CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Maaf, Aku Salah



Beberapa saat sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Joanna.


"Melihatmu," jawab Arthur singkat. Mempelai pria itu terlihat duduk santai tidak jauh dari tempat Joanna tanpa mengalihkan pandangannya.


"Arthur, kau itu sudah akan menikah. Jika ada tempat yang harus kau kunjungi, seharusnya itu bukan kamarku," ucap Joanna.


"Joanna, haruskah aku menikahimu juga hari ini?" canda Arthur dengan menyangga dagunya.


"Aku tahu aku cantik. Tapi kenapa aku harus menikah denganmu, suami sahabatku sendiri. Lagipula, bukan hanya kau satu-satunya pria di dunia ini," balas Joanna, menjawab candaan Arthur dengan senyum simpul.


Mendengarnya membuat Arthur tidak bisa membalas apa-apa selain tertawa. Lalu segera memulai pembicaraan yang lebih serius, "Joanna, apa akhir-akhir ini ada sesuatu yang salah?" tanya Arthur. Percakapan mereka sepenuhnya telah berganti topik. Karena percakapan yang sebelumnya hanyalah selingan, sebenarnya tujuan Arthur adalah memastikan tidak ada sesuatu yang membahayakan Joanna. Terlebih saat kemarin dirinya dipaksa begadang semalaman karena seseorang meretas data gadis yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Apa maksudmu. Satu-satunya yang salah adalah keberadaanmu di kamarku sekarang ini," jawab Joanna.


"Joanna, aku serius. Apa ada sesuatu yang aneh. Semacam seseorang yang mencurigakan atau mengganggumu?" tanya Arthur lagi.


"Tidak," jawab Joanna.


"Kau yakin?" tanya Arthur.


"Eum," jawab Joanna meyakinkan.


Arthur diam sejenak, mengalihkan pandangannya dan berpikir keras. "Mungkin saja orang itu belum menunjukkan dirinya saat ini. Tapi meskipun begitu, aku tetap harus meminta Joanna lebih berhati-hati," batinnya.


"Kau kenapa?" tanya Joanna ketika melihat Arthur diam saja.


"Joanna, dengarkan aku. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, cepat katakan padaku. Lalu, jangan pernah keluar sendirian, pastikan seseorang menemanimu kemanapun kau pergi. Apa kau mengerti?" kata Arthur memperingatkan.


"Ada apa denganmu?" tanya Joanna tak mengerti. Kenapa Arthur menjadi semakin posesif padanya dari hari ke hari.


"Bukan apa-apa, aku hanya memperingatkanmu untuk lebih berhati-hati saja, terlebih dengan wajah cantikmu itu," jawab Arthur, "baiklah, aku harus segera pergi. Pastikan kau mengingat semua yang ku katakan tadi," lanjut Arthur, kemudian tersenyum dan melangkah pergi.


Joanna hanya melihat punggung Arthur yang meninggalkannya sendirian. Acaranya masih akan dimulai dalam satu jam, dia masih memiliki banyak waktu untuk dinikmati sebelum pergi. Sementara Arthur, dia yang hendak menyentuh gagang pintu kaget saat pintu itu dibuka seseorang dari luar. Lebih kaget lagi saat melihat siapa yang membuka pintu itu dengan menggendong Oskar kesayangannya.


"Bajingan, kenapa kau masuk ke kamar seorang gadis sembarangan?" umpat Arthur.


"Brengsek, apa yang kau lakukan disini?" umpat Louise.


"Paman Arthur!" kata Oskar menengahi ketegangan mereka.


Arthur dan Louise melihat Oskar bersamaan. Masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Louise, apa yang kau lakukan padanya?" tanya Arthur dengan tatapan curiga.


"Aku tidak melakukan apa-apa, dia yang ingin ikut denganku. Kenapa kalian bisa saling kenal?" tanya Louise tak mengerti.


"Pertanyaan itu harusnya kau simpan untukmu sendiri. Kenapa kau bisa kenal dengannya?" tanya Arthur lagi.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat makan dan dia sendirian, jadi aku mengajaknya bergabung denganku dan sering bertemu setelah itu. Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Louise penasaran.


"Aku yang merawatnya sejak bayi saat dia masih berwarna merah," jawab Arthur, "Xiao O, ayo cepat turun!" pinta Arthur, kemudian mencoba mengambil Oskar dari tangan Louise.


"Namanya Oskar, bukan Xiao O!" kata Louise kemudian menepis tangan Arthur.


"Berandalan, namanya memang Oskar tapi ibunya memanggilnya Xiao O," terang Arthur.


"Oh, begitu?" respons Louise.


"Xiao O, ayo turun!" perintah Arthur.


"Tapi Xiao O ingin ikut daddy," tolak Oskar, kemudian melingkarkan tangannya ke leher Louise.


"Daddy?" tanya Arthur.


Arthur merasa dicampakkan sekarang. Pelukan itu biasanya hanya diberikan Oskar untuknya. Lalu, sejak kapan Louise brengsek itu jadi daddynya Oskar. Bukankah Louise menolak mentah-mentah saat dirinya akan memperkenalkannya pada Joanna waktu itu?


"Louise, aku punya pertanyaan untukmu. Kenapa anak ini memanggilmu daddy?" tanya Arthur.


"Aku juga tidak tahu, tanyakan saja padanya," jawab Louise.


"Xiao O, kenapa kau memanggil pria ini daddy?" tanya Arthur kepada Oskar penasaran.


"Karena aku melihat daddy memeluk mommy. Bukankah itu berarti mereka berkencan?" jawab Oskar.


"Berandal, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Arthur.


"Arthur, aku tidak memeluk ibunya. Sungguh, kau harus percaya padaku!" bela Louise.


"Bagaimana bisa aku percaya pada berandalan sepertimu," bantah Arthur.


"Tapi aku benar-benar tidak memeluk ibunya," bela Louise.


"Oskar, dimana kau melihat pria ini memeluk mommy?" tanya Arthur.


"Di depan rumah," jawab Oskar.


"Louise, kau. Apa kau berbuat mesum di depan anak kecil?" tanya Arthur.


"Arthur, dengarkan aku. Oskar pasti salah lihat. Aku memang memeluk seseorang tapi itu bukan ibunya," kukuh Louise.


"Lalu siapa?" tanya Arthur.


"Itu, Joanna. Aku juga kemari karena melihat mobilnya di luar," jelas Louise.


"Joanna?" tanya Arthur.


"Ya, itu dia," jawab Louise.


"Kenapa kau mencarinya?" tanya Arthur.


"Aku ingin meminta maaf," jawab Louise.


"Katakan, apa gadis yang kau pamerkan ke penjuru perusahaan waktu itu adalah Joanna?" tanya Arthur.


"Ya, itu dia."


"Lalu, saat kau menolak saat aku ingin memperkenalkan seorang gadis padamu, apa itu karena kau sudah menyukai Joanna?" selidik Arthur.


"Eum."


"Lalu, apa kau tidak tahu siapa ibunya Oskar?" tanya Arthur lagi.


"Aku tidak tahu," jawab Louise jujur.


Oskar hanya menggelengkan kepalanya, membuat Arthur semakin tidak habis pikir dengan kebodohan Louise yang hakiki.


"Arthur, jika ada sesuatu yang salah tolong segera katakan saja. Jangan terus-terusan mengataiku bodoh seperti ini," protes Louise.


"Joanna, adalah gadis yang ingin ku kenalkan padamu waktu itu. Lalu, Joanna juga adalah ibu dari anak nakal yang memanggilmu daddy ini. Apa kau mengerti sekarang?" jelas Arthur.


"Apa, kenapa bisa seperti itu?" tanya Louise.


"Apa kau bertengkar dengan Joanna sekarang?" tanya Arthur.


Louise mengangguk pelan, "Begitulah."


"Lalu, apa tanganmu masih sakit?" tanya Arthur.


"Ini, sudah jauh lebih baik," jawab Louise.


Arthur mendekati Louise, kemudian tanpa meminta ijin memegang tangan yang masih di perban itu sekuat tenaganya, "Setelah ini, tidak perlu memaksakan diri untuk menghadiri pernikahanku. Semoga saja Joanna berbaik hati dan membawamu pergi ke rumah sakit."


"Arthur, kau benar-benar brengsek!" umpat Louise saat merasakan sakit luar biasa dari tangannya akibat kelakuan Arthur. Membuatnya menurunkan Oskar dan ganti memegangi tangannya yang retak. Keringat dingin jelas membanjiri keningnya saat ini


"Arthur, kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Joanna, dari dalam lalu membuka pintu yang nyaris tertutup.


"Keluar dan lihatlah!" jawab Arthur kemudian pergi begitu saja meninggalkan dua manusia yang sedang tidak akur.


Joanna dan Louise saling berpandangan. Louise, akhirnya dia bisa melihatnya lagi. Melihat Joanna setelah beberapa hari kehilangan jejaknya. Sementara Joanna, dia melihat Louise sedang jongkok dan memegangi tangannya, tentu saja perban yang melilit tangan dan dahinya tak luput dari penglihatannya. Lalu, yang membuatnya tidak habis pikir adalah kenapa Xiao O kesayangannya memeluk pria itu.


"Mommy?" panggil Oskar.


"Xiao O, apa yang kau lakukan dengannya, cepat kemari!" kata Joanna datar.


Oskar tidak bergerak, tapi Joanna langsung menariknya dan menyembunyikannya di belakang. Nyaris menutup pintu tapi Louise segera berdiri untuk menahannya dan memaksa masuk.


"Kenapa kau kemari?" tanya Joanna. Kakinya melangkah pelan, semakin mundur ke belakang dengan membawa Oskar.


"Joanna, dengarkan aku,-"


"Pergi!" usir Joanna.


Louise menundukkan kepala, menyesali sikapnya yang kasar dan tak mau mengalah hari itu. Louise sadar, saat ini adalah waktunya untuk meminta maaf. Tapi sepertinya itu akan sedikit sulit, karena Joanna terlihat sangat tertekan hanya dengan berdiri dihadapannya. Tangannya dengan kuat memegangi Oskar, seolah tak membiarkan Oskar menjauh sedikitpun darinya.


Louise memutuskan untuk berjalan beberapa langkah, memperpendek jarak diantara mereka lalu melipat salah satu kakinya, "Oskar, bisa kemari sebentar?" tanya Louise dengan lembut, tentu saja masih dengan keringat dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Louise tersenyum dengan wajah sayu, melambaikan satu tangannya kepada Oskar, berharap Oskar tidak takut seperti ibunya. Oskar yang tak tahu apa-apa akan menyambut lambaian Louise tapi Joanna menahannya.


"Mommy, mommy kenapa?" tanya Oskar tak mengerti.


"Jangan pergi!" jawab Joanna.


"Kenapa tidak boleh. Bukannya mommy yang bilang ingin mengundang paman makan malam?" tanya Oskar lugu, jelas terpancar kekecewaan dari wajahnya ketika Joanna menghentikannya.


"Oh, jadi dia orangnya?" tanya Joanna.


"Eum," jawab Oskar.


"Kalau begitu, lain kali mommy tidak akan pernah membiarkanmu bermain lagi dengannya," larang Joanna.


"Mommy?" protes Oskar.


"Xiao O, kalau mommy bilang tidak ya tidak," kata Joanna dengan nada tinggi. Seharusnya ini adalah kali pertama Joanna membentak Oskar. Membuat bocah itu menunduk dan hampir menangis.


"Joanna, apa yang kau lakukan?" tanya Louise.


"Aku hanya sedang mendidik anakku," jawab Joanna.


"Joanna, bukan seperti itu. Kau tidak sedang mendidiknya tapi bersikap tidak adil padanya," kata Louise.


"Apa yang ku lakukan, tidak ada hubungannya denganmu. Apa hakmu untuk ikut campur?" balas Joanna.


"Joanna?"


"Pergi!" usir Joanna lagi.


"Tidak akan," tolak Louise.


"Kalau begitu kami yang akan pergi," kata Joanna lalu lagi-lagi menarik Oskar bersamanya.


"Joanna, hentikan. Kau bisa melukainya!" tahan Louise, merebut Oskar yang mulai menangis dan membawanya bersamanya.


"Berikan padaku!"


"Atas dasar apa?"


"Tentu saja karena dia anakku!"


"Tapi apa yang kau lakukan saat ini melukainya, Joanna!" kata Louise tegas, kemudian memeluk bocah itu, menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut kemudian membisikkan sesuatu di telingannya, "jangan takut, bukankah kau bilang aku ini daddymu?"


Tepat saat itu, Diaz yang tidak tahu Louise ada di dalam masuk. Mengingatkan Joanna untuk segera turun, tapi terhenti di depan pintu karena sepertinya situasinya tidak benar, "Joanna, ada apa?" tanya Diaz saat melihat Oskar menangis di pelukan Louise.


"Dia mencuri anakku," jawab Joanna. Mencoba merebut kembali Oskar tapi mendapat penolakan dari Oskar.


"Xiao O benci mommy. Mommy jahat!" katanya disela tangis. Hanya beberapa patah kata, tapi sangat melukai perasaan Joanna.


"Joanna, aku bilang hentikan. Dia masih anak-anak dan tidak tahu apa-apa. Aku yang salah, kalau kau ingin marah, marahlah padaku. Jangan memperlakukannya seperti ini. Beginikah mommy baik yang selalu dibanggakan Oskar itu?" tanya Louise.


"Maafkan mommy, Xiao O!" kata Joanna pelan. Mulai menyesali perbuatannya yang kasar kepada anaknya sendiri.


Melihat itu, Diaz pun mendekati Louise. Berbicara pelan pada Oskar sebelum akhirnya membawanya pergi. Tak lupa memberikan sebuah pesan untuk Louise dan Joanna yang masih diam di tempatnya sekarang ini, "bicarakan masalah kalian baik-baik. Sementara Oskar, biar aku yang menjaganya. Kami akan menunggu di ruang tunggu sebelah."


Joanna menggigit bibirnya, tangannya gemetaran karena takut. Tatapan polos Louise itu seolah menelanjangi seluruh tubuhnya. Saat Louise melangkahkan kakinya satu langkah kedepan, saat itu juga Joanna mundur selangkah. Itu terus terulang sampai Joanna tak bisa lagi mundur karena meja rias yang menghalanginya dibelakang.


"Jangan takut!" ucap Louise saat sudah berdiri tepat di depan Joanna.


Tangannya memegangi salah satu tangan Joanna yang semakin gemetaran, karena tangan Joanna yang lain sepertinya memegangi gaunnya yang sedikit bermasalah.


Joanna melepaskan tangannya, berniat pergi menyusul Oskar dan meninggalkan Louise di kamarnya. Tapi tangannya kembali diraih Louise ketika Joanna baru beberapa langkah melewati Louise. Pria itu menahan tangan Joanna, menariknya kembali hingga berdiri menghadap cermin, posisi Joanna sedang membelakangi Louise saat ini, "Apa kau akan pergi dengan gaun yang seperti ini?" tanya Louise.


Louise tak mengharapkan sebuah jawaban, dia segera menarik tali itu dengan kuat, mengaitkannya sangat erat agar tak terlepas lagi. Louise menelan ludahnya, sebagai pria normal tentu dia tergoda ketika melihat wanita pujaannya menunjukkan punggung yang indah tanpa cela. Tapi kali ini meminta maaf adalah prioritas utamanya, jadi Louise memilih mengabaikan hasratnya dan memeluk Joanna dari belakang, "maaf!" ucap Louise lirih.


Louise mendekatkan kepalanya, meletakkan dagunya ke pundak Joanna. Tangannya semakin erat meremas tangan Joanna seolah berkata 'jangan pergi'.


Diamnya Joanna membuat Louise semakin erat memeluk Joanna, semakin dekat semakin kuat. Bahkan Louise seolah bisa merasakan detak jantung Joanna. Beberapa menit berlalu, mereka masih seperti itu tanpa bersuara.


Louise menyatukan kepalanya ke kepala Joanna, lalu sesekali mencium kedua tangannya "tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah!"