CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Malam Pertama



Wanita itu bersimpuh sekarang. Mulai merenung dan menyalahkan dirinya sendiri yang membuat William menderita tanpa dia sadari. Sementara William, dia tersenyum sinis mendengar jawaban yang diberikan Joanna.


Hanya seperti itu saja katanya. Apa Joanna tidak tahu bagaimana sakit hatinya William saat dia mengatakan kalimat itu semudah itu?


Tak terasa malam semakin larut. Tengah malam seharusnya sudah lewat tapi dua orang itu masih duduk di pinggiran sungai tanpa suara. Semilir angin malam juga semakin kuat menerpa kulit mereka. Membuat keduanya bergidik karena hawa dingin yang menusuk tulang. William bisa melihatnya meskipun samar. Melihat Joanna yang menahan dingin dengan memeluk dirinya sendiri.


Malam yang gelap, baju yang basah, William yang mabuk lalu tidak ada siapapun yang lewat membuat Joanna menyerah juga. Dia memutuskan untuk bangkit, menjauhi William dan meringkuk di bawah pohon di sekitar sungai. Berencana menunggu pagi di tempat itu dan berharap William sudah kembali normal keesokan harinya agar mereka bisa mencari cara untuk naik keatas sana.


Sebenarnya hanya itu yang Joanna inginkan. Tapi sekali lagi situasi sepertinya sedang tidak berpihak kepadanya. Karena William yang masih tidak memiliki kesadaran normal itu kembali mendekatinya meskipun sempoyongan.


"Joanna, bukankah kau istriku?" tanya William dengan mata yang semakin sayu. Pria itu berdiri di depan Joanna yang enggan melihatnya sekarang.


"Eum, aku istrimu," jawab Joanna.


"Kapan kita menikah?" tanya William.


"Lebih dari setahun yang lalu," jawab Joanna.


Sekali lagi William tersenyum meskipun tersamarkan oleh gelapnya malam. Ternyata sudah cukup lama mereka menikah. "Joanna, apa kau kedinginan. Aku bisa membantumu untuk tetap hangat," tawar William. Sekarang pria itu sudah tidak berdiri lagi. Tapi berlutut di depan Joanna dan menyibak rambut yang sempat menutupi wajah cantiknya.


Joanna mendongak. Melihat William yang sudah semakin dekat dan mulai memeluknya. "Aku tidak kedinginan, Will!"


"Tapi aku kedinginan, Joanna!" bisik William.


"William, aku bisa pergi mencari daun kering untukmu. Jadi bisakah melepaskan aku?" tanya Joanna dengan mendorong William yang masih memeluknya.


"Apa kau sedang menolakku, Joanna?" tanya William.


"Bukan seperti itu Will," jawab Joanna.


"Lalu apa?" tanya William.


"Bukan apa-apa. Hanya saja apa kau tidak memikirkan Marissa. Bagaimana perasaannya jika melihatmu memelukku?" jawab Joanna.


"Bukankah selama ini kau terus memelukku meskipun ada Marissa di depanmu. Lagipula sekarang dia tidak melihatnya. Bukankah seharusnya tidak masalah?" tanya William.


"Itu karena aku hamil. Itu bawaan bayi sehingga Marissa memakluminya. Lalu meskipun dia tidak melihatnya tidak seharusnya kita berpelukan. Tolong mengertilah, William!" jawab Joanna mencoba menyadarkan William.


"Oh begitu. Kalau begitu, haruskah kau hamil lagi agar Marissa memakluminya jika aku ingin memelukmu?" tanya William.


"Apa?"


"Joanna bukankah kita suami istri?" bisik William.


"W-William?"


"Aku baru ingat sekarang. Aku belum pernah menyentuhmu seutuhnya. Jadi kemarilah, biarkan aku menyentuhmu!" pinta William. Pria itu menarik tangan Joanna sehingga membuatnya terjatuh ke pelukannya.


"Hentikan, William!" mohon Joanna saat William sudah menyusuri lehernya yang harum.


"Apa kau takut Joanna?" tanya William setelah sukses meninggalkan satu tandanya disana dan menyesap bagian lainnya kuat-kuat.


"Ya, kau membuatku takut, Will!" jawab Joanna. Perasaan ini sangat familiar. Dia selalu merasakan ini saat Louise melakukan hal yang sama seperti yang William lakukan sekarang.


"Lalu kenapa kau tidak takut saat malam pertama kita?" tanya William.


"Apa maksudmu Will?" tanya Joanna. Malam pertama apa. Malam pertamanya kan dia lalui bersama Louise.


"Haruskah aku memberitahumu sekarang. Seseorang telah meletakkan dupa aroma terapi pembangkit gairah di kamar kita malam itu. Begitu aku masuk, kau langsung menghujaniku dengan ciuman liar," jawab William


"Sstt!" William meletakkan satu jari telunjuknya di bibir Joanna. "Aku belum selesai bicara," lanjut William.


"Lalu apa kau tahu apa yang kau lakukan setelahnya. Kau melucuti semua pakaianmu sendiri. Bukan hanya pakaianmu, tapi kau juga mencoba melucuti pakaianku. Joanna, aku ini pria normal dan kau sangat cantik. Setelah aku melihat semuanya, apa kau pikir kau bisa selamat sepenuhnya?" kata William.


"William, jangan bilang?"


"Joanna, maafkan aku. Aku hanya membantumu melepaskan siksaan yang menyerangmu. Apa kau tahu, bola kembar yang kau sembunyikan saat kau menyusui Reagan ini, aku sudah pernah melihat dan meremasnya. Lalu goa terlarang yang kau sembunyikan di bawah sana itu, aku bahkan sudah pernah mencicipi bagaimana rasanya," lanjut William.


"William?"


PLAK


Sebuah tamparan mendarat di pipi William yang mabuk. Pria itu meringis, memegangi pipinya yang memerah. "Kenapa kau memukulku, Joanna? Katakan siapa yang salah. Kau yang lebih dulu menggodaku. Kau yang dengan sukarela membuka bajumu. Kenapa kau menamparku saat aku mengatakan sebuah kejujuran. Satu lagi, apa kau ingat tanda merah yang memenuhi tubuhku hari itu. Itu semua ulahmu Joanna. Itu semua ulah bibirmu ini," kata William.


"Cukup, William!" teriak Joanna sebelum mendorong William dengan kasar.


Dia tidak ingin mendengar celotehan pria mabuk ini lagi. Dia tidak ingin semakin malu dengan tingkah liarnya malam itu. Jadi bisakah William diam?


"Joanna!"


Kini giliran William yang berteriak. Bukan hanya berteriak. Tapi dia juga sudah menubruk Joanna dan mengunci pergerakannya. "Cukup basa-basinya Joanna. Ayo, biarkan aku mencicipinya sekali lagi. Biarkan aku melihatnya sekali lagi!"


"W-William, sadarlah William!" kata Joanna mengiba dan melawan sekuat yang dia bisa.


"Apa kau tidak bisa diam?" tanya William semakin marah.


"Biarkan aku pergi!" kata Joanna mengiba.


"Hanya dalam mimpimu!" jawab William.


Dan terjadilah. Apa yang Joanna takutkan benar-benar akan terjadi sekarang. Karena William sudah menindihnya, mencumbunya dan melepaskan dengan paksa pakaian yang menempel di tubuhnya. Dua tangan kekar itu juga mulai menyusup kemana-mana terutama di bagian-bagian sensitifnya.


Sudah lama Joanna tidak mendapatkan sentuhan seperti ini dari Louise. Mau tidak mau libidonya naik juga setelah mendapatkan serangan mematikan dari William.


"Ayo buka kakimu!" perintah William saat nafsunya sudah diujung kepala.


"William, cukup!"


"Baru juga foreplay. Apa kau sudah puas hanya dengan itu?" tanya William.


"William, tolong hentikan!" pinta Joanna.


"Maaf, tapi sepertinya aku tidak mau," jawab William.


Karena Joanna tidak menuruti kata-katanya. Maka William lah yang akhirnya turun tangan. Dia menarik tubuh Joanna dan meletakkan kakinya di pundaknya. Lalu yang terjadi sudah bisa ditebak. Joanna bisa merasakan saat benda tumpul itu menyelinap masuk ke pintu yang biasa Louise lewati. Terus bergesekan dengan ritme yang William atur sedemikian rupa.


Malam ini sepertinya bukan hanya Daisy saja yang diperkosa. Tapi Joanna juga. Bedanya adalah Daisy tidak sadar siapa yang memperkosanya sementara Joanna dengan sangat jelas melihat siapa pelakunya. Pria yang memperkosanya adalah William Matthew, suaminya sendiri.


Iya, mereka benar-benar melakukannya disini. Di bawah pohon di pinggiran sungai. Hanya beralaskan rerumputan dan beratapkan langit yang penuh bintang. William yang mabuk akhirnya melampiaskan hasratnya pada Joanna.


Tangan Joanna meremas rerumputan yang ada di dekatnya. Menggigit bibirnya agar tidak bersuara. Tapi tetap saja. Dia terlalu lemah, dia terlalu mudah terangsang sehingga suara-suara itu muncul juga. Terlebih saat sesuatu dari dirinya akan keluar. Kakinya juga sudah tidak berada di pundak William lagi, melainkan sudah terbuka lebar begitu saja seolah meminta lebih.


"Kau sudah mau keluar, Sayang? Apa kau ingin aku bergerak lebih cepat. Tidak apa-apa, aku bisa membuatmu keluar terus sepanjang malam," bisik William dengan mencium kening Joanna. Lalu bergerak secepat yang dia bisa sampai Joanna menunjukkan gesture seksi yang keesokan harinya dilupakan oleh William.


...***...