintamu untuk menunggu. Hanya makan dan minum obat saja aku bisa melakukannya sendiri nanti. Kau pergi saja dan temani Oskar, dia pasti sendirian sekarang kan?" tanya William.


"Tapi kakakmu yang protektif itu memintaku untuk memastikan kau makan dan minum obat tepat waktu," desak Joanna.


"Jo, please! Ini tanggung," tolak William.


Joanna mengerutkan dahinya. Dia tidak boleh pergi sebelum melihat William minum obatnya. Karena Louise itu akan menceramahinya dengan beribu-ribu kalimat jika dia teledor sedikit saja. Belum lagi harus menerima hukuman yang luar biasa ekstrim yang Louise berikan secara pribadi seperti biasanya.


Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Joanna memutuskan untuk menyuapi William. Daripada menunggu selama lima belas menit dan tidak melakukan apa-apa bukankah dia bisa menggunakan waktunya untuk menyuapi William?


"Buka mulutmu!" perintah Joanna.


William yang sejak tadi lumayan acuh akhirnya menoleh, melihat Joanna yang sudah siap menyodorkan sesendok makanan ke mulutnya dengan mata yang lebar, "Apa yang kau lakukan?" tanya William.


Sedikit sanksi melihat calon kakak iparnya menyuapinya seperti ini. Lagipula Marissa yang notabene pacarnya saja tidak pernah memperlakukannya seperti ini.


"Aku bilang buka mulutmu, Will!" tegas Joanna.


"Hentikan, aku tidak perlu kau suapi," tolak William.


"William?" panggil Joanna dengan nada pelan tapi tegas.


..."Kalau dia sudah marah, dia bisa mematahkan tulangmu. Singkatnya, kau bisa mati di tangannya,"...


Sebuah kalimat yang pernah Louise ucapkan tiba-tiba melintas di pikiran William, "Wanita ini benar-benar merepotkan. Ya sudahlah, kali ini sebaiknya aku menurut," batin William.


"Berikan sendoknya padaku, aku bisa makan sendiri." William akhirnya mengalah, segera meringkas laptopnya dan segera makan sebelum jelmaan rubah betina di depannya ini membunuhnya.


"Kalau kau menurut, aku tidak perlu marah-marah seperti tadi kan?" ucap Joanna ketika William mulai makan.


"Kau bisa pergi sekarang!" usir William.


"Tapi aku belum melihatmu minum obat," tolak Joanna.


"Aku akan mengirimkan fotonya untuk Louise nanti. Kau bisa pergi sekarang," desak William.


"Bagaimana kalau kau menipuku?" tanya Joanna.


"Bagaimana agar kau percaya?" tanya William.


"Kirimkan fotomu saat minum obat padaku, lalu biar aku yang meneruskannya ke Louise," jawab Joanna.


"Baiklah, aku akan mengirimkannya nanti," janji William.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang."


Joanna bangkit, siap kembali ke kamar Oskar. Tapi matanya menangkap sebuah benda yang tidak asing di meja saat dia mengambil ponselnya.


"Kenapa benda ini ada disini. Kapan aku membawanya kemari? Seingatku aku menyimpannya di rumah," batin Joanna. Sedikit bingung, tapi dia tetap mengambil dan memakainya karena mengira liontin itu adalah miliknya.


"Apa kau menyukainya?" tanya William saat tahu Joanna memakainya.


"Tidak juga," jawab Joanna.


"Lalu kenapa kau memakainya. Cepat kembalikan padaku!" kata William dengan menyodorkan tangannya.


"Kenapa aku harus mengembalikannya padamu?" tanya Joanna masih tidak mengerti.


"Karena itu milikku," jawab William.


...***...