
Hari demi hari berganti dengan cepat. Hari ini, adalah hari pertama Joanna bangun tanpa seribu satu macam gangguan dari Oskar. Bukan karena Oskar tidak ingin menjahili mommynya, tapi karena Arthur dan Alexa telah mengambil Oskar untuk dibawa pergi liburan. Mereka juga berencana mampir ke tempat orangtua Arthur sekembalinya dari liburan nanti.
Ini bukan kali pertama bagi Oskar untuk bertemu orangtua Arthur jadi mereka sudah sangat akrab. Bahkan orangtua Arthur sudah mewanti-wanti Alexa sejak sebulan yang lalu untuk memintanya segera datang bersama dengan Oskar. Orangtua Arthur juga sering berpesan kepada Alexa untuk sering-sering membawa Oskar. Mereka ingin Alexa segera hamil setelah menikah nanti untuk itu dia ingin Alexa dan Arthur membiasakan diri dengan Oskar sebagai bahan latihan mereka.
Dalam kunjungannya kali ini Oskar sangat bersemangat karena hari itu akan bertepatan dengan hari ibu. Jadi Oskar segera menyiapkan sebuah hadiah kecil untuk mereka sejak beberapa hari yang lalu.
"Selamat pagi, Joanna! Seminggu ini kau diberikan kesempatan untuk hidup tanpa anak. Oh tuhan, baru kemarin lelaki kecil kesayanganku itu pergi dan aku sudah sangat merindukannya sekarang. Bagaimana ini?" keluh Joanna sesaat setelah membuka tirai jendela.
Cahaya matahari pagi menerpa wajahnya yang putih bersih dengan bibir berwarna kemerahan. Di balkon kamar itu Joanna menikmati semilir angin yang membelai dirinya. Menghirup udara segar di sekelilingnya dan mengamati keadaan sekitar. Dari tempatnya berdiri, Joanna bisa melihat beberapa pasangan yang sibuk berolahraga. Ada yang bersepeda ada juga yang berlari kecil sambil bergurau manja.
"Apa mereka sedang kencan. Apa aku dulu juga pernah berkencan seperti itu?" tanya Joanna pada dirinya.
Setelah muda-mudi itu menjauh Joanna kembali masuk ke kamarnya, meminum segelas air putih dan melanjutkan aktifitasnya dengan memandangi parasnya di cermin.
"Mommy, kau jelek!"
"Mommy, pakaian mommy sudah usang."
"Mommy, Xiao O akan mencari daddy yang baru!"
"Alexa, bawalah Joanna merapikan dirinya ke salon bersamamu. Biarkan aku yang menjaga Oskar."
"Joanna, aku memiliki begitu banyak rekan bisnis. Apa kau keberatan jika aku memperkenalkan salah satu dari mereka untukmu?"
"Joanna, sudah berapa tahun kau tidak mengganti bajumu dengan yang baru?"
"Oskar, kenapa mommy mu sangat keras kepala?"
"Joanna sampai kapan kau menyia-nyiakan wajah cantikmu itu?"
Berbagai protes dari Oskar, Arthur dan Alexa yang selama ini dialamatkan untuk Joanna berseliweran di pikiran Joanna. Iya, sudah sangat lama Joanna tidak membeli beberapa potong baju. Dia juga sudah sangat lama tidak terlalu ambil pusing dengan tampilannya. Kini, sekarang dia berdiri tepat di depan cermin. Memandangi wajahnya sendiri yang terlihat menyedihkan. Sebenarnya cantik, hanya saja sangat kurang terawat.
PLAK
Joanna melempari cermin itu dengan handuk yang melingkar di lehernya agar tidak melihat bayangannya sendiri disana. Entah karena apa tiba-tiba dia merasa enek melihat tampilannya sendiri.
"Ayolah Joanna, mari memulai kehidupan yang baru demi Xiao O. Lalu lalu biarkan Xiao O tidak berkedip melihat ibunya," ucap Joanna pelan.
Joanna menyingsingkan lengan baju tidurnya, mengikat rambutnya keatas dan segera bergerak untuk membongkar semua isi lemari pakaian satu demi satu. Memilah-milah baju mana saja yang sudah tidak layak pakai dan harus di bereskan. Sebagian besar pakaian Joanna telah usang, ada yang penuh jahitan, bahkan ada juga yang berlubang.
Beberapa atasan miliknya juga banyak yang melar dan pudar karena tergerus zaman. Tapi namanya juga sudah terlanjur nyaman maka sayang jika dibuang. Tidak. Kali ini tidak bisa begitu. Joanna sudah membulatkan tekadnya untuk membereskan semua itu dan bertransformasi menjadi mommy idaman Oskar. Agar anak itu tidak membully lagi atau merendahkannya lagi.
Dua jam berlalu, Joanna kini mengikat kantong berisi baju untuk yang terakhir. Lemari berisikan pakaian miliknya nyaris kosong melompong. Selebihnya berpindah kedalam kantong-kantong plastik berukuran besar dan banyak.
Sepertinya kata-kata Alexa dan Oskar sangat benar adanya, memang sudah saatnya baginya untuk meregenerasi isi lemarinya.
Selesai dengan isi lemari, Joanna pun bergegas mandi. Membutuhkan waktu satu jam bagi Joanna untuk membersihkan dirinya kali ini.
Aksi Joanna terus berlanjut, dia mulai merias dirinya dengan make up lengkap yang jarang tersentuh. Gerakan tangannya lincah bermain-main dengan kuas berbagai ukuran di meja riasnya.
Selesai dengan make up, Joanna menimang-nimang sisa pakaiannya yang dirasa paling layak. Setelah berpikir sejenak, akhirnya pilihannya jatuh kepada gaun berwarna cokelat pemberian Alexa saat Joanna berkunjung ke butik milik ibu Alexa. Saat itu Joanna di hadiahi sebuah gaun yang cantik sepanjang lutut, tapi Joanna belum sempat untuk memakainya.
Joanna berputar-putar, memastikan semuanya sedap dipandang dan terpakai dengan aman. Kemudian menata rambutnya sedemikian rupa menyerupai dandanan para gadis. Tak lupa memakai beberapa aksesoris penunjang untuk mempercantik tampilannya.
Terakhir, Joanna menyemprotkan wewangian di beberapa titik tertentu di tubuhnya dan mengambil tas selempang serta kacamata hitam yang sudah dia siapkan sebelum dia pergi.
Cantik dan seksi.
Kata itulah yang menggambarkan tampilan Joanna saat ini. Joanna yang udik dan usang sudah hilang ditelan bumi, hanya menyisakan Joanna yang bersinar bagaikan peri.
Joanna melenggang keluar rumah dengan sangat percaya diri, melewati jalanan berdinding kaca yang bersambungan dengan toko kue miliknya. Sepertinya, dia sudah pro meskipun lama tidak mengenakan heels setinggi 10 cm. Mungkin saja, di kehidupannya dia sudah terbiasa dengan itu.
Dua orang karyawati yang sedang menunduk untuk mengecek tanggal kadaluwarsa kue terpana ketika melihat Joanna melintas dan melempar senyum ke arah mereka. Mereka membeku untuk sesaat, sebelum akhirnya beradu pandangan. Mereka berdua tidak pernah melihat majikannya tampil secantik hari ini selama bekerja disini.
"Apa itu Nona Joanna?"
"Cantik sekali,"
Dua orang itu menghentikan pekerjaannya sejenak, mengintip tampilan baru Joanna dari balik kue-kue yang berjejer rapi di etalase.
"Tuhan, selamatkan aku agar tetap waras dan normal. Akan sangat berbahaya jika aku jatuh cinta kepada seorang perempuan."
"Dengan tampilannya yang seperti itu, siapa yang percaya bahwa Nona Joanna kita sudah memiliki seorang anak berusia 5 tahun."
"Apa yang sedang kalian lakukan. Kenapa bersembunyi seperti seorang penguntit?" tegur karyawati lain yang kebetulan lewat.
"Cepat kemari dan lihatlah! Kau akan menyesal seumur hidupmu jika tidak melihatnya,"
"Ada apa?" tanyanya lagi. Kepalanya celingukan mulai menelisik kearah mana temannya menunjuk.
"Astaga! Apa aku salah lihat, apa itu majikan kita? Ini, apa aku masih berada di bumi, kenapa sepertinya aku melihat seorang peri?" pekiknya kaget. Suaranya yang menggelegar membuat semua pandangan mata pengunjung toko kearah mereka bertiga. Kemudian secara cepat menghebohkan semuanya. Termasuk karyawan dan karyawati yang bertugas di dalam bersama Bibi Diaz.
Kemunculan Joanna dengan tampilan yang baru layaknya kehadiran seorang idola berbakat yang baru diumumkan dan akan segera comeback oleh agensi. Begitu mencuri perhatian dan mendapatkan sekarung pujian.
Semuanya baru tenang ketika Bibi Diaz mulai mengingatkan mereka untuk kembali bekerja karena harus menyelesaikan pesanan pelanggan yang belum selesai.
Semua pegawai itu menurut, mulai bubar dari kerumunannya. Tapi masih sempat melihatnya lagi, bahkan seseorang ada yang memotretnya dan mengirimkannya kepada Oskar. Tidak lupa menambahkan caption 'Xiao O, ada bidadari di rumah. Cepatlah kembali!'
Setelah semuanya bubar, Bi Diaz tersenyum. Senyum yang sangat tulus dari hatinya. Sudah sangat lama dia tidak melihat Joanna seperti ini. Cantik, berkilauan dan selalu menjadi pusat perhatian.
"Ayah dan ibumu pasti akan sangat senang jika mereka tahu kau sudah mengalami kemajuan hingga sejauh ini," batin Bibi Diaz dengan senyum haru.
.
.
.
"Maafkan aku, Bi. Anakku sedang berlibur dengan paman dan bibinya saat ini," jawab Joanna.
Saat ini Joanna sedang berada di perjalanan, dia baru saja mengurus beberapa pekerjaan yang tempo hari dia ceritakan kepada Oskar.
"Bagaimana kalau kau datang sendirian. Apa kau ada waktu?" tanya wanita itu lagi.
"Baiklah, aku akan pergi besok," jawab Joanna menyanggupi.
"Baiklah, kami semua menunggu kedatanganmu. Aku akan segera menyampaikannya pada Nyonya, dia pasti akan sangat senang. Sampai jumpa besok!"
"Baik."
Telepon terputus. Nyonya Anne adalah seorang nenek yang merupakan salah satu pelanggan setia toko kue milik Joanna.
Beliau sering mampir jika kebetulan lewat, bukan hanya membeli kue tapi lebih sering hanya untuk bertemu Oskar. Nenek Anne bilang Oskar sangat mirip dengan cucunya, jadi beliau sering menengok Oskar untuk melihatnya.
"Karena besok adalah hari ibu, sebaiknya aku membawa bunga juga untuk Nenek Anne, beliau pasti suka," batin Joanna.
.
.
.
Oskar sedang menghabiskan waktunya bersama Arthur ketika ponselnya berdering. Anak itu sibuk menonton acara TV, jadi mengabaikan ponselnya.
"Xiao O, sepertinya ada pesan masuk di ponselmu," kata Arthur.
Arthur pun sama, meskipun dia memangku Oskar tapi mata dan tangannya sibuk memainkan ponsel miliknya sendiri.
"Emm," jawab Oskar. Masih enggan memeriksanya dan malah sibuk mengunyah snack yang disediakan Alexa sebelumnya.
Setelah beberapa saat, ponsel itu berdering lagi dan lagi-lagi Oskar tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Dia bahkan semakin mencari posisi yang nyaman dengan menyandarkan dirinya di tubuh Arthur yang atletis.
"Oskar," kata Arthur gemas.
Arthur mengacak-acak rambut Oskar sebelum meletakkan ponselnya. Kemudian beralih mengambil ponsel milik Oskar. Arthur selalu seperti ini, jika ponsel Oskar berdering dia akan selalu segera memeriksanya. Dia takut Joanna khawatir, dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Eh, ini cantiknya!"
Arthur membuka matanya lebar-lebar. Lalu memperbesar foto yang dikirim untuk Oskar. Tidak hanya itu, Arthur juga berulang kali memutar video berdurasi pendek yang menampilkan adegan dimana Joanna sedang masuk ke mobilnya.
"Uhuk, uhuk!"
Arthur terbatuk-batuk. Dia memang berulangkali memaksa Joanna memperhatikan tampilannya. Tapi, siapa yang menyangka Joanna akan bertransformasi sejauh ini dan membuatnya semakin menyisakan ruangan yang lebih besar di sudut-sudut hatinya.
"Apa ini adalah godaan sebelum pernikahan. Joanna, kalau sampai kau membuatku jatuh cinta lebih dari ini. Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!" batin Arthur.
"Paman Arthur, paman kenapa?" tanya Oskar ketika melihat Arthur memijit keningnya.
Arthur menoleh, melihat Oskar yang menggemaskan sedang memanjat perutnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arthur. Situasi ini memberikan Arthur perasaan yang sungguh luar biasa menyenangkan yang tidak bisa dijelaskan, "Aku tahu aku salah. Karena terkadang, aku berharap Oskar benar-benar darah dagingku sendiri dan Joanna adalah ibunya," batin Arthur.
"Kemari dan lihatlah mommymu! Dia membuat paman sangat pusing," kata Arthur. Arthur menyerahkan ponsel Oskar dan menunjukkan foto itu.
Oskar segera melihat ponselnya, matanya sangat bersinar terang. Terlalu terang sampai sepertinya ada dua matahari siang ini. Tapi mata itu sepertinya mulai tergenang. Tidak, yang benar adalah Oskar hampir menangis. Dengan cepat dia mencari nama ibunya untuk meneleponnya.
"Hallo, sayang!" jawab Joanna dari seberang sana setelah beberapa saat.
"Mommy!" teriak Oskar.
"Eh, kenapa. Kenapa berteriak seperti itu. Kau baik-baik saja kan?" tanya Joanna cemas. Dia meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.
"Mommy!"
Hanya kata itu yang terus keluar dari mulutnya yang mungil.
"Xiao O, kau ini kenapa? Kau tidak tersesat kan. Dimana Paman Arthur dan Bibi Alexa, mereka bersamamu kan?" tanya Joanna.
"Mommy, aku mencintaimu," kata Oskar.
"Ha?"
Joanna tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi, dia sangat senang Oskar mengatakan kalimat itu.
"Mommy, Xiao O merindukan mommy," kata Oskar akhirnya.
Joanna tersenyum. Dia tidak tahu apa yang membuat Oskar menjadi seperti ini. Tapi, lagi-lagi pengakuan Oskar membuat hatinya berbunga-bunga.
"Kalau begitu segeralah pulang. Mommy menunggumu dirumah!"
Oskar tersenyum lebar setelah mendengar suara ibunya. Lalu, sekali lagi memperhatikan foto ibunya dengan ekspresi wajah yang lebih menggemaskan. Senyum-senyum sendiri, tertawa sendiri dan terkadang menggerakkan pundaknya karena terlalu bahagia. Arthur pun begitu, dia juga masih mengintip foto itu sambil rebahan. Masih bersama-sama dengan Oskar melihat Joanna dengan penampilan barunya yang luar biasa menarik perhatian.
"Paman, mommyku cantik kan?" tanya Oskar.
"Iya, sangat cantik!" jawab Arthur.
"Paman, jangan sampai jatuh cinta pada mommyku. Paman sudah akan menikah dengan BiBi Alexa," kata Oskar mengingatkan.
Glek.
Arthur menelan ludahnya sendiri, masalahnya adalah sebenarnya dia sudah jatuh cinta jauh sebelum ini. Tapi dia masih waras dan paham bahwa ada Alexa yang lebih dia cintai. Tapi, jika hanya mencintai Joanna dalam diam seharusnya itu tak jadi masalah bukan?