
"Nona?"
"Dengar, aku hanya memberimu satu kali kesempatan. Kalau kau mau mengaku dan mengatakan siapa tuanmu, aku bersumpah akan membebaskanmu," janji Joanna.
Sekali ini saja, biarkan dia menjadi baik. Sekali ini saja dia akan mencoba memaafkan mereka. Joanna sudah berjanji kepada Louise untuk tidak membunuh lagi. Jadi Joanna hanya ingin mendengar pengakuan dari mereka dan mengatakan siapa dalang dari semua ini. Setelah itu, Joanna akan membiarkan mereka pergi. Tapi kalau mereka masih diam, maka Joanna tidak punya pilihan lain. Dia mungkin tidak akan membunuh, tapi tidak dengan orang-orangnya.
"Dilla, aku tidak memiliki kesabaran sebanyak itu. Jadi segera putuskan sekarang, kau mau mengatakannya atau tidak. Atau kau ingin melihat keluargamu mati dulu sebelum kau mati?" tanya Joanna.
Dilla masih tidak tidak menjawab. Masih ragu untuk mempercayai Joanna. Sampai Joanna bangkit dan menghubungi penyandera keluarga Dilla dan memperlihatkan keluarganya yang ditawan.
"Apa kau ingin melihat mereka mati sekarang. Kalau kau ingin melihatnya mati sekarang, bukan masalah. Aku akan mengabulkannya secepatnya," ancam Joanna.
"Nona, jangan. Jangan lakukan itu. Bunuh saja aku!" kata Dilla. Pelayan itu mulai ketakutan. Tapi apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mendapatkan ancaman dari Daisy sebelumnya. Kalau dia mengaku begitu saja, mungkin dia lepas dari Joanna tapi tidak akan lepas dari Daisy.
"Aku tahu," jawab Joanna.
Joanna mendekat, lalu tanpa ragu menarik tangan Dilla dan mematahkan satu jarinya. Suara teriakan itu memenuhi ruangan. Asha, Diaz bahkan Okta ngeri melihatnya. Memang hanya mematahkan jarinya, tapi itu adalah perbuatan yang tidak pernah mereka duga akan dilakukan oleh Nona Joanna mereka.
Melihat jari itu terlipat di bagian yang tidak seharusnya membuat Asha sesak. Suara teriakan pilu bahkan sampai di dengar rekan-rekannya diluar. Tidak hanya Dilla yang ketakutan sekarang, tapi semua pelayan yang ada diluar sana.
Asha terduduk di tempatnya. Sementara Agria segera membawanya juga Diaz duduk di tempat yang lebih jauh. "Kalian bisa muntah jika sampai melihat adegan yang lebih parah dari ini," kata Agria.
"Diaz, apa Nona Kota Utara sama-sama menyeramkan seperti itu?" tanya Asha.
Selama dia di sini, tidak pernah melihat nona-nona mereka turun tangan seperti ini. Mereka hanya meminta pengawal yang melakukannya. Tapi, Joanna melakukannya dengan tangannya sendiri. Ini baru pertama kalinya dia lihat.
"Nona kami memang seperti itu," jawab Diaz. Meskipun tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi Diaz jelas paham dan kenal akan sifat Joanna. Bukan, tapi Jose mereka.
"Sakit!" keluh Dilla dengan memegangi satu jarinya.
"Jari-jari ini yang menebarkan calon bencana untuk anakku. Satu jari saja masih kurang, haruskah aku mematahkan semuanya?" tanya Joanna.
Joanna siap mematahkan jarinya yang lain dan Dilla tidak bisa mencegahnya. Dia hanya bisa melihatnya ketika Joanna kembali mematahkan jarinya yang lain. Suara teriakan itu kembali terdengar semakin pilu.
"Aku sudah bilang akan memaafkan kalian dan membiarkan kalian pergi. Karena kalian tidak mendengarkan kataku, jangan salahkan aku menyingkirkan kalian," kata Joanna.
"Nona?"
"Katakan!" titah Joanna.
"Apa Nona akan menepati janji Nona. Membiarkan kami pergi?" tanya Dilla.
"Aku akan membiarkanmu pergi. Hanya kau dan keluargamu. Tapi tidak dengan yang lainnya," jawab Joanna. Tangannya sudah siap mematahkan jari ketiganya, tapi akhirnya Dilla menyerah karena dia tidak kuat menahan sakit.
"Nona Daisy!" jawab Dilla. "Nona Daisy yang menyuruh kami," lanjutnya.
"Daisy lagi?" ulang Joanna.
"B-Benar. Nona Daisy yang menyuruh kami," jawab Dilla.
"Apa kau bisa dipercaya. Kau tidak bohong kan?" tanya Joanna. Dia tidak mudah percaya begitu saja, lalu kembali mematahkan jari ketiganya.
"Nona, ampun!" pekik Dilla. "Saya mengatakan yang sebenarnya, Nona!"
"Aku tidak percaya!" kata Joanna.
"Tidak, Nona! Nona bisa bertanya pada mereka kalau tidak percaya,"jawab Dilla.
"Panggil rekan-rekanamu kemari!" kata Joanna.
"Nona, sebelum mereka kemari ijinkan saya mengatakan sesuatu. Tapi berjanjilah untuk membiarkan saya hidup. Hanya biarkan saya hidup saja!" mohon Dilla.
"Katakan!"
"Kenapa dia ingin Anye mati?" tanya Joanna.
"Itu saya tidak tahu, Nona! Tapi sungguh saya tidak berbohong," jawab Dilla.
Setelah berpikir sejenak. Dilla dibiarkan keluar dibawah pengawasan ketat. Lalu memilih kelima rekan-rekannya. Karena mendapatkan ancaman yang sama, mereka pun mengakui semuanya. Di mata mereka Daisy memang jahat, dia juga bisa menyuruh orang untuk membunuh seseorang tapi tidak pernah melakukannya sendiri seperti yang dilakukan Joanna. Dimata mereka, ini benar-benar pengalaman pertama mereka melihat seorang nona yang mereka anggap lemah tapi ternyata sangat kejam dan tak berperasaan.
"Hanya kalian?" tanya Joanna.
"B-benar, Nona!" jawab salah satu pelayan yang lain.
Diantara yang lainnya dialah yang paling mudah mengaku. Dia juga baru saja melahirkan. Lalu tidak punya pilihan saat Daisy memintanya melakukan kejahatan ini. Karena setelah dia kembali bekerja dari libur melahirkannya, dia langsung diperintahkan untuk menebar bubuk itu.
"Maafkan kami, Nona! T-tolong ampuni nyawa kami!" kata pelayan itu.
"Pergilah!" kata Joanna.
"B-benarkah Nona?" tanya mereka serempak.
"Pergilah sejauh mungkin sebelum aku berubah pikiran. Aku akan memberikan sejumlah uang untuk kalian. Seharusnya itu cukup untuk modal kalian membuka usaha kecil-kecilan diluar sana untuk bertahan hidup," jawab Joanna.
Joanna bangkit, membiarkan kakaknya menyelesaikan sisanya. Tapi Tetua Utama dan tetua lainnya tiba-tiba masuk. Tidak sendirian, karena ada juga Daisy yang berdiri diantara mereka.
"Apa yang terjadi, Joanna. Seseorang melapor ada banyak teriakan dari paviliunmu. Lalu kenapa semua pelayan di paviliunmu berlutut seperti ini, apa mereka melakukan kesalahan?" tanya Tetua Utama.
Joanna tenang-tenang saja. Tapi kelima pelayan itu menunduk ketakutan. Terlebih saat melihat Daisy berdiri di dekat seorang pengawal yang dilengkapi dengan senjata tajam.
"Siapa yang mengirim mereka bekerja di paviliunku, Tetua?" tanya Joanna.
"Aku," jawab Tetua.
Memang dia yang mengirimkan mereka. Sebelumnya dia mendengar desas desus bahwa Joanna mengeluh karena kekurangan pelayan. Secara kebetulan Daisy berkunjung dan mendengar Tetua Utama ingin menambah jumlah pelayan. Daisy bahkan merekomendasikan pelayan miliknya karena dia berdalih pelayanannya terlalu banyak.
"Sepertinya ini sedikit sulit," batin Joanna.
Joanna akhirnya mendekati Tetua Utama. Berdiri tepat di depannya tanpa hormat sedikitpun. Hormat untuk apa, posisi mereka setara sekarang. Jadi takut apa?
"Kalau begitu, apakah berarti Anda yang ingin mencelakai anakku?" pancing Joanna.
Dia tahu Daisy tidak akan mengakui perbuatannya. Jadi sementara ini dia akan menyalahkan Tetua Utama dan melihat reaksi dan apa yang akan dilakukan Daisy.
"Mencelakai anakmu?" tanya Tetua Utama bingung. Apa yang terjadi. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia hanya ingin membuat William dan Joanna nyaman dan senang karena William lah pemimpin mereka di masa depan. Tapi kenapa dia malah dituduh mencelakai Reagan?
"Nona Joanna, apa yang kau bicarakan. Tetua Utama hanya ingin memberikan lebih banyak pelayan karena kami mendengar kau sering mengeluh pelayanmu kurang," tanya seorang Tetua yang lainnya. Meskipun jauh diatas Joanna, tapi dia sangat sopan. Tidak berani semena-mena dan berbuat sembarangan.
"Aku yang mengatakan itu?" tanya Joanna.
"Benar," jawab Tetua.
"Apa kalian mendengarnya secara langsung. Kapan aku mengatakannya. Aku belum pikun, aku tidak pernah mengatakan hal semacam itu kepada siapapun. Jadi, siapa yang mengatakan itu?" tanya Joanna.
Tetua Utama langsung melihat Daisy. Dia sangat ingat dialah yang mengatakan ini kepadanya. Dia bilang baru berkunjung ke paviliun Joanna dan tidak sengaja mendengar keluhan Joanna.
"Daisy, bukankah kau bilang kakak iparmu mengeluh akan jumlah pelayannya. Kenapa sepertinya berbeda?"
...***...