CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Hitungan Menit



"Louise, kapan kau akan datang?" tanya Joanna di sela-sela keributan.


Kebetulan sekelompok idiot itu sedang sibuk berurusan dengan pemilik dan pengunjung cafe yang membela Joanna. Jadi Joanna bisa menyempatkan diri untuk menghubungi Louise.


"Beri aku dua menit, aku akan sampai dalam waktu dua menit," jawab Louise sambil melihat jam di tangannya.


"Cepatlah!" pinta Joanna.


"Aku mengerti," jawab Louise.


Louise mematikan telepon Joanna, kemudian menambah laju kecepatan mobilnya. Louise tahu Joanna sedang mendapatkan masalah karena mendengar suara keributan saat Joanna menghubunginya barusan.


"Nona-nona yang terhormat, tolong bersikaplah sopan sedikit. Nona ini benar-benar tidak melakukan apapun," kata seorang pengunjung.


"Nona, seharusnya kau segera meminta maaf atas makian kasarmu barusan. Nona ini diam saja sejak tadi, tapi kedua pria ini mendatanginya," kata yang lainnya.


"Anak muda, sebaiknya kau segera membawa pacarmu pergi. Kami muak melihat wajah kalian," kata seorang wanita berusia setengah abad.


"Pacar kalian yang mendekati kakak ini, kenapa kakak ini yang kalian maki?" kata salah satu remaja tadi.


"Aku berani bersaksi bahwa pacar kalianlah yang mata keranjang."


Dua gadis itu kini mulai gentar. Awalnya, mereka mengira Joanna adalah seorang pelakor yang mencoba menggoda pacar mereka. Jadi mereka sengaja memakinya dengan lantang untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang yang ada di cafe. Tidak disangka yang terjadi malah sebaliknya. Kedua gadis itu sangat malu tapi sangat gengsi mengakui kesalahannya.


Jadi dengan sombongnya mereka sesumbar bahwa orang kaya seperti mereka tidak perlu meminta maaf kepada Joanna. Mereka bahkan memaki balik Joanna. Mereka bilang Joanna telah membuang waktu mereka yang berharga. Selain itu, tanpa alasan yang jelas mereka masih bersikeras bahwa alasan Joanna berlama-lama di tempat itu adalah karena ingin mendekati pacarnya yang baru saja mendapatkan promosi jabatan.


Dua gadis itu juga mengabaikan pemilik cafe yang mencoba meredam kemarahannya dan malah menghancurkan beberapa barang yang ada di cafe. Di mata mereka, harus Joanna yang salah dan mereka yang benar. Lagipula, siapa juga yang berani dengan mereka. Mereka mengira dirinya lah yang paling kaya, paling berkuasa dan paling bisa melakukan apa saja. Mereka lupa, bahwa masih ada langit di atas langit.


Joanna sangat lelah. Joanna melihat dua pria itu sekilas, tidak ada apapun yang membuatnya tertarik dengan dua pria itu sama sekali. Joanna melengos, bahkan puluhan karyawan pria di toko kue miliknya jauh lebih tampan dari dua pria itu, "Cukup!" kata Joanna saat mereka tak kunjung diam dan suasana semakin ramai.


Joanna masih duduk dengan tenang di tempatnya meskipun semua orang berdiri disekitarnya. Mendengar bentakan Joanna membuat semuanya diam, termasuk dua pasangan bodoh yang menguji kesabaran Joanna sejak tadi.


"Nona-nona yang terhormat, apa kalian pikir pria-pria seperti mereka ini adalah seleraku?" tanya Joanna dengan ekspresi jijik dan merendahkan.


"Apa maksudmu?" tanya wanita bertubuh tipis itu.


"Apa kau pikir aku buta sampai harus menggoda mereka. Kalian harus tahu, seleraku itu tidak serendah mereka," jelas Joanna dengan penuh penekanan.


"Kau?" bentak salah satu gadis.


Memang benar, sebenarnya mereka pun tahu dua pria itu tidak terlalu tampan. Seandainya saja dua pria tidak memiliki jabatan tinggi di perusahaan mereka juga ogah. Mereka tidak bisa berkata-kata setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Joanna.


Sementara salah satu pria itu sangat marah karena ejekan Joanna. Dia sudah mengangkat tangannya, berniat melayangkan pukulannya yang sempat tertunda. Tapi beberapa orang berbadan besar dan berpakaian serba hitam datang, salah satunya menangkap tangan pria itu sebelum melukai Joanna.


"Jauhkan tangan kotormu!" cegah salah satu pria itu. Menahan pukulan pria pengganggu seperti menahan kapas. Sementara pria berbaju hitam yang lainnya memposisikan diri untuk berdiri di sekitar Joanna. Memastikan tidak ada satu orangpun yang menyentuhnya.


"Kalian siapa, jangan ikut campur!" bentak pria pengganggu.


"Ulangi, apa yang kau katakan?" tanya pria berbadan besar itu tanpa ekspresi dan tatapan mata yang tajam.


"Kubilang jangan ikut campur. Aku akan memberi pelajaran kepada wanita sialan ini!"


Klek. .


Bug. .


Terdengar suara tulang patah sesaat setelah pria pengganggu itu memaki Joanna. Sebuah bogem mentah juga langsung mendarat di wajahnya. Pukulan yang sangat keras, terlalu keras sampai mulutnya berdarah.


"Akh," pria itu mengerang kesakitan. Entah kapan pria besar melakukannya, tiba-tiba saja lengan pria pengganggu itu sudah bengkok karena telah dipatahkan dan memuntahkan gigi yang terlepas dari gusinya


"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya pria berbaju hitam yang baru saja memukul pria pengganggu.


"Aku baik-baik saja," jawab Joanna dengan cepat. Dia tidak tahu darimana asal pria-pria besar ini. Tapi mereka datang disaat yang krisis.


Adegan mematahkan tangan barusan terasa pilu bagi pria bertangan patah. Tapi bagi orang lain terutama para wanita, itu adalah adegan terkeren di kehidupan nyata. Mereka benar-benar terlihat seperti pahlawan.


"Siapa kau, beraninya memukul temanku. Apa kau tidak tahu siapa dia?" tanya pria yang lainnya.


Sedangkan dua wanita yang memaki Joanna terlihat menolong pria yang tersungkur di lantai. Membantunya duduk dengan benar dan membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.


"Kami hanya orang-orang yang kebetulan lewat. Lalu, soal dia siapa, itu tidak penting untuk kami," jawab pria berbaju hitam dengan menunjuk pria yang tangannya dia patahkan.


"Dasar sekelompok manusia arogan. Dia yang tulangnya baru kau patahkan adalah anak direktur dari Perusahaan XXX Perusahaan itu baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan anak perusahaan yang berada di bawah naungan Matthews Group. Dia juga baru saja mendapatkan promosi dengan jabatan tinggi. Apa kau tahu akibatnya jika menyinggungnya?" ancam pria itu lagi.


"Kami sama sekali tidak takut," jawab pria berbaju hitam.


"Perusahaan XXX?" tanya Louise yang sekarang berada di antara kerumunan.


"Apa kau baru takut sekarang? Percaya atau tidak, kalian akan hancur. Perusahaan XXX tidak akan melepaskan kalian karena kalian berani melukai dan mencari masalah dengan kami," kata pria pengganggu.


"Ternyata hanya sampah," kata Louise lagi dengan nada merendahkan. Terlihat sangat keren berdiri diantara orang-orang dengan meletakkan tangannya di saku celana.


Kalimat yang diucapkan Louise membuat semua orang menoleh kearahnya dan secara otomatis membuat mereka membuka jalan sehingga mempermudah Louise mendekati Joanna.


"Maaf, aku terlambat. Kau baik-baik saja kan?" tanya Louise pada Joanna. Lalu memeriksa Joanna dan memastikan dia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, kok!" jawab Joanna.


Louise bersyukur gadis pujaannya tidak terluka. Tapi dia sangat kesal sekarang. Ternyata masih ada orang-orang semacam ini dalam anak perusahaan di bawah naungan Matthews Group miliknya. Louise pun segera menghubungi William saat itu juga.


Semuanya melongo sejadi-jadinya mendengar titah Louise. Membuat bangkrut perusahaan dalam waktu semalam, apakah itu mungkin?


"Kau mencoba menakuti kami?" tanya pria pengganggu.


"Menurutmu?" jawab Louise dingin tanpa melihat kearahnya dan sibuk merapikan penjepit rambut milik Joanna.


"Kau berani tidak memberi kami muka?" tanya pria pengganggu setelah melihat Louise mengabaikannya.


"Untuk apa memberi muka pada orang-orang yang akan mati," jawab Louise.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah, sebentar lagi kalian akan mati karena orang-orangku sudah mulai bekerja untuk menghancurkan kalian sampai tak tersisa," jawab Louise dengan senyum tipis.


"Jangan bercanda kau tidak akan pernah bisa. Itu hanyalah bualanmu," ejek pria itu.


"Bisa atau tidak, kalian berempat bisa mengetahuinya sebentar lagi," kata Louise.


Benar saja, tidak lama setelah Louise berbicara, satu persatu telepon mereka berbunyi. Mereka mendapatkan telepon dari orang-orang terdekatnya, memberikan kabar bahwa perusahaan yang baru saja mereka banggakan dan sombongkan telah bangkrut karena perbuatan bodoh mereka. Keempat orang itu juga mendapat kebencian dan hujatan dari ribuan orang di perusahaan. Karena mereka, ribuan orang itu harus kehilangan pekerjaannya.


Hanya dalam waktu hitungan menit, Louise benar-benar telah menghancurkan semuanya. Semua mimpi, harapan dan kesombongan yang beberapa menit lalu masih mereka agungkan.


"Siapa kau?" tanya dua pria pengganggu itu mulai gemetaran.


"Aku, hanyalah seorang pria yang akan menghancurkan mereka yang mengganggu wanitaku," jawab Louise dengan gaya perlente.


Jawabannya barusan membuat gadis-gadis di tempat itu sangat iri, mereka tersenyum dan terpana. Ini seperti cerita dalam novel. Gadis-gadis itu tiba-tiba menjadi iri dan kagum kepada Joanna disaat yang sama.


"Yang kami tanyakan adalah namamu!" seru salah satu gadis.


Gadis itu jelas sangat marah, baru beberapa hari dia memamerkan pencapaiannya kepada rekan-rekannya dan hari ini dihancurkan oleh orang asing begitu saja. Tentu saja dia tidak bisa menerimanya.


"Sayang, apa kau tidak memberitahu mereka siapa aku?" tanya Louise pada Joanna.


"Ah, itu. Kurasa belum," jawab Joanna yang baru tersadar dari lamunannya.


Sebenarnya, bukan hanya keempat orang itu atau seluruh pengunjung yang kaget, Joanna pun sebenarnya juga kaget. Dia tahu Louise kaya, tapi tidak menyangka Louise ini bisa membuat bangkrut perusahaan dengan waktu sesingkat itu.


Joanna tidak pernah menyangka Louise akan berbuat sejauh ini. Joanna menghubungi Louise hanya berharap dia segera datang dan membawanya pergi, bukan untuk membuat perusahaan bangkrut dalam sekejap mata.


"Oh, pantas saja mereka berani mengganggumu. Lain kali, dimana pun kau berada jangan lupa untuk menyebut namaku agar tak ada yang berani mengganggumu, mengerti?" kata Louise dengan penuh kasih sayang, lalu masih mencubit pipinya. Membuat Joanna salah tingkah di tempatnya.


"Jadi siapa kau sebenarnya?" teriak keempat pengganggu itu dengan emosi yang meledak. Bukannya menjawab pertanyaan mereka, tapi malah sibuk memamerkan kemesraan di depan umum.


"Ingat ini baik-baik. Pria yang baru saja menghancurkan kalian adalah aku, Louise Matthew. Berani mengganggu wanitaku, kehancuran adalah balasan untuk kalian," jawab Louise dengan menarik Joanna ke pelukannya dan melingkarkan tangannya ke pinggangnya.


"Apa, dia Louise Matthew?"


"Pantas saja dengan sekejap bisa membuat satu perusahaan bangkrut!"


"Caranya melindungi wanitanya membuatku merinding."


"Dia benar-benar pria sejati."


Pujian dan komentar dari orang-orang itu membuat Joanna menatap kearah Louise. Joanna ingin sekali mengatakan 'Cukup Louise. Tidakkah kau sudah berlebihan? Siapa sayangmu itu, siapa juga yang jadi wanitamu?'


Tapi Louise menangkap maksud yang berbeda sehingga dia mengatakan, "Terimakasih untuk kalian semua yang telah membela calon istriku, aku Louise Matthew akan mentraktir kalian semua sebagai ucapan terimakasih."


Mata Joanna kembali membesar, kemudian mencubit pinggang Louise. Memintanya untuk tidak berbicara sembarangan. Tapi malah membuat kesalahpahaman mereka semakin besar karena Louise tidak tahu bahasa batin yang disampaikan Joanna untuknya.


"Maaf, sepertinya calon istriku kurang puas. Aku akan membebaskan tagihan makan kalian selama satu bulan di cafe ini dan secara khusus memberikan tambahan modal kepada pemilik cafe untuk memperbesar usahanya," ralat Louise dengan santai.


"Bukan seperti itu maksudku, apa begini cara orang kaya menghamburkan uang?" batin Joanna dengan menepuk-nepuk dadanya.


Tentu saja itu seperti berkah tersendiri untuk pengunjung cafe. Merekapun berterimakasih dan menyatakan kekaguman atas kemurahan hati Louise.


"Ayo!" ajak Louise sambil menarik tangan Joanna.


Joanna ingat, keempat orang pengganggu itu tadi sempat memakinya habis-habisan. Jadi Joanna berhenti ketika melintas di depan mereka yang masih lemas karena terkejut. Mencoba memberikannya pelajaran meskipun hanyalah tipuan.


"Apa kalian sudah mengerti sekarang, inilah yang ku maksud dengan 'aku tidak mempunyai selera kepada pria-pria seperti mereka'?" tanya Joanna dingin.


Keempat orang itu diam tak berkutik, merenungi kebodohannya karena berani menyinggung orang yang tidak seharusnya mereka singgung.


"Apa mereka pikir kau yang menggoda pria-pria menyedihkan ini?" tanya Louise datar dengan tatapan sinis.


"Em," jawab Joanna singkat.


"Selanjutnya, kalian harus berpikir seribu kali sebelum mengusik orang lain terlebih orang-orangku. Karena jika tidak, aku tidak hanya akan mematahkan tangan kalian. Tapi aku juga akan membuat kalian hidup dengan terbaring di ranjang selamanya tanpa bisa berbicara."


Kalimat yang diucapkan Louise sukses membuat sisa sisa keberaniannya lenyap. Kejadian bertubi-tubi yang mereka alami hari ini sepertinya memberikan dampak besar untuk kesehatan mentalnya.


Kehilangan pekerjaan, perusahaan yang bangkrut, di blacklist di perusahaan manapun, masih harus menerima ujaran kebencian dari orang-orang. Ketenaran dan kekayaan kini semuanya tinggallah kenangan, membuat mereka diambang kegilaan.


Louise tak peduli, dia meninggalkan orang-orang itu begitu saja. Membawa Joanna bersamanya menuju mobil mewah yang sudah sejak tadi menunggu mereka.