
"T-tuan, s-sebenarnya Nona Jose dari Kota Utara itu adalah tunangan Tuan William kami," kata Okta pelan.
"Apa?"
Louise meradang, menarik kerah Okta dan siap melayangkan bogem mentah dengan tangannya yang sudah mengepal.
"T-Tuan! Memang seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah di jodohkan oleh Tetua dari kedua belah pihak saat Nona Jose masih bayi. Tuan William juga masih berusia sekitar dua tahun waktu itu," jelas Okta panik.
"Omong kosong apa ini? Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan. Apa tujuanmu sebenarnya, kenapa mengarang cerita tidak masuk akal seperti ini?" sarkas Louise.
"T-tuan, saya berani bersumpah. Saya mengatakan yang sebenarnya. Saya tidak berani berbohong apalagi kepada Anda, Tuan. Jika Tuan tidak percaya, silahkan tanyakan pada Tuan Alex. Beliau pasti tahu, Nona Jose seharusnya juga tahu soal pertunangan itu," jelas Okta.
"Tapi kenapa mereka tidak pernah membahas pertunangan itu sedikitpun?" tanya Louise.
"T-tuan, mungkin karena Tuan Alex menganggap Tuan William sudah mati. Karena setelah sepuluh tahun melakukan pencarian dan tidak menemukannya, Tetua Bangsawan Timur memutuskan untuk mengumumkan bahwa Tuan William sudah mati. Mungkin itulah alasannya," jawab Okta gemetaran.
"Kalau kau berani membohongiku, aku bersumpah akan membunuhmu. Mencincang mu menjadi jutaan keping dan memberikannya pada anjing liar. Bukan hanya kau, tapi semua keluargamu pun juga akan ku habisi dengan cara yang sama," ancam Louise kemudian melepaskan cengkeramannya dan membuang Okta ke tanah.
"T-tuan, jika benda itu masih ada T-tuan bisa memeriksanya. Mereka memiliki liontin yang sama dan di dalam liontin itu ada foto mereka berdua," tutur Okta lagi.
"Kau pergilah dari hadapanku sekarang juga!" usir Louise.
Louise menggelengkan kepala, kenapa bisa ada hal seperti ini. Padahal hanya selangkah lagi, hanya perlu menunggu Oskar dan William selesai operasi dan dia akan menikahi Joanna pujaannya. Apa kali ini akan gagal lagi sama seperti saat dokter mengatakan Oskar terdeteksi menderita kanker waktu itu?
Louise segera menghubungi Sir Alex saat itu juga. Memintanya untuk bertemu di suatu tempat meskipun hari sudah larut. Menunggu besok, Louise sudah tidak sanggup. Louise membutuhkan jawaban itu sekarang juga dari mulut seorang pria yang entah akan jadi calon mertuanya atau tidak.
Louise hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat yang telah mereka sepakati. Masih harus menghabiskan waktu sepuluh menit lagi untuk menunggu kedatangan Sir Alex.
Louise menunggu dengan gelisah, dia sangat ingin menyangkal apa yang Okta katakan tapi jujur saja apa yang dikatakannya sangat masuk akal. Karena liontin itu pun Louise pernah melihatnya.
William pernah membukanya dan menunjukkan isi liontin itu. Dibalik inisial 'E.S' ada sebuah foto kecil yang menampakkan gambar seorang bocah lelaki kecil yang sedang memangku seorang bayi perempuan. Bocah laki-laki itu tersenyum lebar, sementara bayi perempuan itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi tangannya menggenggam tangan bocah lelaki yang memangku dirinya.
Louise sama sekali tidak mengira bahwa dua makhluk kecil itu William dan Joanna. Bahkan William pun sempat mengira bayi itu adiknya. Karena saat sedang menggoda Louise dulu William selalu mengatakan, "Louise, lihatlah! Bukankah adikku sangat cantik. Apa kau tertarik untuk menikahinya? Aku akan mencarinya dan memperkenalkannya padamu jika kau suka."
CEKLEK
"Ada apa memintaku kemari di jam seperti ini?" tanya Sir Alex penasaran.
Louise tersadar dari intermezonya, menoleh ke sumber suara kemudian segera bangkit untuk menyambut Sir Alex.
"Ayah, ada hal yang ingin ku tanyakan padamu!" kata Louise tanpa mempersilahkan Sir Alex duduk terlebih dahulu.
"Apa?" tanya Sir Alex dengan wajah bingung.
"Apakah Joanna ku punya tunangan sejak bayi?" tanya Louise.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?" tanya Sir Alex heran. Kemudian segera duduk dan diikuti oleh Louise.
"Hanya jawab saja pertanyaan ku!" pinta Louise.
Sir Alex menghela nafas panjang kemudian menjawab, "Louise, Jose kecilku memang pernah memiliki tunangan saat usianya baru beberapa bulan. Saat itu Tetua Kota Utara menjodohkannya dengan seorang putra dari Bangsawan Timur. Namanya Eduardo, tapi dia sudah sangat lama mati. Tepatnya sudah lebih dari 24 tahun," jawab Sir Alex.
"Eduardo?" tanya Louise.
"Benar, Eduardo Silva. Itulah namanya," jawab Sir Alex.
Louise menutup matanya, pun dengan tangannya yang menutup seluruh wajahnya. Ingatannya melayang ke 24 tahun yang lalu. Dimana orangtuanya menemukan anak kecil yang meringkuk sendirian di jalanan dengan kesadaran yang sudah hilang.
Dengan terburu-buru orangtuanya segera membawa anak itu pergi ke rumah sakit terdekat sehingga tidak menyadari sebuah benda terjatuh ke tanah. Louise kecil mengambilnya, melihatnya dan membaca tulisannya.
Louise kecil saat itu masih belum terlalu mengerti dan sedang ngantuk berat. Jadi setelah membaca tulisannya dengan mata yang setengah tertutup, dia kembali membuang benda itu.
Benda yang sebenarnya adalah sebuah gelang kecil milik William. Louise membuangnya begitu saja, membiarkan satu nama yang di ukir di sebuah gelang kecil milik anak itu terlupakan. Satu nama itu adalah Eduardo Silva.
Anak itu memang tertolong saat di bawa ke rumah sakit. Tapi peralatan medis dalam negeri tidak cukup canggih untuk menjaminnya tetap hidup. Orangtuanya memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri dengan membawa serta Louise kecil dan Juan kecil.
Tentu saja orang tua Louise pernah menginformasikan penemuan seorang anak di tengah jalan. Tapi tidak ada siapapun yang menghubunginya. Jadi mereka memutuskan untuk menjadikannya sebagai anak angkat. Memberinya nama William Matthew dan menjadi adik seorang Louise Matthew.
"Louise, kau kenapa. Apa kau sedang tidak sehat. Apa terjadi sesuatu?" tanya Sir Alex panik ketika melihat perubahan pada Louise.
"Ayah, bagaimana jika calon menantu pertamamu itu masih hidup?" tanya Louise setelah membuka tangannya.
"Apa yang kau katakan. Sudah lebih dari 24 tahun. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba dia hidup?" jawab Sir Alex.
"William, adikku itu. Dia bukan adik kandungku. Papa dan mama menemukannya tergeletak di jalan dan mengangkatnya sebagai anak," kata Louise.
Sir Alex tertegun sebentar. Sebelum akhirnya menyadari kemana arah pembicaraan Louise.
"L-louise, jangan bilang dia adalah,-"
"William Matthew, adikku itu sebenarnya adalah Eduardo Silva," potong Louise.
"Apa?" Sir Alex tidak bisa lagi berkata-kata.
Bagaimana bisa menjadi seperti ini. Tapi tunggu, memangnya kenapa kalau William dan Jose pernah bertunangan. Mereka saat ini sudah sama-sama dewasa. Jose sudah memilih Louise sebagai pasangannya dan William sudah memilih Marissa sebagai pendampingnya.
Terlebih Tetua Kota Utara sudah tidak ada satupun yang tersisa. Kota Utara adalah miliknya dan Jose adalah pewarisnya. Selain itu, William juga sudah bukan Eduardo yang tinggal di Bangsawan Timur. William adalah William yang menyandang nama besar Matthew di belakangnya. Dia sudah tidak ada hubungannya dengan Bangsawan Timur jadi apa yang perlu di cemaskan?
"Louise, meskipun begitu bukankah semuanya masih akan tetap sama. Jose kecilku tetap jadi milikmu dan Marissa tetap jadi milik William?" tanya Sir Alex.
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Ayah!" jawab Louise. Louise akhirnya menjelaskan semua yang Okta katakan dan Sir Alex mendengarkan semuanya dengan banyak perubahan ekspresi di wajahnya.
Sejujurnya, Sir Alex pun sudah mulai takut sekarang. Takut semua yang sudah mereka rancang indah batal terealisasikan. Dan Jose, sekali lagi yang harus menanggung dan menjadi korbannya.
"Kita harus menunggu William pulih kemudian membahas ini bersama Jose," kata Sir Alex pelan. Hanya kalimat itu yang bisa dia katakan setelah kalimat panjang yang Louise ucapkan.
...***...