
Joanna meringkuk. Duduk di pinggiran sungai dan memeluk lututnya sendiri dengan butiran air mata yang mulai menggenang. Menangis ya? Sudah sangat lama dia tidak menangis. Apa dia patah hati lagi sekarang. Apa akhirnya hatinya dipatahkan oleh orang yang sama lagi?
Louise Matthew itu kan. Orang yang selalu rindukan, orang yang tidak bisa membuatnya mengatakan apapun selain aku mencintaimu di lubuk hatinya yang terdalam. Orang yang selalu dia ingat bahkan saat dia sedang menutup matanya sekalipun.
"Ini tidak benar kan, Louise. Kau hanya sibuk saja kan. Kau pasti akan mengangkat telepon dariku jika aku memanggilmu sekali lagi kan. Tapi bagaimana kalau tidak. Bagaimana?" ujar Joanna lirih.
Akhirnya Joanna kembali menekan panggilan dial itu setelah menata hati dan pikirannya. Berharap dia tidak akan kecewa seandainya Louise masih mengabaikannya juga. Sayangnya, saat dering itu masih berbunyi sekali seseorang lebih dulu merebut ponselnya dan mengakhiri panggilannya. Orang itu adalah William. William yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya. Rupanya pria itu bangkit setelah mendengar Joanna menyebut nama Louise yang membuatnya sangat muak.
"William?" tanya Joanna.
Joanna tidak tahu apa yang akan dilakukan William. Tapi yang jelas pria itu membuatnya mulai takut sampai membuyarkan genangan air matanya yang siap tumpah. Meskipun samar, tapi tatapan mata itu membuatnya ngeri. Terlihat garang, tapi menyiratkan kesedihan, kekecewaan dan penderitaan di dalamnya. Kenapa William melihatnya dengan tatapan seperti ini. Apa dia sedang kasihan padanya?
"Apa di matamu hanya ada Louise Matthew saja, Joanna?" tanya William.
Hanya satu pertanyaan saja. Tapi sukses membuat Joanna mengusap wajahnya dan menyunggingkan sedikit senyum. Joanna kira William sedang menghiburnya. Joanna kira William sedang mengingatkannya bahwa masih ada orang lain yang peduli padanya. Kalau Louise tidak mengangkat teleponnya, bukankah dia masih bisa menghubungi ayah dan kakaknya? Mereka pasti akan datang secepatnya jika dia minta tolong.
"Ah, Will. Kau benar, aku bisa menghubungi ayah dan kakakku. Aku juga bisa menghubungi Paman Okta atau Arthur. Bisakah mengembalikan ponselku sekarang?" kata Joanna.
Joanna ingin mengambil kembali ponselnya. Tapi William bukan hanya menghalanginya, tapi malah melemparkan ponselnya sejauh yang dia bisa hingga akhirnya jatuh ke dasar sungai yang gelap. "Bukan itu maksudku, Joanna!"
"William, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Joanna.
Bagaimana cara mereka meminta bantuan sekarang. Meskipun Joanna tahu di atas seberang sungai sana ada jalan yang mereka lalui sebelumnya, tapi jalanan itu sangat sepi. Bahkan Joanna belum mendengar atau melihat cahaya dari kendaraan yang lewat di sana. Sekarang William malah membuang ponselnya, apa William berencana mempersulit dirinya sendiri agar cepat ditemukan?"
"Kenapa kau membuang ponselku, Will?" ulang Joanna ketika William masih diam saja.
"Apa aku tidak pernah terlihat di matamu?" tanya William. Pria itu bukan menjawab tapi memberikan pertanyaan lain pada Joanna sambil mendekat. Itu membuat Joanna beringsut mundur meskipun posisinya sedang duduk.
"Apa maksudmu, Will?" tanya Joanna.
"Kenapa selalu begini caramu membalas semua kebaikanku Joanna. Kenapa selalu menyebut nama Louise dan bermesraan tepat di depan mataku setelah apa yang kulakukan untukmu. Aku tahu kau miliknya dan dia milikmu, aku juga tahu ini sebenarnya bukan urusanku, tapi bisakah tidak menunjukkannya di hadapanku Joanna. Kenapa kau sangat tidak berperasaan. Apa kau tahu bagaimana susahnya aku saat berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu agar tidak semakin tumbuh untukmu. Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja. Tidak bisakah kau menjaga perasaanku seperti aku menjaga perasaanmu?" cecar William tepat di depan Joanna.
Tatapan keduanya saling beradu. Joanna bisa merasakan penderitaan yang disembunyikan disana. Apakah ini adalah kata hati William yang sebenarnya?
Joanna menelan ludahnya dengan kasar. Tidah hanya itu, tubuhnya juga mulai gemetaran saat jantungnya berdetak kencang. Apa William baru saja mengeluarkan semua isi hatinya. Apa William baru saja mengeluarkan segala unek-uneknya yang dia pendam selama ini. Apa William sangat menderita seperti ini selama ini.
Kenapa dia tidak tahu. Apa dia terlalu tidak peka. Lalu, apa itu artinya William mencintainya?
Selama ini, Joanna selalu marah saat melihat William dekat-dekat dengan Anye. Selalu mencari cara agar William tidak dekat-dekat dengan Daisy meskipun menggunakan cara yang tidak masuk akal seperti menipunya dengan alasan Reagan menangis. Bahkan baru saja dia memberikan pelajaran pada Daisy dengan cara yang kejam karena mencoba memanfaatkan William yang sedang mabuk.
Joanna melakukan semuanya hanya untuk memangkas bibit-bibit yang mungkin bisa mengancam perjalanan cinta William dan Marissa kedepannya. Memastikan tidak ada wanita atau penghalang lain yang menghalangi pernikahan mereka yang tinggal menunggu waktu. Tapi dia sangat tidak menyangka bahwa ternyata wanita penghalang itu sedang duduk tepat di depan William sekarang. Tidak hanya duduk di depan William, tapi juga sudah menjadi istri seorang William. Wanita itu, tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.
Sekali lagi Joanna melihat mata William yang sayu. Pria ini memang sangat baik padanya selama ini. Dia tidak pernah memperlihatkan keromantisan antara dirinya dan Marissa di depannya dengan sengaja.
Jadi untuk inikah alasannya. Sekarang, akhirnya Joanna tahu apa arti dari tatapan mata William selama ini. Sekarang, Joanna tahu kenapa William marah-marah tidak jelas saat dia mengobatinya hari itu. Sekarang, Joanna juga tahu betapa tersiksanya William terjebak di dalam hubungan yang rumit seperti ini.
"William, apa kau menyukaiku?" tanya Joanna memberanikan diri.
"Tidak, aku tidak hanya menyukaimu. Tapi aku sangat mencintaimu," jawab William dengan bersandar di pundak Joanna.
"William, jangan mencintaiku. Itu tidak benar. Marissa sedang menunggumu," kata Joanna.
"Aku tahu. Aku sangat tahu itu. Aku pun juga tahu tidak seharusnya aku mencintaimu. Tapi apa yang bisa kulakukan Joanna. Apa kau pikir aku sengaja. Apa kau pikir aku bisa mencegah rasa ini. Apa kau tahu, aku sudah melakukan banyak usaha untuk membuang perasaan itu. Tapi kau selalu mendekat, selalu menempel, dan kau selalu memperhatikanku. Lalu apa yang bisa kulakukan selain menyembunyikannya, Joanna. Katakan apa yang harus kulakukan agar aku tidak semakin mencintaimu?" kata William panjang lebar.
Joanna menunduk. Tidak berani melihat mata itu lebih lama lagi. Jawaban apa yang harus dia berikan agar tidak semakin melukai hati William. Cinta adalah sesuatu yang rumit. Yang terlihat benar belum tentu benar dan yang terlihat salah belum tentu salah. Semuanya tergantung dari sisi mana kita melihatnya dan kondisi seperti apa hati kita. Terlebih saat ini William masih mabuk. Sebanyak apapun mereka berbicara, tapi tetap saja akan dilupakan William keesokan harinya.
"Maafkan aku, Will! Ini semua salahku yang selalu bergantung padamu dan terus berkeliaran di sampingmu selama ini. Tapi aku janji kelak aku tidak akan seperti itu lagi agar kau tidak mencintaiku lagi. Secepatnya, aku akan meminta perceraian kita dipercepat agar kau tidak perlu melihatku lagi. Dengan begitu kau bisa melupakan aku kan. Lalu segeralah menikah dengan Marissa dan hidup bahagia," kata Joanna.
"Hanya seperti itu saja?" tanya William.
"Iya, hanya seperti itu saja!" jawab Joanna.
...***...