
Laporan dari Okta membuat seisi ruangan diam. Mereka tidak sedang bersedih, mereka sangat senang. Tapi apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba jadi begini. Apa Anye benar-benar bunuh diri hanya karena takut?
Saat itu, saat semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, Joanna dan Agria sama-sama melihat Okta di waktu yang sama. Dua-duanya memang tidak mengatakan sepatah kata pun juga, tapi tidak dengan hatinya. Karena jauh di dalam sana hati mereka sama-sama membisikkan penyesalannya karena gagal menjalankan rencana pribadi mereka untuk melakukan pembunuhan kepada Anye.
"Padahal, aku baru akan pergi untuk membunuhmu malam ini," batin Agria.
"Kau beruntung, karena jika kau masih hidup beberapa hari lagi, akan ku pastikan kau mati dengan cara yang paling kejam," batin Joanna.
"Aku akan pergi menyusul Louise dan Arthur sekarang. Okta, kau tunggulah disini. Mulai sekarang dan seterusnya kau dan orang-orang pribadimu tidak ku ijinkan meninggalkan Joanna, Reagan dan Oskar sedikitpun. Apa kau mengerti?" tanya William.
"Saya mengerti, Tuan!" jawab Okta.
Selepas kepergian William, suasananya kembali hening. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut siapapun. Joanna menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian bangkit dan mendekat ke arah Oskar yang mulai gelisah.
"Mommy!" panggil Oskar.
Di ruangan yang banyak orang itu, pada akhirnya Oskar lah yang lebih dulu bersuara. Anak itu merentangkan tangannya, memberikan isyarat untuk minta dipeluk Joanna.
"Duduklah!" perintah Rose.
Rose membantu Joanna duduk senyaman mungkin. Lalu Jordan segera bergerak untuk memberikan Oskar padanya. "Apa begini tidak apa-apa?" tanya Jordan setelah Oskar berpindah ke pelukan Joanna dan menempel padanya.
Joanna menggeleng. Dia tahu Jordan mengkhawatirkan keadaannya karena belum pulih sepenuhnya. "Terimakasih, Pa!"
"Mommy, Xiao O takut?" kata Oskar lirih. Mungkin, kata-katanya hanya bisa di dengar oleh Joanna, Rose dan Jordan yang masih berdiri di sekitar mereka.
"Jangan takut. Orang jahat itu sudah mati. Lagipula, kita semua ada disini untukmu!" kata Joanna.
"Mommy, Xiao O minta maaf. Xiao O tidak menuruti kata-kata mommy tadi," kata Oskar lagi.
"Mommy juga minta maaf karena mommy tidak bisa menjaga Xiao O dengan baik. Maaf!" ucap Joanna kemudian mencium kening Oskar.
Rose dan Jordan tersenyum kemudian saling pandang sebelum mendekati Oskar. "Jangan takut, daddy pasti akan melindungimu," kata Rose menenangkan.
Setelah bercengkerama sebentar, akhirnya Rose dan Jordan pamit juga. Hari sudah semakin sore. Di perusahaan tidak ada siapapun sejak pagi. Jadi mereka harus segera kembali untuk sekedar memeriksa sebelum kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Terlebih Oskar masih belum ingin pulang. Dia masih ingin tinggal disini dengan adik dan ibunya.
Sementara itu, Agria juga tidak ingin berlarut-larut lagi. Dia juga harus segera pergi karena ada tempat lain yang harus dia kunjungi sekarang juga. Toh, disini ada ayahnya dan Okta. Seharusnya semuanya akan baik-baik saja mengingat Anye sudah mati.
"Kakak, kau mau kemana?" tanya Joanna.
"Ke rumah sakit," jawab Agria singkat. Dia tersenyum, mengintip Oskar dari kejauhan lalu menghampiri Reagan dan menciumnya.
"Bukankah dokter sudah memeriksamu tadi. Apa masih ada yang sakit?" tanya Sir Alex.
Sir Alex terlihat cemas. Dia menyingkap rambut Agria, memastikan tidak ada luka di sana dan memeriksa suhu tubuhnya. Agria tidak demam, juga tidak terluka selain di bagian kaki yang sudah dibalut perban. Jadi untuk apa dia pergi ke rumah sakit?
Sekali lagi Agria tersenyum. "Ayah, aku tidak sakit. Aku hanya ingin memeriksakan telingaku saja," jawab Agria.
"Kenapa, ada masalah apa. Apa kemasukan air saat kau masuk ke danau barusan?" tanya Sir Alex lagi.
"Tidak. Aku hanya ingin memeriksanya secara rutin mulai sekarang," jawab Agria.
Agria beralih mendekati Diaz yang masih menggendong Reagan. Menyentuh pipinya yang merah dan menciumnya sekali lagi. "Bi, aku akan pergi sekarang. Tolong jaga anak ini dengan baik saat adikku sibuk menjaga anakku. Aku akan kembali secepatnya," ucap Agria lirih.
Mendengar kata-kata Agria membuat Diaz menitikkan air matanya. Pemandangan seperti inilah yang selalu dia rindukan. "Bibi mengerti," jawab Diaz.
Joanna dan Oskar sebenarnya tidak tahu apa yang sedang Agria bicarakan dari tempat mereka duduk. Tapi mereka bisa melihat apa yang mereka lakukan. Oskar bahkan juga bisa melihat saat Agria memainkan pipi dan mencium adiknya sejak tadi.
"Mommy, apa adik bayi lebih imut dari Xiao O?" tanya Oskar.
"Apa yang kau katakan. Kalian sama-sama lucu dan menggemaskan," jawab Joanna.
"Xiao O ingin dicium wanita itu seperti adik bayi?" tanya Joanna.
Wajah Oskar memerah. Dia tidak tahu, dia masih enggan mengakui. Tapi setelah wanita itu menolongnya dia baru merasa bahwa wanita itu keren dan hebat seperti mommy. Mungkin, dia juga tidak sejahat itu. Dan tidak tahu kenapa dia merasa iri saat wanita itu berkali-kali mencium adiknya dan mengabaikannya. Bukankah dia yang seharusnya mendapatkan ciuman itu karena dialah anaknya?
"Tidak mau!" tolak Oskar gengsi. Anak itu memeluk Joanna. menyembunyikan wajahnya yang kecewa di pundak sang mommy.
Joanna tertawa kecil lalu terpikirkan ide untuk membuat Oskar mengakui perasaannya. "Xiao O. Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya Joanna.
"Eum," jawab Oskar.
"Lalu tangan siapa yang kau peluk sampai kau tidur nyenyak?" tanya Joanna.
"Tentu saja tangan mommy!" jawab Oskar.
"Kau salah. Kau tahu tidak, kau mengabaikan mommy dan memeluk tangan wanita itu semalam," kata Joanna.
"Mommy pasti bohong!" tolak Oskar.
"Mommy tidak bohong. Lalu apa kau tahu, semalam ada pencuri," kata Joanna.
"Pencuri? Dimana?" tanya Oskar.
"Di sini, di kamar ini," jawab Joanna.
"Siapa yang mencuri mommy. Apa yang dia curi?" tanya Oskar penasaran.
"Pencurinya adalah wanita itu. Dia mencuri pipimu yang menggemaskan ini untuk dia cium berkali-kali. Tidak hanya pipimu, tapi seluruh wajahmu yang tampan ini juga dia curi," jawab Joanna.
"Mommy, kenapa dia mencuri pipi Xiao O?" tanya Oskar.
"Karena dia sangat ingin menciummu, Sayang. Dia sangat ingin menciummu sejak dulu tapi takut kau marah. Jadi mommy menyuruhnya untuk mencuri pipimu selagi kau tidur," jawab Joanna.
"Kenapa mommy jahat. Kenapa menyuruhnya mencuri?" protes Oskar.
"Karena mommy kasihan padanya. Oskar, ngomong-ngomong bukankah seharusnya kau berterimakasih padanya?" tanya Joanna.
Oskar mendelik. Bukannya tidak mau berterimakasih, tapi Oskar masih ingat bagaimana dia memanggilnya mama tapi wanita itu malah mengabaikannya. Bukannya menyahut 'iya' atau 'tunggu mama', wanita itu malah memintanya menutup mata. Kenapa mamanya sangat tidak peka? Ini membuat Oskar marah. Tiba-tiba dia menyesal sudah memanggil mama jika pada akhirnya mamanya lebih memilih Reagan daripada dirinya.
"Xiao O sayang, Xiao O belum menjawab pertanyaan mommy," ulang Joanna sembari mencium dahi Oskar.
"Mommy, Xiao O tidak mau!" jawab Oskar.
"Kenapa tidak mau. Sayang, dia sangat panik saat tahu kau hilang. Apa kau tahu, dia langsung berlari mencarimu dan terus memanggilmu. Lihatlah, kakinya juga terluka. Apa Xiao O benar-benar tidak mau berterimakasih?" tanya Joanna.
"Mommy, Xiao O mau berterimakasih, tapi wanita itu sangat bodoh seperti mommy. Tidak hanya bodoh, dia juga sangat tidak peka. Xiao O sudah berteriak 'mama, tolong Xiao O' tapi dia tidak menjawabnya. Mommy, hati Xiao O sangat sedih. Xiao O sudah bersusah payah memanggilnya mama tapi dia malah lebih memilih Adik Reagan. Mommy, Xiao O minta ditukar saja. Xiao O mau jadi anak mommy saja dan berikan Adik Reagan pada mamaku yang bodoh itu," kata Oskar panjang lebar.
Joanna hanya bisa membelalakkan matanya mendengar ocehan Oskar. Berkedip beberapa kali dan tersenyum canggung. Dia sangat gemas dengan Oskar, tapi dia juga ingin marah disaat yang sama. Siapa yang anak ini katakan bodoh tadi. Siapa yang mengajarinya berbicara setajam ini?
Tapi, bukan itu poin pentingnya. Yang penting adalah Oskar sudah memanggil Agria dengan sebutan mama.
"Xiao O. Dia bukannya tidak peka. Dia hanya tidak percaya kau mau memanggilnya mama. Cobalah panggil sekali lagi. Dia pasti akan datang dan memelukmu jika kau mau," kata Joanna.
Oskar menoleh lagi, tapi tidak mengeluarkan suaranya meskipun melihat Agria sudah menenteng tasnya dan siap pergi.
"Sayang, dia akan segera pergi. Kau akan terlambat jika tidak segera memanggilnya sekarang!" kata Joanna.
...***...