CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Jangan Pedulikan Aku!



"Kau telah bekerja keras, William!" batin William.


Senyum di sudut bibirnya akhirnya muncul kembali meskipun bukan senyum yang menggambarkan kebahagiaan. Dia hanya ingin melakukannya sebagai reward atas kerja kerasnya saja. Kerja keras atas usahanya yang luar biasa untuk tetap setia pada Marissa dan mengabaikan cintanya untuk Joanna sekuat yang dia bisa selama ini.


Berbicara soal bahagia, dia sendiri pun ragu apakah dia benar-benar bahagia sekarang. Dia sangat benci mengakui ini tapi dia memang semakin jatuh cinta pada wanita yang saat ini duduk dan merawat lukanya dibelakang sana. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Dari awal hubungan mereka sudah rumit, semakin rumit saat dia menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada wanita milik kakaknya sendiri.


Tapi seandainya dia boleh meminta, bolehkah jika mereka tidak usah bercerai. Bolehkah tetap seperti ini saja, membiarkan Joanna tetap jadi istrinya meskipun hatinya bukan untuknya. Hanya seperti ini, seperti hari-hari yang dia lalui setahun terakhir ini. Karena faktanya dipanggil papi oleh Oskar juga sangat menyenangkan. Sama menyenangkannya seperti saat Ebra memanggilnya dengan sebutan papa.


Jika bisa seperti itu, dia janji akan membiarkan Joanna tetap berhubungan dengan Louise dan tidak akan marah atau mengeluh. Apakah dia egois jika ingin seperti ini?


William membuang nafasnya dengan kasar. Kenapa harus dia yang mengalami cinta segi banyak seperti ini. Kenapa keinginan egois itu semakin berkeliaran di otaknya yang semakin liar. William mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba mencari kewarasannya kembali agar tidak berpikir sembarangan.


"William, jangan berpikiran macam-macam. Segeralah menceraikan wanita ini dan menikah dengan Marissa. Dengan begitu, kau bisa menghapus cintamu yang salah dengan sempurna," batin William.


Pria itu akhirnya menoleh setelah berperang dengan batinnya sendiri. Mencoba melihat Joanna yang diam terlalu lama. Sudah cukup perhatiannya, sudah cukup kemurahan hatinya. William tidak ingin diperhatikan oleh Joanna seperti ini lagi atau cintanya semakin bersemi dan semakin merepotkan nanti.


"Apa belum selesai?" tanya William.


Bukannya menjawab, Joanna malah pindah tempat. Ada satu goresan di dada William yang belum tersentuh. Tangan itu dengan terampil mengoleskan obatnya dengan mata yang sopan dan tidak melihat kemana-mana. Tanpa berbicara, tanpa melihat William, hanya fokus pada luka terakhir yang harus dia obati.


"Hentikan, berikan itu padaku. Aku bisa melakukannya sendiri!" pinta William.


"Tunggulah sebentar lagi. Ini akan segera selesai," jawab Joanna. Joanna mempercepat gerakan tangannya tapi William tidak sesabar itu untuk menunggu. Berada di dekat Joanna dengan jarak yang sedekat ini dengan Joanna adalah hal yang harus dia hindari mulai sekarang.


"Berikan padaku, Jo?" ulang William.


"William, setengah menit. Beri aku setengah menit saja,-"


PRANG


Apanya yang setengah menit lagi. Sekarang sekotak obat itu sudah berserakan dilantai karena William menepis tangan Joanna. Membuat Joanna menyenggol kotak obatnya tanpa sengaja.


"Aku bilang Hentikan. Itu sudah cukup. Apa kau tidak mendengarnya?" bentak William.


William bangkit. Tidak lagi menghiraukan Joanna yang duduk mematung karena tidak percaya dengan apa yang William lakukan. Wajahnya memerah, jantungnya berdetak sangat cepat dan tangannya gemetaran. Seharusnya ini adalah pertama kalinya William marah kepadanya. Marah padanya yang mencoba berbaik hati dengan membantu mengobati lukanya.


"William?" lirih Joanna.


Joanna hanya melihat punggung pria itu dari belakang. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja William lakukan. Kenapa pria yang selalu sabar itu bisa marah padanya tanpa tahu apa kesalahannya. Marahnya orang sesabar William itu, nyatanya sangat sukses membuat Joanna ketakutan.


"Jangan pedulikan aku lagi!" kata William kemudian memakai kembali kemejanya.


"Tuhan, apa yang terjadi. Kenapa dia tiba-tiba marah. Apa aku sudah melakukan kesalahan?" batin Joanna.


Tepat saat itu Reagan yang tertidur pulas akhirnya terbangun karena kaget. Joanna baru akan mengambilnya, tapi kalah cepat dengan William yang sudah lebih dulu mengambilnya.


"W-William, tolong berikan Reagan padaku!" kata Joanna saat Reagan sudah berpindah ke pelukan William.


"Kenapa?" tanya William datar.


"Apa kau pikir aku tidak bisa menidurkannya. Apa kau lupa, setiap malam aku yang menjaganya," kata William.


Pria itu menjauh dari Joanna. Menimang-nimang Reagan sampai bayi itu kembali tenang dan tidak menangis lagi. Malahan sudah tersenyum dan berbicara dengan William. "Apa kau kaget. Maaf, papi tidak bermaksud membuatmu kaget. Papi hanya tidak ingin diperhatikan mommy. Maafkan papi, Reagan!" bisik William.


Setelah beberapa saat, akhirnya Reagan kembali tidur pulas. William meletakkannya di kasur yang lain. Menyelimutinya dengan selimut hangat dan mencium pipinya berkali-kali sebelum tidur dengan memeluknya. Mengabaikan Joanna yang sedari tadi terus memperhatikan dan melihat dari tempatnya semula.


"William, sebenarnya ada apa denganmu. Kau membuatku takut," batin Joanna.


Joanna melangkahkan kakinya dengan lunglai. Memungut obat-obatan yang berserakan di lantai dengan tangan gemetar. Jujur saja pikirannya sedang terbagi. Dia memikirkan Louise disaat dia mengobati luka William. Dia khawatir pada Louise, tapi juga tidak ingin mengabaikan William yang selalu baik padanya selama ini. Tapi apa yang terjadi selanjutnya sangat tidak Joanna sangka.


Tanpa terasa buliran hangat itu jatuh. Iya, untuk pertama kalinya akhirnya Joanna menangis saat menyandang status sebagai istri seorang William Matthew.


.


.


.


"Aku ingin pulang menemui ayah hari ini," pamit Joanna saat William dan dirinya sarapan.


"Aku akan mengantarmu," kata William.


"Tidak perlu. Sebaiknya kau beristirahat agar lukamu cepat pulih. Aku bisa diantar Paman Okta!" tolak Joanna.


Setelah mendengar jawaban dari Joanna. Ekspresinya yang sempat melunak kembali datar dan meletakkan alat makannya dengan kasar. "Terserah saja kalau itu maumu!"


William segera meminum susunya. Tidak melanjutkan sarapannya lagi meskipun hanya setengah dari jumlah sarapannya saja yang masuk ke perutnya. Joanna kira dia akan beristirahat, tapi dia malah mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.


"Nona, apa kalian bertengkar?" tanya Asha.


"Tidak," jawab Joanna.


"Jose, semalam kami mendengar teriakan dari kamar kalian. Ada apa?" tanya Diaz.


"Bukan apa-apa," jawab Joanna.


Joanna bangkit. Tidak punya selera lagi untuk menghabiskan sisa sarapannya. Sama seperti William, dia pun juga langsung bersiap untuk pulang ke Kota Utara untuk menemui kakak dan ayahnya.


Selama di perjalanan Joanna hanya diam. Begitupun dengan Asha dan Diaz yang menemaninya. Okta pun juga sama. Dia hanya diam saja. Jika ada yang keluar dari mulutnya, mungkin hanya beberapa obrolan ringan dengan sopir yang mengemudikan mobil itu.


"Bukankah itu William?" tanya Diaz.


Joanna menoleh. Melihat William yang sudah bersama Marissa dan Ebra saat ini. Dilihat dari arahnya, sepertinya mereka akan pergi ke rumah Nenek Anne. "William, apa kau marah padaku karena ingin segera bercerai denganku lalu menikah dengan Marissa. Kalau iya, kau bisa membicarakannya baik-baik. Kenapa harus marah seperti kemarin," batin Joanna kemudian mengalihkan pandangannya dari William.


Melihat ekspresi Joanna yang biasa saja membuat Asha bertanya-tanya. Diantara mereka, hanya Asha dan sopir itulah yang masih tidak mengerti bahwa hubungan mereka sebenarnya seperti ini. Asha baru tahu saat mereka tiba di Kota Utara dan diberitahu oleh Diaz.


...***...