CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Lembur Bareng



"Joanna, cukup hentikan!" tolak Louise ketika Joanna masih saja berusaha menciumnya.


"Louise, bukankah kau bilang mencintaiku. Kenapa kau menolakku, hm?" tanya Joanna. Tangan itu masih berusaha menggapai Louise tapi Louise menahannya.


"Aku memang mencintaimu, tapi bisakah kau menciumku saat tidak mabuk begini?" jawab Louise. Bukan tanpa alasan Louise menolaknya. Karena saat Joanna sadar nanti dia pasti akan marah-marah seperti lampir dan menuduhnya telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan seperti biasanya.


"Sepertinya Nona Joanna sudah mabuk berat," kata Kepala Suh yang baru saja datang dengan dua pelayan. Mereka siap untuk membereskan meja bekas Louise dan Joanna menghabiskan beberapa botol wine.


"Aku akan membawa Joanna ke kamarnya. Kalian segera beristirahatlah, hari sudah larut!" kata Louise memberikan instruksi.


"Baik, Tuan Muda!" jawab pelayan bersamaan kemudian segera membereskan meja itu dan pergi.


"Saya akan membantu membuka pintu kamar untuk Tuan Muda," kata Kepala Suh menawarkan diri.


"Terimakasih!" kata Louise.


Louise pun mengangkat tubuh Joanna dengan mudah. Membawanya masuk ke kamar pilihan Joanna sendiri di lantai atas, tepatnya di samping kamar dimana Oskar dirawat. Tapi Joanna enggan melepaskan pelukannya saat Louise sudah meletakkannya di kasur.


"Louise, kau mau kemana?" tanya Joanna dengan mata yang sayu.


Louise memegangi kedua pipi Joanna. Mencubitnya sama persis seperti yang sering Joanna lakukan kepada Oskar, "Aku akan pergi ke kamarku," jawab Louise. Kemudian merebahkan Joanna dan menyelimutinya.


"Louise, jangan pergi. Temani aku malam ini, ya?" tahan Joanna. Dia bangkit, memeluk pinggang Louise yang masih berdiri di pinggiran ranjang.


"Joanna, kau akan marah jika aku tidur di ranjangmu," tolak Louise.


"Kalau begitu bawa aku bersamamu. Kau tidak marah kalau aku tidur di ranjangmu kan?" tawar Joanna memberikan opsi lain.


Kepala Suh yang masih berdiri di sekitarnya hanya bisa tersenyum. Membuat Louise sedikit salah tingkah.


"Kepala Suh, besok kalau wanita ini marah-marah, Kepala Suh harus bersaksi bahwa bukan aku yang sengaja membawanya ke kamarku," kata Louise mengingatkan.


"Baik, Tuan Muda!" jawab Kepala Suh dengan menahan tawa.


"Beritahu juga para maid dan pengawal. Katakan pada mereka seolah-olah mereka juga melihatnya. Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan rubah betina ini saat dia terbangun di kamarku besok pagi," lanjut Louise.


"Sesuai permintaan Anda, Tuan Muda!" jawab Kepala Suh lagi kemudian pergi. Tersenyum dan menggelengkan kepalanya setelah melihat tingkah sepasang sejoli itu.


Louise akhirnya membawa Joanna ke kamar pribadinya sesuai permintaannya. Meletakkan Joanna yang sudah mabuk berat di kasur. Lalu dengan cekatan langsung mengambil handuk basah untuk menyeka Joanna. Tidak lupa mengambil piyama berwarna putih untuk menggantikan pakaian yang dikenakan Joanna.


"Kau ini, kenapa sangat mirip dengan William. Kenapa selalu aku yang harus mengurus kalian yang sedang mabuk sampai harus menyeka dan mengganti pakaian kalian," keluh Louise.


Akhirnya Joanna sudah berganti pakaian, sementara Louise segera membereskan peralatannya dan meletakkan baju Joanna di keranjang pakaian kotor.


Selesai dengan Joanna, kini giliran Louise yang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia keluar dari kamar mandi setelah lima belas menit hanya dengan memakai piyama bertali di pinggangnya.


Baru juga meletakkan bokongnya di ranjang, Joanna sudah kembali berulah. Tidak hanya bangkit, dia juga terus memeluk Louise dari belakang dan menyisipkan tangannya di balik piyama Louise. Menekan-nekan ABS keras itu dengan tangannya dan terus mencium leher belakang milik Louise, "Aku suka aroma tubuh ini," katanya dengan ngelantur.


"Joanna, apa yang sedang kau lakukan. Bukankah kau sudah tidur?" tanya Louise. Dia menoleh, mengacak-acak rambut Joanna yang terlihat menggemaskan.


"Louise, aku sangat mencintaimu!" kata Joanna lagi.


"Aku tahu!" jawab Louise.


Louise melepaskan tangan Joanna yang memeluknya, setelah itu kembali membaringkan Joanna. Berharap wanita itu segera tidur dan tidak berbuat macam-macam lagi. Bukannya menurut, Joanna malah semakin agresif dan aktif. Tidak hanya terus mencium Louise, dia juga berani menarik tali piyama Louise dan melihat ABS nya.


"Louise, bagaimana caramu membentuk tubuhmu sampai seperti ini," tanya Joanna dengan menyentuh kotak demi kotak itu. Terlihat sangat mengagumi, kemudian mencoba menggigit ujung salah satu roti sobek itu dengan giginya seolah ingin mencicipi rasanya.


"Joanna, hentikan. Kalau kau terus begini kau bisa membangunkan sesuatu yang tidur di bawah sana," kata Louise memperingatkan. Sangat bodoh, bagaimana bisa dia mengingatkan orang yang sedang mabuk.


"Tapi aku masih ingin menggigitnya," kata Joanna.


Louise tersenyum, tiba-tiba dia mendapatkan ide untuk mengerjai Joanna yang sedang mabuk, "Baiklah, ayo sini cium aku!" perintah Louise.


Joanna kembali mencium Louise, menyambar bibir itu dan mulai menikmatinya. Tapi berhenti beberapa detik kemudian, "Louise, kenapa kau tidak membalas ciumanku. Apa kau tidak mencintaiku?" protes Joanna.


"Aku akan membalasnya nanti. Tapi bisakah kau meninggalkan tanda disini?" tanya Louise dengan menunjuk leher dan dadanya, "Tinggalkan tanda darimu disana dan aku akan memberikan ciuman untukmu sebagai imbalannya."


"Disini?" tanya Joanna dengan menunjuk bagian-bagian yang Louise inginkan. Lalu mulai melakukan tugasnya dibawah pengaruh alkohol.


"Joanna, apa kau ingin memperkosaku?" tanya Louise.


Joanna tidak menjawab. Dia terlalu sibuk membuat jejak di tubuh atletis Louise. Membuat Louise yang awalnya baik-baik saja menjadi mulai bergairah.


"Kau bisa berhenti sekarang. Itu sudah cukup ku gunakan untuk mengerjaimu besok," kata Louise.


"Tapi kau belum menciumku," protes Joanna.


GREP


Louise merasa seperti tersengat arus listrik. Menghentikan ciumannya dan menutup satu matanya karena mendapatkan serangan kejutan. Tangan Joanna sudah menyelinap dan memegang benda pusaka miliknya di bawah sana.


"Joanna, apa yang kau lakukan. Kenapa kau malah memegangnya sih. Apa kau tak takut aku memperkosamu?" tanya Louise.


"Kau tidak akan melakukannya, Louise. Aku kan sudah bilang aku sedang datang bulan," jawab Joanna.


"Hentikan sekarang juga selagi aku masih bisa menahannya," perintah Louise tapi tak dihiraukan oleh Joanna.


"Louise, dia terlalu imut dan menggemaskan. Biarkan aku memegangnya lebih lama lagi, ya?" ijin Joanna.


"Imut dan menggemaskan?" ulang Louise. Kesabarannya sudah melewati batasnya. Apa gunanya Joanna membuat barang imut dan menggemaskan itu bangun jika pada akhirnya Joanna tidak bisa memuaskannya karena sedang datang bulan.


Karena Joanna tak kunjung melepaskan mangsanya, Louise pun bangkit untuk melindungi benda pusakanya yang berharga dari remasan Joanna yang semakin liar. Mengambil apapun untuk mengikat tangan Joanna yang semakin nakal. Lalu kembali berbaring disampingnya dengan meletakkan satu guling sebagai pembatas.


"Joanna, aku bisa gila kalau kau memperlakukan aku seperti ini," gerutu Louise dengan memijit keningnya.


"Louise, sebenarnya aku punya satu rahasia. Apa kau mau mendengarnya?" tanya Joanna. Dengan tangan terikat dia masih sempat-sempatnya menggoda Louise. Melewati guling pembatas itu dan mendekati Louise yang semakin sakit kepala.


"Apa?" tanya Louise. Kemudian membiarkan kepala Joanna bersandar di dadanya tapi tangannya mengekang tangan Joanna kuat-kuat agar tidak menyentuhnya secara sembarangan lagi.


"Sebenarnya aku tidak sedang datang bulan. Maafkan aku, tapi kau sangat menyeramkan dan aku sangat takut. Aku takut kau menyakitiku dengan benda mirip jamur itu, Louise. Waktu itu kau bahkan memaksaku memakannya kan?" kata Joanna tanpa beban. Tidak sadar bahwa dengan mengatakan rahasia itu bisa membuat macan yang tidur itu marah besar.


"Joanna, apa kau menipuku selama beberapa minggu ini?" tanya Louise.


"Maafkan aku," jawab Joanna tanpa takut sedikitpun.


"Katakan padaku dengan jujur, apa kau sedang datang bulan sekarang?" tanya Louise dengan memandang Joanna lekat-lekat. Menyentuh wajahnya dengan satu tangannya.


"Tidak," jawab Joanna dengan senyum lebar tanpa dosa. Lalu menyimpan kepalanya di cekungan leher milik Louise yang sudah merencanakan sesuatu sebagai hukumannya.


"Joanna, kau benar-benar membuatku marah sekarang," kata Louise.


Louise segera mengambil ponselnya, dengan cepat mencari satu nama yang mungkin saja sudah tertidur saat ini.


"Louise, ada apa menelepon mama malam-malam begini?" tanya Rose sedikit kesal dari seberang sana.


"Ma, besok pagi-pagi sekali bisakah datang ke villa?" tanya Louise.


"Ada apa, apa terjadi sesuatu?" tanya Rose mulai panik.


"Tidak ada, aku hanya ingin mama membantuku mengurus cucumu. Apa bisa?" jawab Louise.


"Tentu saja bisa. Tapi kemana Joanna, apa dia acara atau akan pergi keluar?" tanya Rose.


"Calon menantu kesayanganmu itu berani membohongiku, Ma. Aku akan membuatnya lembur malam ini sebagai hukumannya," jawab Louise.


"Oh, baiklah. Mama tidak akan mengganggumu lagi. Bangun dan turunlah menjelang makan siang besok," kata Rose kemudian menutup teleponnya dengan hati berbunga-bunga.


Louise menghela nafas panjang, kemudian membuka ikatan tangan Joanna sehingga dia kembali bebas.


"Joanna, bukankah kau ingin menciumku tadi?" tanya Louise.


"Apa boleh, kau tidak akan marah kan?" tanya Joanna ragu.


"Aku berubah pikiran. Sekarang, aku akan sangat marah kalau kau tak segera menciumku. Ayo, cepat kemarilah dan serang aku lagi!" perintah Louise.


"Sungguh?" tanya Joanna.


"Sungguh. Ayolah, naiklah dan duduk di atasku. Kemudian cium aku sepuas hatimu," titah Louise.


Louise duduk setengah bersandar di sandaran ranjang. Joanna pun menurut, dia bangkit dan duduk di paha Louise. Siap menciumnya tapi Louise menghentikannya.


"Tunggu!" tahan Louise.


"Eum, kenapa?" tanya Joanna.


"Aku tidak suka seseorang memakai piyamanya ketika duduk diatasku," jawab Louise.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Joanna.


"Buka!" jawab Louise singkat.


...***...