CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kembalilah Jose



"Jose, bolehkah aku memelukmu?" tanya Edgar tanpa melihat Jose. Berinisiatif memulai pembicaraan karena Jose masih diam saja.


Jose menoleh sekilas, sebelum akhirnya meneguk segelas wine yang Edgar tuang untuknya, "Apa kau masih merindukanku?" tanya Jose.


"Tentu saja aku merindukanmu. Sudah sangat lama, aku bahkan tidak pernah memiliki kesempatan untuk duduk berdua denganmu seperti ini," jawab Edgar.


"Eum, ini memang sudah sangat lama. Tapi sepertinya kau masih belum berubah," lanjut Jose.


"Aku sudah sangat tampan, aku juga sangat berpenghasilan. Bukankah itu sudah lebih dari cukup, apa masih ada yang harus ku ubah?" tanya Edgar dengan senyum tipis.


"Edgar, kebiasaan buruk dan hatimu itulah yang harus kau ubah," jawab Jose.


"Kau ingin aku mengubah hatiku?" tanya Edgar.


"Setialah, dan jangan lagi bermain wanita," jawab Jose singkat. Tangannya memainkan jari-jarinya yang lentik di gelas. Edgar tertawa, Jose mengatakan hal itu pasti karena melihat dirinya sedang berkumpul dan merangkul beberapa wanita tadi.


"Jose, aku masih sangat setia. Setia menunggumu kembali padaku. Meskipun kau telah berubah, tapi aku masih tetaplah Edgar yang dulu," kata Edgar.


Kini, Jose melirik dengan menopang dagunya. Haruskah dia mempercayai ucapannya. Lima tahun telah berlalu, apakah Edgar masih orang yang dicintainya sama seperti yang dulu. Jose tidak sepenuhnya yakin, karena dirinya saja sudah tergoda dengan mencintai pria lain. Cinta yang sempat bersemi dan mekar untuk Louise Matthew tapi harus layu karena tersiram panasnya kenyataan. Kenyataan bahwa Louise memiliki hubungan khusus dengan Agria hingga adanya seorang anak ditengah-tengah mereka. Apakah Edgar benar-benar tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Rasanya mustahil, wajah itu senyum itu wanita mana yang tidak tertarik untuk memilikinya. Tapi, kalau apa yang di katakan Edgar benar adanya. Kembali hidup dengan Edgar sepertinya menyenangkan.


Daripada hidup dengan pria yang sangat kau cintai tapi dia menyakitimu. Akan lebih baik jika kau hidup dengan pria yang mencintaimu dan tidak pernah menyakitimu. Tapi meskipun begitu tetap saja yang terbaik adalah hidup dengan pria yang kau cintai dan dia pun juga mencintaimu.


"Ada apa denganmu, apa kau baik-baik saja?" tanya Edgar saat melihat Jose diam saja dan enggan menanggapi omongannya.


"Aku baik-baik saja," jawab Jose singkat.


"Jose, aku tidak menyangka kau sehebat itu," puji Edgar


"Apa maksudmu?" tanya Jose.


"Kau membesarkan anak itu dengan tanganmu sendiri. Bukankah itu sangat hebat?" puji Edgar.


"Edgar, aku ini hebat sejak dulu. Apa kau lupa?" tanya Jose.


"Tapi kenapa kau terlihat sedih. Apa ada sesuatu yang membuatmu bersedih. Katakan, siapa yang mengganggumu. Aku akan membereskannya untukmu," tawar Edgar.


"Aku hanya tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku bukan ibunya dan ibu kandungnya mengambil anak itu dariku. Aku harus bagaimana?" tolak Jose.


"Itu pasti sulit untukmu," kata Edgar.


Jose diam, posisinya memang sangat sulit saat ini. Jose sangat membenci ibunya, tapi dia sangat menyukai anaknya. Setelah Jose tahu siapa orangtuanya, apakah dia masih menyayangi anak itu seperti sebelumnya?


Sialan, jika saja bisa Jose ingin waktu diputar kembali dan mencegah terjadinya hal yang menyebabkan kerumitan ini.


"Edgar, kenapa kau tidak pernah mencariku. Bukankah kau bilang merindukanku?" tanya Jose, mengalihkan pembicaraan mereka tentang Oskar.


"Aku sudah berjanji kepada Paman Alex untuk tidak mencarimu demi keamananmu. Jadi aku pergi, tapi saat aku kembali sepertinya seseorang telah menjagamu dengan baik. Dan orang itu juga bisa membunuhku jika aku datang mencarimu," jelas Edgar.


"Siapa?" tanya Jose memastikan.


"Louise," jawab Edgar.


"Kau mengenalnya?" tanya Jose.


"Siapa yang tidak kenal Louise, jujur saja aku sangat iri padanya," jelas Edgar.


"Edgar, kalian sama-sama memiliki paras yang rupawan. Dengan wajah seperti itu, apa ada yang membuatmu menyimpan perasaan iri padanya?" tanya Jose.


"Jose, dia berbeda. Percayalah padaku, dia luar biasa hebat. Dia memiliki segalanya melebihi ekspektasimu. Dia bisa melakukan apapun semudah membalikkan telapak tangan. Itu membuatku mengaguminya, tapi membuatku sedikit takut disaat bersamaan," jelas Edgar.


"Edgar, apa kau takut padanya?" tanya Jose tak percaya.


"Jose, Louise tidak sesederhana yang kau pikirkan. Seandainya aku dihadapkan pada sebuah pilihan sulit dan harus melawan ketiga pria itu. Aku mungkin bisa melawan dua yang lainnya dengan mengerahkan semua orang-orangku. Tapi untuk Louise, aku tidak akan pernah bisa," jawab Edgar.


Jawaban Edgar, membuat hati Jose sedikit remuk. Apa tidak ada sedikitpun kesempatan untuk memiliki Oskar.


"Apa dia sehebat itu?" tanya Jose, tangannya kembali menggapai botol wine di depannya. Jose, dia sudah sedikit frustasi dengan apa yang di katakan Edgar.


"Bukankah harusnya kau lebih tahu dariku. Kau kan dekat dengannya," jawab Edgar. Tangannya ikut-ikutan meraih botol wine untuk mengisi kembali gelasnya.


"Aku tahu dia hebat, tapi bukankah kau juga hebat," keluh Jose.


"Jose, kembalilah!" kata Edgar.


"Kemana?" tanya Jose.


"Bukankah kau mencintainya?" tanya Edgar. Sedikit kesal dan cemburu untuk mengatakan ini, tapi dia mengenal Jose lebih dari siapapun juga.


"Aku tidak mencintai siapapun," sanggah Jose.


"Kalau aku kembali dengannya, lalu bagaimana denganmu?" tanya Jose.


"Aku masih sangat muda. Aku tidak terburu-buru untuk menikah. Aku masih bisa menunggumu sepuluh atau dua puluh tahun lagi," jawab Edgar tulus.


"Edgar, berhentilah membicarakannya. Lalu, jangan berpikir untuk menungguku selama itu. Saat itu datang, aku pasti sudah sangat menua," kata Jose.


"Tapi kau selamanya akan menjadi cantik di mataku. Jose ... kembalilah, aku baik-baik saja." Edgar memegang tangan Jose yang sedikit bergetar.


"Aku ... kenapa aku harus kembali kepada seorang pria yang jelas-jelas memiliki anak dengan Agria," jawab Jose.


"Apa Oskar anaknya?" tanya Edgar.


"Bukankah iya, kalau tidak kenapa dia membiarkan hal ini berlarut-larut. Dia bahkan mati-matian mencari donor untuk Oskar," jawab Jose.


"Kalau dia ayahnya, kenapa dia tidak menjadi pendonor untuk Oskar?" tanya Edgar lagi.


"Karena dia peminum sama sepertimu. Apa yang dia donorkan, itu bisa memperburuk keadaan Oskar," jawab Jose asal. Tentu saja, tujuannya adalah menyindir Edgar yang sudah menghabiskan dua botol wine.


Edgar tersenyum, dia tahu apa maksud perkataan Jose lalu segera meletakkan gelasnya, "Jose, percayalah padaku. Louise itu mencintaimu. Jangan pernah berpikir Louise sebodoh itu untuk memilih Agria dan mengabaikanmu."


"Edgar, ada Oskar diantara mereka."


"Jose, bisa saja itu hanya kecelakaan bukan?" desak Edgar.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, bisa saja itu hanya sebuah kesalahan tak disengaja. Selebihnya Louise tidak memiliki perasaan apapun pada Agria," jelas Edgar.


"Jika itu kesalahan, tapi kenapa ada buah cinta dari mereka. Bagaimana jika Louise memang menginginkannya?" tanya Jose.


"Jose, dengan kemampuan Louise. Apa kau pikir sulit untuk mencari Agria yang sembunyi selama ini. Maksudku, jika Louise memang menginginkannya atau menyimpan perasaan untuknya, kenapa dia tidak mencarinya sejak dulu. Jose, mencari satu orang seperti Agria bukanlah perkara sulit untuk Louise. Meskipun kau bersembunyi di celah bumi terkecil, kau akan tetap ditemukannya dengan mudah jika Louise menginginkannya. Tentu saja, dia juga bisa mengabaikanmu meskipun kau berada tepat didepannya jika Louise tidak menginginkannya."


"Meskipun begitu, tetap saja keberadaan Oskar tidak bisa diabaikan. Tidakkah Louise akan memikirkan perasaan anak itu. Bagaimana jika yang diinginkan Oskar bukan aku lagi?" keluh Joanna.


"Jose, Oskar itu masih anak-anak. Meskipun dia seorang jenius dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi tetap saja dia tidak tahu apapun tentang masalah orang dewasa seperti ini," kukuh Edgar.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah, diusianya sekarang dia tidak akan mengerti hal serumit ini. Asal kau tahu, meskipun pada akhirnya dia akan tahu dari rahim mana dia dilahirkan tapi sudah bisa dipastikan bahwa dimatanya tetap hanya kaulah ibunya. Dan itu pasti akan terus terpatri dalam ingatannya meskipun dia tumbuh dewasa. Jadi apa yang membuatmu ragu untuk kembali?"


Jose hanya menunduk. Benar, semua yang dikatakan Edgar memang benar. Sama seperti dirinya, meskipun Oskar tidak lahir dari rahimnya tapi tetap saja Oskar akan selamanya dia anggap sebagai anaknya.


Masalahnya adalah, Jose sudah mengabaikan Louise seminggu terakhir.


Lalu, bagaimana bisa Edgar memintanya kembali. Apa Edgar sedang memintanya untuk mengemis cintanya Louise?


"Edgar, apa tidak bisa seandainya aku hanya ingin memiliki Oskar?" tanya Jose.


"Jose, apa yang sedang kau pikirkan. Sejak awal Oskar adalah milikmu, tidak akan ada yang merebutnya darimu. Aku hanya mengingatkanmu, jangan pernah sedikitpun berpikir untuk melawan Louise. Karena kau hanya akan kalah," jawab Edgar.


Jose semakin lesu. Bahkan Edgar pun tidak bisa, lalu harus bagaimana baiknya?


"Aku akan memikirkannya," ucap Jose lirih.


"Jose, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan. Kau hanya perlu mencobanya, jangan takut dan jangan cemas. Meskipun pada akhirnya Louise menolak atau mengabaikanmu, bukankah masih ada aku. Tentu saja itu tergantung dirimu. Jika kau mau, aku tidak akan pernah keberatan. Aku masih sama, selalu bisa menerimamu sepanjang hidupku. Tapi, tentu saja Louise masih pilihan terbaik untukmu. Seandainya aku wanita, kurasa aku akan mengejarnya seperti orang gila."


"Edgar, jangan mencoba melucu!"


"Bagian mana aku melucu?"


"Kenapa kau harus mengejarnya. Itu tidak cocok dengan sifatmu," protes Jose.


"Sudah kubilang, aku hanya akan mengejarnya seandainya aku perempuan," kata Edgar.


Jose akhirnya tertawa. Memperlihatkan senyum manisnya yang sudah lama tidak Edgar lihat.


"Jose, kemarilah!" perintah Edgar.


"Kenapa?" tanya Jose.


"Sudah kubilang aku sangat merindukanmu. Karena sudah bertemu, kenapa tidak bisa memelukmu?" tanya Edgar.


Lagi-lagi Jose tersenyum, dan bangkit untuk memeluk Edgar. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Edgar. Mencium wanginya Edgar yang sudah sangat lama dia lupakan. Mencium kembali aroma yang dulu selalu dia dapatkan setiap harinya.


Edgar pun membalasnya, memeluk Jose kecilnya dengan erat. Memeluk manik-manik terindahnya dan mencium pucuk rambutnya berkali-kali. Semuanya masih tetap sama seperti lima tahun yang lalu, hanya saja Edgar tahu hatinya sudah berbeda. Tapi itu tak masalah. Karena kebahagiaan Jose adalah prioritas utamanya.


...***...