CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Menunggu Sebelum Bertindak



"Aku sangat benci warna pink!" keluh Jose ketika memasuki halaman rumah dan melihat warna bunga yang ditanam oleh Diaz.


Jose memasang wajah cemberut ketika berjalan melewati bunga-bunga itu untuk menuju pintu rumah. Belum juga mengulurkan tangan untuk memegang handle pintu, seseorang membuka pintu berwarna putih itu dari dalam. Diaz, wanita itulah yang membuka pintu. Lalu di belakangnya masih ada beberapa pegawai tokonya yang juga berada di dalam.


Jose melihat semua orang itu satu persatu. Diaz, wanita paruh baya itu adalah pengasuhnya sejak bayi. Dia lah wanita yang selalu menemaninya saat ibu dan ayahnya sibuk dengan urusan kebangsawanannya. Lalu penjaga kebun itu, sopir pribadi itu juga semua orang itu, mereka semua adalah pelayan pribadinya dulu. Jose tidak mengira, mereka masih setia mengikutinya meskipun dirinya bukan lagi seorang putri bangsawan seperti dulu.


Jose disambut dengan hangat, terlebih oleh Diaz yang langsung memeluknya. Diaz tidak tahu harus mengatakan apa, ingin sekali menghibur Jose tapi sepertinya Jose baik-baik saja. Jadi Diaz hanya membelai rambutnya untuk menghiburnya, "Joanna, Oskar pasti akan kembali untukmu."


Jose melepaskan pelukannya, kemudian berdehem pelan, "Aku lapar," kata Jose tanpa mengindahkan pembicaraan tentang Oskar.


Bukannya melupakan Oskar, tapi Jose memilih mengisi perutnya dulu sebelum memikirkan apa yang akan dia lakukan setelahnya.


"Joanna, kau tidak apa-apa kan?" tanya Diaz keheranan.


"Bi, aku akan mati jika tidak segera makan!" protes Jose sambil berlalu ke kamarnya.


"Kau mau makan apa?" tanya Diaz sebelum Jose hilang dari hadapannya.


"Makanan bangsawan yang biasa disajikan di Kota Utara, aku ingin semuanya," jawab Jose kemudian menutup pintu.


"Jose kecil, apa kau ingat sekarang?" gumam Diaz dan semua orang.


.


.


.


"Kenapa tidak segera makan dan melihatku dengan tatapan seperti itu?" tanya Jose dengan menaikkan satu alisnya. Semua orang itu hanya melihatnya tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang tersaji memenuhi meja sejak tadi.


"Aku ... benar-benar akan memecat kalian sekarang juga jika kalian masih tidak segera mengambil piring kalian!" kata Jose sembari melanjutkan aktifitas makannya.


"Joanna, kau sudah ingat semuanya?" tanya Diaz mewakili pertanyaan semua orang.


"Apa Bibi ingin aku terus menjadi Joanna dan hidup menyedihkan seperti itu?" tanya Jose. Sebuah jawaban yang membuat semuanya bersorak dalam hatinya. Lalu dengan cepat membuat mereka menyentuh peralatan makannya sebelum nona mereka marah.


Malam ini, di rumah itu sangat ramai. Semuanya berkumpul dan makan besar dengan lahap. Terlihat bahagia, meskipun faktanya beberapa diantara mereka ada yang bersembunyi untuk menangisi ketiadaan Oskar mereka di rumah ini.


Dua jam kemudian, mereka sudah selesai dengan semua makannya. Jose tidak membiarkan satu orang pun pergi. Karena Jose masih harus membuat perhitungan dengan mereka semua.


"Apa kalian sudah kenyang?" tanya Jose.


Semua diam saat mendengar pertanyaan Jose. Keringat dingin mulai menjalar, mereka tahu Jose mereka akan mulai marah sekarang. Dan itu dimulai dari Diaz.


"Bi, kenapa begitu banyak bunga peony di taman. Apa Bibi ingin aku selalu menangisi ibuku yang sudah ada di surga. Lalu, kenapa begitu banyak mawar putih. Aku benci mawar putih, yang kusukai adalah krisan putih. Apa Bibi lupa?" tanya Jose.


Semuanya hanya diam, hanya memegang tangan mereka masing-masing dan menunduk dalam-dalam. Beberapa dari mereka menangis, bukan untuk bersedih tapi bahagia karena sudah sangat lama mereka tidak mendengarkan omelan Jose seperti ini.


"Masih ada lagi, siapa yang membiarkan rumah ini bernuansa pink. Aku sangat benci pink. Aku tidak mau tahu, mulai besok aku tidak ingin melihat warna pink lagi di rumah ini. Tidak hanya itu aku hanya ingin melihat krisan putih saja yang ditanam di depan. Lalu untuk baju-baju usang itu aku tidak mau memakainya lagi. Kenapa kalian sungguh keterlaluan. Membiarkan aku memasak, membuat kue. Kalian semua benar-benar membuatku sangat marah. Aku bersumpah hari ini adalah hari terakhir aku menyentuh peralatan dapur itu," omel Jose panjang lebar.


"Joanna?" seru Diaz ingin meredakan amarahnya Jose.


"Bi, aku ini bukan Joanna. Siapa yang seenaknya mengganti nama pemberian ibuku?" tanya Jose


"Itu, Nona Alexa kan. Apa kau lupa?" jawab Diaz.


"Tapi itu salahmu, Bi. Kenapa tidak menggantinya kembali meskipun sudah menemukanku waktu itu," protes Jose.


Rumah itu sangat gaduh. Terlebih setelah Jose menyuarakan seluruh isi hatinya.


Berbeda dengan Jose yang sedang berbahagia disaat sedang berduka. Saat ini, Louise sedang berkutat dengan pikirannya di tempat yang berbeda.


Louise, pria itu baru mendapatkan suntikan infus siang tadi dan dokter menyarankan untuk beristirahat selama beberapa hari kedepan. Saat ini, dia berdiri di balik dinding kaca. Villa-nya yang dibangun diatas bukit jelas memiliki pemandangan yang berbeda. Disisi ini, tepat di kamarnya Louise melihat indahnya sungai dengan jembatan diatasnya. Sebuah sungai dan jembatan yang terlihat gemerlapan dari banyaknya cahaya lampu yang menyala terang disepanjang hulu hingga hilir. Juga lusinan perahu dengan lampu-lampu yang menyala terang redup diatasnya.


Louise mengalihkan pandangannya, berbalik arah sehingga bisa melihat seisi kamarnya yang megah dan luas.


Matanya melirik ke kasur, tersenyum tipis tanpa arti kemudian menyibakkan rambutnya yang setengah gondrong. Ranjang mewah berukuran besar itu tidak melakukan apa-apa, hanya saja Louise merasa benda mati itu sedang mengejeknya. Karena di tempat itu, Louise pernah membawa satu-satunya wanita untuk pertama kalinya. Masuk keruangan pribadi yang tidak pernah diinjak wanita manapun juga.


Wanita itu, siapa lagi kalau bukan Joanna. Gadis yang berhasil mencuri seluruh hatinya tanpa ada sedikitpun ruang yang tersisa.


Sepertinya Joanna tidak ingin bertemu dengannya setelah semua yang terjadi, juga tidak berkenan untuk kembali melanjutkan hubungan dengannya ditengah masalahnya saat ini. Terbukti dari banyaknya jumlah panggilan yang Joanna tolak.


Louise ingin pergi siang tadi, disaat semua masalahnya selesai. Menjelaskan semuanya dan muncul setelah beberapa hari menghilang. Tapi tiba-tiba kondisinya drop begitu saja. Untuk itu dia meminta William untuk menjemputnya, mengira Joanna akan patuh.


Louise sudah terlanjur besar kepala. Mengira Joanna akan menangis dan memohon padanya untuk mengembalikan Oskar padanya.


Tapi, semuanya hanya sebatas khayalan. Karena Joanna, tidak hanya tidak mengikuti William tapi juga terlihat mengabaikan Oskar.


Saat ini, begitu banyak pertanyaan yang menghampiri Louise dan belum mendapatkan jawabannya. Tapi mendapatkan jawaban itu hanya soal waktu. Karena Joanna sudah terbebas, jadi Louise hanya perlu bersabar dan melihat dengan jelas selama beberapa hari kedepan. Melihat apa yang akan Joanna lakukan setelah dia mengingat semua masa lalunya, lalu baru memutuskan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Menyingkirkan wanita bernama Agria itu semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan Agria, bahkan seluruh bangsawan di Kota Utara pun Louise juga sangat bisa. Hanya saja Louise memerlukan persetujuan untuk itu. Louise ingin bertanya apa yang Joanna inginkan. Louise ingin mendengar dari mulut Joanna sendiri apa yang harus dia lakukan. Karena tanpa ijin Joanna, mustahil Louise akan meratakan Kota Utara. Karena biar bagaimanapun juga mereka adalah keluarga Joanna. Itulah yang membuat Louise tidak segera membereskan Agria dan membiarkan mereka bahagia sedikit lebih lama.


"Bagaimana aku memanggilmu sekarang. Joanna, atau Jose?" gumam Louise sambil tersenyum tipis.


"Jose, mana mungkin aku punya anak. Impianku adalah memiliki anak denganmu. Tapi meskipun aku punya itu bukan masalah, karena aku akan melakukan apapun untuk membuatmu jadi ibunya. Juga ibu dari anak-anakku yang selanjutnya. Hanya kau Jose, bukan yang lainnya. Bahkan meskipun Agria itu adalah ibu kandung Oskar, aku akan tetap menyingkirkannya hanya untukmu. Tapi, kenapa kau masih begitu keras kepala. Masih tidak menemuiku setelah apa yang aku lakukan untukmu. Jose, aku pikir aku benar-benar sudah sampai pada batas kesabaranku. Aku benar-benar sangat marah sekarang. Kalau tetap seperti ini, mungkin selanjutnya aku hanya bisa memaksamu."


...***...