
Joanna tertegun mendengar doa-doa Oskar. Jika anak itu memanggil Juan dengan sebutan daddy dan mengganti panggilannya untuk Louise dengan sebutan paman, bukankah itu berarti Louise bukan ayah Oskar. Kapan Oskar tahu, siapa yang memberitahu. Lalu kenapa dirinya tidak tahu?
Joanna menarik tangan Louise, membuatnya menoleh padanya yang sempat terabaikan karena Louise sibuk menemani Oskar berdoa.
"Louise, apa Xiao O bukan anakmu?" tanya Joanna memastikan.
Louise tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan, tapi mulai sekarang dia jadi anak kita," jawab Louise.
"Bukan?" tanya Joanna. Masih mencerna kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Louise.
"Kenapa wajahmu jadi pucat. Apa kau sakit lagi?" tanya Louise.
"Tidak, aku baik-baik saja, kok!" jawab Joanna dengan mata yang lebar karena mengingat janji yang keluar dari mulutnya beberapa hari yang lalu. Joanna menggigit bibirnya, menyesali kesalahan besar yang telah dia lakukan.
..."Seandainya aku masih belum punya anak maukah kau meminjamkan rahimmu untuk calon anakku?"...
..."Tentu saja."...
..."Berapa banyak?"...
..."Sebanyak yang kau mau."...
Rentetan kalimat itu mulai bermunculan. Joanna berbohong, dia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Karena saat ini mulai bergidik ngeri karena sudah membayangkan bagaimana sakitnya kepala bayi yang sepertinya akan segera melewati terowongan pribadinya.
Kira-kira berapa banyak anak yang Louise inginkan. Louise tidak ingat pembicaraan mereka waktu itu kan. Karena kalau iya, sepertinya Joanna akan segera sering lembur atau bahkan begadang sampai pagi.
"Aku ... bagaimana bisa mulutku begitu sembrono. Di masa depan aku tidak akan sembarangan berbicara lagi. Tidak akan berprasangka buruk lagi dan tentu saja tidak akan mudah mengiyakan sebuah janji. Dan yang pasti aku akan mempercayai Louise. Ck, Joanna kenapa kau sangat bodoh?" rutuk Joanna pada dirinya sendiri dengan membungkam mulutnya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Louise.
"Louise?" tahan Joanna sebelum mereka benar-benar pergi.
"Hm?" jawab Louise.
"Maafkan aku!" kata Joanna.
"Maaf?" tanya Louise tidak mengerti.
"Aku minta maaf padamu," lanjut Joanna.
"Apa kau melakukan kesalahan?" tanya Louise.
"Karena aku tidak sepenuhnya mempercayaimu sebelumnya," jawab Joanna.
"Bukan masalah," jawab Louise.
Merekapun kembali. Louise mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan pulang kali ini Oskar tertidur pulas dengan posisi yang sama seperti biasanya. Memeluk ibunya erat-erat dengan menyandarkan kepalanya di dada Joanna yang nyaman. Sementara Joanna lebih banyak diam.
Dari tempatnya mengemudi, Louise bisa melihat Oskar yang malah semakin terlihat imut. Bulu matanya yang panjang seperti sikat, kulitnya yang putih bersih dan mulutnya yang sedikit terbuka karena salah satu pipinya tergencet dada Joanna yang malah membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Sebenarnya, entah dada Joanna atau wajah Oskar tapi dua-duanya sama-sama membuat Louise ketagihan. Ketagihan memandang Oskar, dan tentu saja ketagihan memegang sesuatu yang sekarang digunakan Oskar sebagai bantal. Melihat pemandangan yang menentramkan hati seperti ini, jujur saja Louise ingin sekali menambah jumlah anak secepatnya.
"Adikku, kau benar-benar pintar dalam urusan membuat anak," puji Louise dalam hati.
Kembali kepada Oskar, sepertinya dia sangat lelah setelah melewati perjalanan disaat kondisinya sedang tidak sehat. Untungnya Joanna merawatnya dengan baik dan telaten seperti ibu-ibu pada umumnya.
Joanna juga terus menciumi Oskar disaat Oskar sedang terbuai di alam mimpi. Tak terhitung berapa kali Joanna tersenyum saat melihat wajah tampan pangeran kecil itu begitu nyaman tertidur di pelukannya. Sesekali, Joanna memainkan kedua pipi Oskar. Menekannya hingga membuat mulutnya mengerucut.
Keberadaan Oskar sepertinya membuat Joanna benar-benar lupa dimana dia berada. Melupakan adanya satu manusia lain yang hidup disampingnya yang terus-terusan mencuri pandang kearahnya. Orang itu adalah Louise. Louise yang sibuk menyetir dan terabaikan karena keimutan hakiki milik Oskar.
"Sampai kapan kau akan terus menciumnya?" tanya Louise sinis. Dia sangat lelah, sudah berwajah tampan dan bertubuh atletis tapi bisa-bisanya diabaikan oleh Joanna.
Sepertinya, jika Louise tidak salah hitung seharusnya sudah puluhan kali Joanna mencium Oskar selagi anak itu tidak sadar. Bahkan mungkin skala hitungannya hampir mendekati angka seratus.
Joanna menoleh sebentar kemudian berkata dengan pelan, "Selamanya."
Louise kembali memutar kepalanya untuk melihat Joanna yang masih memainkan pipi Oskar, dan mulai protes atas ketidakadilan itu, "Tidak masalah jika kau ingin mencium Oskar selamanya. Tapi, setidaknya bisakah kau bersikap adil?" tanya Louise.
"Adil?"
"Joanna, bukan hanya Oskar yang menantikan ciuman darimu, ada aku juga. Aku menghitung setidaknya sudah puluhan kali kau mencium Oskar. Tapi kenapa tidak ada satupun ciuman darimu yang mendarat untukku?" protes Louise.
"Menurutmu?"
"Jangan ke kanak-kanakan. Bukankah wajar jika aku menciumnya, dia kan lucu?" balas Joanna.
Mendengar jawaban Joanna, Louise sudah bisa menduga kemana arah pembicaraan mereka. Berdebat lagi, itu sudah pasti.
"Terserah kau saja, aku tidak akan peduli lagi sekarang. Terserah berapa ratus kali lagi kau akan mencium Oskar hari ini. Tapi, malam nanti kau harus membayar semua ketidakadilan ini untukku," tegas Louise.
"A-apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Joanna tanpa melihat kearah Louise. Apa iya proses pembuatan anak itu akan dimulai malam ini.
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Hanya, persiapkan saja dirimu," jawab Louise.
"Memangnya apa yang harus ku siapkan?" sewot Joanna pelan. Berusaha mengalihkan pembicaraan namun gagal. Tapi Louise mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ah, benar juga. Tidak ada yang perlu kau siapkan karena kau hanya perlu menikmatinya. Tenanglah dan jangan khawatir, aku akan berusaha keras untuk membuatmu merasa nyaman," kata Louise.
Joanna hampir muntah darah mendengar kalimat yang diucapkan Louise. Kenapa, pria ini semakin mesum dari hari ke hari?
"Hanya dalam mimpimu, aku akan mengusirmu setelah aku sampai rumah," batin Joanna.
Joanna tidak lagi menanggapi kalimat Louise. Dia sudah tidak tahan lama-lama seperti ini. Duduk disamping pria mesum membuat mukanya merah padam. Dia ini masih perawan. Jadi, menjaga jarak adalah satu-satunya pilihan jika ingin tetap aman.
Sementara Louise, dia juga tidak berbicara apa-apa karena menganggap diamnya Joanna adalah tanda persetujuan darinya.
Lihatlah, betapa jauhnya perbedaan pikiran diantara sepasang idiot yang sebenarnya saling mencintai itu.
"Louise, kita salah jalan. Ini bukan jalan menuju rumahku," kata Joanna ketika menyadari Louise memilih jalan yang salah saat mobil mereka melewati sebuah persimpangan. Seharusnya Louise belok ke kanan, bukan ke kiri.
"Rumahmu?" tanya Louise dengan menaikkan satu alisnya.
"Louise, kau tidak lupa jalan menuju rumahku kan?" protes Joanna. Tidak menyangka Louise bisa se-pikun ini.
"Tentu saja aku ingat. Tapi, apa aku pernah bilang aku akan membawamu ke rumahmu?" tanya Louise.
"Kalau tidak ke rumahku, lalu kau mau membawaku kemana. Bukankah kau bilang akan mengantar kami pulang?" protes Joanna.
"Tentu saja yang aku maksud dengan pulang adalah pulang ke rumah kita," jawab Louise santai.
Louise tidak merasa bersalah sedikitpun meskipun dia memberikan Joanna serangan kejutan. Masih stay cool and calm seolah tak melakukan sesuatu yang sangat dihindari oleh Joanna, yaitu pergi ke villa milik Louise.
"R-rumah kita?" ulang Joanna.
Sejak kapan mereka punya rumah yang sama. Apa Joanna tiba-tiba berubah menjadi sangat kaya hanya dengan bersama Louise tanpa status yang jelas?
"Kenapa mukamu begitu, bukankah kau pernah kesana. Kau tidak lupa pernah menolakku hari itu kan. Bukan hanya menolakku, kau juga hanya mencari kepuasanmu sendiri dan membiarkan aku menderita sepanjang hari. Joanna, apa kau masih tak sadar juga bahwa kau benar-benar kejam padaku?" lanjut Louise dengan ekspresi datar.
"Itu ... kenapa kau membahas lagi kejadian waktu itu?" tanya Joanna dengan wajah malu.
"Aku hanya mengingatkanmu, berapa banyak hutang yang harus kau bayar malam ini."
"Jangan bercanda, aku tidak punya hutang apapun juga," kilah Joanna.
"Oh, benarkah. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku boleh meminjam rahimmu untukku sebanyak yang ku mau?" tanya Louise dengan senyum tipisnya.
"Kau masih ingat tentang itu?" tanya Joanna dengan canggung.
"Hal yang kutunggu-tunggu bagaimana mungkin aku melupakannya. Joanna, jangan khawatir, aku masih sangat ingat," jawab Louise.
"Louise, turunkan aku sekarang!" pinta Joanna.
"Tidak akan, kau hanya akan turun saat tiba di rumah kita nanti. Apa kau ingin mengingkari janjimu untukku?"
"Tentu saja tidak. Tapi,-"
"Jangan berbicara lagi. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu nanti!"
...***...