CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Louise Matthew?



"Kakak!" teriak Daisy histeris.


"Kakak jangan mati!"


"Kakak jangan tinggalkan aku!"


Tangan itu mencoba meraih tubuh Peter yang sudah tidak bernyawa. Tapi masih tidak bisa menggapainya sekeras apapun dia mencoba. Dia hanya bisa menangis dan terus menangis. Melihat tubuh kakaknya yang bersimbah darah itu dengan pandangan mata yang kabur karena lelehan air matanya sendiri.


"Kakak, jangan pergi. Buka matamu!"


Suara tangisan itu semakin menyayat hati. Tapi di hadapan Joanna yang tak berperasaan, itu terlihat sangat memuakkan. Dia bahkan terkesan sangat acuh melihat pemandangan memilukan itu. Seorang adik menangisi kepergian kakaknya yang mati dengan jumlah tembakan yang tak terhitung banyaknya. Sadis memang tapi beginilah hidup.


Kalau tidak ingin berakhir tragis maka jangan pernah berani untuk memulai. Karena sejatinya kau tidak akan pernah tahu bagaimana marahnya orang yang terlihat lemah jika sudah marah dan menunjukkan sisi gelapnya. Joanna juga tidak berencana sedih. Sedih untuk apa. Karena jika dia tidak beruntung, dia yang sudah mati beberapa hari yang lalu karena ulah mereka.


"Joanna, kau benar-benar seorang penjahat, biadab. Kau iblis!" rutuk Daisy.


Joanna hanya tersenyum saja mendengar umpatan itu. Lalu duduk manis di tempatnya semula karena masih ada yang ingin dia katakan. "Jangan takut, setelah ini giliranmu. Kau akan melihat bagaimana iblis ini membunuhmu nanti."


"Kenapa kau membunuh kakakku kenapa? Kenapa tidak membunuh aku saja. Aku yang merencanakan ini bukan kakakku. Memangnya apa yang dia lakukan sampai kau membunuhnya?" teriak Daisy.


"Sstt! Jangan berteriak, aku akan menjelaskannya," kata Joanna.


Joanna melepaskan injakan kakinya. Mendekati wajah Daisy yang penuh amarah dan menarik rambutnya. "Dengarkan aku baik-baik, Daisy. Kakakmu ini mencoba membunuhku dengan mendorong mobilku jatuh ke sungai. Jika kakakmu tidak membuatku terjun ke sungai bersama William malam itu, aku tidak mungkin ditiduri William," jawab Joanna.


"Apa itu bisa dijadikan sebuah alasan. Apa kau hanya ingin pamer padaku tentang kau yang selalu bisa tidur dengan William?" tanya Daisy penuh amarah. Sangat marah sampai ingin menghancurkan apapun tapi lagi-lagi tangannya tidak bisa menjangkau lebih jauh karena kekangan rantai yang membelenggunya.


"Tentu saja itu bisa dijadikan sebuah alasan. Hei, ngomong-ngomong apa kau bodoh. Apa kau pikir sekarang ini aku sedang pamer. Apa ditiduri William saat dia mabuk patut untuk dibanggakan. Aku ini korban karena ulah bodoh kalian berdua tahu," jawab Joanna dengan toyoran di kepala Daisy.


"Korban? Hh, bilang saja kau menyukainya. Lagipula William tidur denganmu bukankah itu sudah biasa. Jelas-jelas sudah ada anak dari hasil tidur kalian selama ini," decak Daisy kesal.


"Daisy, dengarkan aku. Reagan Kashawn bukan anak William. Dia adalah anak yang ku buat bersama Louise Matthew. William pun juga tahu itu. Aku ini sebelumnya sama sekali tidak pernah membuat anak dengan William. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa menerimanya malam itu. Mau bagaimana lagi, ini semua salah kalian. William adalah pria yang lemah alkohol dan kalian memberinya alkohol. Ditambah dengan ulah bodoh kakakmu yang membuat kami terjun ke sungai. Akhirnya terjadilah peristiwa itu. Daisy, apa kau tahu, kami melakukannya di alam terbuka semalaman suntuk. Apa kau tahu bagaimana rasanya tidak mengenakan apapun di tengah malam dengan angin dingin yang menusuk tulang. Bukankah rentetan peristiwa yang menimpaku itu sudah pantas membuatku disebut sebagai korban?" jelas Joanna panjang lebar.


"Jadi kau?"


"Apa masih belum jelas. Kenapa aku mati-matian menjaga William dari wanita sepertimu. Karena dia adalah calon adik iparku yang meminjam status sebagai suamiku," lanjut Joanna.


"Kau memberitahuku ini, apa kau tidak takut aku akan mengadu pada Tetua?" tanya Daisy.


"Apa mereka akan mempercayaimu. Orangtuamu bahkan memasang rantai seperti ini karena kau sudah dianggap sebagai orang gila. Apa omongan yang keluar dari mulutmu masih dipercaya?" tanya Joanna.


"Kau lihat saja. Lihat saja nanti. Aku pasti akan membuat mereka percaya padaku. Aku akan mengatakan kau membunuh kakakku. Membohongi semua orang dan melahirkan anak yang bukan keturunan Bangsawan Timur. Lalu lihat saja bagaimana aku akan membuatmu membayar semua kejahatan yang telah kau lakukan padaku," ancam Daisy.


Lagi-lagi Joanna hanya tersenyum menanggapi ocehan Daisy. Dia bahkan mulai memainkan rambut Daisy yang basah karena semburan air tadi. "Masalahnya adalah apa kau masih punya kesempatan untuk melakukannya?" tantang Joanna.


"Karena aku tidak berencana membiarkanmu hidup sampai besok pagi. Hidupmu cukup hanya sampai malam ini saja," jawab Joanna.


Joanna bangkit lalu mengisi kembali pistolnya dengan satu peluru saja. "Sudahlah, mulutku capek berbicara terus. Sekarang kau mati saja untuk memani kakakmu di atas sana agar dia tidak kesepian. Satu lagi, saat sampai disana jangan gila lagi," pesan Joanna.


"Kau, apa yang akan kau lakukan. Kau berani membunuhku?" tanya Daisy.


"Kenapa tidak berani. Kakakmu saja sudah kubunuh. Jadi sekarang giliranmu," jawab Joanna.


"Joanna, aku bersumpah akan menyeretmu ke neraka!" umpat Daisy geram.


"Lakukan saja kalau kau bisa," kata Joanna.


"Joanna, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tidak akan pernah!"


"Daisy, aku hanya ingin membantumu. Daripada kau hidup setengah gila dan menjadi beban negara bukankah sebaiknya kau mati saja. Nasi dan air yang masuk ke mulutmu, lebih baik diberikan kepada mereka yang waras saja," kata Joanna.


Dia tidak goyah. Sama sekali tidak ingin berubah pikiran untuk tidak mengampuni satu nyawa ini. Moncong senjata itu sudah mengarah tepat ke kepala Daisy yang siap kapan saja memuntahkan pelurunya.


"Selamat tinggal!"


Dor


Hanya dengan satu tembakan saja Daisy akhirnya pindah alam. Menyusul kakaknya yang mungkin sudah menunggu di pintu masuk alam lain.


Joanna segera pergi setelah melakukan itu semua. Meninggalkan rumah itu dengan tenang tanpa merasa bersalah. Dia melepaskan sarung tangannya, mengganti pakaiannya dan menyimpannya ke dalam sebuah tas sebelum membuangnya lalu pergi ke tebing tinggi dengan laut di bawahnya.


Tidak ada yang dia lakukan. Dia hanya duduk sambil melihat ke angkasa. Melanjutkan kembali menghitung bintang yang sempat tertunda sembari meratapi nasibnya yang akan menjadi janda. Tapi baru saja dia menghitung kurang dari sepuluh bintang, dia sudah mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekatinya.


"Apa ada orang lain yang tahu bahwa aku telah membunuh mereka selain kakakku?" batin Joanna menerka-nerka.


Tapi siapa?


William sudah tidur, Arthur tidak mungkin. Ayahnya pasti tidak tahu asalkan Agria tidak bercerita. Lalu Louise juga sudah tidak peduli dengannya. Jadi siapa tamu tidak diundang ini?


Joanna bangkit, ingin menyambut tamu spesialnya malam ini. Dia menangkap siluet seseorang yang berjalan di tengah gelapnya malam. Jarak orang itu semakin dekat, tapi Joanna masih tidak bisa melihat dengan jelas. Sampai orang itu hanya berjarak beberapa langkah saja darinya. Sosok seorang pria yang sangat dia kenal, pria yang sangat dia rindukan dan pria yang terus-terusan mengabaikannya karena kehadiran kembali cinta pertama.


"Louise Matthew?"


"Apa yang baru saja kau lakukan, Joanna. Membunuh lagi?" tanya Louise saat pria itu benar-benar sudah berdiri di depan Joanna.


...***...