
"Apa?" tanya William.
"Mommy tidak punya uang," jawab Oskar.
William melihat Joanna dan Oskar bergiliran. Berpikir sejenak sebelum mengangkat Oskar begitu saja tanpa menghiraukan masalah uang yang dia bicarakan.
"Katakan sampai jumpa pada mommy," kata William.
"Papi, apa papi tidak ingin memberi mommy uang. Bagaimana kalau mommy kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli makanan?" tanya Oskar mendramatisir.
"Maka biarkan saja mommy lapar," jawab William.
Oskar tidak bisa melanjutkan lagi ocehannya karena William sudah lebih dulu membungkam mulutnya dan membawanya pergi.
Dua pria menghidupi Joanna, jadi mana mungkin Joanna kekurangan uang. William memang tidak tahu berapa banyak yang diberikan Louise, tapi yang dia berikan seharusnya sudah lebih dari cukup. Jika memang ada orang yang kekurangan uang, sudah pasti bukan Joanna tapi Oskar. Karena suatu hari saat Joanna baru saja melahirkan dan Oskar tidak ingin dibuatkan bekal oleh siapapun, seorang guru menghubungi William dan menyampaikan jumlah tagihan makan siang milik Oskar.
Jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran makan siang seorang bocah berusia enam tahun karena William harus merogoh kocek nyaris lima juta rupiah hanya untuk dua kali makan dalam satu hari karena ternyata Oskar mentraktir teman-temannya. Bukan masalah sebenarnya, tapi bisakah meminta ijin dulu sebelum memutuskan sesuatu?
"Apa kau ingin uang jajan untuk mentraktir teman-temanmu seperti hari itu lagi?" tanya William saat mereka sudah berada di teras.
"Papi, hari ini kan ulang bulan adik bayi yang kelima," jawab Oskar dengan memasang wajah imut.
"Lalu?" tanya William.
"Xiao O ingin merayakannya dengan teman-teman Xiao O," jawab Oskar.
William hanya geleng-geleng kepala. Bukan masalah jika Oskar ingin sebuah perayaan. Tapi bukankah sebuah perayaan itu seharusnya diadakan di rumah dan dihadiri orang-orang terdekat? Kenapa malah dirayakan di sekolah, memangnya Oskar yang ulang tahun?
"Ini pasti hanya alasanmu. Katakan saja kalau ingin jajan," kata William.
"Jadi papi mau memberikan uang jajan atau tidak?" tanya Oskar.
"Kalau tidak bagaimana?" tanya William.
"Kalau begitu Xiao O akan minta kepada Paman Arthur," jawab Oskar santai dan mulai mencari nama Arthur di ponselnya. Tapi urung memanggilnya karena William sudah menyita benda pipih itu.
"Bukannya papi ada disini, lalu kenapa harus minta Paman Arthur. Pria itu bisa mengira papi kejam dan tak berperasaan kalau kau melakukan ini anak tuyul," kata William.
"Jadi papi mau memberikan uang jajan?" tanya Oskar berbunga-bunga.
"Menurutmu?" jawab William.
"Terimakasih, Papi!" kata Oskar penuh senyum.
William menurunkan Oskar ke tanah. Mengacak-acak rambutnya dengan tangan kirinya. Betapa menyenangkannya jadi Oskar sekarang. Memang saat masih kecil hidupnya terlihat menyedihkan karena hidup dengan orangtua tunggal yang amnesia. Untungnya ada Arthur yang dengan sukarela meminjamkan dirinya sendiri untuk menggantikan peran ayah agar tumbuh kembang Oskar terlihat sama seperti anak-anak lain yang memiliki ayah. Tapi sekalinya sudah besar dan identitas aslinya terungkap, jumlah ayahnya kelewat banyak dan semuanya banyak uang.
Bayangkan saja, ayah pertamanya adalah Arthur meskipun ayah sesungguhnya adalah Juan Matthew. Setelah itu dia bertemu Louise dan menganggapnya sebagai daddy. Selanjutnya, karena Joanna menikah dengan William, otomatis William jadi papinya juga. Itu masih bisa bertambah jika suatu hari nanti Agria menikah. Jadi, berapa banyak ayah Oskar?
"Papi kenapa?" tanya Oskar saat menyadari William masih melihatnya tanpa berkata-kata.
"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kenapa tidak minta uang jajan pada daddy saja. Dia kan banyak uang," goda William.
"Daddy kan pelit," jawab Oskar sambil memalingkan wajahnya.
"Pelit kepalamu," batin William setelah menghitung secara kilat harga outfit harian yang biasa dikenakan Oskar yang jumlah nol-nya sangat banyak.
"Ayo, kita harus segera berangkat!" ajak William.
Pria itu menggandeng tangan Oskar. Mempersilahkannya masuk mobil dan membiarkannya memakai sabuk pengamannya sendiri. William bahkan belum sempat menghidupkan mesin mobilnya, tapi Okta yang baru datang keburu menghampirinya.
"Tuan William!" panggil Okta.
"Kau kenapa!" tanya William saat melihat pria itu terlihat tergesa-gesa. Memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Keringat di dahi yang memberondong itu juga belum sempat dia hapus karena saking buru-burunya.
"Tuan, Keluarga Amber tewas!" lapor Okta dengan nafas yang masih memburu.
"Siapa?" tanya William. Keluarga Amber itu banyak, jadi siapa yang mati. William masih santai. Bahkan saat ini masih menyempatkan diri untuk memeriksa dan memastikan sabuk pengaman yang digunakan Oskar terpasang sempurna.
"Keluarga Amber, Tuan!" jawab Okta lagi.
"Semuanya, Tuan!" jawab Okta.
Tangan William langsung terhenti. Kalau semuanya tewas, apa itu berarti Louise sudah bertindak?
"Katakan, kenapa mereka bisa mati?" tanya William. Pria itu mengecilkan volume suaranya. Tidak ingin anak kecil yang manis itu mendengar apa yang mereka bicarakan sekarang.
"Kediaman Amber kebakaran hebat semalam. Tidak ada satupun yang selamat," jawab Okta.
"Ini pasti ulah Louise," batin William.
"Apa aku harus ikut menghadiri pemakaman hari ini?" tanya William.
"Tuan, apa yang Anda katakan. Tentu saja Tuan harus pergi dengan Nona Joanna," jawab Okta.
"Baiklah, aku akan pergi nanti. Masuk dan beritahu Joanna. Aku akan segera kembali setelah mengantarkan anak-anak sekolah," kata William.
"Baik, Tuan!" sahut Okta.
.
.
.
Keesokan harinya.
Kemarin, setelah mengantarkan Oskar dan Ebra sekolah, William langsung kembali ke rumah. Sebelumnya dia berencana akan langsung menghadiri acara kebangsawanan, tapi acara itu digeser hari ini sebagai penghormatan dan bela sungkawa atas peristiwa yang menimpa Keluarga Amber kemarin.
Praktis, Joanna tidak memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah perceraian mereka. Kesempatan itu baru datang hari ini. Tapi lagi-lagi Joanna harus bersabar karena William harus pergi pagi-pagi sekali.
"Apa yang ingin kau katakan kemarin?" tanya William sembari memakai setelan jasnya.
"Aku akan mengatakannya malam nanti saat kau pulang," jawab Joanna.
"Kenapa tidak mengatakan sekarang saja. Aku masih punya waktu kok," tanya William.
"Nanti saja. Sebaiknya kau segera pergi. Mereka sudah menunggumu kan?" jawab Joanna.
"Baiklah, kita bicarakan nanti malam. Ngomong-ngomong aku tidak bisa menjemput Oskar sore ini. Tapi tidak perlu khawatir, aku meminta Paman Okta untuk menjemputnya nanti," kata William.
"Tidak perlu mencemaskan anak itu, aku bisa menjemputnya," kata Joanna.
"Baiklah, aku pergi sekarang!" pamit William.
William segera bergegas. Hari ini adalah hari terakhir dirinya sibuk menghadiri acara kebangsawanan yang membosankan dan besok dia sudah bisa kembali bekerja seperti biasanya. Meksipun pekerjaan di perusahaan lebih melelahkan tapi itu lebih menyenangkan dan William menyukainya. Selain itu sudah beberapa hari William tidak melihat Louise dan Arthur. Jadi William berharap hari ini akan segera berakhir dan segera kembali melihat mereka besok.
Berbeda dengan William yang bersuka cita karena besok akan kembali mengunjungi Matthews Group, di tempat yang lain Louise juga sedang bersuka cita karena dia sedang dalam perjalanan menuju sekolah Oskar saat ini juga.
Tapi apa yang membuat Louise bersuka cita? Tentu saja karena, Louise sudah bisa menebak Oskar pasti tidak akan menolak saat dia memintanya untuk tinggal bersamanya nanti.
"Anak nakal, kau pasti akan memilih tinggal bersama daddy, kan?" gumam Louise.
"Senior, apa kau sudah mulai gila?" tanya Junior yang juga sedang duduk di mobil yang sama dengan Louise.
"Jaga ucapanmu, apa kau ingin dipukul?" jawab Louise.
Junior itu menyebik. Tapi kemudian tersenyum karena sukses mengganggu seniornya. "Senior, apa kau hanya ingin mengambil salah satu dari mereka?"
"Saat ini aku hanya ingin mengambil Oskar," jawab Louise.
"Tapi anakmu kan yang kecil bukan yang besar. Kenapa malah mengambil Oskar. Lagipula anak itu sudah mengerti, apa kau pikir dia akan bersedia ikut denganmu yang telah meninggalkan ibunya?" tanya Junior.
"Dia pasti akan ikut denganku," jawab Louise percaya diri.
...***...