CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Interogasi



Hari ini Louise telah pergi, William juga pergi, Arthur pun juga pergi. Tanpa mereka bertiga, praktis Joanna hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri disini. Oskar sudah dia antar kesekolah bersama Ebra sebelumnya. Karena tidak ingin kecolongan, Joanna meninggalkan beberapa pengawal pribadi yang ditinggalkan Louise untuk menunggu dua anak-anak itu di sekolah.


Sementara itu Joanna segera kembali ke Bangsawan Timur bersama Reagan. Sesampainya di depan paviliunnya sendiri, dia tertegun. Kenapa jumlah pelayannya lebih banyak dari sebelumnya. Siapa yang menyuruh mereka kemari. Kenapa jumlah mereka ditambah tanpa membicarakannya dengannya.


"Kenapa banyak sekali barang?" tanya Joanna ketika melihat tumpukan hadiah yang dikirim untuk mereka.


"Hadiah ini dibawa oleh Tetua Utama. Tetua bilang hadiah ini dikirim dari rekan bisnis dan beberapa kepala keluarga paling berpengaruh di Bangsawan Timur atas kelahiran Reagan," jawab pelayan.


"Kenapa baru dikirim sekarang?" tanya Joanna.


"Karena Tetua Utama baru-baru ini bertemu dengan mereka dan mendapatkan hadiahnya," jawab pelayan.


Joanna menelisik satu persatu hadiahnya. Memandanginya dengan banyak pertanyaan di lubuk hatinya. Memang sebagian besar untuk Reagan. Tapi kenapa ini sangat aneh. Tiba-tiba ada banyak hadiah, selain itu juga ada banyak pengawal dan pelayan. Siapa yang merencanakan ini. Kalau itu William, seharusnya dia memberitahunya sebelumnya. "Pasti ada yang salah," batin Joanna.


"Bi, tolong jaga Reagan untukku!" pinta Joanna.


Diaz patuh, dia segera mengambil alih Reagan dan membawanya ke kamar dengan satu pelayan senior yang sudah bersama Joanna dan William sejak Joanna menikah. Orang itu jugalah yang William minta mengambilkan pampers untuk Joanna saat Joanna akan melahirkan malam itu.


"Diaz, kita harus berhati-hati. Salah satu diantara kita harus selalu bersama Reagan. Lebih baik lagi kalau kita bisa selalu bersamanya," kata Asha, pelayan senior itu.


"Apa kau merasa ada yang aneh?" tanya Diaz.


Asha mengangguk, kemudian segera membersihkan ayunan Reagan agar Diaz meletakkannya disana. Tapi dia menyentuh sesuatu yang salah. Sebuah serbuk telah ditaburkan seseorang kesana.


"Diaz, apa yang harus kita lakukan sekarang. Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi," kata Asha.


"Ada apa, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Diaz.


"Jangan lepaskan Reagan dari pelukanmu. Dia bisa terluka," jawab Asha sembari menunjukkan tangannya yang mulai bereaksi.


Memang hanya gatal-gatal. Terlihat biasa untuk orang dewasa, tapi untuk anak bayi seusia Reagan itu akan membuatnya sangat tidak nyaman dan panas di seluruh tubuhnya yang kecil.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Diaz.


"Aku juga tidak tahu. Kita harus segera memberitahu Nona Joanna," jawab Asha.


Baik Diaz maupun Asha, keduanya ikut menemani Joanna kemarin malam. Mereka juga baru pulang ke paviliunnya pagi ini. Soal siapa yang masuk dan menabur bubuk gatal itu, mereka sama sekali tidak punya petunjuk.


Sementara itu di bawah, Joanna masih memeriksa barang-barang itu. Lalu melirik kearah pelayannya setelah semuanya dia lihat. "Buang semua ini. Aku tidak memerlukannya," perintah Joanna.


"Apa?" tanya pelayan.


"Aku sudah menerima semua hadiahnya. Soal apa yang aku lakukan setelahnya itu urusanku," jawab Joanna.


Joanna langsung pergi keatas setelah memberikan instruksinya. Ingin menghubungi kakaknya dan ayahnya untuk menemaninya disini, tapi dia melihat Asha terus menggaruk tangannya yang gatal.


"Bi Asha, ada apa denganmu?" tanya Joanna.


"Jangan menyentuh apapun!" jawab Asha.


"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya Joanna.


"Nona, serbuk gatal telah disebarkan di sebagian besar tempat dimana Reagan diletakkan. Kita harus berhati-hati," jawan Asha.


Joanna segera melihat Reagan yang tidak dilepaskan Diaz sama sekali. Syukurlah anak itu baik-baik saja karena Diaz belum sempat menaruhnya dan langsung menutup dan mendekapnya.


"Joanna, bukankah seharusnya kita pergi saja dari sini. Kita bisa kembali ke Kota Utara. Bibi takut terjadi sesuatu yang buruk nanti. Terlebih tidak ada siapapun disini," kata Diaz.


Joanna berpikir sejenak. Lalu segera menghubungi Agria untuk menjalankan rencananya. "Tentu saja aku akan pergi. Tapi ada hal yang harus kulakukan sebelumnya," batin Joanna.


Joanna tidak hanya menghubungi Agria seorang. Tapi dia juga menghubunginya Edgar setelah sekian lama.


"Jose, ada apa?" tanya Edgar dari seberang sana.


"Aku butuh bantuanmu," jawab Joanna.


"Apa, apa Louise tidak membantumu?" tanya Edgar.


"Dia sedang pergi. Aku akan meminta ijin padanya nanti," jawab Joanna.


"Apa yang bisa ku lakukan untukmu?" tanya Edgar.


"Aku ingin kau mencari informasi detail beberapa pelayan dirumahku. Mereka mencoba mencelakai anakku, aku ingin mencari pelakunya menggunakan ancaman kepada keluarganya," jawab Joanna.


"Bukan masalah. Itu mudah bagiku. Siapa saja mereka?" tanya Edgar.


"Aku akan mengirimkan data mereka secepatnya," jawab Joanna.


.


.


.


Setelah Agria dan Okta kembali, saat itu juga Joanna mengumpulkan seluruh pelayanan dan pengawalnya di bawah pengawal pribadi Okta. Di halaman rumah itu mereka dikumpulkan untuk di data.


Tidak lama kemudian, mereka dipanggil satu persatu untuk masuk dan diinterogasi oleh Joanna sendiri.


Bagi orang lain, mungkin susah untuk mendapatkan siapa pelakunya. Tapi setelah mendapatkan bantuan dari Edgar, tentu saja ini jadi hal yang mudah bagi Joanna. Karena sudah mendapatkan semua rinciannya, dia bisa menggunakan itu untuk mengancam mereka.


Puluhan orang telah Joanna periksa. Tapi belum ada satupun yang mencurigakan. Bukan hanya itu, dia juga belum bertemu dengan pelayan yang keluarganya sempat dijaga oleh beberapa pengawal. Sampai akhirnya di tengah-tengah interogasinya, dia melihat seorang wanita muda yang tidak asing. Dia ingat, wanita ini pernah kemari bersama dengan Daisy beberapa waktu yang lalu. Tangan wanita itu sedikit gemetar. Beberapa butir keringat juga terlihat di dahinya.


"Siapa tuanmu?" tanya Joanna.


"Iya?" jawab pelayan itu tidak mengerti.


"Dengan siapa kau bekerja?" tanya Joanna.


"Pada Anda, Nona!" jawab pelayan itu ketakutan.


"Apa kau yang melakukannya?" tanya Joanna.


"Melakukan apa, Nona?" jawab pelayan.


"Aku tidak akan basa basi lagi. Kau orangnya kan, yang menabur bubuk gatal itu dimana-mana. Dengar, aku bisa membunuhmu sekarang juga. Jadi katakan siapa tuanmu, siapa saja yang berkomplot denganmu. Kalau kau mengatakannya, aku akan membiarkanmu tetap hidup. Tidak hanya itu, aku juga akan memberikan sejumlah uang untuk kau gunakan memulai hidup baru di luar sana," kata Joanna.


"Nona, saya tidak mengerti apa yang Nona katakan!" kata pelayan itu. Meskipun memang dia pelakunya, tapi mana mungkin Joanna akan membebaskannya. Jadi lebih baik tidak mengaku dan menyembunyikan semuanya.


"Namamu Dilla. Suamimu di penjara. Kau memiliki tiga anak yang masih kecil. Hidup sederhana di pinggiran kota. Apa kau tahu, orang-orang kakakku sudah menangkap keluarga kalian semua. Aku bisa membunuh mereka sekarang juga. Jadi, kau mau mengatakannya atau lebih memilih orang-orang kakakku membunuh mereka?" tanya Joanna.


"Nona, jangan bercanda. Kekuargaku sudah di tempat yang aman sekarang," kata Dilla.


"Aman? Apa yang kau maksud adalah sebuah kontrakan kecil yang hanya dijaga empat pengawal saja itu?" tanya Joanna.


"Apa maksudmu, Nona?" tanya Dilla.


"Sudah kubilang aku sudah menangkap semua keluarga kalian. Dan empat pria penjaga keluargamu itu sudah dibunuh oleh kakakku. Jadi apa kau ingin mengaku sekarang?" tanya Joanna.


...***...