
"Hanya duduk dan lihatlah, aku akan segera kembali setelah melemaskan ototku," kata Louise kepada Joanna.
Joanna mengiyakan, duduk di salah satu kursi berkaki panjang yang ada dibelakang. Hanya melihat dan menikmati suasana seperti yang Louise katakan. Sementara Louise dan puluhan pengawal terbaiknya mulai melemaskan otot kemudian memilih senjata yang sudah disediakan dengan berbagai macam dan ukuran.
"Kenapa aku masih disini?" batin Joanna hampir menangis.
Sebelumnya, dia sudah minta untuk segera dipulangkan. Tapi Louise mengatakan, "Sudah kubilang temani aku. Kalau kau bersikeras untuk pulang sekarang, maka pulanglah jika kau bisa menembus penjagaan ratusan pengawal itu," jawab Louise santai.
Dor
Dor
Dor
Dentuman peluru mulai terdengar dan tak henti-hentinya menggema. Louise menjadi yang pertama melesatkan tembakannya. Dilihat dari caranya menembak, Joanna tahu Louise adalah seorang profesional. Daripada menyebutnya dengan istilah 'melatih skill' sepertinya 'pamer' adalah kata yang lebih tepat mengingat Louise selalu membidik sasaran dengan tepat.
Puluhan pengawal itu juga tak bisa di abaikan, karena mereka juga menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Tapi tetap saja Louise Matthew lah tokoh utamanya disini, keakuratan tembakannya adalah yang terbaik diantara yang terbaik. Keahlian menembaknya sepertinya telah berada di level yang berbeda.
Berada di tempat seperti ini, Joanna merasa tidak asing. Joanna yakin, dirinya pernah melakukan ini sebelumnya. Mencoba mengingat tapi tak ada apapun yang bisa diingat. Tapi feeling-nya mengatakan dia pernah terbiasa memegang senjata.
Selang beberapa waktu, Louise membiarkan pengawalnya berlatih sendiri. Kemudian mendatangi Joanna yang sedang minum teh di meja belakang.
"Joanna, apa kau tidak ingin mencobanya?" tanya Louise.
Dimata Louise, Joanna seperti seorang wanita lemah yang mudah ditindas. Untuk itulah dia berinisiatif menawarkan bagaimana caranya menggunakan senjata. Karena di dunia ini apapun bisa terjadi, akan ada banyak hal-hal tak terduga juga bahaya yang mengintai, jadi tak ada salahnya mengajarinya sedikit kemampuan untuk membela diri. Tunggu, mari mengatakannya lebih spesifik lagi. Sepertinya disebut membunuh lebih cocok daripada membela diri.
Joanna tersenyum tanpa arti, meneguk teh yang tinggal separuh hingga tak tersisa, "Kesempatan itu datang, aku harus memanfaatkannya dengan baik. Aku ingin tahu, apakah aku benar-benar ahli dalam menembak?" batin Joanna.
Louise yang melihat Joanna bersikap aneh tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya terus memperhatikan Joanna yang sekarang mendekatinya dengan percaya diri. Melepas rompi yang dia kenakan dan hanya menyisakan celana pendek serta kemeja putih yang juga berlengan pendek.
Louise tidak tahu apa yang akan Joanna lakukan, tapi Louise melihat Joanna yang sekarang terlihat semakin seksi bahkan ketika Joanna hanya mengikat rambutnya yang tergerai. Terlebih saat mata elangnya melihat sesuatu dari balik kemeja tipis yang dikenakan Joanna, sebuah dalaman berwarna putih bertali kecil yang menghiasi kulit Joanna yang mulus tanpa cela.
"Louise, setelah hari ini jangan meremehkan aku lagi. Aku ini tidak selemah yang kau kira," kata Joanna setelah selesai mengikat rambutnya.
Joanna menoleh, berjalan mendekati Louise dengan langkah pasti. Meraih tangan pria yang sama sekali tidak berkedip melihat kecantikannya. Joanna berinisiatif mengambil pistol yang masih dipegang Louise kemudian berjalan menuju arena tembak. Salah satu pengawal dengan sigap menyudahi latihannya dan memberikan tempatnya untuk Joanna.
"Terimakasih!" kata Joanna.
Joanna menarik nafasnya dalam-dalam dan mengaturnya serileks mungkin. Setelah itu memandang papan berbentuk lingkaran di ujung sana. Tangan kecil itu mulai mengangkat senjata dan mengarahkannya ke papan sasaran.
Dor. .
Kurang dari tiga detik, Joanna sudah menarik pelatuk pistolnya tanpa memakai kacamata ataupun menutup salah satu matanya dengan hasil bidikan yang sempurna.
Kurang puas, Joanna kembali beralih ke dua papan yang lainnya.
Dor
Dor
Joanna tersenyum, karena dua tembakan terakhirnya pun juga meluncur dan mendarat dengan sempurna, "Aku hebat bukan?" tanya Joanna bangga dengan senyuman yang memperlihatkan gigi-giginya.
Joanna mendekati Louise dengan keren sambil memainkan pistol di ujung jarinya. Hari ini, akhirnya Joanna memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Sisi lain yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun juga sebelumnya. Sebuah bakat alami yang bahkan Alexa, Arthur dan Oskar belum mengetahuinya.
Sambutan hangat dan tepuk tangan dari para pengawal kian bergemuruh. Mereka tidak menyangka Joanna yang terlihat polos tanpa dosa ternyata memiliki kemampuan sehebat itu. Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk menguasai kemampuan menembak sampai titik ini. Pantas saja Louise membawanya ke Villa, rupanya dia bukanlah orang yang biasa-biasa saja. Sangat cocok menyandang gelar sebagai wanitanya Louise yang luar biasa.
Louise yang sedari tadi melihat hanya bisa tersenyum. Senyum puas dan bangga karena wanita yang dicintainya ternyata sehebat ini. Louise memandang ke arah lain, kemudian menyibak rambutnya kebelakang. Sepertinya dia sudah hampir gila karena Joanna. Wanita itu, selalu saja membuatnya semakin tertarik dan memberikannya kejutan yang tak pernah ada akhirnya.
Tapi sepertinya Louise tidak membiarkan Joanna menyombongkan diri lebih lama lagi. Karena dia segera mengambil kembali pistol di tangan Joanna dan mengisinya dengan peluru lalu menarik Joanna ke pelukannya dan memegang pinggangnya dengan tangan kirinya. Dengan posisi seperti ini, tidak ada pilihan lain bagi Joanna selain merangkul pundak Louise dengan tangan kanannya.
"Kalian bisa pergi!" titah Louise kepada bawahannya. Membuat pengawal itu pergi meninggalkan arena sehingga menyisakan Louise dan Joanna saja.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Joanna.
"Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa aku ini lebih hebat darimu," jawab Louise dengan tatapan penuh kasih sayang.
Joanna penasaran, apa yang akan dilakukan Louise sekarang. Memeluk seorang wanita dengan satu tangannya dan memegang senjata di tangan lainnya, Louise tidak akan menembak dirinya sampai mati bukan?
"Lihat aku baik-baik!" perintah Louise.
Joanna menuruti kata-kata Louise, melihat Louise sedang memeluknya tapi matanya melihat kearah papan tembak untuk beberapa detik. Kemudian kembali menatap mata Joanna dengan tatapan yang tak bisa Joanna artikan. Dan disaat kedua mata itu beradu, terdengar tiga kali suara tembakan.
Dor
Dor
Dor
GLEK
Joanna sepertinya telah kehilangan kata-kata. Apakah Louise baru saja menembak ketiga papan itu tanpa melihat sasarannya. Apakah yang dilihatnya benar? Jika iya, bagaimana insting Louise bisa seakurat itu. Apakah Louise jelmaan dewa?
Joanna terpana, otaknya sedang bekerja untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Mulutnya sedikit terbuka sebelum akhirnya menelan ludah dan Louise bisa melihat semua itu dengan jelas.
Sangat jelas melihat bibir Joanna yang tipis dan ranum, tenggorokan Joanna yang naik turun saat menelan ludah, juga dada Joanna yang kembang kempis saat bernafas.
"Kalau Tuan Muda ingin melakukannya, tolong lakukan dengan pelan. Jangan sampai menyakiti Nona atau ayah nona akan menangis."
Tiba-tiba terlintas apa yang dikatakan oleh pengawal yang diam-diam melindungi Joanna. Mengingatnya, Louise hanya bisa tersenyum, "Apakah aku baru saja mendapatkan restu?" batinnya.
Tidak, pertahanan Louise akhirnya terpatahkan juga. Disaat pandangan mereka masih beradu, disaat itulah Louise menarik kepala Joanna dan membuat keduanya berada dalam jarak paling dekat.
"Louise, kau terlalu dekat," dorong Joanna tapi tak sanggup memperlebar jarak diantaranya.
"Kalau tidak dekat, bagaimana caranya aku menciummu," kata Louise. Lalu, tanpa ba bi bu lagi menyambar bibir ranum itu dengan ciumannya. Pelan, lembut dan membiarkan Joanna untuk mulai terbiasa.
Sangat lembut dan nyaman, itulah yang Joanna rasakan. Dia membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya menyadari apa yang terjadi. Bahwa Louise, sudah benar-benar memainkan lidahnya di dalam sana. Joanna mencoba mendorong tubuh kekar itu lagi, tapi Louise semakin merapatkan tubuhnya dan menciumnya dengan ciuman brutal. Melawan pria kekar seperti Louise, sungguh Joanna tidak memiliki kekuatan sebesar itu. Ciuman panas itu terus berlanjut, sangat lama sampai Joanna merasa bibirnya sudah sepenuhnya dijelajahi oleh Louise.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna terengah ketika Louise menghentikan ciumannya.
Louise tersenyum, membelai wajah Joanna kemudian menjawab, "Memberikan hukuman untukmu."
"Hukuman?" tanya Joanna dengan menaikkan salah satu alisnya. Joanna tak habis pikir, memangnya apa kesalahannya sampai dia harus mendapatkan hukuman.
"Hukuman karena kau telah membangunkan adikku untuk yang kedua kalinya. Joanna, aku membutuhkan usaha yang sangat keras untuk membuatnya tertidur, jadi tolong jangan membuatnya kembali bangun," jelas Louise.
"Apa maksudmu, Louise. Aku tidak mengerti," tanya Joanna.
"Joanna, adik yang ku maksud adalah sesuatu yang berada di bawah sini," bisik Louise di telinga Joanna, tak lupa memberikan tiupan halus di sana yang membuat perasaan Joanna meremang.
Secara tak sadar, pandangan Joanna mengikuti tangan Louise yang menunjukkan dimana tempat 'adik' itu berada.
"Aku berada dalam masalah besar sekarang," batin Joanna ketika melihat benda itu terlihat sangat menonjol.
"Satu hari ini kau menyiksaku sebanyak dua kali, bagaimana caramu meminta maaf, Joanna?"
"A-aku bukannya sengaja. Aku hanya-" Joanna tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Louise kembali membungkam mulutnya dengan ciuman kedua.
Sial.
Awalnya Joanna ingin melawan, tapi tak punya kekuatan. Wajah tampan itu, tubuh atletis itu, ciuman panas itu, bukankah semua itu sangat menggoda? Joanna mulai menyerah, dan mulai menikmati permainan Louise yang luar biasa.
Tidak, itu belum cukup karena setan dihatinya mengatakan "ada yang tidak benar, kenapa hanya Louise yang melakukannya. Apakah aku hanya boleh menerima dan menikmatinya? Kalau iya, bukankah ini akan sangat tidak adil untuk Louise?"
Dan terjadilah, saat yang ditunggu Louise akhirnya datang juga, karena Joanna mulai memindahkan tangannya dan melingkarkannya di leher Louise. Menggapai tubuh pria yang berdiri dihadapannya dan terkadang menyusuri rambutnya. Joanna menutup matanya, mengikuti nalurinya untuk membalas ciuman Louise dengan cara yang tak kalah menggoda. Lalu Louise itu, dia tidak membiarkan tangannya menganggur dan mulai menyusup ke segala arah untuk menjangkau bagian-bagian yang dia bisa.
Siapa yang tahu hati wanita, baru beberapa jam yang lalu Joanna berniat menjauh dari Louise. Hari belum berganti, matahari juga hanya bergeser sedikit dari tempatnya semula, tapi hati Joanna sudah sepenuhnya berbalik arah.
Sangat lama mereka saling berciuman, kini keduanya kembali berhenti untuk mengambil nafas. Wajah Louise yang seolah meminta, gesture aneh Joanna, serta pakaian yang sudah tak berada di tempat semestinya sudah cukup membuktikan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Joanna, apa kau menginginkannya?" tanya Louise dengan suara berat.
Joanna tak menjawab, iya atau tidak dia sendiripun tak tahu, yang dia tahu hanyalah Louise telah membawanya ke situasi yang tidak pernah Joanna rasakan sebelumnya.
"Joanna, aku bisa membantumu jika kau menginginkannya," tawar Louise lagi. Tidak hanya menggoda Joanna dengan suara dan nafasnya yang berat, Louise juga sudah berani mencumbui leher putih Joanna. Joanna menggigit bibirnya sendiri, menahan diri agar tak bersuara. Tapi lagi-lagi Louise membuktikan kehebatannya dengan bibir, lidah dan tangannya hingga Joanna semakin tidak bisa menahannya.
"Sayang, haruskah kita pindah ke tempat yang bisa membuatmu bebas berteriak?" tanya Louise.
"L-louise, kau mau membawaku kemana?" tanya Joanna ketika menyadari kakinya sudah tidak menyentuh tanah dan mulai meninggalkan arena tembak.
"Kamarku," jawab Louise singkat.
"Tidak, turunkan aku!"
"Joanna, patuhlah!"